
Matthew kemudian berjalan pergi meninggalkan istrinya sendiri di ruang makan menuju ke kamar Gavin.
Kriek.
“Ayah ?”Gavin menatap ke arah pintu saat mengetahui ternyata lelaki itu yang masuk ke kamarnya.
Matthew melihat Gavin duduk di tepi tempat tidur. Ia pun ikut duduk di sampingnya setelah menutup pintu karena tak ingin percakapan mereka sampai terdengar oleh pelayan di luar kamar yang sedang berjaga.
“Apa yang terjadi ? Kenapa Christine kembali dari toilet dengan menangis ?”tanya Matthew dengan pelan tanpa menyalahkan Gavin.
“Menangis ? Karena aku ?” Gavin menautkan alisnya karena ia merasa tak melakukan apapun pada gadis itu.
“hah--” Gavin membuang nafas panjang sambil menundukkan kepalanya. “Maaf ayah... aku tidak bisa seperti pasangan kekasih pada umumnya jika dia memintaku karena aku seperti itu. Bagaimana bisa dia melakukan itu dengan Christine sementara dia sama sekali tak mengingat kenangan bersama gadis itu sebelumnya.
“Aku tahu karena kondisimu saat ini mungkin rasa itu tertutup namun tidak hilang. Setelah ingatanmu boleh mungkin kau bisa kembali bersikap normal pada tunangan mu.” Matthew mengerti dan sangat paham betul bagaimana dirinya jika berada di posisi Gavin saat ini.
__ADS_1
“Terimakasih ayah bisa memaklumi ku.” Gavin menegakkan kepalanya dan menoleh pada ayahnya. “Tapi alasan utamaku bukan karena amnesia. Itu karena aku sudah mempunyai kekasih saat ini.”
“Apa itu gadis yang tempo lalu bersamamu saat pertama kali kita bertemu di swalayan ?”
“Ya ayah. Kyra yang pertama kali menyelamatkan diriku saat aku hampir mati dan hidup seperti orang gila. Sedangkan Christine.... aku tidak mengenalnya sama sekali. Mungkin saja Gavin yang dulu sangat mencintainya tapi sayang sekali Gavin yang dulu sudah mati.”balasnya panjang kali lebar menjelaskan perasaannya.
Matthew menyentuh bahu putranya dengan lembut dan menatapnya lama.
“Gavin ternyata meskipun kau lupa ingatan namun perasaanmu pada Christine tetap tak berubah sama seperti sekarang ini. Tapi aku tidak mungkin mengungkapkan hal itu padamu.”batinnya hanya bisa menepuk pelan bahu anak lelakinya berulang kali.
“Kau tahu nak, jika cinta pada seseorang hanya karena balas budi itu tidak akan membuat hidupmu bahagia.”ucapnya membagi sedikit pengalaman hidupnya.
“Haah...”ganti Mattew yang kini mengalah nafas panjang dan berat. Betapa tidak dia berada dalam posisi dilema. Harus berpihak pada anak lelakinya atau pada istrinya.
“Kau jalani saja dulu. Semuanya masih bisa berubah. Dan ayah sarankan saat ini jangan sampai menyinggung ibu mu dulu.”balasnya mengingatkan kembali. Ia pun kemudian keluar dari kamar Gavin.
__ADS_1
Di rumah keluarga Meyer baru saja mereka tiba di rumah.
“Christine !”teriak Ellyz memanggil putrinya yang segera berlari turun dari mobil begitu pintunya terbuka.
Christine menjawab apalagi menengok ke belakang. Ia terus berlari dan masuk ke kamarnya.
Bugh
Christine pembanding tubuhnya dengan keras ke tempat tidur.
“Sia-sia aku berdandan cantik malam ini. Sedikit saja dia tidak menoleh padaku.” Christine memukul bantalnya dengan keras lalu mendekapnya erat.
Ellyz mengejar putrinya dan masuk ke kamarnya.
“Christine... tenangkan diri mu.” Ellyz duduk di tepi ranjang putrinya sambil membelai rambut Christine.
__ADS_1
“Ibu... kenapa semua ini terjadi padaku ?” Christine duduk dan memeluk ibunya. Air matanya tumpah ruah membasahi pipinya yang merah.
BERSAMBUNG...