
...***...
Adrien menghentikan mobilnya tepat di depan tangga. Di sana mereka mendapati Bertha yang tampaknya baru saja kembali setelah pergi entah kemana. Adrien beranjak keluar bersamaan dengan Fransisco. Sementara Bertha yang menyadari kedatangan mereka lantas seketika menghentikan langkah kakinya di tempat.
"Oh, tuan muda. Anda sudah pulang," sapa Bertha begitu Fransisco tiba di hadapannya.
"Ya, seperti yang kau lihat. Ah, omong-omong kau baru dari luar?"
"Iya, saya baru saja dari luar. Ada beberapa urusan yang harus saya kerjakan di luar. Jadi saya pergi sebentar."
"Begitu ya."
"Kalau begitu mari masuk. Anda pasti lelah."
"Tidak. Aku tidak merasa lelah sama sekali, karena banyak sekali hal yang aku lakukan dengan penuh semangat hari ini."
"Benarkah? Apakah anda merencanakan sesuatu?"
"Ya. Sebuah kejutan untuk Aphrodite, jadi untuk sore ini aku akan mengajaknya pergi sampai malam, jadi kau tidak perlu repot-repot membuatkan kami makan malam."
"Anda akan makan malam di luar?"
"Ng."
"Baiklah, kalau begitu saya tidak akan menyiapkan makan malam untuk anda dan nona."
"Iya. Oh, omong-omong apakah kau tahu Aphrodite sudah bangun atau belum?"
"Terakhir sebelum saya pergi, beliau belum bangun. Tapi saya tidak tahu sekarang saya tidak tahu apakah beliau sudah bangun atau belum."
"Begitu ya." Fransisco melangkah meninggalkan Bertha berdua bersama dengan Adrien di belakangnya. Ia melangkah memasuki bangunan mansion yang kini berdiri kokoh tepat di hadapannya.
"Kenapa kau masih di sini? Cepat masukkan kembali mobilnya ke garasi," tutur Bertha begitu mendapati putra semata wayangnya itu tengah terdiam di tempatnya berada saat ini. Ia tersentak, tersadar dari lamunannya dan spontan menoleh ke arah Bertha—wanita yang menjadi ibunya.
"Ah, baik ibu."
"Omong-omong kau sudah makan siang?"
"Makan siang? Sudah. Tadi saat aku mengantarkan tuan, beliau mengajakku untuk makan siang bersama."
"Oh, syukurlah kalau kau sudah makan siang."
__ADS_1
"Ibu sendiri apakah sudah makan siang?"
"Ya, sudah saat ibu keluar untuk menyelesaikan beberapa urusan."
"Memangnya apa yang ibu lakukan? Apakah ibu menemui seseorang?"
"Ng, itu…" Bertha terdiam seketika, bingung harus menjawab apa. Dari respon ibunya, Adrien merasa bahwa ada sesuatu yang coba di sembunyikan oleh ibunya dari dirinya.
"Ibu?" Adrien memanggilnya, setelah tidak ada jawaban sama sekali dari wanita yang menjadi ibunya itu.
"Ah, ya? Kau bilang apa tadi?" Bertha terkejut.
"Aku tanya, ibu darimana? Siapa yang ibu temui di luar? Apakah ibu bertemu dengannya lagi?"
"Huh? Oh, tidak. Ibu keluar untuk bertemu dengan teman ibu."
"Benarkah?"
"Iya. Kau tidak perlu cemaskan soal itu lagi. Ibu tidak akan bertemu dengannya lagi. Di tambah lagi, ibu tahu kalau ibu menemuinya, kau akan marah. Jadi ibu tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Kau tidak perlu cemas."
"Aku senang mendengarnya. Memang sudah seharusnya ibu jauh-jauh dari pria itu. Bahkan aku tidak ingin menganggapnya sebagai ayah! Dia itu laki-laki yang tidak bertanggung jawab, setelah bertahun-tahun menghilang dan dia tiba-tiba muncul dengan alasan ingin bertemu denganku? Oh, jangan percaya dengannya ibu. Aku yakin dia hanya ingin mempermainkan ibu lagi, seperti yang sudah-sudah. Aku tidak ingin ibu terluka lagi gara-gara dia."
"Baiklah."
