Terpikat Pada Pria Gila

Terpikat Pada Pria Gila
Eps. 134 Ide Mengenalkan Kyra


__ADS_3

Gavin berjalan dengan cepat masuk ke kamar karena ia tahu sebentar lagi ayahnya atau ibunya pasti akan pulang.


“klik.” ia segera menutup pintunya setelah masuk ke kamar.


Gavin melepas tuksedo nya dan duduk di tempat tidur yang nyaman.


“Kenapa kakek mewariskan seluruh asetnya padaku dan bukan pada ibu ?” Gavin duduk bersandar ke dinding dan mengingat kembali dokumen rahasia yang tadi dilihatnya. “Apa alasan ibu menyembunyikan dokumen itu dariku ?”


Gavin kemudian berpikir dan mencari benang merah di antara keduanya. “Tunggu... apa Ibu menyembunyikan hal itu dariku dengan tujuan untuk menguasai semua aset kakek yang diwariskan padaku ?” tiba-tiba terlintas sebuah pikiran yang tak masuk akal. “Jadi perlakuan kejam nya pada ku dilakukan atas motif ini, hingga dia hampir merenggut nyawaku ?”


Ia benar-benar sama sekali tak menyangka kenapa ibu kandungnya sendiri seperti seperti seorang ibu tiri saja yang sering menyiksanya dari kecil hingga saat ini hanya demi sebuah warisan aset perusahaan yang tak ternilai jumlahnya.


“Picik sekali dan sempit pikirannya. Hanya demi dolar membuat hatinya dikuasai dengan keserakahan dan ketamakan hingga penyakit tidak ada dagingnya sendiri.” Gavin menggelengkan kepala dan sangat menyayangkan sekali tindakan ibunya.


“Aku sendiri tak butuh warisan ini. Aku akan membangun dan mengembangkan usahaku sendiri.” tersenyum kecut dan tak mau memikirkan hal itu lagi yang membuat dadanya terasa sesak.


“Ding.” nada pesan masuk.


Gavin segera meraih ponselnya untuk melihat pesan dari siapa yang barusan masuk.


“Gadis itu... dasar ! Dia bilang tidak mau menggunakan kartu kredit ku. Tapi lihat report ini.” membaca report pemberitahuan penggunaan kartu kredit yang mencapai 100 dolar. “Apa yang dia beli ?” Gavin menaruh kembali ponselnya dan tersenyum lebar memikirkan gadisnya.


Di Ottawa terlihat Kyra keluar dari pusat body care dengan wajah glowing dan kulit yang terlihat lebih berkilau dari biasanya.


“Rugi jika aku tidak membelinya.” Kyra perjalanan melewati pusat perbelanjaan di mana di sana terlihat gaun yang menawan. Ia pun masuk ke sana dan beberapa saat kemudian dia sudah keluar dari sana dengan menenteng enam tas dan tersenyum lebar lalu masuk ke taksi beberapa saat setelahnya.


Setelah pertunangannya dengan Christine benar-benar berakhir, Gavin terpikirkan tentang hubungannya dengan Kyra.


“Aku serius dengan Kyra, bagaimana jika aku mengajaknya kemari dan mengenalkan pada ibu ?” ia merasa sudah saatnya menunjukkan kekasihnya itu pada orang tuanya di saat kosong seperti ini daripada dia kembali dijodohkan dengan gadis lainnya yang tidak ia sukai sama sekali.


“Baiklah aku tak sabar ingin menemui mu sayang.” Gavin bangkit dari duduknya dan tersenyum lebar. Ia pun segera bersiap setelah melihat jam dinding yang menunjukkan waktu terus berjalan.


Di rumah Christine. Gadis itu Berapa hari terlihat mengurung diri setelah kejadian di hotel bersama Feliks.

__ADS_1


Siang malam dia selalu teringat pada mantan kekasihnya yang masih juga setia dan mengejar dirinya. Ia teringat semua sentuhan Feliks di seluruh tubuhnya yang tak bisa ia lupakan.


“Fuck.... Feliks ! Kau membuatku menderita begini.” umpatnya kesal dan mencoba mengalihkan pikirannya kembali pada hal yang lainnya.


Ya, gadis itu ingin mengulang lagi kejadian bersama mantan kekasihnya hingga tubuhnya terasa panas dan dingin bergantian karena menahannya.


