
...***...
Fransisco tersenyum sumringah, ia lantas meraih satu cincin yang ada di dalam sana. Meraih tangan Aphrodite lantas memasukkan cincin emas itu pada jari manis sebelah kanannya. Setelah itu, Aphrodite balik memasukkan satu cincin lain yang ada di dalam sana kemudian memasukkan ke dalam jari manis Fransisco.
Fransisco meraih kedua tangan Aphrodite, menggenggam kedua tangannya lantas menatapnya lekat. Aphrodite terkejut, ia mendongak menatap Fransisco yang kini tersenyum kearahnya.
Acara intinya baru saja usai, mereka telah mengucapkan janji dan mengikat status mereka menjadi sepasang suami istri, dengan di saksikan oleh semua tamu undangan yang datang menghadiri acara pernikahan mereka.
Suara tepuk tangan begitu menggema memenuhi seisi hall NT hotel tempat mereka menggelar acara pernikahan nya.
"CIUM! CIUM!" Jenia berteriak, memprovokasi semua tamu undangan di sana yang dalam seketika meneriakkan kata yang sama yang baru saja di lontarkan mulutnya.
Fransisco dan Aphrodite beralih pandang menatap semua tamu undangan di sana. Fransisco tersenyum dengan wajah merona, sementara Aphrodite tampak bingung.
Detik berikutnya ia beralih menatap Fransisco. Pria itu menatapnya lekat, dari sorot matanya ia seakan tengah meminta izin padanya untuk mendaratkan satu ciuman untuknya.
"Bagaimana pun… sekarang aku sudah menjadi istrinya, dan seberat apapun… aku harus bisa menjalani peranku sebaik mungkin," batin Aphrodite seraya terdiam sejenak. Ia mencengkram erat tangan Fransisco yang menggenggamnya. Aphrodite mendongak, ia lantas memejamkan kedua matanya secara perlahan. Memberikan isyarat pada Fransisco, bahwa ia mengizinkan pria itu untuk menciumnya.
Fransisco tersenyum, ia lantas mendekatkan wajahnya ke arah Aphrodite. Memejamkan kedua matanya secara perlahan dan…
CUP!
Aphrodite terkejut, ia membuka kedua matanya perlahan saat dirasanya ada yang berbeda. Ia menatap Fransisco, pria itu melepaskan ciumannya dan menatap Aphrodite dalam posisi yang begitu dekat.
Di luar dugaan, Fransisco bukan menciumnya di bibir. Pria itu mendaratkan sebuah ciuman tepat di keningnya.
Aphrodite menatapnya dengan penuh tanya, namun di balik hatinya. Ia merasa sedikit lega, setidaknya Fransisco mengerti bahwa semua ini masih berat baginya.
Fransisco semakin merekahkan senyumannya, dan melihat senyuman tulus pria itu membuat Aphrodite balas tersenyum tipis ke arahnya.
"KYAAAAA~" suara tamu undangan itu lagi-lagi mengisi hall NT hotel. Membuat keadaan semakin meriah, di tambah lagi suara tepuk tangan yang ikut memeriahkan suasana.
"Ahh, mengecewakan. Aku harap Frans tadi mencium Aphrodite di bibirnya," tutur Jenia pada Aiden kekasihnya yang baru saja tiba di posisinya berada saat ini.
__ADS_1
"Ada anak kecil di sini sayang," tutur Aiden berbicara dengan sedikit pelan seraya melirik pada Erland yang berdiri tepat di sampingnya. Sialnya pria itu dapat dengan jelas mendengar ucapannya.
Erland menatapnya gusar, ia mendelik kesal kearahnya. "Aku bukan anak kecil! Enak saja! Umurku sudah tujuh belas tahun!" Tukasnya kesal.
"Oops, kau berbicara terlalu keras sayang," kata Jenia seraya terkekeh pelan.
"Iya. Aku kira dia tidak akan bisa mendengarnya," sahut Aiden pelan.
"Aku tidak tuli!" Pekik Erland kesal.
"Haha, maaf. Aku hanya bercanda," tutur Aiden yang kemudian merangkul Erland seraya terkekeh padanya. Sementara yang di rangkulan hanya diam, mendelik nya penuh emosi.
...*...
"Ayo berkumpul semuanya!" Teriak rekan-rekan satu kantornya. Berdiri di belakang Aphrodite yang kini berada di pintu keluar hotel. Aphrodite tersenyum melihat teman-temannya itu yang kini berkumpul di tengah, menunggunya melemparkan buket bunga dalam genggamannya.
