Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Wedding day


__ADS_3

...***...


"Huft~" Aphrodite menghela napasnya berusaha untuk menghilangkan gugup yang sejak tadi terus menggelayuti tubuhnya.


"Tenanglah," gumam Jenia yang berdiri di hadapannya. Ia sedikit menoleh ke arah Aphrodite lantas tersenyum berusaha membuatnya lebih tenang.


"Iya, terima kasih," sahut Aphrodite seraya tersenyum ke arahnya.


Saat ini mereka tengah bersiap untuk memasuki aula tempat dimana acara pesta intinya akan di mulai, dimana pada akhirnya ia akan mengikat janjinya bersama Fransisco di hadapan semua orang.


Sebuket bunga di genggamnya erat. Di belakangnya ia di temani oleh dua orang wanita yang membantunya untuk mengangkat sedikit gaunnya yang berat itu agar lebih mudah untuknya berjalan. Sementara di depannya, Jenia berdiri tegap dengan gaun putih yang tampak cantik di tubuhnya, rambut yang tersanggul ke belakang dengan hiasan di kepalanya yang membuat wanita itu semakin cantik. Sedang kan, di tangannya ia memegang sebuah keranjang bunga berisi kelopak bunga mawar di dalamnya. Dan begitu sang pembawa acara di dalam sana mempersilahkan nya untuk masuk dan semua pasang mata tertuju padanya, barulah ia melangkah bersamaan dengan terbukanya pintu itu.


Jenia menaburkan kelopak bunga itu seraya terus melangkah sampai langkahnya berhenti tepat di depan Fransisco yang sejak tadi telah menunggunya tiba di depan altar pernikahan. Pria itu tampak gagah mengenakan setelan tuxedo lengkap dengan sarung tangan putih yang membalut kedua tangannya. Berdiri tegap disana seraya tersenyum saat kedua manik matanya menangkap sosok wanita yang sebentar lagi akan berstatus istrinya itu.


Jenia berhenti, ia lantas melangkah menuju sudut lain dan bergabung dengan Helen serta Erland yang sejak tadi telah berdiri disana, menyaksikan semuanya dari awal.


Sementara itu, Aphrodite terus melangkah menghampiri Fransisco yang kini tengah menunggunya di sana. Aphrodite tiba-tiba memelankan langkah kakinya saat semua pasang mata di ruangan itu menoleh ke arahnya. Seketika potongan ingatan itu kembali bermunculan di benaknya, keadaan tak asing seperti ini membuatnya mengingat akan kejadian saat ia di tinggalkan oleh Xavier dulu.


Aphrodite yang semula fokus pada ponselnya lantas beralih menatap sosok pria yang akan menjadi kakak iparnya, rasa penasaran menuntunnya untuk melihat ke arah pria yang baru saja masuk itu. Namun seketika, ia dibuat terkejut oleh sosok yang tampak tidak asing dalam ingatannya. Melihat itu spontan membuatnya gemetar, jantungnya bergemuruh dan bersamaan dengan itu, matanya mulai berkaca-kaca.


Rasa sakit ia rasakan begitu jelas dalam dadanya. Hatinya hancur, seakan di tusuk dengan belati yang langsung mengenai ulu hatinya. Ia terpaku ditempatnya, seluruh anggota tubuhnya seakan mati dalam seketika membuat ia tidak bisa bergerak sama sekali. Matanya terus mengikuti gerak Xavier yang kemudian melangkah melewatinya, dan begitu melihatnya dalam keadaan yang begitu jelas, membuat ia semakin yakin jika pandangan matanya tidak salah.


Xavier terus melangkah sampai kemudian tiba di altar yang tersedia disana, ia berdiri tegap. Sekilas ia dapat melihat Xavier menghela napas, sebelum kemudian berdiri menghadap ke arah para tamu undangan. Aphrodite masih belum bisa percaya dengan apa yang dilihatnya, rasanya benar-benar bagaikan mimpi; melihat pria yang menjadi kekasihnya itu berdiri disana, di altar pernikahan.

