
...***...
Fransisco membuka kedua matanya perlahan, hal pertama yang di lihatnya adalah sosok jelita Aphrodite yang kini tengah menatapnya intens. Fransisco mengulum senyum seraya balik memandangi dirinya.
"Kau sedang apa?" Tanyanya pada Aphrodite.
"Huh? Oh, kau sudah bangun. Aku sedang mengecek suhu tubuhmu." Aphrodite menatap termometer di tangannya. Fransisco beranjak bangun dari posisinya, memegangi keningnya dengan punggung tangannya.
"Suhu tubuhku sudah kembali normal," gumamnya seraya mengecek ulangnya ke beberapa bagian tubuhnya yang lain. Dan suhu tubuhnya memang sudah kembali normal.
"Suhu tubuhmu memang sudah kembali normal." Aphrodite tersenyum seraya menunjukkan termometer yang baru saja ia pakai untuk mengecek suhu tubuh suaminya itu.
Fransisco merekah kan senyumannya memandangi angka yang berada di termometer di tangan Aphrodite.
"Aku senang akhirnya sembuh."
"Aku juga senang karena kau sudah kembali sembuh. Sekarang lebih baik kau bangun setelah itu pergi ke kamar mandi. Akan aku tunggu kau di ruang makan, aku sudah memasakkan makanan untukmu."
"Baiklah."
Aphrodite beranjak bangun dari tempat duduknya, membawa kotak P3K hendak meletakkan benda itu ke tempat yang seharusnya.
"Oh ya, karena aku sudah sembuh, itu artinya aku boleh pergi ke kantor hari ini 'kan?" Tanya Fransisco membuat langkah Aphrodite terhenti dan menoleh ke arahnya yang kini sibuk mengenakan baju piyama miliknya.
"Kau akan pergi bekerja hari ini?"
"Iya. Pekerjaanku sangat banyak, jadi aku tidak mungkin lama-lama beristirahat di rumah."
"Baiklah, kalau begitu akan aku siapkan baju untuk mu pergi kerja. Akan ku taruh bajunya di tempat biasa."
"Oke. Terima kasih." Fransisco tersenyum. Aphrodite balas tersenyum sebelum akhirnya melangkah keluar dari dalam kamarnya, menuruni tangga agar bisa tiba di lantai bawah dan tiba di ruang makan. Menyiapkan meja makan sebelum akhirnya mereka sarapan bersama. Selesai menyiapkan meja makan untuk sarapan, Aphrodite lantas kembali ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian Fransisco sebelum berangkat ke kantor. Aphrodire membuka lemari pakaian yang kini ada di hadapannya, memilah-milih salah satu jas yang berada di dalam, mencari jas yang cocok untuk Fransisco berangkat ke kantor. Setelah menemukan pakaian yang cocok, ia lantas menaruhnya di tempat biasa. Aphrodite beralih fokus mencari dasi yang cocok untuk di padukan dengan jas yang telah ia siapkan sebelumnya. Tak lupa ia juga menyiapkan kaus kaki serta sepatu untuk pria yang menjadi suaminya itu.
Pintu ruangan itu terbuka membuat atensi Aphrodite beralih pada sosok Fransisco yang baru saja menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi. Pria itu kini mengenakan kimono mandi, menutupi tubuhnya yang basah.
Ia melangkah menghampiri Aphrodite yang baru saja hendak pergi dari ruangan tersebut.
"Kau mandi? Kau kan baru sembuh…" Aphrodite tertegun menatap Fransisco yang baru saja tiba di dalam sana. "Bagaimana kalau kau masuk angin dan sakit lagi?"
"Aku mandi dengan air hangat, jadi kau tidak perlu cemas. Lagipula keadaanku juga sudah membaik 'kan?"
"Ya, tetap saja. Kau baru sembuh. Oh ya, aku sudah menyiapkan pakaian mu. Kau hanya perlu berganti baju setelah itu turun ke bawah, aku sudah membuatkan makan untuk mu sarapan sebelum berangkat."
"Oke. Aku akan pakai baju dulu setelah itu turun. Kau pergi duluan saja, dan tunggu aku di bawah."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menunggumu di bawah."
