
Alden berjalan kembali pulang. Di kamar dia duduk diam dan terlihat berpikir.
“Sebaiknya aku berjualan mulai kapan ?”batin Alden sambil mengingat apa yang barusan diucapkan oleh seorang penjual padanya.
“Aku harus semangat tidak boleh lemah hanya karena ucapan atau pada gertakan seseorang seperti itu.”gumam Alden menyemangati dirinya sendiri dan teringat pada usaha keras Kyra yang telah banyak membantunya.
Malam hari, dia terlihat sibuk mempersiapkan semua bahan yang akan dia gunakan untuk besok mulai berjualan.
“Saus sudah... mayonnaise... sudah.”gumam Alden mengecek kembali kelengkapan bahan yang akan dia gunakan besok.
Sementara Kyra berada di dekat tempat tidur. Gadis itu berdiri menatap rombong milik hal ini sudah selesai.
“Aku sudah mempersiapkan ini agar terlihat lebih menarik.”ucap Kyra memegang stiker dan banner kecil lalu memasangnya di rombongan Alden.
“Nah... begini baru kelihatan sip !”ucap Kyra melihat rombong itu setelah selesai mempercantiknya.
Alden kemudian berjalan keluar dari dapur dan berhenti di depan rumah saat melihat Kyra berdiri di sana.
“Kakak yang menghiasnya ?”ucap Alden terkejut melihat rombong nya yang polos kini terlihat lebih ramai.
Lelaki itu diam dan menatap sejenak rombongannya. Entah kenapa dia merasa ada yang tidak pas saja dengan dengan pemilihan banner dan juga stiker untuk rombong nya, tapi dia sendiri juga tidak bisa menjelaskan nya.
“Kenapa, bagus tidak ?”jawab Kyra menoleh ke samping kiri menatap Alden yang berdiri di sampingnya.
“Bagus kak, terima kasih.”jawab Alden sambil tersenyum walaupun sebenarnya dia merasa selera Kyra sedikit buruk, namun dia tak ingin menyinggung gadis itu.
Mereka berdua kemudian menuju ke tempat tidur masing-masing karena hari sudah larut.
Keesokan paginya Alden bangun lebih pagi dari biasanya. Dia terlihat sibuk di dapur. Selain memasak sarapan pagi untuk Kyra, dia juga memeriksa ulang semua bahan yang akan dia bawa.
“Yah... sudah selesai.”gumam lelaki itu pas Apron yang dia pakai setelah selesai memasak dan mempersiapkan semuanya.
Dia pun kemudian membangunkan Kyra dan mengajaknya sarapan pagi.
“Alden... semoga jualan mu hari ini laris dan ramai.”ucap Kyra sambil memakan menu sarapan paginya.
“Ya kak... semoga saja.”jawab Alden tersenyum tipis meskipun dia juga berpikir ada kendala tidak di lapangan nanti.
Satu jam kemudian terlihat Alden sudah berada di depan jalan raya dan mendorong gerobak jualnya.
__ADS_1
“Mau ku temani sebentar ?”ucap Kyra menawarkan diri dan ikut berjalan mengikuti Alden.
“Tidak perlu kak. Kamu berangkat kerja saja, aku bisa sendiri.”balas Alden menolak tawaran Kyra.
Mereka berdua kemudian berpisah setelah Kyra masuk ke taksi. Dari dalam taksi gadis itu menatap audien yang sedang berjalan mendorong gerobak jualnya dengan semangat.
Alden berhenti di depan sekolah St Mariene. Dia mencari lokasi yang kosong di depan gerbang sekolah yang tidak dipakai oleh penjual lain.
“Di sini saja aku berhenti.”ucapnya lirih saat berhenti di dekat pintu gerbang masuk sekolah St Mariene.
Tak lama kemudian dia melihat beberapa penjual lain yang datang dan melewatinya. Seorang penjual berhenti di sampingnya.
“Anak muda... kau penjual baru ya di sini ?”ucap seorang lelaki memakai topi menatap Alden dengan tajam.
“Ya tuan... aku baru berjualan di sini hari ini.”jawab Alden singkat.
Tiba-tiba seorang penjual lain datang dan ikut berhenti.
“Hei anak muda ! Kamu cari tempat jualan lain saja ! Di sini kamu mengurangi hasil penjualan kami saja !”ucap seorang penjual yang tidak suka dengan kehadiran penjual lain di sana karena akan berpengaruh pada omset penjualan mereka.
