
...***...
Fransisco menghentikan laju mobilnya di area parkir. Mereka berhenti di sebuah gedung yang tampak seperti pusat perbelanjaan.
"Huh? Kita sudah sampai?" Aphrodite menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Tidak. Belum," sahut Fransisco seraya melepaskan seat belt yang melekat di tubuhnya.
"Lalu? Kenapa kita berhenti di sini?"
"Bukankah kau bilang kalau kau ingin membeli SIM card baru untuk ponselmu?"
"Oh, ya benar."
"Ya, sudah. Ayo turun."
"Ah, baiklah." Aphrodite melepaskan seat belt yang melekat di tubuhnya. Fransisco sudah lebih dulu turun untuk membukakan pintu mobilnya untuk Aphrodite.
Aphrodite keluar, kemudian melangkah bersama dengan Fransisco menuju arah gedung di sana. Mereka hendak membeli nomor baru agar Aphrodite bisa berkomunikasi dengan keluarganya selama ia tinggal di Paris.
Setelah membeli kartu baru dan mengaktifkan kartunya, Aphrodite kemudian di ajak oleh Fransisco pergi dari sana. Fransisco akan mengajaknya ke beberapa tempat yang semula telah ia rencanakan kemana mereka akan pergi.
"Akhirnya aku bisa berkomunikasi dengan mama dan Jenia lagi," gumam Aphrodite seraya tersenyum simpul memandangi layar ponselnya yang baru saja di isinya dengan SIM card baru.
"Kau senang?" Tanya Fransisco sembari melirik ke arahnya sekilas. Aphrodite tampak tersenyum senang.
"Tentu saja," sahut Aphrodite yang kemudian menganggukkan kepalanya.
"Aku juga senang kalau kau senang," balas Fransisco.
"Oh, ya. Setelah ini kita kemana?"
"Sudah aku bilang, aku akan membawamu ke tempat-tempat yang indah. Anggap saja ini sebagai liburan dan pelepas stres serta lelah mu setelah persiapan pernikahan kita."
"O-oke…" Aphrodite mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi.
Fransisco melajukan mesin mobilnya menuju suatu tempat. Aphrodite masih belum tahu kemana pria itu akan mengajaknya pergi.
"Oh ya, selain aku mau mengajakmu ke tempat yang indah, sekalian juga kita belajar sedikit mengenai sejarah Prancis."
"Sejarah? Oh, kau mau membawaku ke museum?"
__ADS_1
"Ng… mungkin tidak salah, tapi tidak juga. Karena kita tidak hanya akan pergi ke museum."
"Lalu?"
"Pertama kita akan berkunjung ke…" Fransisco menggantungkan ucapan nya.
"Ke…?" Aphrodite masih menunggu lanjutannya.
"Kau lihat saja nanti, oh. Dan nanti aku akan bertanya padamu."
"Bertanya apa?"
"Nanti saja, saat kita tiba di tempat pertama."
"Kau benar-benar tidak asik," gumam Aphrodite yang kemudian mengalihkan perhatian nya ke arah lain.
Fransisco terkekeh menanggapi ucapan Aphrodite yang tampaknya muak karena sejak tadi terus ia permainkan.
Fransisco terus melajukan mesin mobilnya menyusuri jalan yang tengah mereka tempuh, ia kemudian berhenti saat merekam benar-benar tiba di tempat persinggahan pertama nya.
"Kita sudah sampai?" Tanya Aphrodite saat menyadari mobilnya berhenti.
"Coba kau lihat ke sana." Fransisco menunjuk ke arah bangunan di hadapan mereka. Jaraknya cukup jauh tapi Aphrodite dapat melihat dengan jelas bangunan itu dari atas sampai bawah. Sebuah bangunan besar yang indah dengan ukiran unik di sana. Tampak seperti sebuah dinding, tapi entah mengapa banyak di kunjungi oleh orang-orang disana. Aphrodite dapat melihat seberapa ramainya orang yang berfoto dan berjalan menghampiri bangunan itu.
"Bangunan apa itu?" Tanya Aphrodite bingung, ia menatap Fransisco yang duduk di sampingnya.
"Kau pernah menonton film berjudul Lucy? Yang di perankan oleh Scarlett Johansson?"
"Lucy?"
"Iya."
