
...***...
"Jadi bagaimana menurut kalian?" Tanya Fanny begitu ia selesaikan menjelaskan ide dan konsep yang telah ia buatkan untuk pernikahan Fransisco.
Ia lantas meraih cangkir yang semula di suguhkan untuknya. Meneguknya sedikit, kemudian menaruhnya kembali ke atas meja kaca yang berada tepat di hadapannya.
"Ng… apakah ini tidak—"
"Saya sangat setuju dengan konsep yang di sarankan oleh nyonya Shankara," potong Helen dengan raut wajah sumringah di sana. Apalagi setelah mendengar ide jika Fanny ingin membuat pesta besar-besaran yang di adakan di sebuah hotel ternama dengan akan menghabiskan biaya ratusan juta hanya untuk menyewa satu gedungnya dalam satu hari.
"Argh sudah berapa kali aku ingatkan? Jangan panggil aku nyonya Shankara! Aku bukan lagi bagian dari keluarga ini, jadi berhenti memanggilku dengan nama memuakkan itu. Panggil aku Ghassani, atau setidaknya panggil aku Fanny agar kita lebih akrab. Lagipula sebentar lagi kita jadi besan," ucap Fanny yang jengah dengan panggilan yang di berikan oleh Helen untuk dirinya.
"O-oh maaf jika itu membuat anda tidak nyaman," gumam Helen.
"Ah sudahlah, jangan permasalahan lagi hal itu," kata Fanny yang kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang tengah di duduki olehnya.
Aphrodite yang mendapati kalimatnya di potong oleh Helen lantas mendelik ke arahnya.
"Ma!" Panggil Aphrodite pelan seraya menatapnya. Helen melirik ke arahnya kemudian menyikut lengan Aphrodite di sana. Memberikan isyarat padanya untuk diam dan mengikuti setiap perkataan nya.
"Huft~" Aphrodite menghela napas kesal di sana. Helen selalu seperti ini, selalu mencari kesempatan dalam kesempitan, dan itu membuatnya sedikit kesal dengan Helen.
"Bagaimana menurutmu Aphrodite?" Tanya Fanny yang kemudian beralih pandang ke arah nya.
Aphrodite yang mendengarnya spontan terkejut dan mendongak refleks ke arahnya.
"Eh?" Cicitnya tanpa sadar.
"Bagaimana menurut pendapatmu? Apakah kau suka atau tidak? Tampaknya kau keberatan dengan konsep yang mama buat," tuturnya.
"Mama?" Beo Antonio di sana seraya menatap ke arah Fanny dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan. Fanny melirik ke arahnya sekilas kemudian memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
"Jadi bagaimana?" Tanya Fanny lagi setelah tidak ada respon dari wanita yang di ajaknya bicara itu. Ia beralih menatap Aphrodite yang masih tampak bingung di sana.
Sementara itu Helen yang duduk di sebelahan nya menyenggol-nyenggol sepatunya ke arah kaki Aphrodite, memberikan isyarat padanya untuk menjawab setuju.
Aphrodite meliriknya mendapati Helen yang tengah menatapnya dengan kedua mata melotot dan mulut yang komat-kamit bak tengah merapalkan sebuah mantra.
"Ng… aku ikut bagaimana baiknya saja," finalnya yang kemudian beralih pandang pada Fanny di hadapannya.
"Oke kalau begitu, lalu bagaimana denganmu sayang?" Fanny menatap Fransisco yang duduk di samping Aphrodite di sana.
"Aku juga tidak keberatan, lagipula tampaknya ini cocok. Dan lagi, aku memang ingin membuat pernikahan yang semegah ini agar Aphrodite tidak bisa melupakannya," Fransisco melirik ke arah Aphrodite yang kini balik melirik ke arahnya setelah pria itu menyebut-nyebut namanya. Fransisco tersenyum simpul, sementara Aphrodite membalasnya hanya dengan senyuman tipis yang tampak kaku.
"Baiklah karena kalian sudah setuju, maka biar orang-orang ku saja yang mengurus sebagiannya," ujar Fanny yang kemudian beralih memandang ke arah manajernya. Ia yang baru saja ingin berbicara dengan wanita itu sudah lebih dulu di potong oleh Antonio di sana.
