Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Are you hungry?


__ADS_3

...***...


Tiba di luar, Fransisco dan Aphrodite di sibukkan menunggu taksi kosong yang akan mengantarkan mereka pulang ke rumah. "Apa kau tidak keberatan kalau hari ini kita pulang dengan taksi?" Tanya Fransisco memastikan.


"Huh? Tidak apa-apa, memangnya kenapa? Aku justru lebih nyaman kalau kita pulang dengan taksi," sahut Aphrodite.


"Syukurlah. Malam ini supir di rumah sedang mengantarkan papa keluar kota, jadi kita tidak bisa pulang dengan di jemput supir."


"Tidak masalah bagiku pulang dengan taksi. Lagipula papa juga pasti membutuhkan supir, kan?"


"Iya. Terima kasih karena sudah mau mengerti."


"Bukan masalah." Aphrodite tersenyum. Mereka lantas mulai di sibukkan mencari satu taksi kosong yang selanjutnya akan mengantarkan mereka pulang ke rumah.


Fokus Aphrodite seketika tersita saat secara tidak sengaja ia menangkap sosok seorang pria yang tampak familier baginya. Di sana, tak jauh dari tempat dirinya dan Fransisco berdiri saat ini, Aphrodite dapat melihat seorang pria yang semula tak sengaja ditabraknya saat ia membeli minuman. Pria itu di jemput dengan menggunakan sebuah mobil mewah dengan dua orang pria berjas hitam yang membantunya memasukkan barang-barang yang di bawanya ke dalam mobil. Satu pria lain membukakan pintu untuknya setelah itu menutupnya. Setelah memastikan pria itu dan barang bawaannya sudah berada di dalam mobil, kedua pria itu kemudian melangkah masuk ke dalam mobil. Yang satu duduk di kursi pengemudi, bertugas menjalankan mobilnya dan yang satu lagi duduk di samping si pengemudi. Mobil pria itu beranjak pergi meninggalkan tempatnya berada saat ini, melintas di hadapan Aphrodite yang kini masih terus mengikuti gerak laju mobilnya yang terus melintas hingga akhirnya semakin jauh dari tempatnya berdiri.


"Tampaknya dia orang kaya," gumamnya pelan. Amat pelan bagai bisikkan, bahkan Fransisco yang berdiri di sampingnya tidak dapat mendengar gumaman Aphrodite.


"Ah, itu taksinya." Fransisco berucap membuat Aphrodite tersadar dari lamunannya, ia menoleh spontan ke arah yang di maksud Fransisco dan disana ia dapat melihat sebuah mobil taksi yang kini mulai melaju menghampiri tempat mereka berada saat ini. Mobil itu berhenti tepat di hadapan mereka kemudian si supir keluar untuk membantu Fransisco memasukkan kopernya.


"Ayo masuk," tutur Fransisco pada Aphrodite. Aphrodite hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, ia lalu beranjak memasuki mobil dan duduk tepat di jok belakang bersebelahan dengan Fransisco. Setelah si supir selesai memasukkan koper mereka, ia kemudian melangkah masuk dan duduk di kursi pengemudi dan mulai melajukan mesin mobilnya meninggalkan tempatnya berada saat ini. Melaju menuju tempat yang sebelumnya telah di beritahukan oleh Fransisco.


...*...

__ADS_1


"Sekali lagi aku minta maaf. Biar aku bantu untuk mengelapnya." Aphrodite mengelap jaket yang kini basah akibat kecerobohannya. Aphrodite berusaha membuat pakaiannya sedikit lebih kering di banding sebelumnya.


"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri," tolak pria itu berusaha untuk menghentikan Aphrodite.


"Biarkan aku membantumu, aku benar-benar tidak enak karena sudah membuat pakaianmu basah." Aphrodite bersikeras.


"Sungguh tidak apa-apa, lagipula ini juga salahku karena sudah mengejutkanmu."


"Ta-tapi—"


"Sudah aku bilang, biar aku saja." Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Aphrodite untuk membuatnya berhenti.