"Kalau begitu ibu masuk, ya? Kau juga lebih baik masukkan mobil itu ke garasi. Setelah itu ayo nikmati teh bersama di taman."
"Oke. Kalau begitu aku akan menaruh mobilnya dulu ke dalam garasi setelah itu ke taman."
"Kalau begitu ibu tunggu kau di taman."
"Baik."
Bertha beranjak dari sana meninggalkan Adrien yang kini mulai di sibukkan melajukan mobilnya menuju arah garasi untuk menaruhnya di sana.
...*...
Aphrodite melahap kembali makanan yang ada di hadapannya, menikmati setiap gigitan dan sensasi luar biasa yang di rasakan oleh lidahnya begitu permukaan kulit lidahnya bersentuhan langsung dengan setiap makanan enak yang di suapkan ke dalam mulutnya.
"Ini benar-benar enak," tutur Aphrodite seraya tersenyum menatap Cammy dan Giza bergantian.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ng." Aphrodite menganggukkan kepalanya.
"Apakah nona menyukainya?"
"Iya. Sangat! Apakah kalian yang membuat ini sendiri?"
"Ya. Kami yang membuatnya, tapi tentunya dengan bantuan madame Bertha. Kami membuat semua ini sebelum beliau pergi keluar untuk mengurusi beberapa hal, dan madame meminta kami untuk menaruh semua ini di dalam pendingin agar makanannya tetap terjaga."
"Oh, Bertha benar-benar hebat dalam memasak, tidak salah aku memintanya untuk mengajariku memasak." Aphrodite tersenyum simpul, ia kembali menyuapkan makanan di sendok nya ke dalam mulut.
"Madame Bertha memang hebat dalam memasak, jadi tidak heran kami banyak belajar dari beliau."
"Kalian juga belajar memasak dari Bertha?"
"Tentu saja. Nona pikir kami bisa memasak berkat siapa? Semua itu tentu saja atas bantuan madame Bertha yang sejak kami mulai bekerja langsung mengajarkan kami banyak hal mengenai cara memasak agar makanan yang kami buat memiliki cita rasa yang begitu enak saat masuk ke dalam mulut."
"Ooh begitu rupanya."
"Ng." Cammy menganggukkan kepalanya.
"Kalian berdua mau?" Aphrodite menawarkan, rasanya memang canggung sejak tadi hanya dirinya saja yang makan sementara Cammy dan Giza hanya duduk dan menonton dirinya yang tengah menikmati hidangan di hadapannya. Makannya sejak tadi Aphrodite berusaha mencari topik pembicaraan agar suasananya tidak terasa ambigu.
"Kami sudah mencobanya, bahkan kami sudah merasa bosan terus memakan makanan yang di buat madame Bertha. Jadi nona saja yang makan." Tolak Cammy yang hanya di angguki oleh Giza yang kini berdiri tepat di sampingnya. Sejak tadi Giza hanya diam dan menyimak, ia hanya tidak ingin menyusahkan Cammy dengan harus menjadi penerjemah antara dirinya dan Aphrodite hanya untuk berkomunikasi saja.
"Baiklah kalau kalian tidak mau," tutur Aphrodite. Ia kembali fokus pada makanan yang tengah di santapnya. Memakannya secara perlahan dan terus menikmatinya satu persatu, hidangan demi hidangan. Memastikan semuanya benar-benar habis tak tersisa.
"Aphrodite?" Tiba-tiba suara Fransisco menginterupsi gendang telinganya, membuat fokus Aphrodite seketika tersita oleh kedatangan Fransisco yang kini tiba di ruang dapur dengan raut wajah yang tampak amat ceria. Entah apa yang telah di lakukan oleh pria itu di luar, tapi sikapnya jadi aneh bagi Aphrodite.
Fransisco berjalan menghampiri Aphrodite yang kini terduduk di meja makan dengan hidangan yang begitu banyak di hadapannya.
"Kau sudah pulang?" Gumam Aphrodite seraya menoleh ke arahnya.
"Ternyata kau memang sudah bangun."
"Ya, seperti yang kau lihat."
"Kau sedang menikmati hidangan pengganti makan siang mu?"
"Begitulah. Kau mau?" Tanyanya.
...***...
__ADS_1