
Xavier duduk termenung dengan bertopang dagu di dalam ruang kerjanya di gedung N Corp. Pikirannya sekarang dipenuhi dengan perdebatan antara Xiever dan Isabelle beberapa saat yang lalu.
"Pokoknya kau akan menikah dengan Giselle, suka atau tidak!" ucapnya penuh penekanan.
"Apa?!" Vier menatap Isabelle dengan raut wajah terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Tunggu, ada apa ini? Apa yang mama dan Ver perdebatkan?" Vier berusaha memperjelas situasinya.
"Mama sudah menjodohkan Ver dengan Giselle, agar perusahaan kita bisa kembali bangkit lagi. Tapi, kakakmu ini terus membangkang dan bersikeras dengan keputusannya."
"Tapi kenapa harus aku? Kenapa tidak Vier saja?"
"Apa?" Vier menoleh pada kakaknya dengan wajah tak percaya.
"Kau yang lebih tua, dan kau yang nantinya akan lebih dulu memimpin perusahaan!" tukas Isabelle.
"Ma, apa yang mama lakukan ini tidak benar! Kenapa mama harus melakukan ini hanya agar perusahaan kembali bangkit?" Vier ikut berkomentar, bagaimanapun ia setuju dengan Ver. Memang bukan cara yang tepat untuk membangkitkan perusahaan mereka kembali dengan sebuah perjodohan antar pemilik perusahaan yang satu dengan yang lain.
"Kau tidak perlu ikut campur dalam ini, yang perlu kau lakukan hanya membantu mama agar Ver mau menerima perjodohan ini." Isabelle menatap Vier.
__ADS_1
"Aku tidak mau! Seberapa keras pun mama memaksaku, aku tidak mau!" Ver bersikeras.
"Dalam waktu dua Minggu lagi! Mama akan persiapkan semuanya dalam waktu dua Minggu."
Vier menghela napas panjang, ia memijat keningnya pelan. Memikirkan perdebatan mereka, membuat Vier sakit kepala.
...*...
"Sampai jumpa besok." Jenia melambaikan tangannya pada Aphrodite saat akhirnya ia menemukan bus yang menuju ke arah rumahnya.
"Sampai jumpa," sahut Aphrodite sambil tersenyum dan balas melambaikan tangan ke arahnya.
Perlahan bus yang ditumpanginya berlalu meninggalkan tempat Aphrodite berada.
Aphrodite terdiam sendiri, rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya membuat ia tidak tahan berdiri lama-lama. Terlebih entah kenapa sore ini terasa panas.
__ADS_1
"Sepertinya lebih baik aku mencari taksi daripada harus menunggu bus." Aphrodite memonolog, kedua matanya menatap jam yang tampak pada ponselnya.
Aphrodite beralih mencari taksi kosong yang melintas dan segera meminta sang supir untuk mengantarkannya ke rumah begitu ia menemukan taksi yang dicarinya.
Hening. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing. Si supir sibuk menatap jalanan, sedangkan Aphrodite sibuk menatap keluar jendela. Pikirannya terus dipenuhi dengan perasaan dilema yang sedang melandanya.
Aphrodite berusaha mencari cara agar ia bisa menemukan waktu yang tepat untuk bisa berbicara yang sejujurnya pada Vier mengenai apa yang dialaminya sekarang ini. Mengandung anaknya, tentu saja dia juga harus tahu kabar ini.
Aphrodite menghela napas, berulang kali ia memikirkannya. Berulang kali juga ia tak menyangka bahwa hal ini benar-benar terjadi padanya.
Setelah melewati beberapa menit dalam perjalanan, si supir berhenti tepat di depan rumahnya.
Brakk!
Suara gaduh terdengar dari arah rumahnya. Aphrodite tersentak, sadar dari lamunannya dan menoleh spontan kearahnya.
...***...
__ADS_1