
...***...
"Menaranya indah ya," gumam Fransisco.
"Iya," jawab Aphrodite yang masih memandangi menara Eiffel yang ada di hadapannya itu lekat.
Saat ini mereka berdua tengah terduduk di salah satu bangku yang ada di sana. Duduk sembari memandangi bangunan megah menara Eiffel yang kini berdiri kokoh di hadapan mereka padahal bangunan itu sudah berusia sangat tua.
Fransisco tiba-tiba saja merebahkan kepalanya pada Aphrodite, bersandar pada bajunya seraya memejamkan kedua matanya. Aphrodite terkejut, ia menoleh spontan ke arahnya.
"Hanya untuk sebentar saja. Aku lelah," gumam Fransisco yang seakan tahu kalau Aphrodite akan melontarkan kalimat untuk nya.
Aphrodite terdiam, ia memberikan izin pada Fransisco untuk merebahkan kepalanya pada pundaknya.
Beberapa menit berlalu, dan fokus Fransisco seketika beralih pada jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Jam itu sudah menunjukkan pukul empat sore, dan mereka masih berada di luar.
"Ini sudah sore, ayo kita pulang," ucap Fransisco yang kemudian bangun dari tempat duduknya.
"Baiklah, ayo," sahut Aphrodite yang kemudian ikut bangun. Fransisco meraih tangan Aphrodite dan menuntun nya menuju tempat parkir. Ia kemudian membukakan pintu untuk Aphrodite. Selanjutnya mereka beranjak pergi dari sana, kembali ke mansion untuk melepas penat yang ada dalam dirinya.
...*...
Fransisco melajukan mobilnya memasuki gerbang mansion nya. Ia kemudian menghentikan mobilnya tepat di depan tangga menuju pintu masuk. Ia keluar dari dalam mobil bersamaan dengan Aphrodite.
"Ini," ujar Fransisco pada Adrien yang baru saja tiba di hadapannya. Di tangannya ia menyodorkan kunci mobil pada Adrien.
Adrien meraihnya. Ia kemudian menghampiri mobil tersebut dan memasukkan mobilnya ke garasi.
Fransisco dan Aphrodite melangkah menuju arah mansion, berjalan masuk lewat pintu depan. Di dalam sana, mereka sudah bertemu dengan Bertha yang kini tengah membersihkan rumahnya.
"Tuan muda, nona, kalian sudah pulang rupanya," sapa Bertha begitu keduanya tiba di sana.
"Ya, seperti yang kau lihat. Omong-omong darimana kau?" Sahut Fransisco di akhiri tanya pada kalimatnya. Sedangkan Aphrodite hanya tersenyum ke arah Bertha sebagai salam pertemuannya.
"Saya baru saja selesai membereskan semua pakaian tuan dan nona dari dalam koper ke dalam lemari sesuai perintah tuan. Maaf saya baru mengerjakannya karena sejak tadi saya harus mengerjakan hal yang lain."
"Tidak apa-apa, dan terima kasih."
__ADS_1
"L-lho, kau membereskan semua pakaian kami?" Aphrodite tertegun menatapnya. Fransisco tidak membicarakan hal ini lebih dulu dengan dirinya.
"Benar nona."
"Tapi seharusnya tidak perlu, lagipula aku bisa melakukannya."
"Tidak apa-apa, lagipula sudah menjadi tugas saja di rumah ini," ujar Bertha seraya tersenyum.
"Frans." Aphrodite melirik ke arah pria yang menjadi suaminya itu.
"Tidak apa-apa, lagipula Bertha akan sangat senang bisa membantu kita," ujar Fransisco.
"Ah, tetap saja tidak enak. Lagipula Bertha lebih tua di bandingkan kita, seharusnya kita menghormati nya."
"Tapi ini sudah menjadi tugasnya. Yang ada kalau kau tidak mau di bantu olehnya, itu akan membuat Bertha sedih."
"Ta-tapi…"
"Sudahlah, jangan memperdebatkan ini. Lagipula Bertha juga tidak keberatan kan? Dan semuanya juga sudah selesai. Sekarang lebih baik kita ganti pakaian setelah itu kita istirahat, kau pasti lelah kan?"
