
...***...
"Aku sedang dalam perjalanan, sebentar lagi aku sampai," ujar Aphrodite. Ia mengalihkan pandangannya sekilas pada Jordan yang kini berdiri sembari memandangi dirinya.
"Aku permisi dulu," tuturnya yang diangguki oleh Jordan. Aphrodite beranjak pergi dari sana meninggalkan Jordan seorang diri. Aphrodite berbelok kemudian pergelangan dengan menumpang taksi kosong yang melintas di jalan ia lewati.
"Dia bilang Laura? Apakah Laura yang dia maksud adalah Laura yang aku kenal?" Jordan terdiam dalam lamunannya.
...*...
Aphrodite meminta sang supir berhenti tepat di depan restoran tempat bekerja Laura, hari ini ia akan belajar memasak di sana. Aphrodite keluar dari dalam mobil, meraih barang-barang belanjaannya lalu membayar ongkos taksi dengan beberapa uang lembar seratus ribuan. Sejurus kemudian Aphrodite melangkah masuk ke dalam restoran, karena restoran tutup lebih awal hari ini, jadi tidak ada orang lain selain Laura di dalam sana dan Aphrodite yang baru saja masuk lewat pintu depan. Laura yang tengah menyiapkan dapur kemudian beralih pandang begitu telinganya mendengar suara pintu terbuka. Lauda menghentikan kegiatannya.
"Kau sudah tiba," ujarnya yang segara berjalan menghampiri Aphrodite untuk membantunya membawa semua barang belanjaannya.
"Iya, omong-omong aku sudah mendapatkan semua bahan-bahannya. Maaf kalau aku terlalu lama karena beberapa bahan tidak ada di beberapa market."
"Bukan masalah, aku mengerti memang beberapa bahan tidak ada. Kalau saja supplier restoran lebih cepat mengirimkan bahan-bahannya, maka akan lebih cepat juga untuk kita memasak. Tapi karena mereka akan mengirimkan bahan-bahannya besok, jadi kita tidak mungkin menunggu sampai besok." Laura menaruh kantong plastik itu ke atas meja dan mengeluarkan satu persatu bahan yang ada di dalam sana. "Kau pasti lelah, lebih baik kau minum dan istirahat lebih dulu."
Laura beranjak sejenak mengambilkan air minum untuk Aphrodite kemudian menyodorkannya. Aphrodite meneguknya perlahan lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Kalau kau sudah tidak lelah, baru kita mulai belajar memasaknya. Oke?"
"Baiklah." Aphrodite menganggukkan kepalanya. Sementara itu Laura kini mulai sibuk membenahi dapur sebelum mereka mulai memasak.
...*...
Fransisco menghampiri Aphrodite, pria itu baru saja selesai mandi dan kini hanya berbalutkan kimono mandinya. Ia merangkul tubuh Aphrodite dari arah belakang membuat wanita yang tengah berdiri di depan cermin besar dihadapannya itu tersentak kaget. "Frans… kau mengejutkanku saja," ujar Aphrodite sembari menatap Fransisco lewat cermin dihadapannya.
"Aku suka dengan aroma tubuhmu," gumam Fransisco seraya memejamkan matanya, menghirup lebih dalam aroma harum Aphrodite yang kini berdiri dihadapannya. Aphrodite terdiam dengan raut wajah bingung memperhatikan Fransisco yang bersikap aneh malam ini. Aphrodite gelisah, entah kenapa kalau sebenarnya ada sesuatu dibalik sikap Fransisco yang tiba-tiba saja seperti ini.
"Frans? Ada apa denganmu? Kenapa kau bersikap seperti ini, membuatku gelisah saja…" tanya Aphrodite. Fransisco mengubah posisi kepalanya, menenggerkan dagunya pada bahu Aphrodite.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin saja," tuturnya. Ia balik menatap Aphrodite lewat pantulan cermin. Aphrodite berusaha bersikap biasa ia kembali disibukkan membenahi rambutnya yang masih basah akibat baru saja selesai mandi.
"Sayang…" Fransisco bergumam pelan setelah lama hening menemani kebersamaan mereka. "Hm?" Aphrodite menjawabnya dengan bergumam.
