Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Voleur!


__ADS_3

...***...


Perlahan Aphrodite membuka kedua matanya, menampakkan irish matanya yang begitu indah. Ia mengerjap saat pandangannya mengabur. Begitu kedua pandangannya jelas, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Fransisco yang kini terpejam.


Aphrodite membulatkan kedua matanya. Ia terkejut saat mendapati pria itu tertidur disampingnya. Segera ia mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang, dan saat Aphrodite mengubah posisinya. Ia baru menyadari Fransisco tertidur dalam posisi sebelah tangannya memeluk tubuhnya.


"Huft~" Aphrodite menghela napasnya panjang. "Aku masih belum terbiasa dengan semua ini," gumamnya pelan, amat pelan bagai bisikkan. Fokus Aphrodite tersita saat secara tiba-tiba ia merasa tenggorokannya kering.


"Aku haus," gumamnya pelan.


"Lebih baik aku turun dan ambil minum."


Aphrodite bergerak perlahan, mengangkat tangan Fransisco dan menaruhnya diatas ranjang secara perlahan agar pria itu tidak terganggu oleh pergerakannya.


Aphrodite menyibak pelan selimut yang menutupinya, ia lantas turun dari ranjang dan berjalan menghampiri pintu keluar yang kini dalam keadaan tertutup.


Aphrodite menutup pintu itu secara perlahan. Tiba di luar, ia segera melangkah turun menuju lantai bawah untuk mengambil air minum.


Langkah Aphrodite terhenti saat ia tiba dibawah. Aphrodite celingukan mencari seseorang disana, tapi tidak ada satu orang pun yang berada diruang tempatnya berada saat ini.


"Kemana semua orang ya? Kenapa tidak ada. Apakah mereka sedang bekerja?" Aphrodite melirik jam yang tergantung di dinding. Jamnya kini menunjukkan pukul setengah delapan. Ia baru sadar bahwa dirinya tertidur baru entah satu atau dua jam lamanya.


"Lebih baik aku ambil minum sendiri saja. Cari dapurnya setelah itu ambil minumnya," gumamnya pelan. "Di rumah sebesar ini aku tidak akan tersesat kan?" Aphrodite memonolog. Ia lantas beranjak pergi dari tempatnya berada saat ini, melangkah mencari letak ruang dapur berada agar ia bisa mengambil minum untuk membasahi tenggorokan nya yang terasa kering.


...*...


"Oh mon dieu, où est tout le monde ici? Pourquoi n'existent-ils pas?" Wanita muda itu melangkah seraya menggerutu. Di kedua tangannya menggenggam beberapa kantong plastik besar berisi bahan-bahan makanan yang di belinya di super market.


(Oh mon dieu, où est tout le monde ici? Pourquoi n'existent-ils pas?/ Oh astaga, kemana semua orang? Kenapa mereka semua tidak ada?)


"La porte n'est pas gardée, en plus il n'y a personne du tout? Très bien! Et si un voleur entrait?" Gerutunya lagi. Ia berhenti sejenak, berusaha untuk melenturkan tangannya yang terasa pegal akibat terlalu lama menenteng semua itu.

__ADS_1


(La porte n'est pas gardée, en plus il n'y a personne du tout? Très bien! Et si un voleur entrait?/ Pintu tidak di jaga, di tambah lagi tidak ada seorang pun? Bagus sekali! Bagaimana jika ada pencuri yang masuk?)


Wanita itu berkacak pinggang. Kedua kantong plastik besar di tangannya itu ia taruh di lantai.


Fokusnya dalam sekejap tersita oleh sosok seorang wanita asing yang di lihatnya keluar dari salah satu pintu mansion di sana. Wanita itu tampak tengah celingukan, dan gerak-gerik nya membuat ia curiga.


"Huh? Qui est cette femme étrangère? Pourquoi ses mouvements sont-ils si suspects?" Batinnya sembari memandangi terus wanita di hadapannya. Wanita itu berjalan sembari celingukan ke kiri dan kanannya.


(Huh? Qui est cette femme étrangère?Pourquoi ses mouvements sont-ils si suspects?/ Huh? Siapa wanita asing itu? Kenapa gerak-geriknya mencurigakan?)


