Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Bertha


__ADS_3

...***...


Perlahan mobil yang di kendarai oleh Adrien melaju dengan kecepatan yang semakin menurun. Adrien lantas membelokkan mobilnya menuju mansion tempat mereka tuju. Gerbang mansion itu di jaga oleh setidaknya dua orang pria yang bertugas membuka dan menutup pintu gerbang agar lebih mudah bagi mereka masuk.


Adrien terus melajukan mobilnya, memasuki halaman luas dengan sebuah air mancur besar di tengah-tengahnya. Di sudut lain air mancur, terdapat sebuah taman berhiaskan bunga-bunga indah berwarna-warni, taman itu terhubung dengan sebuah lapangan hijau dihadapannya yang mengarah menuju sebuah danau di sana.


"Woah." Aphrodite berdecak kagum saat matanya melihat pemandangan yang tampak begitu indah.


"Bagaimana, indah kan?" Tanya Francisco. Aphrodite menoleh ke arahnya seraya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Itu adalah lapangan golf tempat biasa papa dan mama bertanding saat kami berkumpul," ujar Fransisco seraya menunjuk ke arah lapangan hijau luas yang berdekatan dengan danau di sana.


"Mama bisa main golf?"


"Dia ahlinya. Dulu mama selalu mengalahkan papa saat bertanding."


"Benarkah? Hebat."


"Iya, memang. Aku saja sampai tidak menyangka papa bisa selalu kalah dari mama," tuturnya pelan. Kedua mata Fransisco menatap ke arah lapangan luas itu. Menatapnya membuat dirinya ingat akan kenangan yang pernah ada.


Adrien menghentikan mesin mobilnya tepat di dekat air mancur yang di samping lainnya terdapat sebuah tangga menuju mansion itu berada. Fransisco beranjak keluar dari dalam mobil kemudian selanjutnya membantu Aphrodite keluar.


Adrien keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri tempat dimana Fransisco dan Aphrodite berdiri saat ini.


"Tuan muda dan nona masuk saja lebih dulu, untuk urusan koper biar saya yang tangani," tutur Adrien dalam bahasa Inggris agar Aphrodite juga mengerti akan apa yang coba ia sampaikan.


"Baik, terima kasih," ujar Fransisco dan Aphrodite hanya tersenyum.


"Kalau begitu saya permisi." Adrien membungkuk, ia lantas beranjak dari tempatnya. Masuk kembali ke dalam mobil untuk menaruh mobil di garasi.


Sepeninggalan nya Adrien, atensi Fransisco beralih pada Aphrodite yang kini berdiri di sampingnya dengan kepala mendongak menatap ke sekeliling bangunan megah di hadapan mereka saat ini.


"Dulu mama tinggal di tempat sebesar ini sendirian?" Tanya Aphrodite tanpa menoleh pada Fransisco di sampingnya.

__ADS_1


"Oh, tidak. Awalnya ini hanya sebuah rumah biasa yang bisa di bilang cukup sederhana. Karena saat itu mama masih muda dan belum menikah, jadi ia membangun rumahnya mulai dari sederhana dulu kemudian renovasi selama bertahap hingga menjadi mansion sebesar ini."


"O-oh begitu rupanya."


"Iya. Sudahlah, ayo masuk. Kau pasti ingin melihat bagian dalamnya kan?" Fransisco meraih tangan Aphrodite. Ia lantas berjalan menaiki tangga itu agar bisa tiba di pintu masuknya.


Tiba di depan pintu masuk, mereka sudah di sambut oleh tiga orang wanita berpakaian maid yang kini dua di antaranya berdiri di sisi kiri dan kanan pintu masuk. Salah satunya yang tampak lebih tua diantara mereka berdiri paling ujung.


Fransisco kenal wanita tua itu. Dia adalah wanita yang dulu sering di tugaskan menjaga dirinya saat berkunjung ke Paris.


"Bienvenue jeune maître," tutur wanita itu seraya tersenyum simpul ke arah Fransisco di hadapannya. Senyuman wanita itu masih sama hangatnya seperti saat Fransisco masih di asuh olehnya.


