
Alden terlihat banyak melamun. Dia memikirkan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Kyra dan apa yang menjadi penyebab gadis itu masih menjauhinya selama beberapa hari ini.
“Apa yang harus kulakukan agar kakak kembali bersikap biasa padaku ?”batin Alden dengan pikiran menerawang jauh sambil melayani pembeli yang mulai berdatangan di tokonya.
Di lain tempat Kyra terlihat baru turun dari taksi dan masuk ke kantor.
“Hampir saja aku terlambat. Sebenarnya lebih cepat naik motor. Tapi kenapa aku menghindari Alden ? Seharusnya aku tidak menghindarinya.”gumam Kyra kembali berpikir dan baru sadar jika dia menjauhi lelaki itu.
Kyra duduk di kursinya dan tatapannya tertuju pada pembukaan dokumen setinggi 30 cm di mejanya.
“Woo... apa lagi ini ?”ucap Kyra saat menaruh tas di sebelahnya.
Seryn Ya sudah datang duluan tersenyum kecil menatap Kyra.
“Itu tugas dari editor kesayangan mu...siapa lagi ?”ucap Seryn menoleh ke samping menatap Kyra.
“Ya... kurasa mungkin ini tidak terlalu penting jadi sebaiknya ku kerjakan nanti saja.”balas Kyra setelah mengambil satu dokumen di mejanya dan membacanya.
Kyra menyalakan komputer kemudian mengerjakan tugas kesehariannya dan memeriksa laporan pengeluaran biaya operasional kantornya Crown media.
Baru tiga puluh menit dia mengerjakan laporannya dan belum selesai tiba-tiba telepon di mejanya berdering.
“kring...kring...!”
Kyra segera mengangkat teleponnya dan menaruh dokumen arsip laporan pengeluaran ke meja.
“Kyra apa kau sudah Selesai mengerjakan tugas yang ku taruh di meja mu ? Jangan lupa serahkan itu 60 menit dari sekarang.”ucapnya dan seketika panggilan terputus.
“Tsk... sial... pasti kalau editor Oliver seperti ini.”ucap Kyra sambil menaruh kembali gagang teleponnya dengan kasar.
Seryn hanya tersenyum saja melihat Kyra dan dia segera mengalihkan pandangannya kembali mengerjakan tugasnya sebelum Kyra mengomel padanya.
Kyra mendengus kesal dia pun mengambil setumpuk dokumen di meja dan menandai artikel yang berhubungan dengan keluarga tersohor Bailey dari Atlanta.
“Tunggu... jadi kemacetan beberapa waktu yang lalu di area sekitar Swalayan karena keluarga Bailey datang untuk urusan bisnis di sini ?”pekik Kyra setelah membaca beberapa artikelnya dan teringat pada kejadian beberapa waktu yang lalu.
Kyra membaca satu per satu artikel itu yang membuatnya menjadi tahu jika keluarga Bailey itu merupakan keluarga tersohor di Atlanta yang memegang beberapa bisnis besar, salah satu di antaranya di bidang pers dan perhotelan.
“Kaya sekali keluarga Bailey ini. Mereka bisa mengembangkan bisnisnya sampai ke kota ini.”batin Kyra merasa takjub membaca profil keluarga itu.
Di tengah tugasnya Kyra tiba-tiba berhenti dan menatap sebuah gambar dengan serius. Ada sebuah gambar nyonya Victoria Bailey yang mengenakan kalung dengan liontin yang bersimbol sama dengan liontin yang dipakai oleh Alden.
__ADS_1
“Liontin ini mirip sekali dengan liontin Alden hanya saja ada sedikit perbedaan.”gumam Kyra memperhatikan dengan seksama.
“Mungkin hanya kebetulan saja ada kemiripan seperti itu.”gumam Alexa.
“kring....kring....”Kyra kembali mengalah nafas di tengah pekerjaannya saat mendengar teleponnya kembali berdering.
“Ya halo dengan Kyra. Ada yang bisa dibantu ?”ucapnya.
“Kyra bisa kau ke ruangan ku sebentar dan membantuku ? Ada sedikit kerjaan yang harus segera selesai.”ucap seorang lelaki di telepon.
“Baik editor Stone... aku akan ke sana dan mengambilnya.”balas Kyra.
“klak... !”Kyra menaruh gagang teleponnya dengan membanting dan dia pun segera berdiri lalu keluar menuju ke ruangan editor Stone.
Staf lain yang ada di ruangan hanya menoleh ke arah meja Kyra dan menatapnya saja. Karena mereka semua juga sibuk dengan tugas mereka masing-masing sebagai reporter.
Kyra kembali ke ruangan dengan setumpuk data yang lebih tinggi daripada data yang di berikan oleh editor Oliver tadi.