__ADS_1


Kedua tangan Aphrodite mulai gemetar, dadanya mulai terasa sesak saat memori itu kembali tertangkap oleh otaknya. Perlahan pandangannya melihat bayangan, kilasan mengenai apa yang pernah ia alami. Kedua matanya mulai berkaca-kaca, dan Aphrodite spontan menghentikan langkahnya saat ia tepat berada di hadapan Fransisco yang kini masih berdiri seraya menatapnya dengan senyumannya terukir di wajahnya.


Fransisco mengulurkan tangannya. Namun Aphrodite tampak diam tak merespon pergerakan nya. Wanita itu kini malah mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia menoleh ke arah sudut kirinya tempat dimana Fanny dan Antonio berdiri seraya menatapnya. Kemudian matanya beralih pada sudut yang di tempati oleh Jenia, Helen, dan Erland di sana. Namun yang tertangkap oleh kedua matanya bukanlah mereka, melainkan kilas bayangan dirinya yang tengah berdiri seraya menatap ke arah pintu masuk. Kedua matanya semakin berkaca-kaca, Aphrodite lantas beralih pandang pada pria yang berdiri di hadapannya. Jelas-jelas yang saat ini berdiri di hadapannya itu adalah Fransisco, tapi yang di lihatnya justru bayang-bayang Xavier yang kini tersenyum ke arahnya seraya mengulurkan sebelah tangannya.


Aphrodite susah payah berusaha untuk menahan air matanya yang terus berusaha menerobos melewati pelupuk matanya. Ia merasakan dadanya semakin sesak.


Aphrodite memejamkan kedua matanya, ia ingin melenyapkan semua memori itu dari dalam otaknya. Tapi sialnya gagal, ingatan itu terus menerus mendatanginya dan membuat jantungnya semakin berdebar.


Air muka Fransisco seketika berubah saat menyadari sesuatu yang terjadi dengan nya. Wanita itu tiba-tiba saja memejamkan kedua matanya seakan-akan tengah menahan rasa sakit.


"Aphrodite, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Fransisco pelan, ia menatap Aphrodite dengan raut wajah cemas.


"Aphrodite? Apakah kau sakit?" Tanya Fransisco lagi, ia masih berusaha memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengan Aphrodite di hadapannya.


Aphrodite memejamkan kedua matanya erat sebelum kemudian ia membuka kedua matanya perlahan begitu menyadari Fransisco yang memanggil namanya.


Aphrodite mendongak perlahan, menatap Fransisco yang kini memandanginya lekat.


"I-iya…" lirihnya pelan. Ia mengangguk, memperjelas.


"Kau yakin?"


"Ng," sahutnya lagi. Aphrodite lantas mengulurkan tangannya, memegang tangan Fransisco lantas melangkah dengan bergandengan tangan dengannya. Fransisco berbalik, mengganti tangannya dan menuntun Aphrodite menaiki altar di hadapannya.

__ADS_1


Mereka lantas berdiri di depan seorang pria yang selanjutnya akan menikahkan mereka, dengan di saksikan oleh orang-orang yang menghadiri undangan mereka akhirnya acara intinya pun di mulai.


Sementara yang lain tersenyum memandangi Aphrodite dan Fransisco, beda halnya dengan Helen yang kini berdiri di sana. Fokusnya sejak tadi terus mencari sosok pria yang tengah di nanti-nanti nya.


Helen mengedarkan pandangannya mencari keberadaan laki-laki yang di undangnya tersebut, tapi pria itu benar-benar tidak ada disana untuk menghadiri acara pesta pernikahan putrinya.


"Jen!" Helen menyikut Jenia di sampingnya membuat wanita itu menoleh kearahnya.


"Ada apa tan?" Tanya Jenia sedikit berbisik.


"Sejak tadi aku mencari si brengsek itu, tapi dimana dia? Kenapa tidak ada?"


"Si brengsek?" Jenia mengerutkan keningnya.


"Vier!"


"A-ah… aku kira siapa."


"Dimana dia, apakah kau melihatnya?"


"Huh? Tidak. Aku tidak melihatnya sejak tadi, mungkin saja dia tidak datang Tan."


"Tidak, jangan-jangan Aph tidak memberikan undangannya."

__ADS_1


"Aphrodite memberikannya tante, tapi mungkin saja dia memang sedang sibuk. Sudahlah jangan hiraukan dia, lebih baik kita saksikan semua ini," bisik Jenia mengakhiri pembicaraan mereka.


...***...


__ADS_2