"Ta-tapi…"
"Baik tuan," sahut Bertha. Ia lantas beranjak pergi dari sana. Melangkah menuju arah dapur untuk mempersiapkan tim-nya untuk segera memasak hidangan makan malam untuk Fransisco dan Aphrodite sementara kedua orang pengantin baru itu membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian.
...*...
Waktu berlalu, dan malam pun tiba. Saat ini Aphrodite tengah duduk di meja makan bersama dengan Fransisco. Menikmati waktu makan malam mereka dengan di temani oleh hidangan yang telah di buatkan oleh Bertha dan timnya.
"Makanan yang kalian buat benar-benar lezat, kapan-kapan bolehkah kalian mengajari aku memasak?" Tanya Aphrodite seraya mengalihkan pandangannya pada Bertha dan timnya yang saat ini berdiri di sana.
"Tentu saja nona, kami akan membantu mengajari anda memasak asalkan dengan izin dari tuan." Sahut Bertha seraya menoleh pada Fransisco. Pria itu tersenyum mendengarnya, Bertha adalah sosok yang pengertian baginya.
Aphrodite melirik pada pria yang kini terduduk di hadapannya.
"Memangnya kenapa aku harus meminta izin? Lagipula kan kalau aku bisa memasak itu juga untuk kita makan," ucap Aphrodite seraya mengerutkan keningnya bingung.
"Tanpa izin saya tidak berani," Bertha menyahut.
__ADS_1
"Frans." Aphrodite memandanginya. Fransisco mendongak menatap pada Aphrodite. "Bolehkan?" Aphrodite memastikan.
"Tidak. Aku tidak mengizinkannya."
"Huh? Kenapa?"
"Aku hanya tidak ingin kau terluka saja. Apalagi di dapur nanti kau harus berhadapan dengan pisau, api, gas. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa, itu saja."
"Tapi kalau aku tidak bisa memasak kita akan makan apa? Makan angin?"
"Mudah, kita hanya perlu cari asisten rumah tangga. Kan?"
"Itu pemborosan. Lagipula mencari asisten rumah tangga yang mudah di percaya dan jujur itu sangat sulit. Dan akan memakan waktu yang sangat lama untuk mencarinya."
"Sementara mencari asisten rumah tangga, kita kan bisa makan di luar setiap kali jam makan, apa susahnya?"
"Oh, Frans apalagi itu. Itu membuang-buang uang, sekarang kalau kita makan di luar tiga kali sehari, belum lagi kita harus pulang pergi dengan menggunakan mobil. Itu benar-benar membuang-buang waktu juga. Lagipula apakah kau tidak sayang pada uangmu?"
"Kenapa? Lagipula uangku banyak, kau tidak perlu cemas. Bahkan akan cukup untuk nanti sampai kita menjadi buyut dari anak cucu kita."
"Frans!"
"Ah, baik-baik kau boleh belajar memasak," finalnya. Fransisco mengalah, ia memang tidak bisa berkata tidak untuk Aphrodite. Kalaupun bisa, Aphrodite pasti lebih hebat dalam mengubah pikiran pria itu.
Aphrodite mengulum senyum, ia lantas beralih pandang pada Bertha.
"Kalau begitu bagaimana kalau mulai besok kau ajari aku memasak?" Tanya Aphrodite.
"Baik nona." Bertha tersenyum.
"Sudahlah, sekarang lebih baik kau fokus makan dulu," kata Fransisco.
"Iya, oh omong-omong terima kasih karena sudah mengizinkan aku belajar memasak bersama Bertha."
"Aku tidak bisa berkata tidak padamu sayang," ujar Fransisco seraya tersenyum ke arahnya. Aphrodite tertegun, rasanya terasa aneh saat Fransisco memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Walaupun dulu saat pria itu begitu menggilai dirinya—oh tidak! Ralat! Saat ini juga Fransisco memang menggilai Aphrodite, hanya saja sekarang sikapnya bisa di katakan sedikit jauh lebih baik di bandingkan sebelumnya yang begitu agresif.
Aphrodite terdiam, ia hanya tersenyum tipis menanggapinya kemudian kembali di sibukkan dengan makanan yang ada dihadapannya. Menyantap semuanya hingga habis tak tersisa.
__ADS_1
...***...