“Seryn... kau mau membantuku tidak ?”ucap Kyra menaruh berkas yang ia bawa ke meja.
Seryn yang notabene seorang reporter malah lebih sibuk daripada Kyra.
Kyra melihat staf lainnya di sana yang juga terlihat sibuk semua. Dan dia pun mulai mengerjakan tugas dari editor Oliver dan menyelesaikannya terlebih dulu.
“Selesai... huft....”Kyra menyelesaikan tugas dari editor Oliver dua jam kemudian dan dia setelah menyerahkannya pada sang editor sebelum dia kena omel.
Kyra kembali duduk di kursinya dan mulai mengerjakan tugas dari editor Stone.
“tick-tack....”waktu terus berputar dan tak terasa menunjukkan sudah saatnya pulang.
Para staf lain yang ada di ruangan itu satu per satu keluar dan hanya tinggal Kyra seorang diri saja di sana.
“Baiklah tinggal sedikit... aku akan menyelesaikannya dengan cepat.”gumam Kyra melihat berkas di meja yang tinggal sedikit lagi.
Di luar kantor terlihat Alden yang menunggu Kyra, duduk di motor. Dia melihat Seryn yang terakhir kali keluar dan masih belum melihat Kyra keluar.
“Alden... kau menunggu Kyra ?”tanya Seryn menghampiri lelaki itu.
Alden turun dari motor dan melepas helmnya sambil mengangguk menatap Seryn.
“Kyra masih lembur, mungkin sebentar lagi dia akan pulang tunggu saja dan duduk di sana.”ucap Seryn menjelaskan sambil menunjuk ke sebuah kursi di depan kantor.
__ADS_1
“Baik kak Seryn...”balas Alden singkat. Ia pun susah duduk di kursi yang ditunjuk oleh Seryn.
Tiga puluh menit kemudian Kyra keluar dari kantor dengan wajah cemberut karena dia kembali membawa setumpuk berkas tugas dari editor Oliver.
“Ahh... kakak... akhirnya kau keluar juga. Ayo kita pulang.”ucap Alden berdiri saat mendengar langkah kaki keluar dari kantor dan ternyata itu memang Kyra.
Kyra terkejut ternyata Alden menjemputnya dan sudah lama menunggunya. Dia akan menolaknya saja namun dia tak ingin lelaki itu berpikir dia menjauhinya lagi.
“Kau lama menunggu ku di sini ?”ucap Kyra menghampiri Alden dan mencoba untuk tetap tenang.
“Tidak lama kak. Ayo kita pulang.”ucap Alden menyerahkan helm Kyra.
Kyra menerima helm itu dan segera memakainya kemudian berjalan bersama Alden menuju ke motor.
“Kakak tidak apa-apa ? Wajah mu terlihat sedikit pucat.”ucap Alden sambil naik ke motor.
“Aku baik-baik saja, mungkin hanya sedikit kelelahan saja. Hari ini aku mendapat tugas lagi dari editor Oliver.”jawab Kyra sambil menunjukkan segepok berkas data yang dia bawa pada Alden dan naik ke motor.
“Tenang saja nanti aku akan membantumu seperti biasanya.”balas Alden tersenyum kecil.
Motor melaju menuju ke rumah. Sesampainya di rumah Kyra tak berganti baju dan langsung mengerjakan tugas dari editor Oliver.
Hingga malam Kyra belum menyelesaikan tugasnya. Dia merasa lelah dan ketiduran di sofa.
“Kakak... makan malam sudah siap. Ayo kita makan dulu.”ucap Alden memanggil dan sama sekali tak ada respon. Ia pun kemudian mencari dan mendapati gadis itu tertidur di sofa.
“Kakak bangun dulu untuk makan.”ucap Alden mencoba membangunkan dan menyentuh pipinya.
Alden kemudian menyentuh dahi Kyra setelah merasakan pipi gadis itu panas dan terlihat merah.
“Astaga.... kakak badan mu panas.”Alden memegang tangan dan kaki kira terasa sedingin es.
Kyra membuka mata dan menatap Alden yang saat ini menggendong tubuhnya dan merebahkannya di tempat tidur.
“Kakak ayo kita ke dokter sekarang.”ucap Alden bersiap untuk berganti baju.
“Tidak... Alden... aku tidak mau ke dokter. Mungkin demam tifoid ku kambuh. Ambilkan saja obat ku dan nanti akan sembuh sendiri.”jawab Kyra.
Alden mengambilkan obat dan memberikannya pada Kyra, namun setelah minum obat bukannya panasnya reda, tubuh Kyra semakin panas.
BERSAMBUNG....
__ADS_1