
Gavin mendengarkan cerita Christine. Ia tahu cerita yang diceritakannya padanya hanyalah sebuah karangan belaka. Ia mengingat kembali hubungan mereka di masa lalu dan memadukan dengan cerita Christine saat ini dan membuat kepalanya terasa pusing.
“Christine kepalaku... auwh.” Gavin memegang kepala dengan kedua tangannya.
“Gavin kau kenapa ?” Christine berhenti bercerita dan menatap Gavin. “Apa kau mengingat sesuatu setelah mendengar cerita dariku ?” tersenyum kecil mengira pria di sampingnya itu percaya dengan apa yang ia ceritakan dan cerita itu masuk ke ingatannya menjadi ingatan baru.
“Apa ini reaksi yang diceritakan sebagai efek samping dari hipnosis oleh tuan Lawrence ? Bukankah seharusnya ini muncul 24 jam ke depan.” Gavin teringat kembali pada apa yang dikatakan oleh psikiater yang merawatnya.
“Christine tolong panggilkan ayah ku.” memegang tangan gadis yang ada di sampingnya. “Sungguh ini sakit sekali, bahkan lebih sakit daripada yang pernah kurasakan.”
Christine menganggap apa yang diucapkan oleh tunangannya itu tidaklah serius karena ia emang baru dua hari ini pertemuan dengan pria itu, jadi tidak mengetahui seberapa parah kondisinya.
__ADS_1
“Christine... tolong.” Gavin merasa kepalanya semakin berat bahkan hampir terasa seperti meledak dan ia pun tiba-tiba kejang, tak lama setelahnya ia tak sadarkan diri.
“Oh My God... Gavin... what happened ?” Christine seketika menjadi panik melihat pria di sampingnya tak sadarkan diri karena sebelumnya baik-baik saja. “Gavin bangun, jangan menakuti aku.” Menepuk-nepuk pipi Gavin untuk menyadarkannya namun pria itu masih menutup matanya.
“Tolong...!” ucap Christine pada pelayan yang ada di sudut ruangan, meminta tolong padanya.
“Tenang nona.” jawab pelayan lelaki yang ditempatkan di sudut ruangan.
Pelayan itu kemudian dengan cepat membawa Gavin masuk ke kamar Gavin. Dan setelahnya ia memberitahu tuan dan nyonyanya.
“Apa ?” Matthew terkejut sekali mendengarnya dan khawatir jika saja itu adalah efek samping dari terapi. “Dimana dia sekarang ?”
__ADS_1
“Tuan muda ada di kamar.”jawab pelayan singkat.
Matthew dan Victoria kemudian bergegas mengikuti pelayan tadi masuk ke kamar Gavin. Di sana ternyata sudah ada Christine yang duduk di samping Gavin dan terlihat sangat cemas sekali.
“Tante... Om..., Gavin pingsan. Aku tidak tahu tiba-tiba dia kejang dan setelahnya pingsan.” Christine menjelaskan kronologis kejadiannya. “Tenang Christine kita bawa saja Gavin ke rumah sakit sekarang.” jawab Matthew menimpali.
“Jika aku membiarkan anak ini dibawa ke rumah sakit sekarang maka tidak memungkinkan dia akan mendapatkan perawatan dan berpeluang amnesianya sembuh. Aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.” Victoria melihat suaminya mengambil ponsel yang akan menghubungi ambulans. Ia segera menyebutnya dan memegang nya.
“Matthew... biarkan saja dia di sini. Kita panggil dokter keluarga saja daripada membawanya ke rumah sakit. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Dan kurasa selama ini kita baik-baik saja mendapatkan perawatan dari dokter keluarga.” ucapnya meyakinkan mereka berdua supaya tenang dan cemas berlebihan.
Matthew hanya menatap kosong mata istrinya. Ia tak bisa berbuat apa-apa jika wanita itu sudah berkata demikian. Karena jika ia memaksa tetap saja tak ada gunanya.
__ADS_1
“Semoga kau baik-baik saja, Gavin.” Matthew menatap Gavin dengan menahan rasa cemasnya agar tidak terlihat oleh istrinya.
Victoria kemudian meminta pelayannya ada di rumahmu untuk menghubungi dokter keluarga sekarang juga dan memeriksa kondisi Gavin.