Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Mama?


__ADS_3

...***...


Fransisco menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumahnya, ia lantas meminta sang security untuk membuka kan pintu gerbang agar ia bisa masuk.


Setelah pintu gerbang itu di bukanya, Fransisco lantas mengemudikan mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah dan memarkirkan mobilnya di sana.


"Tunggu dulu sebentar di sini!" Ucap Fransisco pada Aphrodite yang baru saja akan beranjak dari tempat duduknya.


Aphrodite beralih menatapnya, ia memandangi Fransisco dengan raut wajah bingung.


"Huh? Memangnya kenapa?" Tanya Aphrodite dengan raut wajah bingung.


"Tunggu saja."


Fransisco beranjak dari tempat duduk nya, melepaskan seat belt yang terpasang pada nya kemudian membuka pintu mobilnya.


Aphrodite terdiam memandangi Fransisco yang tampak bersikap cukup aneh baginya. Pria itu keluar, berjalan mengitari mobilnya dengan sedikit berlari sampai kemudian ia berdiri tepat di depan pintu mobil yang di duduki olehnya.


Fransisco berdiri di sana, membuka kan pintu untuk Aphrodite. Sementara itu, Aphrodite yang mendapati perlakuan dari Fransisco itu hanya bisa diam dan menatap nya dengan raut wajah bingung.


"Silakan keluar," ucap Fransisco seraya membuka kan pintu itu untuk nya.


"Aih aku kira kenapa. Ternyata kau hanya ingin membuka kan pintu untukku?"


"Memangnya kenapa? Apakah kau terharu karena aku bersikap manis?"


"Bukan begitu. Hanya saja padahal aku bisa membuka nya sendiri," kata Aphrodite sembari melangkah kan kaki nya keluar dari dalam mobil nya.


"Selamat datang di rumah ku. Oh tidak, apakah mungkin harus aku katakan rumah kita? Karena sebentar lagi rumah ini akan menjadi rumah mu juga kan?"


"Ini rumah papa mu," ucap Aphrodite dingin.


"O-oh ya. Kau benar. Tapi sebentar lagi, papa akan memberikan rumah ini untuk kita tempati. Jadi sebentar lagi rumah ini akan menjadi rumah kita."


"Aku tidak ingin tinggal di rumah sebesar ini. Apalagi setelah menikah kita hanya akan tinggal berdua. Jadi rumah ini terlalu besar hanya untuk kita tinggali berdua saja," ucap Aphrodite datar.

__ADS_1


"Jadi kau tidak ingin tinggal di sini?"


"Tidak. Maksudku untuk sementara tidak apa-apa, hanya saja jika terus tinggal di sini, aku rasa tidak."


"Hm… baiklah, kalau begitu setelah kita menikah kita tinggal di apartemen ku saja bagaimana? Di sana tempatnya nyaman apalagi untuk kita tempati berdua."


"Ya, terserah," ujar Aphrodite malas.


Fransisco lantas menutup pintu mobilnya.


"Kalau begitu ayo masuk, papa pasti sudah menunggu di dalam bersama dengan Tante Helen dan adikmu. Oh, maksudku adik iparku."


"Tunggu! Kau bilang mama dan Er ada di sini?"


"Iya. Memangnya kenapa? Apakah mereka tidak bicara sebelum nya padamu?"


"Tidak. Tapi kenapa mereka di sini?"


"Kenapa kau bilang? Oh astaga, tentu saja untuk membicarakan mengenai persiapan pernikahan kita. Kau ini benar-benar lucu ya, membuatku gemas saja." Fransisco tersenyum menanggapi ucapan Aphrodite, tangannya terulur seraya mengacak-acak puncak kepalanya perlahan. "Sudahlah ayo kita masuk."


Fransisco dan Aphrodite beranjak dari sana, melangkah menghampiri pintu masuk di sana. Tapi belum sempat mereka melangkah masuk, atensinya sudah lebih dulu di sita oleh kehadiran sebuah mobil mewah yang tampak amat mengkilap.


Mobil itu berhenti tepat di belakang mobil Francisco.


"Eh, itu…" Aphrodite terdiam sesaat. Menghentikan langkah kakinya seraya menoleh ke arah mobil yang baru saja tiba.


