Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
I have to go now!


__ADS_3

...***...


"Huh? Tapi kenapa?"


"Kondisi ku tidak baik akhir-akhir ini. Maka dari itu, aku tidak ingin mengambil lembur."


"Oh begitu rupanya. Kalau begitu kau harus banyak-banyak istirahat, kau juga jangan terlalu lelah. Aku tidak ingin sampai kau sakit."


"Iya. Terima kasih. Kau juga harus jaga kesehatan."


"Kalau aku sudah pasti akan selalu menjaga kesehatan. Oh ya, omong-omong kau sudah makan siang?"


"Ya, sudah. Aku baru saja selesai saat kau datang."


"Ah begitu ya. Baguslah, aku lega mendengarnya."


"Baiklah, waktunya untuk kembali bekerja. Waktunya hanya tinggal sedikit lagi!"


"Semangat!"


Aphrodite mulai kembali di sibukkan berkutat dengan berkas-berkas yang harus di susunnya. Ia harus menyelesaikan semuanya tepat waktu.


...*...


"Dan selesai!" Aphrodite mengulum senyum di sana begitu pekerjaan nya selesai tepat waktu.


"Huh? Kau sudah selesai?" Jenia menoleh ke arahnya dengan raut wajah terkejut sebaliknya Aphrodite tersenyum ke arahnya penuh kemenangan.


"Ya, aku selesai tepat waktu. Dan sekarang aku hanya tinggal menunggu jam kerjaku habis," Aphrodite menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di sana. Kakinya bertumpang pada kaki lain, ia kini hanya perlu ongkang-ongkang kaki menunggu jam kerjanya habis.


Hanya tersisa satu jam lagi dari delapan jam kerja nya itu.


"Wah enak sekali. Kalau begitu bisakah kau membantuku mengerjakan semua ini?" Jenia menatapnya penuh harap.


Aphrodite mendelik menatapnya, oh ayolah sejak tadi dia ingin cepat selesai agar bisa istirahat dan merasakan relaksasi di tubuhnya. Tapi wanita itu dengan mudahnya meminta ia untuk mengerjakan sebagai tugasnya? Oh yang benar saja.


"Aku tidak mau. Aku lelah," kata Aphrodite seraya memejamkan kedua matanya yang kini bertengger pada sandaran kursinya.


"Oh ayolah bantu aku lagipula kau kan tidak sibuk. Bantu aku ya? Ya? Ya?" Jenia memohon.

__ADS_1


"Aku tidak mau. Aku lelah, kau kerjakan saja sendiri. Ayo semangat!" Aphrodite menyemangati.


"Ahhh! Ayolah bantu aku. Aku juga ingin segera selesai," wanita itu kini mulai merengek, tangannya bergerak meraih tangan Aphrodite kemudian mengguncang nya pelan seperti anak kecil yang merengek meminta di belikan permen oleh ibunya.


"Aku tidak mau. Sudahlah! Aku ingin ke toilet sebentar," tolak Aphrodite lagi seraya menepis pelan tangan wanita itu kemudian bangkit dari kursi berodanya.


"Dite! Aphrodite!!" Jenia berteriak memanggilnya tapi Aphrodite tak mengindahkan suara wanita itu dan terus berjalan menuju arah dimana toilet untuk pegawai wanita itu berada.


...*...


Aphrodite menatap dirinya lewat pantulan cermin yang berada tepat di hadapannya. Wajahnya basah dan make up yang ia kenakan sedikit luntur akibat ia mencuci wajahnya untuk menghilangkan sedikit rasa lelahnya.


Entah kenapa menyentuh air dan mencuci wajahnya dengan air dingin selalu membuat dirinya merasa lebih baik, seakan-akan air jernih yang begitu dingin dan segar itu merasuk ke dalam dirinya setiap kali ia menyentuh dan mencuci wajahnya.


"Rasanya lebih baik," gumam Aphrodite seraya mematikan air keran yang semula menyala itu.


"Hari ini kau sudah bekerja keras Aph! Dan kau layak mendapatkan istirahat yang cukup," Aphrodite memonolog. Ia lantas beralih pandang pada perutnya yang masih tampak rata.