Belum sempat Aldan menjawab datang lagi seorang penjual dan berhenti di sampingnya.
“Biarkan saja dia jualan di sini, belum tentu juga jualannya laris.”ucap seorang penjual lain menimpali yang membuat dua penjual tadi akhirnya memberi izin Alden berjualan di sana. Mereka pun kemudian kembali berjalan dan menuju ke posisi mereka masing-masing.
Beberapa jam berlalu dan saat ini merupakan jam istirahat. Para siswa keluar dari kelas. Beberapa berhamburan ke kantin yang ada di sekolah namun beberapa yang lain berhamburan keluar kelas, menuju ke seberapa penjual yang sedari tadi stand by depan.
“Lihat di sana sepertinya ada penjual baru !” ucap seorang anak lelaki melihat ke arah Alden.
“Benar.... jualan apa dia ?”balas anak lelaki lain menetap ke arah Alden. Karena penasaran beberapa anak kecil tadi menghampiri Alden.
“Paman... aku mau fried potato nya satu.”ucap seorang anak perempuan memesan.
“Aku juga mau satu.”ucap anak lelaki dan beberapa anak lainnya.
“Baik, tunggu sebentar ya.”jawab Alden sambil tersenyum lebar pada pelanggan pertamanya. Ia pun segera memasak fried potato pesanan anak-anak tadi.
Beberapa saat kemudian pesanan jadi, dan asap dari masakan Alden mengundang pembeli lain datang.
“Ini pesanan nya.”ucap Alden menyerahkan fried potato yang sudah matang.
__ADS_1
“Wah enak sekali rasanya, paman.”ucap seorang anak lelaki setelah mencoba memakannya dan membuatnya memesan lagi setelah membayarnya.
Setelah pada tahu rasanya yang berbeda dengan yang lainnya, beberapa anak pun memesan fried potato Alden.
Ketika jam istirahat habis, dagangan Alden juga habis. Dia pun terlihat mendorong gerobak jualnya kembali ke rumah.
“Hey lihat itu si anak baru sudah pulang duluan berarti jualannya laris.”ucap seorang penjual menatap Alden.
Di rumah lelaki itu terlihat mencuci tangannya kemudian duduk dan menghitung hasil penjualannya hari ini.
“Lumayan hasil hari ini, semuanya laris terjual. Jika terus begini aku bisa melunasi hutang modal pada kak Kyra.”gumam Alden tersenyum lebar sambil menyimpan uang hasil penjualan hari ini.
Sore hari Kyra pulang, dia melihat wajah Alden yang berseri-seri.
“Apakah jualan mu hari ini ramai sekali ?”tanya Kyra setelah duduk di kursi. Alden dan tersenyum lebar menatap Kyra.
Keesokan harinya Alden kembali berangkat ke sekolah St. Mariene dengan bersemangat. Hari ini dia menambah jumlahnya.
Hingga siang hari ternyata jualannya kembali laris manis dan membuatnya pulang lebih dulu daripada penjual lainnya yang masih ada di sana.
Satu minggu berlalu, terlihat pembeli Alden semakin banyak dari hari ke hari dan itu menimbulkan keirian bagi penjual lainnya yang ada di sana.
Siang hari setelah jam istirahat berakhir, Alden kembali mendorong gerobak jualnya menuju ke rumah.
“Hey anak muda, berhenti !”ucap seorang penjual memanggilnya.
“Ya...”jawab Alden berhenti.
Seketika beberapa penjual ada di sana menghampiri dirinya dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
“Kami sudah memperingatkan mu sebelumnya untuk mencari lapak di tempat lain. Tapi kamu keras kepala tak mau pergi dari sini dan membuat omset kami jauh menurut drastis keberadaan mu di sini !”ucap penjual lain menimpali.
“bug... !”tiba-tiba seorang penjual lain membawa kursi dan memukulkannya ke kepala Alden.
Beberapa penjual lain ikut datang dan mengeroyok Alden. Mereka memukuli lelaki itu.
“Kubilang pergi kau dari sini, jangan pernah kembali lagi !”ucap seorang penjual setelah puas memukuli Alden dengan marah kemudian pergi meninggalkannya begitu saja.
“Hiss...”Alden berdiri dan menepuk bajunya yang sedikit kotor untuk membersihkannya. Dia merasa punggungnya nyeri setelah terkena pukulan dari beberapa penjual tadi.
__ADS_1
Dengan sedih, dia berjalan mendorong gerobak jualnya kembali menuju ke rumah.
BERSAMBUNG....