"Apakah kau tidak ingin menanyakan pendapat dariku?" Tanya Antonio kepada dirinya.
Fanny meliriknya sekilas. "Tidak perlu! Lagipula kau ini orangnya tidak ingin repot dan ingin terima beres begitu saja. Jadi tidak perlu aku tanyakan pendapatmu!" Ketusnya dengan tatapan mendelik, fokus Fanny kemudian kembali beralih menatap manajer nya di sana.
"Ternyata kau masih sama seperti dulu," gumam nya pelan tapi dapat di dengar oleh mereka dengan sangat jelas.
Helen yang sejak tadi memperhatikan tingkah dari Antonio dan Fanny yang mana berstatus sebagai manta pasangan suami istri, itu lantas menemukan sebuah fakta baru mengenai seorang Antonio. Pria itu kini justru tampak tidak terlalu menakutkan bagi dirinya. Dan bagi Helen, setelah melihat Fanny di sana. Ia jadi tahu sisi lain dari seorang Antonio Shankara yang paling di takuti olehnya itu, apalagi jika pria itu sudah menagih semua utangnya.
"Baiklah karena kalian sudah sepakat dan aku sudah memerintahkan semua orang-orangku untuk mengurus sebagiannya, maka sekarang waktunya untuk aku pergi," Fanny beranjak bangun dari sana.
"Huh?" Semuanya menatap ke arah Fanny dengan raut wajah terkejut.
"Mama mau kemana?" Tanya Fransisco yang kemudian berdiri cepat.
"Mama harus menemui seseorang. Mumpung mama di sini, jadi rencananya mama ingin bertemu dengan teman lama mama."
"Apakah mama tidak bisa tinggal lebih lama di sini? Bagaimana jika mama menginap?"
__ADS_1
"Mama tidak akan kuat tinggal satu rumah lagi dengan si tua bangka ini," Fanny menunjuk ke arah Antonio yang terduduk di sana.
"Tapi mama tidak akan buru-buru pulang kan?"
"Tentu saja tidak sayang. Mama akan tetap di sini hingga pernikahan mu selesai."
"Lalu selama mama di sini, mama akan tinggal di mana?"
"Mama sudah sewa apartemen, jadi mama akan tinggal di sana. Jika kau ingin berkunjung, mama akan kirimkan alamatnya padamu nanti."
"Baiklah," gumam Fransisco.
"Aphrodite, sampai jumpa lagi," Fanny beralih menatap Aphrodite di sana.
"A-ah, ya. Sampai jumpa lagi," sahut Aphrodite seraya bangkit dari tempat duduknya dan membungkuk memberikan hormat padanya. Helen dan Erland ikut bangun di sana seraya tersenyum, mereka memberikan salam perpisahan padanya.
"Senang bisa bertemu denganmu nyonya Sha—ehh, nyonya Ghassani maksudku," Helen tersenyum simpul ke arahnya.
"Ya. Aku juga senang bertemu denganmu. Kalau begitu aku pamit, sampai bertemu lagi."
"Iya. Sampai bertemu lagi," jawab Helen.
Fanny lantas beranjak pergi dari sana. Ia sempat menghentikan langkahnya sesaat ketika ia melewati Antonio yang terduduk di sana.
Fanny menoleh ke arah Antonio yang diam seraya mengulum senyum di sana. Pria itu bahkan terdiam tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun ke arah dirinya.
"Ternyata kau masih sama menyebalkannya seperti dulu," gumam Fanny yang kemudian melenggang pergi bersama dengan manajer nya keluar dari ruangan tersebut. Sementara itu Antonio yang mendengarnya semakin merekahkan senyuman di wajahnya, menanggapi ucapan dari wanita yang menjadi mantan istri nya itu.
Helen, Aphrodite dan Erland hanya diam tak berkomentar. Ketiganya menatap kearah dimana wanita itu menghilang bersama dengan manajernya. Mereka benar-benar tidak percaya dengan yang dilihatnya.
...***...
__ADS_1