"Scarlett Johansson? Sebentar," Aphrodite berusaha mengingat-ingat mengenai film yang baru saja di sebutkan oleh Fransisco barusan.
"Oh aku ingat. Maksudmu adalah film seorang wanita yang kuliah di Taipei, Taiwan yang kemudian memiliki kekuatan setelah secara tidak sengaja tubuhnya menyerap narkoba jenis CPH4?" Tanya Aphrodite saat ia mengingat film yang di maksud oleh Fransisco. Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Benar! Itu film yang aku maksud."
"Lalu?"
"Kau ingat saat scene dimana Lucy meminta salah satu polisi asal Paris untuk membantunya menangkap dan mendapatkan sisa narkobanya?"
__ADS_1
"Iya. Aku ingat."
"Nah, ada scene di film yang menangkap monumen bersejarah ini."
"Huh? Benarkah?"
"Iya. Saat Lucy dan polisi itu duduk dalam mobil, Lucy berusaha mencari salah satu sinyal percakapan lewat jaringan telpon yang di lihatnya."
"O-oh scene yang itu?"
"Iya. Dan mereka berada tepat di sini!"
"W-woah, aku baru menyadarinya." Aphrodite tertegun. Ia baru menyadari hal itu, memang benar. Kalau di ingat-ingat lagi, di sinilah tempatnya. Di tempatnya berada saat ini.
"Omong-omong kau bilang itu adalah monumen?" Aphrodite mengalihkan fokus nya pada Fransisco.
"Iya. Nama monumen nya adalah Arc de Triomphe."
"Arc de Triomphe?" Ulang Aphrodite dengan sedikit mengejanya.
"Ng." Fransisco menganggukkan kepalanya. "Kau mau coba berkunjung ke sana?"
"Ya, kenapa tidak? Lagipula tidak setiap hari aku ke Paris kan? Jadi mumpung aku di Paris, aku ingin berkunjung ke sana."
"Baiklah, ayo pergi." Fransisco menjalankan mobilnya mendekat ke arah Arc de Triomphe.
Arc de triomphe de l'Étoile atau biasa dikenal sebagai Arc de Triomphe adalah sebuah Gapura/Monumen Kemenangan. Monumen berbentuk Pelengkung kemenangan di Paris yang berdiri di tengah area Place de l'Étoile, di ujung barat wilayah Champs-Élysées. Bangunan ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte dengan tujuan untuk menghormati jasa tentara kebesarannya.
Arc de Triomphe adalah monumen yang mirip seperti The Cenotaph di London, Inggris yang terletak di parliament street.
Arc de Triomphe merupakan salah satu monumen paling terkenal di kota Paris yang menjadi latar belakang ansambel perkotaan di Paris. Terletak di bukit Chaillot yang tepat berada di tengah konfigurasi persimpangan jalan raya berbentuk bintang lima.
Pembangunan monumen ini telah direncanakan sejak 1806 oleh Napoleon setelah kemenangannya di Pertempuran Austerlitz. Proses penyelesaian konstruksi fondasi dasar monumen ini memakan waktu selama 2 tahun pengerjaan, dan ketika Napoleon memasuki kota Paris dari barat bersama Archduchess Marie-Louise dari Austria pada tahun 1810, ia sudah bisa melihat monumen ini terbentuk dari konstruksi kayunya.
Arsitek dari monumen ini, Jean Chalgrin meninggal dunia pada tahun 1811. Pengerjaan pembangunan monumen ini dilanjutkan oleh Jean-Nicolas Huyot. Selama masa restorasi Bourbon di Prancis, pembangunan monumen ini sempat dihentikan dan tidak dilanjutkan sama sekali sampai masa pemerintahan Raja Louis-Philippe pada 1833-1836.
Jenazah Napoleon pernah dibawa melewati monumen ini pada 15 Desember 1840 dalam perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Invalides.
Sebuah Makam Prajurit Tak Dikenal dipasang dibawah Arc de Triomphe untuk mengenang para korban Perang Dunia I pada 28 Januari 1921.
Fransisco dan Aphrodite menghabiskan waktu mereka hampir satu jam lamanya di sana. Aphrodite mengambil banyak gambar sebagai penanda bahwa dirinya pernah berkunjung ke sebuah monumen paling bersejarah di kota Paris di negara Prancis.
__ADS_1
...***...