Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Miss


__ADS_3

...***...


"Aaaa…" Fransisco mengintruksikan pada Aphrodite untuk membuka mulutnya.


"Aku bisa makan nanti. Sekarang kau makan saja dulu, habiskan semuanya."


"Tidak, tidak. Kau juga belum makan. Mana mungkin aku makan sendiri sementara tahu kau belum makan? Sekarang buka mulutmu, aaaa…" Fransisco memaksa.


"Sungguh, aku akan makan nanti." Aphrodite menolak.


"Tidak. Kau harus makan," tukasnya keras kepala. Aphrodite yang tidak memiliki pilihan lain lantas membuka mulutnya dan membiarkan Fransisco menyuapinya.


"Kalau seperti ini kau tidak akan kenyang," kata Aphrodite seraya mengunyah makanannya.


"Aku akan tetap kenyang. Apalagi kalau aku makan bersamamu seperti ini, aku akan lebih kenyang walaupun hanya makan sedikit."


"Oh, perkataanmu benar-benar tidak masuk akal. Sudahlah, kau harus makan lebih banyak. Apalagi kau masih harus lanjut bekerja sedangkan aku tidak memiliki pekerjaan yang terlalu berat, jadi tidak usah khawatir aku. Aku bisa makan di rumah nanti."


"Tapi aku tetap ingin makan bersamamu, ayo buka mulutmu lagi." Fransisco kembali menyendok makanan di hadapannya.


...*...


Hening. Begitulah yang kini tengah terjadi. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulutnya begitu ia tiba di ruangannya. Jordan kini di sibukkan dengan lamunannya, ia baru saja menyelesaikan makan siang dan meeting-nya bersama dengan beberapa klien penting lainnya yang tidak bisa ia lewatkan dan setelah ia kembali yang di lakukan olehnya sejak tadi hanya diam dalam lamunannya.


Pandangannya kosong menatap meja kaca yang menjadi sandarannya, entah kenapa otaknya kini di penuhi dengan sosok Aphrodite yang baru saja di temuinya di kantor Fransisco beberapa jam yang lalu, sejak pertemuan yang terbilang kedua kalinya itu, ia benar-benar tidak bisa lepas dari sosoknya.


"Setiap kali aku melihatnya setiap kali itu juga aku teringat padanya," gumam Jordan pelan.


"Setelah sekian lama baru kali ini aku bertemu dengan wanita yang nyaris mirip sepertimu. Dari segi penampilan dan cara bicaranya." Lagi. Ia memonolog tanpa ada yang tahu dan tanpa ada seorangpun yang mendengar setiap kalimatnya kecuali dirinya sendiri.


"Huft~" Jordan menghela napas panjang. "Sepertinya aku benar-benar merindukan mu sampai-sampai membanding-bandingkan orang lain denganmu," gumamnya. Ia memijat pelan keningnya berusaha untuk menjernihkan pikirannya dan berhenti memikirkan mengenai Aphrodite dan wanita yang kini telah pergi entah kemana. Hilang tanpa kabar selama bertahun-tahun lamanya. Jujur saja ia masih merindukannya.

__ADS_1


...*...


"Baiklah kalau begitu aku pulang. Semoga pekerjaanmu lancar, akan aku tunggu kau di rumah." Aphrodite beranjak bangun dengan tas berisi kotak bekal kosong yang isinya telah habis di makan olehnya dan Fransisco. Bersamaan dengan itu Fransisco beranjak bangun dari tempat duduknya.


"Aku akan mengantarkan mu hingga kau mendapatkan taksi."


"Oh, Frans. Aku bisa melakukannya sendiri. Jangan buang-buang waktumu dengan mengantarkan aku, lebih baik kau kembali bekerja. Jam istirahatnya juga sudah selesai, 'kan?"


Fransisco melirik jam yang kini melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Memang benar sudah selesai. Tapi bagaimana pun aku tidak mungkin membiarkanmu pergi begitu saja, aku akan mengantarkan mu dan menemanimu hingga mendapatkan taksi."


"Frans."


"Hanya sebentar."


"Oke, kau boleh mengantarkan ku. Tapi hanya sampai pintu depan saja, setelah itu kau harus kembali dan bekerja. Aku akan menunggu taksi sendiri, oke?"


