Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Twins 14 - I really love her


__ADS_3

"Apakah ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" Antonio mendongak menatap putra semata wayangnya.


Frans sama sekali tak beranjak dari tempatnya.


"Aku hanya ingin meminta satu hal pada papa." Frans memberanikan diri untuk berbicara.


Antonio mendongak, ia melipat kedua tangannya di atas meja. Untuk pertama kalinya, seorang Fransisco meminta sesuatu darinya.


"Ini adalah pertama kalinya papa mendengar kau meminta sesuatu dari papa," ujarnya. Senyuman terbit di wajah lelaki itu. Seumur hidupnya, bahkan sampai usianya yang beranjak dewasa seperti ini, Fransisco tidak pernah meminta apa-apa. Bahkan ketika ia akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan ibu kandungnya, Frans sama sekali tak pernah memaksanya untuk kembali bersama ibunya.


"Katakan, apa yang kau inginkan?"


"Aku hanya meminta agar papa tidak terlalu kasar pada Aphrodite," gumam Frans dengan kepala tertunduk. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ayahnya detik berikutnya.

__ADS_1


"Apa?" Antonio speechless. Ia mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan Frans. "Tapi, memangnya kenapa? Kau menyukai gadis itu?"


Fransisco mengangguk pelan. "Seperti yang papa tahu, aku sudah menyukainya sejak lama, dan aku tidak ingin melihatnya terluka atau di sakiti oleh orang lain."


"Kau masih menyukainya sampai sekarang?"


"Ya."


"Heh, pantas saja selama ini papa tidak pernah melihatmu bersama dengan gadis lain. Jadi, kau masih berharap pada gadis itu?" Antonio menunjukkan senyum miring.


"Dengar, Frans. Masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik daripada Aphrodite. Kenapa kau ingin bersamanya? Lagipula apa yang menarik darinya? Okay, papa akui dia memang cantik. Tapi, itu saja tidak cukup. Aphrodite itu adalah gadis miskin yang bahkan tidak memiliki apa-apa. Papa tidak ingin kau kesusahan karena hidup dengannya."


"Tapi Aphrodite jatuh miskin karena ayahnya dulu memiliki banyak utang perusahaan yang menyebabkan ia jatuh miskin, selain itu dia juga memiliki utang pada papa. Satu-satunya yang membuat dia hidup sengsara seperti ini adalah karena ayahnya."

__ADS_1


"Ya, mungkin kau benar. Tapi tetap saja, dia tidak layak untukmu. Carilah gadis lain, dan lupakan dia. Kau ini tampan dan kaya, memangnya gadis mana yang akan menolakmu? Apalagi kau adalah putra tunggal sekaligus pewaris dari keluarga Shankara, siapapun akan berjuang untuk mendapatkan hatimu. Jadi berhenti berharap padanya."


Frans diam tanpa suara, Antonio sama sekali tak mengerti dengan perasaannya.



...*...


"Aku benar-benar minta maaf karena sudah merepotkanmu." Aphrodite memandangi Jenia. Ia merasa tidak enak karena sudah merepotkan sahabatnya dengan membawa seluruh anggota keluarganya untuk menginap di tempatnya.


"Tidak perlu meminta maaf, aku justru senang bisa kalian. Rumah ini jadi terasa lebih ramai, dan itu membuatku lebih baik. Setiap hari, biasanya aku hanya sendirian dengan rasa bosan karena tidak ada yang bisa aku ajak bicara. Tapi sekarang ada yang bisa aku ajak bicara, terlebih yang paling membuatku senang adalah karena mulai hari ini, aku tidak akan berpisah denganmu. Kita bisa berangkat bekerja bersama dan pulang bersama." Jenia menghampiri Aphrodite dan memeluknya erat, rasa senangnya tak bisa ia bendung.


Aphrodite terdiam sambil mengulum senyum. Jenia benar-benar sahabat terbaiknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2