Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Supermarket


__ADS_3

...***...


"Giza!" Panggil Bertha.


"Oh? Oui madame? Qu'est-ce que c'est?" Tanya Giza yang seketika mengalihkan perhatiannya pada Bertha yang baru saja menyerukan namanya. Giza menatap penuh tanya pada Bertha.


(Oh? Oui madame? Qu'est-ce que c'est?/ Oh? Ya, nyonya? Ada apa?)


"Qourquoi vois-tu mademoiselle?" Tanya Bertha padanya.


(Qourquoi vois-tu mademoiselle/ kenapa kau memandangi nona?)


"Eh? Ah… C'est d'accord, je suis juste étonné. Mademoiselle très beau," jelas Giza yang membuat Aphrodite seketika menatap ke arah Bertha, ia ingin tahu apa yang baru saja diucapkan oleh Giza pada Bertha mengenai diri.


(Eh? Ah… C'est d'accord, je suis juste étonné. Mademoiselle très beau/ eh? Ah… tidak apa-apa, aku hanya kagum. Nona sangat cantik sekali)


"Oh…" Bertha tersenyum menanggapinya. Sebelumnya ia berpikir hal lain mengenai sikap Giza terhadap Aphrodite.


"Giza bilang dia kagum akan kecantikan anda," jelas Bertha pada Aphrodite.


"Uh? Aku kira kenapa dia menatapku seperti itu," gumam Aphrodite seraya tersenyum dengan raut wajah tersipu malu. "Ah, thank you," tutur Aphrodite seraya menoleh ke arah Giza disampingnya. Wanita itu menatapnya dengan raut wajah bingung tidak mengerti dengan ucapan Aphrodite barusan. Giza melirik pada Bertha meminta penjelasan.


"Merci," potong Bertha lebih dulu sebelum Giza sempat bertanya padanya mengenai apa yang baru saja diucapkan oleh Aphrodite.


(Merci—Terima kasih dalam bahasa Prancis)


"Ah, de rien." Giza balas tersenyum kearah Aphrodite yang kini duduk dihadapannya.


(De rien—Sama-sama dalam bahasa Prancis)


"Giza bilang sama-sama nona," ujar Bertha dalam bahasa Inggris. Aphrodite menganggukkan kepalanya menanggapi. Sepertinya tugas Bertha disini, bukan hanya sekedar untuk mengajarkan Aphrodite untuk memasak, tapi juga memberikan pelajaran bahasa Prancis sekaligus menjadi penerjemah bahasan Inggris—Prancis untuk Aphrodite agar mampu memahami apa yang orang coba sampaikan.


Sejurus kemudian kebersamaan mereka dihiasi dengan keheningan. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka masing-masing selanjutnya. Mereka semua fokus pada kesibukan masing-masing.


...*...

__ADS_1


TUK!


Bola golf itu masuk ke dalam lubang yang tepat. Fransisco tersenyum melihatnya. Setelah bertahun-tahun lamanya tidak berkunjung ke Paris dan tidak pernah bermain golf selama hampir berpuluh-puluh tahun, ternyata ia masih mewarisi kemampuan mama nya.


Fransisco mengelap peluh yang membasahi keningnya. Meraih handuk yang di sediakan oleh salah satu maid, kemudian ia gunakan untuk mengelap wajahnya.


"Ambil bolanya dan siapkan bola baru, aku ingin istirahat sebentar," ujarnya pada Adrien seraya menyodorkan tongkat golf di tangannya ke arah pria itu.


"Baik tuan." Adrien meraihnya. Ia kemudian berjalan menghampiri lubang berisi bola yang semula digunakan dalam permainan Fransisco. Ia harus menjalankan perintah dari Fransisco.


Dua orang maid lain tiba di hadapan Fransisco. Menghalangi jalannya yang hendak melangkah masuk ke dalam rumah.


"Tuan, kami di sini atas permintaan dari nona. Beliau menitipkan pesan pada kami, dan meminta kami untuk menyampaikan pesannya pada tuan."


"Pesan?" Ulang Fransisco seraya mengerutkan keningnya bingung.


"Benar tuan."


"Pesan apa memangnya?"


"Nona meminta izin untuk keluar sebentar."