"Tapi…"


"Huft~ oke," finalnya seraya menghela napas.


"Terima kasih." Aphrodite tersenyum ke arahnya. Fransisco meraih tangan Aphrodite dan menggenggamnya erat.


"Kalau begitu ayo," ujarnya seraya menarik tangan Aphrodite.


Mereka berdua kemudian melenggang pergi dari sana, berjalan menyusuri koridor hingga tiba di depan pintu lift.


Tiba di lantai bawah, Fransisco mengantarkan Aphrodite hingga halaman kantor. Dan di sana Aphrodite bersikeras untuk meminta Fransisco agar segera kembali bekerja.


"Baiklah kalau kau bersikeras memintaku untuk kembali, aku akan masuk," ujarnya pasrah begitu Aphrodite terus memintanya masuk.

__ADS_1


"Iya. Lagipula kau tidak perlu mencemaskan ku, aku bisa cari taksi sendiri. Jadi kau pergilah bekerja."


"Oke, kalau begitu sampai jumpa di rumah."


"Sampai jumpa. Aku akan membuatkan makanan malam yang enak untuk kita."


"Aku tidak sabar untuk itu."


"Kalau begitu sampai jam makan malam."


"Ya."


"Sekarang pergilah."


Fransisco tersenyum seraya mengangguk. Sebelum pergi ia memeluk Aphrodite lebih dulu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke dalam kantor untuk bekerja. Meninggalkan Aphrodite yang kini di sibukkan dengan menunggu taksi kosong yang selanjutnya akan mengantarkannya pulang ke rumah.


Tidak lama menunggu, akhirnya taksi yang di tunggu-tunggu nya tiba juga. Aphrodite bergegas masuk dan duduk di jok belakang. Detik berikutnya ia meminta sang supir taksi untuk mengantarkan nya menuju alamat yang telah ia tunjukkan sebelumnya. Sepanjang perjalanan Aphrodite hanya diam dan memperhatikan keramaian kota di siang hari yang begitu cerah ini. Tak jarang atensinya disita oleh beberapa orang pegawai kantor yang keluar masuk dari gedung kantor yang berjejer di sepanjang jalan.


"Aku jadi merindukan saat-saat masih bekerja," tuturnya dengan suara pelan, matanya terus melihat ke arah beberapa orang yang berjalan di trotoar, yang menyita perhatiannya hanyalah orang-orang dengan pakaian rapi, mengenakan jas dan berjalan di antara banyaknya orang yang berlalu-lalang disekitarnya.


"Apakah aku akan bisa pergi bekerja seperti mereka lagi? Memakai jas dan kemeja, lalu mengerjakan banyak tugas kantor, menghadiri rapat dengan atasan, di marahi atasan, di kejar deadline, begadang semalaman, lalu kerja lembur sambil menikmati secangkir kopi, menghabiskan waktu bersama dengan teman satu kantor, dan hal-hal semacamnya."


"Apakah aku akan bisa kembali merasakan semua itu? Aku benar-benar merindukan masa-masa itu, mulai dari suara heningnya kantor ketika sedang serius bekerja sampai suara ramainya orang bergosip ketika ada berita hangat yang selalu menjadi sorotan."


Aphrodite memonolog, otaknya terus dipenuhi dengan pikiran akan keinginannya yang sangat amat menginginkan kembali bekerja seperti sebelum ia menikah dengan Fransisco. Ia ingin kembali menyibukkan diri dengan segala urusan kantornya.


"Huft~" Aphrodite menghela napas panjang begitu menyadari keinginannya itu mungkin saja tidak akan pernah terjadi.


Aphrodite kini beralih pandang, menatap lurus pada jalanan yang kini dilewatinya. Sang supir terus melaju menuju tempat tinggal Aphrodite dan akhirnya setelah cukup lama di perjalanan, ia tiba juga di tempat tinggalnya.


Sang supir menghentikan mobilnya tepat di depan gedung apartemen yang ditinggali Aphrodite.

__ADS_1


Sejurus kemudian Aphrodite beranjak keluar dari dalam mobil taksi setelah membayar sang supir dengan beberapa lembar uang seratus ribuan, selanjutnya ia melangkah masuk ke dalam gedung apartemennya.


...***...


__ADS_2