"Ayo lempar!" Teriak mereka serentak. Aphrodite lantas berbalik, memegang buket bunga dalam tangannya dengan menggunakan kedua tangannya. Mengambil ancang-ancang, kemudian dalam hitungan ketiga. Aphrodite lalu melemparkan buket bunga di tangannya itu ke arah mereka di belakang sana.
Fokus kedua pasang mata mereka bergerak mengikuti buket bunga yang kini melayang diudara, bergerak melewati mereka dan…
Buket bunga itu tertangkap tepat oleh seorang pria yang tengah sibuk menatap mereka disana. Ia bahkan tidak sadar menangkap bunga itu, yang ia tahu. Itu hanya refleks tubuhnya yang secara tanpa sadar menangkap benda yang hampir saja melesat menghampiri dirinya.
"Ahhh…" semua orang disana merengut, tidak ada satupun di antara mereka yang berhasil menangkap buket bunga itu.
Sementara itu, beda halnya dengan Jenia yang kini menatap pria itu sembari tersenyum. Pria itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Aiden. Kekasihnya.
Orang-orang disana bubar dari tempat mereka setelah gagal mendapatkan buket bunga tersebut, kini di sana hanya tersisa Aphrodite dan Fransisco yang berdiri di dekat pintu keluar, dan Jenia serta Aiden yang kini melangkah menghampiri mereka di sana.
"Terima kasih atas kejutan tidak terduga nya. Ini sangat berharga," tutur Aiden seraya tersenyum simpul pada Aphrodite. Di tangannya, ia masih menggenggam buket bunga yang semula di lemparkan Aphrodite yang secara tanpa sadar berhasil ditangkapnya. Jenia tersenyum simpul, ia lantas meraih buket bunga yang kini di sodorkan Aiden ke arahnya.
"Aku harap secepatnya," Fransisco menepuk pelan pundak Aiden yang tidak lain adalah sahabatnya. Pria itu hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan Fransisco. Sementara Aphrodite di sampingnya hanya diam menanggapi mereka.
"Kalian masih di sini ternyata," ujar Fanny yang dalam sekejap menyita perhatian mereka berempat. Di sana, Fanny tiba bersama dengan Antonio, Helen, dan Erland.
__ADS_1
"Iya. Kami baru saja akan keluar," tutur Fransisco.
"Cepatlah pergi, supir di depan pasti sudah menunggu kalian," kata Helen.
"Kami akan segera keluar," jawab Aphrodite.
"Ingat! Hati-hati di jalan," Fanny mengingatkan.
"Ya. Pasti," tutur Fransisco.
"Frans, Tante titip Aphrodite ya." Helen tersenyum ke arahnya.
"Baik Tan."
"Jaga dia baik-baik." Antonio menimpali.
"Iya pa."
"Baiklah kalau begitu pergilah," kata Fanny.
"Kalau begitu kami permisi," pamit Fransisco yang lantas berbalik, menghadap ke arah Aphrodite.
Aphrodite terdiam sejenak. Kedua matanya menatap Jenia, beradu pandang dengan sahabatnya itu.
Jenia menghampiri Aphrodite lantas memeluknya erat. "Jaga dirimu," bisik Jenia tepat di telinga Aphrodite.
Kedua mata Aphrodite berkaca-kaca mendengar kalimat itu terucap dari mulut sahabatnya. Rasanya menyesakkan saat ia harus meninggalkan Jenia seperti saat ini seakan-akan mereka tidak akan pernah di pertemukan kembali untuk selamanya.
"Ya… terima kasih untuk semua yang kau lakukan hari ini. Semua itu benar-benar berarti bagiku," balas Aphrodite.
"Bukan masalah," sahutnya. Mengusap punggung wanita yang menjadi sahabatnya tersebut dengan penuh kelembutan. Detik berikutnya mereka kemudian melerai pelukannya. Saling menatap lekat satu sama lain seraya tersenyum.
"Oh, don't cry honey," kata Jenia seraya mengulurkan tangannya, menyeka air mata yang mengalir membasahi kedua pipi mulus Aphrodite.
__ADS_1
Jenia bergerak mundur. Ia kemudian melambaikan tangannya pada Aphrodite sebagai tanda perpisahan.
...***...