“Aku bisa gila jika terus seperti ini.” berteriak kesal karena tetap saja gagah mengalihkan pikirannya padahal lainnya.


“huft... oke aku akan mengatasinya. Christine berdiri dan mengambil ponsel yang ia letakkan di meja. Ia mulai menelepon nomor Feliks.


“kring...” suara ponsel Feliks berdering.


Pria itu sedang bermain plays station.


“Telepon dari siapa ?” Feliks menaruh yang dipegangnya dan meraih ponselnya. “Christine ? Ada apa dia menelepon ku ?” tersenyum tak percaya membaca nama peneleponnya.


“Halo sayang, ada apa kau menelepon ku ? Apa kau merindukan aku ?” ucap Feliks setelah mengangkat teleponnya kemudian duduk di tempat tidur dan bersandar ke dinding. “Aku tidak rindu padamu, tapi aku ingin bertemu dengan mu.” jawabnya dengan ketus. “Well.... well...sayang, dimana kita bertemu ?”


“Aku ada di depan rumahmu sekarang. Keluarlah.”


“Astaga dia benar-benar ada di depan rumah.” Feliks tersenyum lebar melihat Christine yang mendongak ke atas menatap dirinya. “Cepat turun sekarang juga.” dengan nada yang masih ketus.


Tak menunggu lama, Feliks pun segera turun dari kamar setelah menyemprotkan beberapa parfum ke seluruh tubuhnya.


“Christine ada apa ?” Feliks sampai di bawah dan menghampiri gadisnya. “Hmm...” Christine menarik kerah baju Feliks dan menghirup aroma parfum di tubuhnya.


“Masuk.”


Christine menarik tangan Feliks dengan kasar masuk ke mobilnya.


“Sayang sebenarnya kau ingin mengajakku ke mana ?” ucapnya salah duduk di samping Christine.


“Kau akan tahu setelah ini.” jawabnya singkat dan segera mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian mobil Christine masuk ke sebuah hotel dan berhenti di sana.


“klak.” Christine membuka pintu mobil dan turun dari sana di ikuti dengan Feliks yang turun kemudian.


Mereka berdua masuk ke hotel dan berhenti di depan petugas resepsionis.


“Tolong satu bed deluxe.” ucap Christine melakukan reservasi. “Baik nona, silahkan. Ini kuncinya, room 89.” petugas resepsionis menyerahkan sebuah kunci pada Christine.


“Apa sebenarnya gadis ini ingin lakukan ? Apa perlu membicarakan satu hal penting di hotel seperti ini ?” Feliks masih penasaran dan benar-benar tidak tahu apa rencana gadisnya.


“klik.” Christine tiba di depan room 89 dan mengunci kembali pintunya setelah Feliks masuk ke dalam.


“Jadi sayang apa yang ingin kau bicarakan ?” menghampiri Christine yang duduk di tempat tidur setelah menaruh tasnya.


“Feliks... kau yang membuatku seperti ini.” Christine berdiri dan menyentuh leher Feliks.


Ia kemudian menyentuh bibir tipis Feliks dan mengecupnya.


“Christine... apa kau ingin--gadis itu membungkam mulut Feliks dan mencium bibirnya. “Christine akhirnya aku bisa membuat dirimu tak bisa jauh dari ku. Selangkah lagi kau benar-benar akan menjadi milikku.”


Seperti mendapatkan angin segar, Feliks membalas ciuman gadisnya dengan kasar. Ia beralih mencium leher Christine dan membuka resleting bajunya.


Feliks bermain-main di area dada.


“Aah....Feliks.” Christine mendesah saat pria itu terus meremas dadanya sambil menghisapnya yang membuatnya tak kuasa untuk membuka resleting celana Feliks dan melepasnya.


“Aaah...” Feliks mendesah saat gadisnya bermain-main di sana dan kini Christine menghisapnya dengan kasar.


Dalam waktu dua menit saja semua pakaian yang menempel di tubuh mereka berdua terlepas dan jatuh ke lantai.


Christine melompat dan dalam gendongan Feliks dengan melingkarkan kakinya ke pinggang pria itu.


“Aah....aaah...” Christine mendesah panjang saat Feliks mulai membenamkan tubuhnya dan mengocok tubuhnya.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian berbaring ke tempat tidur untuk beristirahat sebentar dan setelahnya kembali mengulanginya.


__ADS_2