"Iya."
Aphrodite beranjak pergi dari sana meninggalkan Fransisco yang kini mulai mengenakan pakaiannya dengan kemeja dan jas yang tadi telah di persiapkan oleh Aphrodite.
...*...
"Oh ya, siang ini kau akan ke kantor 'kan? Untuk membuatkan aku makan siang?"
"Tentu saja. Aku akan datang ke kantor untuk membawakan makan siang untukmu, sekaligus aku juga ingin mengecek keadaan mu dan memastikan kau tidak bekerja terlalu keras."
"Haha… kau tahu? Aku senang dengan sikapmu yang begitu perhatian seperti saat ini padaku." Fransisco tersenyum, beradu pandang dengan Aphrodite yang kini duduk berhadapan dengan dirinya.
"Tentu saja aku harus perhatian padamu, karena sekarang ini aku adalah istrimu. Jadi sudah selayaknya aku memperhatikan mu dengan sebaik mungkin." Aphrodite balas tersenyum.
"Oh ya, omong-omong aku sudah mendapatkan lowongan pekerjaan. Aku juga sudah mengirimkan CV ku ke perusahaan tersebut." Aphrodite mengalihkan topik.
"Benarkah?"
"Lokasi kantornya tidak terlalu jauh dari kantor mu."
"Huh? Kau serius?"
"Iya, aku serius. Kantornya hanya beberapa blok dari tempat kantormu berada."
"Kalau begitu kita bisa pergi bersama, makan siang bersama dan pulang bersama juga."
__ADS_1
"Ya… jadi setiap aku berangkat bekerja, kita bisa pergi bersama."
"Lalu, apa nama perusahaannya? Siapa tahu aku kenal pimpinannya."
"Kalau tidak salah, nama perusahaannya adalah J Company. Mereka sedang membutuhkan pegawai baru, jadi aku mengirimkan CV kerjaku ke sana. Aku hanya tinggal menunggu panggilan interview."
"J Company?"
"Ng. Kau kenal dengan pemimpinnya?" Aphrodite menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja aku kenal, dia adalah salah satu rekan bisnis ku yang punya hubungan cukup baik denganku. Beberapa waktu lalu perusahaannya memilih perusahaan ku untuk membantunya dalam projects yang tengah mereka kerjakan."
"Benarkah? Wah kebetulan sekali."
"Iya. Jadi kau melamar di sana?"
"Hm. Tapi omong-omong pimpinan J Company itu orangnya seperti apa? Apakah dia baik? Penampilannya bagaimana? Apakah dia sudah tua, atau masih muda?"
"Dia masih muda, orangnya baik, loyal juga, dan hangat. Nyaman untuk di ajak kerja sama, maka dari itu ketika aku bekerja sama dengannya dalam projects kami, semuanya berjalan dengan lancar sampai saat ini."
"Begitu rupanya."
"Ya, dan mungkin dalam waktu dekat aku juga akan melakukan meeting dengannya lagi untuk membahas mengenai projects yang kita kerjakan bersama."
"Aku harap di saat itu, aku sudah mendapatkan pekerjaan." Aphrodite tersenyum yang juga balik di balas senyum oleh Fransisco.
...*...
Jordan terdiam memandangi kertas dalam genggamannya, senyuman terukir di wajahnya menandakan kalau saat ini suasana hatinya tengah sangat amat senang.
Pintu ruangannya di buka perlahan, sekertaris nya melangkah masuk membawakan beberapa dokumen yang harus ia cek dan beberapa di antaranya harus ia tanda tangani.
"Pak, ini adalah beberapa dokumen yang harus bapak periksa dan beberapa ada yang harus bapak tanda tangani," ujarnya seraya menaruh semua berkas itu di atas meja tepat di hadapan Jordan yang kini beralih pandang pada sekertaris nya itu.
Jordan menaruh kertas di tangannya di atas beberapa berkas lain yang menumpuk di atas meja kerjanya.
"Baiklah, terima kasih. Kau boleh kembali bekerja."