"Nona memaksa untuk ikut pergi ke supermarket karena harus membeli beberapa hal untuk keperluan dapur sekaligus membeli bahan-bahan untuk belajar memasak."


"Apa? Tapi kenapa dia tidak memberitahukan nya langsung padaku?" Fransisco mengerutkan keningnya bingung.


"Itu karena nona sudah berangkat."


"Ah, begitu rupanya. Pantas saja dia tidak mendatangiku. Oh, omong-omong dengan siapa dia keluar?"


"Nona di temani oleh madame Bertha, supir dan Giza."


"Giza? Maksud kalian adalah maid yang ceroboh itu?"


"Benar tuan."

__ADS_1


"Huft~ aku tidak habis pikir, kenapa dia mau pergi dengan Giza? Apakah dia tidak merasa kesal sama sekali padanya? Padahal sudah jelas-jelas Giza sudah menyerangnya dan menyebutnya pencuri. Tapi dia masih bisa baik dan membiarkan Giza ikut?" Fransisco bergumam, tidak habis pikir dengan apa yang di pikirkan oleh Aphrodite.


"Giza ikut akan permintaan dari madame Bertha tuan," wanita itu memberitahu.


"Benarkah?"


"Betul."


"Aku lega setidaknya ada Bertha bersamanya," gumam Fransisco lagi. Namun kali ini kedua maid yang di minta menyampaikan pesan pada Fransisco itu menatapnya dengan raut wajah bingung tidak mengerti dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh pria itu karena ia baru saja berbicara dengan bahasa Indonesia.


"Kalau begitu kalian boleh kembali bekerja," ujar Fransisco kemudian pada mereka.


"Baik tuan, kalau begitu kami pergi," pamit mereka. Kedua maid itu lantas beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Fransisco bersama dengan beberapa orang pelayan dan maid lain yang semula menemaninya bermain golf.


...*...


Mobil yang mereka tumpangi lantas berhenti di salah satu area parkir kosong yang tersedia di sana. Begitu benda itu sudah terparkir rapi, Aphrodite, Bertha, dan Giza lantas beranjak keluar dari dalam mobil. Mereka hendak pergi ke dalam supermarket yang ada di hadapan mereka dan membeli bahan-bahan untuk memasak.


"Kau tunggu di sini dan jangan kemana-mana, tunggu kami hingga kembali," ujar Bertha dalam bahasa Prancis pada pria yang tak lain adalah supir yang mengantarkan mereka.


"Baik madame," sahutnya.


"Kalau begitu, nona, Giza… ayo masuk." Bertha beralih pandang pada kedua wanita yang ikut bersama dengannya itu.


Aphrodite terdiam sejenak, kedua manik matanya menatap lekat bangunan yang kini berada di hadapan. Bangunan supermarket yang tampak seperti layaknya supermarket biasa. Tidak ada yang istimewa sama sekali kalau dilihat dari luar.


Detik berikutnya Aphrodite beranjak pergi mengikuti Bertha dan Giza yang kini melangkah di hadapannya. Ia berjalan mengikuti keduanya, melenggang memasuki bangunan itu dan mulai di sibukkan berbelanja di dalamnya.


"Apa saja yang akan kita beli?" Tanya Aphrodite pada Bertha yang kini tengah sibuk mencari bahan-bahan yang ia perlukan. Aphrodite berjalan di sampingnya, sementara Giza berjalan seraya membawa keranjang belanja yang akan mereka gunakan untuk membawa barang-barang itu hingga mereka tiba di kasir untuk membayar nanti.


"Nona ingin mencoba memasak apa untuk latihan pertama ini?" Bertha balik bertanya. Ia meraih salah satu bahan yang baru saja di dapatnya, memberikan benda itu pada Giza. Memintanya untuk menaruh barang tersebut dalam keranjang yang dibawanya.


"Ng… aku ingin belajar memasak sesuatu yang sederhana dulu, karena kalau aku langsung belajar memasak yang sulit, maka akan susah untuk aku belajar," ujar Aphrodite.


"Anda benar. Kalau begitu bagaimana dengan hidangan untuk sarapan? Ada beberapa resep hidangan yang mudah untuk anda buat."

__ADS_1


"Ah, ide yang bagus. Kalau begitu ayo tunjukkan padaku bahan-bahannya," ujar Aphrodite.


...***...


__ADS_2