"Est-il un voleur?" Gumamnya menduga-duga. Di tatapnya perempuan itu penuh rasa curiga.


(Est-il un voleur?/ Apakah dia pencuri?)


Wanita itu beralih pandang pada bahan makanan yang di bawanya. Ia lantas meraih sesuatu dari dalam sana yang dapat di gunakan sebagai alat perlindungan diri. Dan ia mendapatkannya. Ia menggenggam roti panjang di tangannya.


"Je dois arrêter l'action!" Ujarnya. Ia melangkah secara perlahan menghampiri perempuan yang di lihatnya.


Ia terus melangkah menghampiri perempuan itu. Dan begitu ia dekat dengannya, ia langsung memukulnya habis-habisan dengan menggunakan roti dalam genggamannya.


"Voleur! Sors de cette maison!" Pekiknya keras menghebohkan seisi mansion.


(Voleur! Sors de cette maison!/ Maling! Pergi kau dari rumah ini!)


"Akh— aww!" Ringisnya kesakitan saat roti keras itu menghantam tubuhnya beberapa kali. Ia menggunakan kedua tangannya untuk melindungi diri, namun wanita itu semakin gencar menghantamnya.


"Voleur! Voleur! Voleur! Voleur!" Teriaknya seperti Tarzan di hutan. Wanita itu memekik berusaha untuk memanggil teman-temannya yang lain.


"Akh— aww, aww!" Pekik perempuan itu kesakitan.


Wanita itu tak menghiraukan ringisnya dan terus menghantamnya dengan roti di tangannya.

__ADS_1


...*...


Fransisco meraba ranjang tidur yang kosong di tangannya. Kesadarannya baru saja keluar dari alam mimpinya, sementara itu matanya masih terpejam. Masih enggan untuk terbuka. Tapi begitu menyadari ranjang di sebelahnya kosong, ia lekas membuka kedua matanya spontan.


"Aphrodite?" Panggilnya, ia mencari sosok wanita yang semula tidur dengannya.


"Kemana dia?" Fransisco beranjak dari tempat tidurnya. Duduk di atas sana berusaha untuk mencarinya di sekitar sana.


Matanya mengedar ke sekeliling kamar, tapi Aphrodite benar-benar tidak ada di sana.


"Apakah dia di kamar mandi?" Gumamnya. Fransisco bangun menghampiri pintu kamar mandinya.


"Aphrodite?" Panggilnya seraya mendorong pintu kamar mandi. Kosong. Aphrodite tidak ada di dalam sana.


"Kemana dia? Apakah dia sedang sarapan di ruang makan? Aku harus mengeceknya," tutur Fransisco. Ia lalu pergi dari kamarnya. Bergegas turun menuju lantai bawah untuk mencari Aphrodite yang hilang entah dimana.


"Aphrodite?!" Panggilnya lagi. Suaranya keras menggema di seisi mansion. Untuk sesaat hening, ia benar-benar tidak mendengar suara jawaban dari siapapun disana.


"Astaga kemana dia?" Fransisco melangkah menghampiri ruang makan. Tapi begitu tiba di sana, ia tidak menemukan siapapun di sana. Sebaliknya. Justru di ruangan itu tidak ada siapa-siapa. Ruangannya kosong.


"Astaga, kemana sebenarnya dia?!"


Fransisco pergi meninggalkan ruang dapur. Ia hendak mencari di sekeliling mansion, mencarinya dari ruangan yang satu ke ruangan yang lain. Tapi wanita yang berstatus istri nya itu benar-benar tidak ada di manapun.


"Astaga, kemana dia sebenarnya? Kenapa tidak ada di manapun?" Fransisco menghentikan langkah kakinya. Atensinya seketika di sita oleh suara seorang wanita yang berteriak dari arah luar. Entah wanita gila mana yang teriak-teriak di mansion nya itu. Tapi itu benar-benar mengganggu.


"Voleur! Voleur! Voleur!" Pekiknya keras.


"Voleur?" Ulang Fransisco menangkap kata yang baru saja di dengarnya.


"Astaga jangan-jangan…" Fransisco membelalakkan matanya. Bergegas ia berlari menghampiri suara yang di dengar olehnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2