
“Keluar ?” tanya Gavin menatap tunangannya. “Kemana ?” ingin tahu tempat tujuan mereka.
Christine berjalan dan berhenti tepat di samping Gavin. Ia tersenyum kecil menatapnya.
“Tante bilang kau baik-baik saja setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Untuk itu aku ingin mengajakmu keluar merayakan kesembuhan mu.” jelasnya sambil menyentuh bahu Gavin.
“Itu aku...” Gavin menjeda kalimatnya dan berpikir bagaimana cara untuk menolaknya. “Christine bukannya aku menolak ajakan dari mu, aku berangkat bersama ibu. Tak mungkin aku pulang bersamamu. Selain itu aku tidak tahu apa dia akan memberikan izin padaku.” jawabnya dengan halus agar tidak melukai perasaan gadis itu.
“Ya aku memberimu izin sekarang.” sahut Victoria yang tiba-tiba masuk ke ruangannya, kebetulan dia memang mau mengajak Gavin pulang namun ada Christine di sana. Jadi kenapa tidak memberinya izin saja ?
“I-ibu... aku... bagaimana dengan Ibu nanti ?” menatap Victoria yang tersenyum dengan wajah yang bersinar.
“Tak apa pergilah bersama Christine. Ibu sudah biasa pulang sendiri juga. Aku rasa itu baik untuk mu. Kau butuh refreshing.” merasa senang karena tak perlu ia memanggil Christine, gadis itu datang sendiri.
“Terima kasih tante.” Christine tersenyum lebar menatap Victoria karena memberikan kesempatan padanya untuk lebih dekat dengan Gavin.
“Ayo kita pergi sekarang.” Christine menarik tangan Gavin dan mengajaknya keluar dari ruangan.
“Tunggu, aku belum bilang setuju. Kau sudah--” bermaksud protes namun Christine memotong ucapannya. “Kan tante sudah memberi izin tak perlukan bertanya dua kali ?”
__ADS_1
Christine menyeret Gavin keluar kantor dan membawanya masuk ke mobilnya.
Broom
“Kau mau membawaku ke mana ?” Gavin menatap jalanan di depan.
“Ini tempat yang manis. Maksud ku di sana banyak memori manis.” menatap Gavin dengan Intens dan terus menerus tersenyum.
Gavin pun tidak bertanya kembali. Ia memilih untuk diam daripada tidak sadar ia menunjukkan sikap aslinya di depan Christine.
“Oh... dia mengajak ku ke sana rupanya. Ke restoran seafood kesukaannya.” Gavin mengetahui tujuannya setelah melihat jalanan dan ia terlihat menarik nafas panjang beberapa kali.
“Sayang...maksud ku Gavin ayo kita turun.” Christine meralat panggilannya karena sebelumnya dia terbiasa memanggilnya demikian.
Gavin turun dari mobil dan mengikuti gadis itu masuk ke sana. Meskipun dia sebenarnya tak ingin.
Kruuk
“Sepertinya memang tepat sekali aku mengajakmu ke sini. Kau lapar.” Cheryn tersenyum kecil mendengar suara perut Gavin yang keroncongan.
__ADS_1
Gavin diam saja. “Sial... ini membuatku malu saja.” ia pun mengikuti Christine duduk dan memilih untuk duduk di depannya.
Christine mana daftar menu yang ada di meja kemudian memilih menu untuk dirinya dan juga untuk Gavin.
“Tolong satu menu A dan satu menu B.” ucap Christine menyerahkan daftar pesanannya pada waiters yang lewat.
“Baik nona.” waiters mengambil pesanan mereka dan menyiapkannya.
Beberapa saat kemudian menu yang mereka pesan sudah terhidang di meja mereka.
“Gavin di sini tempat pertama kali kita bertemu. Apa kau ingat ?”
“uhuk...” Gavin seketika tersedak. Tentu saja dia teringat. Di sinilah ia bertemu dengan Christine bersama ibunya setelah mengikuti kegiatan rutin pengusaha sukses.
Gavin menanggapi singkat semua cerita dan pertanyaan yang dilontarkan oleh Christine.
Tanpa sepengetahuan mereka ada seorang Paparazzi yang juga berada di restoran itu dan sedang makan.
“Bukankah pria di sana itu adalah tuan muda Gavin ?” melihat Gavin secara tak sengaja. “Lama sekali dia tak masuk pemberitaan. Sepertinya aku mendapatkan berita bagus kali ini.” tersenyum kecil.
__ADS_1