Terpikat Pada Pria Gila

Terpikat Pada Pria Gila
Eps. 49 Sebuah Liontin


__ADS_3

Beberapa orang terlihat mulai bergerak dan menyebar sesuai dengan perintah nyonya mereka untuk mencari keberadaan Gavin.


Beberapa orang itu mencari di beberapa kota yang dekat dengan tempat terakhir Gavin di buang.


Di rumah mewah tadi seorang lelaki turun dari sebuah mobil mewah dan masuk ke rumah naik ke lantai dua. Di sana dia bertemu dengan wanita tadi.


“Sayang apa kau lakukan di sini ?” ucap lelaki tadi melihat wanita tadi berjalan keluar dari sebuah ruangan.


“Tidak ada... aku hanya melihat kamar putra tersayang mu saja.”ucap wanita tadi menjelaskan.


“Sudah lama Gavin belum kembali semenjak kau melakukan hal itu padanya. Menurut ku kau terlalu keras padanya.”ucap lelaki itu menghampiri wanita tadi.


“Matthew, suami ku... sedari kecil kau terlalu memanjakan anak itu. Itu harga yang pantas dia terima setelah membuat kekacauan.”jawab wanita tadi tersenyum lebar menyentuh pipi lelaki itu.


“Satu perusahaan saja yang hancur tak akan mempengaruhi aset kita.”balas lelaki itu menaruh kedua tangannya di bahu istrinya.


“Satu perusahaan saja sudah berapa. Jika aku tetap membiarkannya dan tak memberinya hukuman maka kedepannya dia akan tetap seperti itu dan mengurangi kesalahannya berulang kali. Sebelum semuanya terlambat maka lebih baik aku mencegahnya.”balas wanita tadi menyingkirkan tangan suaminya dari bahunya lalu berlalu pergi begitu saja meninggalkan lelaki itu.


“Victoria... dalam waktu tiga bulan, jika Gavin belum kembali juga ke rumah maka aku akan mencarinya. Jika sampai terjadi apa-apa padanya, maka kau yang yang harus bertanggung jawab!”balas Matthew sambil mengepalkan tangannya menahan amarahnya.


Wanita tadi berbalik dan hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya menanggapi perkataan suaminya dan kembali berlalu meninggalkannya.


Hingga siang berlalu orang suruhan Victoria baru kembali. Mereka masuk ke rumah dan menuju ke suatu ruangan khusus.


Terlihat di ruangan itu nyonya mereka duduk sambil memeriksa beberapa dokumen yang ada di meja.


“Permisi Nyonya Victoria...”ucap seorang lelaki berdiri di depan pintu sambil mengetuk pintunya.


Wanita itu menaruh berkas yang dibawanya ke meja dan menetap keluar pintu.


“Ya kalian masuklah.”jawab wanita itu kemudian berdiri dan berjalan beberapa langkah.


Tiga lelaki berbaju serba hitam masuk ke ruangan dan memberi hormat padanya.


“Bagaimana hasil penyelidikan hari ini ?”ucap wanita itu bertanya kemudian berdiri di depan mereka.


“Nyonya kami semua sudah mencarinya di beberapa kota tempat tuan muda di buang dan kami tidak menemukannya.”ucap seorang lelaki mewakili untuk menyampaikan laporan mereka.

__ADS_1


Wanita itu tidak terlihat sedih ataupun cemas sama sekali mendengar kabar dari anak buahnya.


“Ya baiklah... teruskan pencarian kalian sampai satu minggu ke depan dan laporkan pada ku setiap ada informasi.”balas wanita itu dengan datar.


“Baik nyonya kami akan melanjutkan pencariannya. Kami permisi dulu.”jawab lelaki tadi lalu segera keluar dari ruangan itu.


Di luar ruangan salah satu lelaki mengobrol dengan temannya setelah jauh dari rumah atasan mereka.


“Aku merasa bingung pada sikap nyonya. Beberapa waktu lalu meminta kita untuk membuang tuan muda, sekarang meminta kita untuk mencarinya.”celetuknya karena tak mengerti jalan pikiran majikannya.


“Aku juga bingung dengan perintah nyonya. Sebenarnya apa yang direncanakannya. Tapi kita hanya bawahan saja. Sebaiknya kita segera bergegas kembali menjalankan tugas ini.”balas lelaki lain menanggapi.


Ketiga orang itu kemudian memanggil anak buah mereka dan meminta mereka kembali melakukan pencarian ulang di tempat lainnya.