"Karena kita sudah saling kenal lebih jauh dan pernikahan kita sudah cukup lama, bagaimana kalau kita…"
"Tidak!" Aphrodite memotong cepat, wajahnya bersemu terlihat jelas di cermin. Aphrodite mengerti kemana arah pembicaraan Francisco itu. Fransisco mengubah posisinya, berdiri tegap seraya memandangi Aphrodite dengan raut wajah yang cukup terkejut. Ia meremat bahu Aphrodite dan memutar tubuh wanita itu ke arahnya, Fransisco memperhatikan Aphrodite lebih lekat membuat sang empu semakin salah tingkah di buatnya. "A-aku belum siap…" ujar Aphrodite terbata.
"Haha… kau ini memikirkan apa?" Fransisco terkekeh mendengar ucapan Aphrodite yang begitu spontan.
"Huh?" Aphrodite mengerutkan wajahnya tidak mengerti.
"Aku ingin mengajakmu berlibur lagi, ke tempat yang kau ingin kunjungi. Kenapa kau tiba-tiba bilang kalau kau belum siap? Memangnya apa yang kau pikirkan? Haha…" wajah Aphrodite berubah merah padam, oh sial. Otaknya memikirkan hal yang tidak-tidak, ia mati kutu sekarang. Fransisco pasti berpikir kalau dia sedang memikirkan hal yang tidak-tidak.
"A-aku…" Aphrodite terbata bingung harus menjelaskan apa. Fransisco tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Aphrodite, menatap kedua manik mata Aphrodite lekat. Aphrodite terpaku di tempatnya.
"Jangan-jangan kau sedang memikirkan tentang…"
"Tidak! Jangan katakan!" Aphrodite memalingkan wajahnya ke arah lain, membungkam mulut Fransisco dengan kedua tangannya. "Ja-jangan katakan apa-apa mengenai apa yang baru saja aku katakan. Anggap saja kalau kau tidak mendengarnya," ujarnya. Fransisco hanya tersenyum simpul, ia lalu menjauhkan wajahnya dari Aphrodite.
"Baiklah, aku akan berpura-pura tidak mendengarnya. Sekarang bolehkah kau keluar sebentar?"
"Eh?" Aphrodite menoleh ke arahnya. Fransisco baru saja mengusirnya dari sana?
"Aku ingin memakai baju, atau apa aku perlu ganti baju di hadapanmu?" Fransisco melepaskan kimono nya perlahan.
__ADS_1
"A-aku akan pergi." Aphrodite bergegas pergi dari sana meninggalkan Fransisco seorang diri dan tak lupa menutup pintu. Fransisco terkekeh pelan memandangi Aphrodite yang kini menghilang dibalik pintu keluar. Ia menghentikan kekehannya lalu terdiam dalam lamunannya.
"Benar… aku tidak boleh memaksanya, aku akan bersabar sebentar lagi," gumamnya pelan bagai bisikan. Fransisco melepaskan kimono yang dikenakannya membuat tubuhnya kini tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Pria itu meraih pakaian yang telah di siapkan Aphrodite sebelumnya lalu mengenakannya.
...*...
"Aku pasti sudah gila, kenapa aku memikirkan hal seperti itu? Dan bisa-bisanya aku bilang seperti tadi pada Fransisco? Dia jadi salah paham 'kan… bodoh…" Aphrodite merutuki kebodohannya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau otaknya bisa tiba-tiba saja memikirkan hal seperti itu dan pada akhirnya berbicara melantur yang membuat dirinya malu setengah mati.
Aphrodite beranjak pergi dari tempatnya, ia hendak mempersiapkan meja untuk dirinya makan malam bersama dengan Fransisco. Lebih baik menyibukkan diri daripada terus memikirkan hal yang baru saja terjadi.
Fransisco keluar dari kamar dengan mengenakan piyama yang sama dengan Aphrodite, pria itu turun menuju ruang makan untuk makan malam bersama. Fransisco dan Aphrodite kini terduduk di meja makan, mereka sekarang sedang menikmati waktu makan malam bersama.
Hening. Aphrodite sama sekali tidak mengeluarkan suara dan terus fokus pada makanan yang tengah di nikmati olehnya. Fransisco yang merasa keadaan mereka cukup ambigu lantas menatap Aphrodite dengan raut wajah bingung. Ketika mereka beradu pandang Aphrodite cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kau kenapa?" Tanya Fransisco yang berhasil membuat Aphrodite tersedak. Fransisco yang panik segera meraih gelas dan mengisinya dengan air kemudian menyodorkannya pada Aphrodite.