"Iya. Oh, omong-omong ini sudah hampir waktunya makan malam pak." Sekertaris nya itu mengingatkan.
"Bukan masalah pak. Kalau begitu saya permisi." Ia beranjak pergi dari tempatnya saat ini, meninggalkan Jordan seorang diri. Pria itu kini membuka beberapa berkas yang harus di tanda tangani nya setelah membubuhkan tanda tangannya di beberapa dokumen tersebut ia lantas menutupnya dan menaruh semua berkas itu di atas meja kerjanya.
"Terlalu lama berada di dalam ruangan tampaknya membuat fokus ku sedikit berkurang," gumamnya.
"Aku harus menghirup udara luar dulu, dan menikmati hari yang cerah ini." Jordan menoleh ke arah jendela tak jauh dari tempat duduknya itu, ia memandangi langit biru yang tampak sangat cerah. Matahari cukup terik di luar sana.
"Lebih baik aku makan siang dulu, setelah itu kembali bekerja." Jordan beranjak bangun dari tempat duduknya, meraih jas yang ia gantung di kursi yang semula di tempati olehnya.
Jordan melangkah keluar dari kantornya, hendak menikmati makan siang di restoran tak jauh dari tempat kerjanya berada. Ini adalah salah satu caranya agar ia bisa menghilangkan stres yang kini mengganggu pikirannya.
Tiba di dalam restoran, seperti biasa pria itu senantiasa duduk di meja yang letaknya cukup dekat dengan jendela yang mengarah ke jalan raya.
...*...
Aphrodite keluar dari dalam apartemen miliknya dengan tas yang kini ditentengnya. Tiba di halaman apartemen nya, ia melangkah masuk ke dalam taksi yang kini semula telah ia pesan lewat salah satu aplikasi taksi online.
Setelah duduk di belakang dengan tenang, ia meminta sang supir untuk mengantarkannya ke kantor tempat bekerja Fransisco.
Sepanjang perjalanan Aphrodite hanya fokus pada jalanan yang di tuju nya, hingga akhirnya ia tiba di depan gedung kantor Fransisco dan keluar dari dalam taksi dengan tas di tangannya.
Ia membayar sang supir dengan beberapa lembar uang seratus ribuan.
Aphrodite melangkah memasuki gedung di hadapannya, tak perlu mampir lebih dulu ke ruang resepsionis yang ada di lantai dasar, ia langsung berjalan menuju letak dimana pintu lift itu berada.
Tak lama ia tiba di lantai tempat dimana ruangan Fransisco berada. Ia segera berjalan menuju ruangan pria itu, bertemu dengan sekertaris suaminya di dekat pintu masuk.
"Siang," sapa Aphrodite padanya begitu tatapan mereka bertemu dan saling beradu satu sama lain.
"Siang. Pak direktur sudah menunggu anda sejak tadi."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya."
"Jadi Frans masih di dalam?"
"Betul, menunggu anda."
"Kalau begitu aku masuk dulu."
"Ya, silahkan. Saya juga harus pergi untuk makan siang."
"Selamat menikmati waktu makan siangnya."
"Terima kasih." Sekertaris itu beranjak pergi dari tempatnya berada saat ini, bersamaan dengan itu Aphrodite melangkah masuk ke dalam ruangan Fransisco. Tiba di dalam sana ia mendapati Fransisco yang tengah bersandar menikmati waktu menunggunya di kursi kebesarannya. Kepalanya menengadah bertengger pada kursinya.
Aphrodite tersenyum simpul melihat Fransisco yang tampak sangat kelelahan karena terlalu banyak bekerja.
"Sepertinya kau sangat kelelahan," ucap Aphrodite berhasil membuat Fransisco menoleh ke arah datangnya suara. Wanita yang sejak tadi di tunggu-tunggu olehnya itu kini menghampiri sofa yang ada dan duduk di sana, sedangkan tas yang di bawa olehnya di taruh di atas meja kaca yang ada lalu ia mulai membongkar semua isi tasnya.
"Aku sampai terkejut karena kau tiba-tiba saja masuk tanpa suara." Fransisco terkekeh, ia beranjak menghampiri dirinya dan duduk tepat di sampingnya.
