
...***...
"Um… Frans." Aphrodite berucap memecah keheningan yang tengah menyelimuti kebersamaan mereka. Fransisco yang tertunduk pada makanannya lalu beralih fokus padanya.
"Huh? Ada apa?"
"Hm…" Aphrodite berusaha untuk tenang, meraih gelas berisi minuman miliknya lalu meneguknya secara perlahan. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Bicaralah."
"Kalau boleh… aku ingin kembali bekerja." Aphrodite memelankan akhir kalimatnya.
"Bekerja? Kenapa?" Fransisco tampak terkejut dengan kalimat yang baru saja terlontar dari mulutnya.
"Aku hanya ingin mengisi waktu kosong ku dengan menyibukkan diri dengan urusan kantor, lagipula aku jenuh terus menerus berada di dalam rumah tanpa bisa melakukan apa-apa. Maka dari itu, kalau kau mengizinkan aku ingin kembali bekerja agar aku tidak hanya diam di rumah saja."
"Aku tidak mengizinkannya. Aku tidak ingin kau lelah karena bekerja, aku juga tidak ingin sampai kau sakit karena harus menghadapi pekerjaan dan lain sebagainya. Biarkan aku saja yang bekerja, lagipula aku adalah kepala keluarga di sini. Jadi biar aku yang bekerja dan mencari uang untuk menghidupi keluarga kita."
"Frans…" Aphrodite meraih tangan Fransisco, menggenggamnya secara perlahan. Kedua manik matanya menatap lekat kedua irish mata pria yang menjadi suaminya itu. "…Ini bukan soal uang, ini bukan soal menafkahi dan lain sebagainya. Aku hanya ingin menghilangkan rasa bosanku, ini hanya sebagai pengisi waktu luang. Lagipula kau tahu sendiri semenjak aku menikah, aku benar-benar tidak memiliki kegiatan lain selain duduk bersantai di rumah tanpa melakukan hal lain selain mengurus rumah. Yang membuatku dongkol adalah diam tak bisa melakukan apapun setelah semua pekerjaan rumah ku selesai." Jelasnya panjang lebar tanpa memberikan sedikit pun kesempatan untuk Fransisco membalas kalimatnya.
"Tapi…" Fransisco menggantungkan ucapannya, menatap Aphrodite yang kini memandanginya penuh harap. Wajahnya memelas.
"Boleh, ya?" Gumamnya. Fransisco terdiam sejenak, ia tengah menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya lagi-lagi hanya bisa meng-iya-kan keinginannya.
"Huft~" Fransisco menghela napas sebelum akhirnya berkata, "aku tidak bisa berkata tidak padamu."
"Jadi…?" Aphrodite meminta kejelasan dari keputusan Fransisco.
"Kau boleh kembali bekerja, tapi… di kantorku, dengan begitu akan lebih mudah bagiku memantau keadaan mu."
"Aku tidak mau bekerja di kantormu. Bukannya apa-apa, hanya saja aku tidak ingin orang-orang di kantor merasa canggung dan sungkan untuk meminta bantuan ku karena mereka tahu kalau aku adalah istrimu. Kalau boleh aku ingin mencari kerja di tempat lain, ya?"
"Tapi… kalau begitu akan sulit untukku memantau keadaan mu."
"Aku tidak nyaman bekerja di kantormu. Para pegawaimu juga pasti akan merasa canggung harus bekerja denganku, dan lagi harus kau ingat aku tidak ingin mendapatkan perlakuan khusus. Maka dari itu, izinkan aku untuk mencari pekerjaan di tempat lain."
Fransisco meraih gelas miliknya meneguk isinya guna membuat hatinya lebih tenang menghadapi permintaan Aphrodite.
"Ya?" Aphrodite masih tampak berusaha membujuknya. Fransisco hanya bisa tersenyum simpul sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah," finalnya dengan suara yang terdengar pasrah.
"Terima kasih Frans." Aphrodite balas tersenyum ke arahnya.
"Bukan masalah."
__ADS_1
...*...
Wanita itu menyodorkan secarik kertas yang di genggamnya ke arah Jordan.
Jordan meraih kertas tersebut dan memandangi kertasnya.
"Aku akan berkunjung…" tutur Jordan seraya menoleh ke arahnya.