"Makan pelan-pelan," ujarnya.
"I-iya…" sahutnya pelan.
...*...
Aphrodite masih diam tak bersua, ia masih tidak bisa melupakan kejadian tadi yang benar-benar memalukan. Saat ini dirinya tengah duduk bersama dengan Fransisco di depan televisi, menonton sebuah acara yang sedang di tayangkan. Lagi-lagi tidak ada suara yang terdengar dari masing-masing, hanya suara dari televisi yang dapat mereka dengar mengisi seluruh ruangan itu. Fransisco menguap, ia mulai lelah dan mengantuk. Ia menoleh ke arah Aphrodite yang terduduk di sampingnya, wanita itu masih sibuk memperhatikan layar televisi yang menyala di hadapannya.
"Ini sudah malam, bagaimana kalau kita tidur?" Ujarnya, Aphrodite tersentak.
"Eh? T-tidur?"
"Iya, kita harus beristirahat agar besok bisa memiliki tenaga untuk pergi bekerja. Ayo!" Fransisco beranjak bangun, meraih tangan Aphrodite.
"A-aku masih belum mengantuk, kau tidur duluan saja." Aphrodite terbata.
"Ta-tapi…"
Tanpa aba-aba lebih dulu, Fransisco mengangkat tubuhnya. Aphrodite tersentak kaget saat pria itu tiba-tiba saja menggendongnya.
"F-frans… apa yang kau lakukan."
"Karena kau tidak mau mendengarkan ku." Fransisco mematikan televisinya kemudian membawa Aphrodite ke dalam kamar untuk beristirahat, Aphrodite meminta di turunkan tapi perkataannya sama sekali tak diindahkan oleh pria yang menjadi suaminya itu.
Fransisco merebahkan tubuh Aphrodite di atas ranjang, Aphrodite terdiam tak berkata-kata saat wajah pria itu berada amat dekat dengan wajahnya. Mereka beradu pandang satu sama lain, hanya tinggal beberapa centimeter lagi saja hidung mereka akan bersentuhan.
Fransisco menelan saliva-nya susah payah, jantungnya berdenyut tak karuan dan pikirannya mulai melayang kemana-mana. Aphrodite masih diam menatapnya tanpa kata, jujur saja saat ini jantungnya juga berdebar hebat. Apalagi pikirannya terus saja berputar di kejadian beberapa saat yang lalu.
"Kenapa kau diam saja sejak tadi? Apakah karena kau terus memikirkan apa yang baru saja kau katakan tadi?" Ujar Fransisco. Aphrodite bergegas memalingkan wajahnya sebelum pikirannya semakin di hampiri hal-hal yang tidak ia inginkan. Wajahnya memerah.
"T-tidak." Ia terbata. Fransisco bergegas bangun dari posisinya, menjauhkan wajahnya dari Aphrodite. Ia tersenyum simpul memandanginya. "Lalu karena apa? Kenapa kau mendiamkan aku tanpa berbicara apa-apa?"
"B-bukan karena apa-apa, a-aku hanya…" Aphrodite menggantungkan ucapannya.
"Hanya apa?"
"Aku hanya… tidak memiliki topik untuk kita bahas," ucapnya.
"Benarkah? Kau yakin hanya itu?"
"Memangnya kau pikir karena apa?"
__ADS_1
Fransisco beranjak naik ke atas rajang tidur, Aphrodite spontan bergerak menjauh ke sisi lain ranjang. "M-memangnya karena apa lagi? Tidak ada alasan untukku tidak berbicara denganmu, lagipula kita juga tidak sedang marahan."
Fransisco berbaring di samping Aphrodite, dengan posisi menyamping dan sebelah tangannya menahan kepalanya. Aphrodite menarik selimut, menurunkan sedikit posisinya jadi berada tidak bersandar pada bantal. Sementara itu Fransisco masih memperhatikannya sembari tersenyum.
Aphrodite menenggelamkan sedikit wajahnya diantara selimut yang dipakai olehnya.
"Apakah kau diam seperti ini karena kejadian tadi?" Fransisco menaikkan sebelah alisnya yang berhasil membuat Aphrodite tak berkutik.