Pria itu mengulas senyum setiap kali bayangan wanita yang ditemuinya saat di bandara itu terus berputar dalam benaknya. Sosok cantik wanita yang ditemuinya secara tidak di sengaja itu benar-benar tidak dapat lepas dari memori otaknya.


DRRTTTT... DRRTTTT...


Fokusnya seketika terpecah saat di dengarnya suara ponselnya yang berdering disertai getaran yang membuatnya merasa terganggu. Pria itu merogoh kantong jaket yang ia kenakan, mantap layar ponselnya yang kini menampakkan sederet huruf yang membentuk nama.


Air mukanya seketika berubah kesal, dengan malas ia menggeser tombol berwarna merah di sana, kemudian menaruh ponselnya di jok sampingnya yang kini kosong.


"Dia terus saja menggangguku," gumamnya sembari membuang muka ke arah jendela. Kembali fokus menatap gemerlap cahaya yang dilihatnya di antara gedung-gedung tinggi yang menghiasi sepanjang jalan yang di tempuhnya.


Detik berikutnya, perjalanannya di hiasi oleh keheningan. Tidak ada seperti kata pun yang terlontar dari bibirnya maupun bibir kedua orang pria yang mana merupakan pengawalnya yang kini terduduk di jok depan. Hanya ada sepi yang menyapa hingga akhirnya ia tiba di sebuah bangunan besar nan mewah yang mana merupakan rumah kediaman tempatnya tinggal.

__ADS_1


...*...


Perlahan mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan sebuah bangunan apartemen yang mana merupakan tempat tinggal baru mereka. Aphrodite melangkah keluar bersama dengan Fransisco, setelah itu ia mulai di sibukkan dengan mengeluarkan barang-barang yang mereka bawa dari dalam bagasi mobil dengan bantuan sang supir.


Setelah mengeluarkan semua koper mereka dan membayar supir taksi itu dengan beberapa lembar uang seratus ribuan, Fransisco dan Aphrodite lantas beranjak pergi dari sana. Melangkah memasuki bangunan yang sejak awal dilihatnya.


Mereka melangkah menyusuri koridor agar bisa tiba di lift yang selanjutnya akan mengantarkan mereka menuju tempat dimana mereka tinggal. Setelah tiba di lift dan sampai di lantai tempat mereka tinggal, Aphrodite dan Fransisco lalu melangkah keluar dari dalam lift dan berjalan menuju tempat tinggal mereka.


Apartemen tempat mereka tinggal saat ini begitu tenang, tidak ada terlalu banyak orang yang keluar dari kediaman mereka masing-masing. Tampaknya semua orang tengah sibuk menikmati waktu istirahat mereka agar bisa bangun dalam keadaan fresh besok pagi, dengan begitu mereka akan lebih bersemangat untuk memulai hari.


CEKLEK!


Pintu apartemen mereka di buka perlahan, Fransisco dan Aphrodite melangkah masuk dengan menggeret koper mereka. Tiba di dalam, mereka segera menutup pintu apartemen mereka dan tak lupa menguncinya. Mereka berdua terduduk untuk sejenak di ruang tengah untuk sedikit beristirahat setelah perjalanannya dari bandara hingga di apartemen milik mereka.


"Omong-omong apakah kau lapar?" Tanya Fransisco yang kini terduduk di samping Aphrodite, pria itu terhenyak di sofa empuk yang menghadap ke arah televisi berukuran besar yang kini dalam keadaan mati. Aphrodite menoleh ke arah Fransisco disampingnya.


"Kau lapar? Apakah mau aku masakan sesuatu?" Aphrodite balik bertanya.


"Aku bertanya, kau malah bertanya balik." Fransisco tersenyum menanggapi pertanyaan Aphrodite.


"Ahaha… ya, aku hanya memastikan saja. Apakah ingin aku masakan sesuatu?"


"Tidak. Aku tahu kau pasti lelah, maka dari itu aku tanya. Kalau kau lapar biar aku pesankan makanan lewat layanan pesan antar."

__ADS_1


...***...


__ADS_2