"Terima kasih," ujarnya seraya balas tersenyum.
Ingatan itu kembali terekam dalam memorinya begitu ia merasakan atmosfer yang benar-benar familiar baginya. Ingatan mengenai pertemuannya dengan seorang wanita yang dulu sempat singgah di hidupnya.
"Pak?" Panggil sekretarisnya yang dalam seketika membuat pria itu tersadar dari lamunannya.
"Ya?"
"Kita harus kembali ke kantor," katanya mengingatkan.
"Oh… omong-omong setelah ini jadwalku kosong 'kan? Tidak ada meeting lagi 'kan?"
"Tidak pak." Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau begitu, kau kembali ke kantor saja lebih dulu. Saya ingin pergi ke suatu tempat lebih dulu, saya akan kembali setelah jam makan siang."
Sepeninggalan sekertaris nya, Jordan lantas berjalan pergi dari tempatnya berada saat ini, menyeberangi jalan dan melangkah secara perlahan menuju suatu tempat yang di maksudnya.
...*...
Fransisco beralih fokus saat ia tengah membayar semua makanannya, ponselnya secara tiba-tiba berdering. Ia mengeluarkan ponselnya, menatap layar persegi itu yang kini menunjukkan layar panggilan masuk dari seseorang.
Fransisco menekan tombol hijau yang secara otomatis menghubungkan sambungan telponnya dengan seseorang di seberang sana.
"Halo?" Ujarnya begitu sambungan telponnya itu terhubung.
"…"
"Apa? Sekarang?"
"…"
"Apakah kau tidak bisa menangani nya dulu?"
"…"
"Baiklah-baiklah. Saya akan ke sana sekarang." Fransisco menutup sambungan telponnya sepihak, ia lantas memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong jas yang di kenakan olehnya.
__ADS_1
Aphrodite kembali setelah menyelesaikan beberapa urusan kecilnya di toilet, ia berjalan menghampiri Fransisco yang masih terduduk di meja tempat mereka berada saat ini.
"Kau sudah selesai?" Tanya Fransisco begitu mendapati Aphrodite baru saja tiba.
"Ya. Kau juga sudah selesai?"
"Iya." Fransisco menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu ayo pulang." Aphrodite melangkah keluar dengan diikuti oleh Fransisco di samping nya. Tiba di depan restoran mereka berhenti.
"Ng… maaf. Tapi sepertinya aku tidak bisa mengantarkan kau pulang."
"Huh? Ada apa? Apakah ada masalah di kantor?"
"Ya, dan sekertaris ku tidak bisa mengatasinya sendiri. Maka dari itu aku harus turun tangan sendiri."
"Oh, begitu rupanya."
"Tidak apa-apa kalau aku meminta asisten ku saja yang mengantarkan mu?"
"Huh? Tidak perlu, aku akan pulang dengan taksi saja."
"Tidak. Biar aku minta asisten ku untuk kemari dan mengantarkan kau pulang, ya? Dengan begitu aku akan merasa tenang kalau tahu kau pulang dengan asisten ku."
"Tapi Frans aku bisa pulang sendiri."
"Tetap saja aku akan merasa cemas kalau tahu kau pulang sendiri setelah menemui ku. Makanya, kau pulang dengan asisten ku saja, ya? Akan aku minta dia untuk memastikan kau pulang dengan aman."
"Baiklah, terserah kau saja."
"Kalau begitu aku akan segera menghubungi asistenku untuk menjemputmu di sini sekarang juga. Kau tunggu saja sebentar, tidak apa-apa 'kan?"
"Oke."
"Sekali lagi aku minta maaf karena tidak bisa mengantarkan kau pulang."
"Iya, tidak apa-apa. Aku mengerti."
"Terima kasih karena sudah mau mengerti, sekarang aku pamit." Fransisco memeluk Aphrodite sebelum berpisah. "Sampai bertemu di rumah saat jam makan malam."
"Ya. Akan aku buatkan makan malam yang enak."
"Aku sudah tidak sabar." Fransisco melerai pelukannya, sejurus kemudian ia beranjak pergi dari sana meninggalkan aphrodite seorang diri yang kini mulai menunggu asistennya datang menjemputnya disana.
...***...
__ADS_1