Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Lost


__ADS_3

...***...


Aphrodite melangkah keluar dari dalam kantornya dengan membawa gelang yang di maksudnya di dalam tas yang ia bawa. Aphrodite melenggang menyusuri trotoar hingga tiba di pertigaan jalan, di lampu merah; ia sudah bisa melihat Laura yang kini berdiri di depan kantor Fransisco. Wanita itu tampaknya baru saja tiba di sana dan kini tengah menunggu dirinya datang. Aphrodite terdiam sejenak menunggu lampunya berubah merah, begitu jalanan siap untuk di seberangi; ia kemudian segera menyeberang dan menghampiri Laura. Wanita itu mendekat saat melihat Aphrodite datang.


"Bolehkah aku melihat gelangnya?" Ucapnya berusaha untuk tenang.


"Sebentar." Aphrodite mengeluarkan benda itu dari dalam tasnya kemudian memberikannya pada Laura. Air muka wanita itu berubah dalam seketika yang semula tampak cemas justru kini tampak lega karena berhasil menemukan kembali gelang yang sempat hilang dan lepas dari pergelangan tangannya. Aphrodite memandangi Laura, wanita itu tampak sangat bahagia saat dirinya telah mengembalikan gelang yang di berikan olehnya. Bahkan Laura sampai memeluk gelangnya dan tak henti-hentinya menciumi gelang tersebut.


"Apakah sebegitu berharganya gelang itu untuknya?" Aphrodite membatin, ia mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Tapi kalau di pikir-pikir lagi… ada hubungan apa antara Jordan dengan Laura? Kenapa gelang milik Laura bisa ada di ruangannya Jordan? Ini benar-benar tidak masuk akal, padahal jelas-jelas Laura bilang ditelpon kalau dia kehilangan gelangnya. Lalu kenapa gelangnya itu ada pada Jordan? Apakah mereka saling kenal satu sama lain? Apakah mereka sempat bertemu? Atau ini semua hanya kebetulan saja? Bisa saja Laura tidak sengaja menjatuhkan gelangnya saat di perjalanan pulang ke restoran, kemudian Jordan tidak sengaja melihatnya lantas memungutnya. Tapi… itu tidak masuk akal, apalagi Jordan itu orang kaya jadi tidak mungkin juga kalau dia memungut barang orang lain yang sudah terjatuh. Apalagi tergeletak di jalanan." Aphrodite sibuk dengan berbeda pemikiran yang muncul di benaknya.


"Terima kasih karena sudah menemukan gelang ku. Ini sangat-sangat berarti bagiku." Laura menatap Aphrodite berbinar.


"Bukan masalah, lagipula ini bukan apa-apa." Aphrodite tersenyum.


...*...


Jordan terdiam ditemani secangkir teh manis yang semula dipesannya, pandangannya masih setia menatap keluar jendela. Memandangi mobil yang berlalu-lalang dengan beberapa pejalan kaki yang melangkah di trotoar.


Perhatian Jordan dalam seketika tertuju ke arah seberang, saat kedua manik matanya secara tidak sengaja menangkap sosok Aphrodite yang kini berdiri bersama dengan Laura. Ia tertegun, Jordan bangun spontan dari kursi yang ia duduki.


"Laura…" gumamnya pelan, ia berusaha memperjelas sosoknya. Melihat lebih jeli lagi, dan ternyata benar. Itu adalah Laura.


Bergegas Jordan melangkah keluar, ia hendak menyeberang dan menghampiri mereka. Tapi jalanan yang cukup sibuk dengan beberapa mobil yang melintas membuatnya kesulitan untuk bisa tiba di seberang. Beberapa mobil besar melintas membuatnya tidak bisa melihat Laura dengan jelas. Tak lama menunggu, lampu kemudian berubah merah dan ia bisa menyeberang.


Jordan bergerak cepat menuju seberang, tapi lagi-lagi ia harus kehilangan Laura ketika tiba di seberang sana. Sebagai gantinya justru ia malah bertemu dengan Aphrodite yang baru saja hendak masuk ke dalam kantor suaminya.


"Pak Jordan…" Aphrodite menghentikan langkahnya. "Bapak sedang apa di sini?"


Jordan tidak menjawab, ia masih berusaha mencari Laura. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling berharap wanita itu masih berada di sana, tapi raib. Laura benar-benar sudah tidak ada.


"Pak?" Aphrodite memanggilnya sekali lagi dengan raut wajah bingung. Suaranya berhasil membuat Jordan tersadar dari lamunannya. "Bapak baik-baik saja?"


"Ah… ya, aku baik-baik saja."


"Bapak ada apa kemari?"


"Tidak, tadi aku hanya merasa kalau aku melihat seseorang yang aku kenal di sekitar sini dan aku ingin menyapanya. Tapi sepertinya aku salah lihat."


"Seseorang yang dia kenali?" Aphrodite membatin, ia mengerutkan keningnya berusaha mencari tahu siapa yang dimaksudnya. "Apakah seseorang yang dikenalinya itu adalah Laura? Kalau memang benar, itu artinya memang iya Laura dan Jordan ini memiliki hubungan. Mereka saling kenal satu sama lain."


"Aphrodite?" Kini giliran Jordan yang menatap Aphrodite dengan raut wajah bingung, wanita itu malah melamun.


"Ya?"


"Omong-omong kau sendiri sedang apa di sini? Apakah kau tidak istirahat makan siang?"


"Saya baru saja ingin makan siang, saya kemari untuk bertemu dengan Frans dan makan siang bersama dengannya."


"Oh… lalu, siapa yang kau temui baru saja?"


"Tadi itu teman saya. Kami bertemu karena ada beberapa hal yang harus saya bicarakan dengannya."


"Begitu ya…"


"Iya. Kalau begitu saya permisi, waktu makan siangnya hanya tinggal sedikit lagi."


"Silahkan."


Aphrodite melangkah masuk ke dalam kantor Fransisco, melewati lobi agar bisa tiba di lift dan pergi ke lantai dimana Fransisco saat ini berada.

__ADS_1


Jordan menghela napasnya kasar, lagi-lagi ia gagal menangkap Laura dan menghentikannya untuk terus bersembunyi ditempat persembunyiannya. Merasa tidak ada hal yang harus ia lakukan di sana lagi, Jordan kemudian melangkah menuju seberang untuk melanjutkan aktivitasnya. