Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Wait for me to come home


__ADS_3

...***...


Jordan menyelipkan ujung lain dasi yang di kenakan olehnya, dan selesai. Ia sudah siap untuk pergi ke kator sekarang. Ia tersenyum simpul memandangi dirinya lewat pantulan cermin yang ada di hadapannya.


"Selesai," gumamnya pelan. Fokusnya tersita saat secara tiba-tiba ia mendengar pintu kamarnya di ketuk perlahan oleh seseorang di balik sana.


"Tuan, tuan besar dan nyonya sudah menunggu anda di ruang makan. Beliau meminta anda bergegas karena ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda," tutur wanita di balik pintu sana. Jordan mengubah air mukanya saat mendengar suara wanita itu yang berkata bahwa di luar ada seseorang yang tengah menunggunya.


"Itu pasti dia," gumamnya pelan. "Baiklah katakan aku akan segera turun," teriaknya.


"Baik, kalau begitu saya permisi." Wanita di balik pintu sana di dengarnya beranjak pergi dari tempatnya berada saat ini, meninggalkan Jordan seorang diri yang kini masih sibuk mempersiapkan diri sebelum berangkat bekerja.


Selesai bersiap, ia segera turun menuju ruang makan dan tiba di sana ia mendapati kedua orang tuanya yang tengah duduk dan menikmati hidangan sarapan bersama seorang wanita cantik dengan gaun pendek yang tampak sedikit ketat menampakkan lekuk tubuhnya. Rambut panjangnya tergerai, fokus wanita itu—Carla beralih ketika Jordan tiba. Ia seketika merekahkan senyumannya begitu saling bertatapan dengannya.


"Pagi Jordan," sapanya.


"Pagi ini aku punya meeting dengan salah satu klien penting ku, jadi sepertinya aku akan sarapan di kantor saja," ujar Jordan tak menghiraukan perkataan Carla yang dalam sekejap menghapus senyuman di wajahnya.


"Kau akan pergi sepagi ini? Oh sayang, kau tidak boleh lupa. Sarapan itu penting, lebih baik sekarang kau duduk dan sarapan bersama kami. Lagipula kasihan Carla sudah datang jauh-jauh kemari untuk bertemu denganmu dan ingin pergi ke kantor denganmu." Wanita paruh baya yang menjadi ibunya itu berucap.


"Tapi meeting ini benar-benar penting ma, aku juga harus mempersiapkan semua bahan-bahan presentasinya dan mengecek hal lainnya. Aku ingin semuanya sempurna, jadi aku akan pergi sekarang." Jordan melangkah beranjak dari sana.


"Jordan berhenti di sana. Kau tidak seharusnya bersikap dingin seperti ini pada tunangan mu!" Papanya memanggil tapi sama sekali tidak di gubrisnya.


Jordan terus melangkah hingga sosoknya hilang di balik pintu keluar. Sepeninggalannya Jordan keadaan terasa berbeda, suasananya jadi canggung dan kurang nyaman.


"Anak itu mirip siapa sebenarnya, dia benar-benar membangkang dan keras kepala," gerutu pria paruh baya itu sembari menggelengkan kepalanya.


"Sudah jelas-jelas seperti dirinya," bisik wanita yang menjadi istrinya pelan. "Maaf untuk sikap Jordan, sayang." Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada Carla yang duduk berhadapan dengannya.


"Tidak apa-apa tante. Aku mengerti ini masih terlalu sulit untuk di jalani olehnya." Carla tersenyum hambar.


"Terima kasih karena kau sudah selalu bersabar dan mau mengerti."


"Bukan masalah, lagipula ini adalah salah satu bentuk cara beradaptasi ku dengannya. Jadi saat kita menikah nanti, aku bisa membiasakan diri," sahutnya.

__ADS_1


"Iya. Ah… lebih baik sekarang kita kembali fokus sarapan, setelah ini bagaimana kalau Tante minta supir untuk mengantarkan mu?"


"Huh? Tidak apa-apa, aku bisa berangkat sendiri."


"Lho, kenapa?"


"Aku hanya tidak ingin merepotkan Tante, lagipula ada orang yang harus aku temui sebelum pergi ke kantor."


"Tetap saja, lebih baik kau diantarkan oleh supir."


"Baiklah kalau tante memaksa."


...*...


"Baunya benar-benar harum." Fransisco tersenyum simpul begitu ia tiba di ruang makan dan mendapati Aphrodite yang tengah menyiapkan alat makan untuk mereka.