"B-bukan," ujarnya. Fransisco mendekatkan tubuhnya yang membuat kerah piyama yang dikenakannya itu bergerak menampakkan dada bidang Fransisco. Sial! Sekarang Aphrodite beralih pandang padanya. "Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan hal seperti itu. Aku ingin tidur saja." Aphrodite berbalik membelakangi Aphrodite.
"Ya, kau benar. Lebih baik sekarang kita tidur agar besok kita bisa pergi bekerja." Fransisco menarik selimutnya. Pria itu memeluk Aphrodite dari arah belakang.
...*...
Jordan terduduk seraya memandang ke arah luar jendela. Saat ini ia tengah berada di restoran, ia sedang menikmati waktu makan siangnya dengan di temani secangkir teh manis hangat. Ia baru selesai makan dan masih menikmati sisa waktu istirahatnya.
"Apakah jangan-jangan Aphrodite dan Laura saling kenal?" Jordan bergumam, entah kenapa kejadian beberapa waktu lalu benar-benar mengganggunya. Kejadian saat ia bertemu dengan Aphrodite secara tidak sengaja, dan ia mendengar Aphrodite menyebut-nyebut nama Laura.
"Kalau memang mereka saling kenal, dan kalau memang Laura yang Aphrodite kenal adalah Laura yang sama. Itu berarti, aku bisa mencaritahu keberadaan Laura lewat Aphrodite."
"Tapi bagaimana kalau ternyata Laura yang Aphrodite kenal bukanlah Laura yang aku kenal? Itu berarti hanya kebetulan saja nama mereka sama."
"Aku harus memastikannya lebih dulu. Namun bagaimana caranya?"
Jordan termangu, sejak pertemuannya dengan Laura yang setelah bertahun-tahun menghilang. Hidupnya benar-benar hanya di isi oleh sosok wanita yang menjadi pujaannya itu. Ia bahkan sampai tidak bisa fokus bekerja karena terlalu sering dihampiri sosok Laura dan rasa penasaran yang kembali muncul dalam dirinya.
Ia ingin tahu Laura dimana, bagaimana keadaannya selama bertahun-tahun mereka tidak bertemu, dan alasan kenapa dia bersembunyi darinya. Ia ingin tahu segalanya, segala hal yang tidak ia ketahui selama ini.
Jordan meraih cangkirnya dan meneguknya perlahan, ia harus menenangkan dirinya untuk saat ini.
...*...
"Aphrodite, saya ingin memintamu untuk ikut mewakili divisi kita untuk besok. Bisa 'kan?" Kata Mario.
"Baik pak, terima kasih karena sudah memberikan saya kesempatan sekali lagi untuk ikut terjun langsung. Ini membuat saya banyak belajar, mengenai projects yang sedang kita bahas."
"Saya memilihmu karena kau adalah orang yang selalu fokus dalam bekerja serta selalu menyimak dengan baik. Itu cukup menguntungkan bagi divisi kita."
"Saya hanya bekerja semampu yang saya bisa."
"Baiklah. Terima kasih sekali lagi karena kau sudah bersedia untuk ikut. Kalau begitu kau boleh kembali bekerja."
"Baik pak, saya permisi." Aphrodite beranjak pergi dari ruangan Mario, melangkah menuju ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang masih belum selesai. Tiba di ruang kerjanya, Tina sudah menunggunya dengan raut wajah penasaran.
"Apa yang pak Mario katakan padamu?" Tanyanya begitu mendapati Aphrodite yang baru saja tiba di ruangannya.
"Tidak ada apa-apa, pak Mario hanya meminta ku untuk ikut dengannya besok untuk mewakili divisi kita."
"Kau terpilih lagi? Wah hebat. Ku bangga bisa menjadi temanmu." Tina tersenyum senang.
"Ya, begitulah. Aku juga senang bisa terpilih, karena aku bisa belajar lebih banyak lagi."
"Ah… aku juga ingin bisa sepertimu, aku juga ingin bisa di pilih olehmu untuk ikut dan belajar banyak. Mulai sekarang aku akan lebih fokus menaikkan kinerjaku agar nanti aku bisa mengikuti jejak mu."
"Semangat." Aphrodite menyemangatinya. Tina menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Baiklah sekarang ayo kembali bekerja." Aphrodite duduk di kursinya.
__ADS_1
...***...