"Ada apa?" Tanya Fransisco seraya mengalihkan pandangannya ke arah yang di lihat Aphrodite.


Di sana mereka melihat mobil yang baru saja berhenti. Dari balik pintu depannya, seorang pria berpakaian seorang pengawal lantas keluar dan berjalan menghampiri pintu belakang mobilnya. Membuka pintu itu lebar dan membantu sosok wanita di dalam nya untuk keluar.


"Itu siapa?" Tanya Aphrodite dengan suara pelan. Matanya tak lepas memandang ke arah wanita yang kini mulai melangkah keluar dari dalam mobil.


"Itu…" Fransisco menggantungkan ucapannya, memandangi lebih dulu sampai sosoknya benar-benar keluar dari dalam mobilnya.


Seorang wanita cantik berkulit putih mulus keluar dari dalam sana. Wanita itu mengenakan pakaian yang tampak amat mewah. Ia tinggi semampai dengan tubuh yang bagus dan wajah yang tampak cantik walau terdapat beberapa kerutan di wajahnya. Kerutan yang menandakan jika wanita itu sudah tidak muda lagi.

__ADS_1


Ia berdiri di luar pintu mobilnya. Sang pengawal yang semula membuka kan pintu untuk nya itu lantas menutup pintu mobilnya setelah ia keluar bersama dengan wanita lain yang tampak lebih belia di bandingkan dirinya. Wanita yang lebih muda itu mengenakan setelan jas kantor yang lengkap dengan kemeja putih berbalut jas hitam dan rok pendek di atas lutut kaki jenjangnya. Di tangannya, ia memegang sebuah gadget berupa tablet berukuran besar yang di peluknya.


Wanita yang lebih tua darinya itu melepas kan kacamata yang di sangga hidung mancung nya. Melepaskan dan menaruh kacamata hitam nya itu di pakaian yang di kenakan olehnya. Menggantung di antara bagian kerahnya.


Fokus matanya beralih pada Fransisco yang tampak merekahkan senyum di wajahnya kala pandang mata mereka bertemu. Bersamaan dengan itu, ia merekahkan senyuman nya kemudian melambaikan tangan ke arahnya.


"Fransisco!" Panggilnya seraya tersenyum dan melambaikan tangannya pada pria itu.


Sementara itu, Aphrodite terdiam sesaat, ia melirik ke arah Fransisco di sampingnya dengan raut wajah penasaran yang masih penuh dengan tanda tanya akan siapa sosok wanita yang baru saja tiba dan langsung menyapa pria di sampingnya itu.


"Mama!" Sahut Fransisco seraya tersenyum dan membalas lambaikan tangannya. Sejurus kemudian pria itu beranjak menghampiri wanita yang di panggil nya mama itu.


"Ma-mama?" Beo Aphrodite terbata. Ia tak menyangka jika wanita yang di lihatnya itu adalah mama dari seorang Fransisco Shankara.


Tiba di sana, Fransisco segara memeluk mama nya. Melayangkan kecupan di pipi kiri dan kanan nya.


"Halo sayang, lama tidak jumpa. Bagaimana kabarmu huh?" Wanita itu memeluk putranya erat. Ia benar-benar rindu pada pria yang berstatus putra semata wayangnya itu.


"Aku juga merindukan mama," sahut Fransisco tepat di telinga wanita itu.


"Bagaimana keadaan mu?" Ia melerai pelukannya dan menatap Fransisco lekat.


"Aku sehat. Bagaimana dengan mama?"


"Mama juga sehat. Mama segera datang begitu mendengar jika kau akan menikah, apakah itu benar?"


"Iya. Aku akan menikah."


"Tapi kenapa kau tega sekali pada mama? Kenapa kau tidak memberitahu mama lebih dulu? Huh?"


"Itu karena mama terlalu sibuk dengan pekerjaan mama. Dan di tambah lagi, papa yang melarang ku untuk menghubungi mama lebih dulu. Kata nya biar papa saja yang memberitahukan ini pada mama sendiri."


"Ah dasar si tua bangka itu. Ia tetap saja menyebalkan."


...***...

__ADS_1


__ADS_2