"Betul kan nak?" Gumamnya amat pelan bagai bisikkan. Tidak ada orang di sana, jadi ia bebas untuk berbicara sekarang. Ya, walaupun ia harus berhati-hati karena bisa saja salah satu teman kantornya itu mampir ke toilet dan mendengar apa yang baru saja terlontar dari bibirnya.


"Jika bukan karena kau, mungkin sekarang aku masih bekerja malas-malasan dan tak peduli pulang jam berapa, atau sudah makan atau belum. Tapi semenjak kau ada, hidupku terasa jadi berbeda. Aku jadi sadar jika aku dulu selalu memaksakan diriku bekerja terlalu keras sampai lupa waktu makan dan lain sebagainya," Aphrodite membatin. Tangannya di bawah sana mengusap perutnya secara perlahan dan tanpa sadar.


Ponselnya yang berada dalam kantong jas yang ia kenakan itu berbunyi membuat Aphrodite mau tidak mau harus mengecek dan menjawab telponnya.


Aphrodite mengeluarkan ponselnya, menatap sekilas untuk melihat siapa yang memanggilnya.


Di layar kaca ponselnya, Aphrodite dapat melihat sederet huruf yang membentuk nama di sana. Begitu sadar siapa yang tengah berusaha menghubungi nya, Aphrodite bergegas menggeser tombol berwarna hijau di sana yang secara otomatis langsung menyambungkan panggilan telponnya.


"Halo?" Sapa Aphrodite pertama kali begitu sambungan telponnya itu terhubung dengan sang penelepon di seberang sana.


"…"


"Ada apa ma? Bicara pelan-pelan agar aku bisa mendengarnya dengan jelas."


"…"


"A-apa?" Aphrodite terdiam sesaat mendengarkan ucapan dari Helen di seberang sana.


"…"

__ADS_1


"H-huh? Benarkah?"


"…"


"B-baiklah, aku akan segera pulang. Sebisa mungkin mama tolong tahan mereka."


"…"


"Baiklah!" Ucap Aphrodite panik. Bergegas ia memutuskan sambungan telponnya dengan Helen di seberang sana. Aphrodite cepat-cepat meraih beberapa lembar tisu di sana dengan sedikit kasar. Sejurus berikutnya dengan amat tergesa-gesa ia berlari keluar dari dalam toilet, menghampiri kubikel nya untuk membawa tas kerja miliknya.


"Dite? Ada apa?" Jenia yang mendapati sikap Aphrodite terasa aneh bergegas menatapnya dengan raut wajah bingung. Wanita yang menjadi sahabatnya itu tengah sangat amat resah.


"Tampaknya aku harus pergi sekarang juga. Jika ada yang menanyakan aku kemana kau bilang saja aku memiliki urusan mendesak yang tidak bisa aku tinggalkan, oh dan jika ada yang menanyakan soal berkas-berkas yang aku kerjakan. Bisakah kau memberikannya?"


"O-oh baiklah. Kau serahkan saja semuanya padaku," sahut Jenia.


"Terima kasih. Kau memang sahabatku yang terbaik," Aphrodite tersenyum simpul.


"Omong-omong ada apa? Apakah terjadi sesuatu?"


"Aku tidak bisa cerita sekarang, mungkin lain kali saja aku cerita. Sekarang aku sangat buru-buru harus pergi."


"Ah ya, baiklah kalau begitu."


"Aku pamit pergi duluan."


"Iya."


"Kalau begitu sampai jumpa."


"Sampai jumpa. Hati-hati di jalan!" Teriak Jenia begitu sahabatnya itu beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya.


"Ng!" Aphrodite menyahut dengan gumaman di sana. Dan sejurus berikutnya sosok wanita yang menjadi sahabat dari nya itu pun menghilang di balik pintu keluar di sana.


"Aku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Aphrodite begitu tergesa-gesa? Apakah terjadi sesuatu dengan Tante Helen?" Jenia memonolog. Matanya masih memandang ke arah dimana Aphrodite menghilang di balik pintu masuk di sana.


"Aku jadi cemas," gumamnya lagi. Ia kemudian memutuskan untuk kembali fokus pada beberapa pekerjaan nya yang belum selesai. Seberapa penasaran pun dirinya, Jenia tetap saja harus bekerja agar tugas-tugas kantornya itu cepat selesai dan ia bisa cepat pulang serta cepat-cepat bertemu dengan Aiden. Pria yang mana merupakan kekasih yang dipujanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2