Sementara itu di lain tempat di sore hari Kyra kembali keluar dari kantor dengan menekuk kedua alisnya membawa setumpuk berkas dokumen dari editor Oliver.


“haah.... lagi-lagi aku beruntung dan mendapatkan banyak tugas seperti ini. Mungkin saja di lain waktu aku tak hanya diminta membantu mengerjakan artikel ini tapi juga meliput sebuah berita.”gumam Kyra mengomel sendiri panjang lebar untuk meluapkan kekesalannya.


Di luar terlihat Alden baru datang dan turun dari motor saat melihat Kyra keluar dari kantor.


“Apa yang membuat mu terlihat kesal seperti itu ?”ucap Alden menghampiri Kyra.


“Itu masalah kecil kak... maksud ku... Kyra... aku akan membantu mu mengerjakannya nanti.”balas Alden yang masih membiasakan diri memanggil gadis itu dengan menyebut namanya saja.


“Baiklah... aku mengandalkan mu jika begitu.”jawab Kyra sedikit obati rasa kesalnya dengan ucapan Alden yang memberinya ketenangan.


“Ayo kita pulang.”ucap Alden berjalan kembali ke motor. Kyra mengangguk dan mengikutinya.


Kyra naik ke motor dan Alden segera melaju motornya di jalanan menuju ke rumah.


Di tengah jalan, Kyra teringat jika bahan masak di kulkas dan yang lainnya sudah habis.


“Alden... bagaimana jika kita mampir sebentar ke swalayan terdekat untuk membeli bahan memasak yang habis daripada nanti malam kita balik lagi ?”ucap Kyra sambil menepuk bahu Alden.


“Ya... tak apa. Di rumah juga ada Bram yang menunggu jualan ku.”jawab Alden teringat pada jualannya di rumah yang saat ini sedang ramai


Motor kemudian berhenti di sebuah swalayan. Mereka berdua turun dari motor dan masuk ke swalayan.

__ADS_1


Kyra mengambil troly dan segera menuju ke stand bahan-bahan makanan. Sedangkan Alden berjalan di belakangnya mengikutinya dan melihat-lihat.


“Itu bagus... aku tak pernah memberikan sesuatu pada kakak sejak kami jadian.”batin Alden melihat sesuatu yang menarik.


“Ka... Kyra ada sesuatu yang mau ku beli. Aku pergi dulu sebentar nanti aku akan kembali menyusul mu.”ucap Alden menepuk bahu Kyra untuk meminta izin padanya.


“Ya baiklah, cepat kembali aku sudah hampir selesai.”balas Kyra berbalik dan memberinya izin.


Alden kemudian berjalan menuju ke stand perhiasan yang tadi dia lihat. Banyak perhiasan model terbaru yang dipajang di sana.


Alden melihat-lihat mencari barang yang menurutnya bagus dan tatapannya tertuju pada sepasang cincin.


“Tolong aku mau lihat cincin ini.”ucap Alden pada penjaga stand.


Penjaga stand kemudian mengeluarkan cincin yang ditunjuk oleh Alden.


Dia kemudian mencobanya. Ukuran untuk dirinya pas, namun ukuran lainnya kebesaran.


“Tolong untuk yang ini di ganti dengan ukuran yang lebih kecil di bawahnya.”ucap Alden menyerahkan cincin tadi.


“Baik...tuan.”jawab penjaga stand melambangkan ukuran cincin yang lebih kecil dan menyerahkannya kembali ke Alden.


Alden melihat di etalase itu menawarkan jasa gravir nama.


“Tolong tulis nama Alden di cincin yang ini dan nama Kyra di cincin yang ini.”ucap Alden menyerahkan kembali cincin yang dipegangnya pada penjaga stand.


“Baik silakan ditunggu dulu tuan, ini tak akan lama.”jawab penjaga stand.


Sambil menunggu Aldan kemudian melihat perhiasan lainnya. Di sana ternyata ada liontin juga. Dia melihat-lihat sebuah liontin.


Tatapannya tertuju pada sebuah liontin berbentuk bulan sabit.


“Aku seperti pernah melihat liontin ini, di mana ya ?”gumam Alden berusaha mengingatnya.


Tiba-tiba dia kembali melihat masa lalunya. Alden melihat dirinya bersama seorang gadis cantik yang mengenakan gaun putih.


“Ini kalung dariku sebagai hadiah pertunangan dariku untukmu.”ucapnya membuka kotak perhiasan dan mengeluarkan sebuah kalung lalu memasangkannya pada leher gadis itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2