(Bienvenue jeune maître/ selamat datang tuan muda)


"Parle en anglais Bertha, donc ma femme comprend ce que vous dites," ujar Fransisco seraya melirik pada Aphrodite yang tampak bingung dengan apa yang tengah mereka bicarakan.


(Parle en anglais Bertha, donc ma femme comprend ce que vous dites/ berbicaralah dengan bahasa Inggris Bertha, agar istriku mengerti apa yang kau bicarakan)


"Oh ya. Aphrodite, kenalkan ini adalah Bertha, beliau ini adalah orang yang telah bekerja dengan mama sejak aku kecil. Dan selama mama tinggal di Indonesia, Bertha inilah yang menjaga dan merawat mansion ini agar tetap bersih dan rapi. Dengan di bantu oleh crew-nya, Bertha menjaga semuanya."


"Ah, begitu rupanya."


"Iya."


"Tuan muda, nona, mari ikut saya." Wanita itu—Bertha mempersilahkan mereka. Wanita itu beranjak memasuki rumah bersama dengan Aphrodite dan Fransisco, sementara di belakang mereka di ikuti oleh dua maid lainnya yang kini berjalan mengiringi langkah mereka.


"Sudah sangat lama semenjak kunjungan terakhir tuan muda datang berkunjung kemari, rasanya begitu sulit untuk saya percaya bahwa tuan muda telah menjadi sebesar ini," kata Bertha dalam bahasa Inggris. Berjalan bersama dengan Fransisco menuju ruang tengah.


"Ya, memang sudah sangat lama. Sekarang aku terlalu sibuk mengurus semua pekerjaan di kantor papa."


"Oh ya, omong-omong apakah tuan muda tidak ingin memperkenalkan wanita cantik yang menjadi istri anda ini pada saya?"


"Oh, maaf. Aku hampir lupa, kenalkan ini adalah Aphrodite." Fransisco memperkenalkan. Aphrodite hanya tersenyum simpul ke arah Bertha di sampingnya.

__ADS_1


"Salam kenal nona, saya adalah Bertha yang selanjutnya akan membantu anda mengurusi semua kebutuhan anda. Jika membutuhkan apapun, jangan sungkan untuk bicara pada saya."


"A-ah, ya," gumam Aphrodite.


"Omong-omong nama anda begitu indah. Aphrodite, seperti nama seorang dewi kecantikan dari sejarah Yunani kuno. Sangat cocok dengan paras anda yang begitu cantik," puji Bertha.


"Haha, terima kasih atas pujiannya," Aphrodite tersenyum simpul, ia merasa malu di puji seperti itu oleh Bertha.


Bertha hanya balas tersenyum hangat seraya menganggukkan kepalanya.


Tiba di ruang tengah, Bertha lantas mempersilahkan mereka untuk duduk dan menunggu sementara ia memerintahkan kedua maid yang sejak tadi mengikutinya itu, untuk membuatkan minuman serta membawakan camilan untuk mereka.


"Oh ya, bagaimana dengan kabar tuan besar dan nyonya? Apakah mereka sehat?" Tanya Bertha yang kini ikut duduk di salah satu sofa di sana. Bertha yang notabene nya cukup di hormati dan dekat dengan keluarga Fransisco, bahkan telah di anggap seperti bagian dari keluarga nya sendiri maka tidak heran baginya kalau duduk bersama seperti saat ini.


"Mama dan papa sehat."


"Ah, syukurlah saya lega mendengarnya. Sudah sangat lama nyonya tidak datang berkunjung kemari, tampaknya beliau sangat sibuk?"


"Ya. Begitulah, mama memang memiliki jadwal pekerjaan yang begitu padat akhir-akhir ini, jadi jarang memiliki waktu bahkan walau hanya untuk menelpon ku."


"Benarkah?"


"Iya. Mama baru memperhatikan ku saat aku mengabarinya kalau aku akan segera menikah. Dan begitu mendengar aku akan menikah, mama langsung pulang."


"Oh begitu. Lalu, apakah nyonya dan tuan besar masih seperti dulu?"


"Hahaha, maksudmu selalu bersaing?"


"Iya, apakah mereka masih begitu?"


"Ya. Masih, bahkan setiap mereka bertemu," jawabnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2