Aphrodite mendongak menatap Fransisco yang kini sudah mengenakan pakaian yang rapi yang telah ia pilihkan.


"Pasti sangat enak," tuturnya sembari menarik satu kursi tempatnya duduk.


"Tunggu." Aphrodite menghentikan langkahnya. Fransisco menoleh dengan raut wajah bingung.


"Astaga, apakah kau tidak bercermin saat memasang dasinya?" Aphrodite menghampiri Fransisco membenarkan dasi yang mengikat lehernya itu. "Dasinya miring," katanya.


Fransisco terdiam membisu, kedua matanya menatap lekat Aphrodite yang kini fokus membenahi posisi dasi yang dikenakannya.


"Nah, sekarang baru lurus." Aphrodite tersenyum simpul memandangi dasi yang baru saja dibenahinya.


Fransisco ikut tersenyum, kedua matanya semakin lekat memandangi Aphrodite. Rasanya benar-benar bahagia ketika Aphrodite begitu perhatian terhadapnya, bahkan hal sekecil ini saja Aphrodite sangat memperhatikannya.


"Terima kasih, kau benar-benar perhatian."


"Tidak perlu berterima kasih, lagipula itu tugasku. Baiklah ayo kita makan, aku sudah menyiapkan semuanya."


"Ya, ayo."

__ADS_1


Fransisco mengambil duduk berhadapan dengan kursi yang di duduki oleh Aphrodite. Detik berikutnya mereka mulai di sibukkan berkutat dengan jam sarapan mereka. Fransisco tampak sangat bersemangat hari ini, apalagi setelah hari-harinya di hiasi oleh kehangatan dari Aphrodite yang tidak lain adalah istrinya.


"Makananmu memang yang paling enak, aku ingin makan makanan mu lagi saat jam makan siang."


"Huh? Tentu, aku akan membuatkannya untukmu dan membawanya ke kantor."


"Terima kasih."


"Tentu," sahut Aphrodite.


Selesai sarapan, Aphrodite kemudian mengantarkan Fransisco hingga di luar gedung apartemen. Tiba di bawah, Fransisco mempersiapkan lebih dulu mobilnya sebelum berangkat menuju kantor.


"Seharusnya kau tetap di dalam saja, tidak perlu sampai ikut kemari," kata Fransisco.


"Aku bosan kalau terus di dalam, lagipula tidak ada hal yang akan aku lakukan juga. Aku hanya tinggal mencuci piring kotor setelah itu diam tanpa bisa melakukan apa-apa."


"Kau mengantarkan aku sampai kemari membuatku semakin malas untuk pergi ke kantor."


"Huh? Kenapa? Kau tidak boleh seperti itu, apalagi sudah tiga Minggu lamanya kau tidak masuk. Terlalu lama mengambil liburan itu tidak bagus, di tambah lagi kalau di rumah pun kau tidak bisa melakukan apa-apa."


"Aku malas karena aku akan jauh darimu, dan saat di kantor nanti… aku pasti akan sangat merindukanmu."


"Kau berlebihan, sudahlah lebih baik kau berangkat sekarang."


"Ya… kalau begitu aku berangkat dulu."


"Hati-hati di jalan."


Fransisco berbalik hendak masuk ke dalam mobilnya, tapi ia seketika berhenti saat ingat akan sesuatu yang ia lupakan. Ia berbalik membuat Aphrodite mengerutkan keningnya bingung.


"Ada apa lagi?" Tanya Aphrodite. Fransisco tak menjawab dan hanya memberikan sebuah isyarat, merentangkan kedua tangannya membuat Aphrodite semakin bingung. Aphrodite menaikkan sebelah alisnya, hal itu membuat Fransisco berubah murung.


"Sudahlah lupakan saja," tuturnya dengan raut wajah kecewa.


"Aku hanya bercanda," ucap Aphrodite seraya tersenyum simpul.

__ADS_1


"Kau mempermainkan perasaanku." Fransisco terkekeh, menghampiri Aphrodite kemudian memeluknya. "Tunggu aku pulang," bisiknya pelan seraya mendaratkan sebuah kecupan penuh kemesraan di keningnya. Aphrodite diam terpaku di tempatnya, tak bisa berkata-kata. Baru detik berikutnya Fransisco melangkah pergi.


...***...


__ADS_2