"Mungkin saja bukan aku yang bergerak terlalu pelan, tapi kau yang terlalu lelah sampai-sampai tanpa sadar kau tertidur dan baru sadar ketika aku berbicara dengan mu." Aphrodite menyodorkan sendok ke arah Fransisco.
"Wah, lihat semua ini. Aku jadi tidak sabar untuk mencoba semuanya."
"Kalau begitu makanlah. kalau perlu kau habiskan semuanya."
"Pasti aku habiskan. Eh, tapi apakah kau sudah makan siang? Kalau belum kita makan bersama."
"Aku sudah makan sebelum berangkat kemari. Jadi kau saja."
"Benarkah? Kau serius?"
"Ya. Jadi kau makan saja."
"Baiklah." Fransisco bergerak melahap semua makanan yang ada di hadapannya.
"Omong-omong bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah semuanya lancar? Kau masih merasa panas atau pusing seperti sebelumnya?" Aphrodite mengecek kening Fransisco memastikan suhu tubuhnya normal.
"Aku tidak apa-apa, hari ini semuanya lancar. Aku tidak merasa pusing, lemas ataupun demam lagi. Aku sudah benar-benar sembuh, dan itu semua berkat kau yang sudah merawat ku."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Tapi walaupun begitu jangan lupa untuk senantiasa makan vitaminmu agar kondisi tubuhmu tidak mudah down seperti beberapa waktu lalu."
"Aku tidak akan lupa. Saat itu kondisiku down mungkin karena kita baru saja pulang dari luar negeri, vitamin ku habis dan aku belum sempat membeli yang baru, di tambah lagi aku kembali ke kantor dan sudah di sambut dengan pekerjaan yang menumpuk. Belum lagi ada meeting dan lain sebagainnya yang membuat kondisiku terus menurun."
"Kalau begitu lain kali beritahu aku vitamin apa yang harus kau minum agar dengan begitu aku bisa mengingatkan kau kalau vitamin nya tiba-tiba habis. Dengan begitu aku juga, 'kan bisa membelikan vitamin baru kalau vitamin yang lama habis. Jadi lain kali beritahu aku."
"Iya, baiklah." Fransisco mengangguk.
...*...
Waktu berlalu, setelah menunggu selama beberapa hari. Akhirnya Aphrodite menerima email berisi panggilan interview dari perusahaan yang semula telah ia kirimi CV kerjanya.
"Ada apa? Tampaknya kau sangat senang?" Tanya Fransisco yang baru keluar setelah mengganti bajunya dengan menggunakan piyama tidur dengan corak dan warna serupa dengan yang kini di kenakan oleh Aphrodite yang terduduk di atas ranjang tidurnya seraya memandangi layar laptop di hadapannya sembari tersenyum. Wajahnya sumringah.
Aphrodite menoleh ke arah Fransisco yang baru saja tiba.
"Aku mendapatkan email dari mereka," ujarnya menggebu-gebu.
"Wah, benarkah?"
"Ya. Dan merekam memintaku untuk datang ke kantornya besok untuk melakukan interview nya."
"Aku senang mendengarnya, semoga kau di terima dan bisa bekerja di sana. Dengan begitu aku bisa lebih sering bertemu denganmu di luar." Fransisco meraih tangan Aphrodite, menggenggamnya seraya tersenyum.
"Ya, aku harap begitu. Aku juga… sudah sangat merindukan suasana kantor."
"Kita baru menikah selama beberapa bulan, dan kau berhenti bekerja belum sampai satu tahun tapi kau sudah begitu merindukan suasana kantor?"
"Ng. Tentu saja." Aphrodite menganggukkan kepalanya mantap.
"Ternyata kau juga orang yang cukup gila kerja, ya. Haha…" Fransisco terkekeh.
__ADS_1
"Bukannya gila kerja, mungkin lebih tepatnya aku sudah terbiasa dengan bekerja dan menghabiskan waktu berjam-jam di luar rumah. Sepertinya yang kau tahu, aku adalah tulang punggung bagi keluarga ku."
...***...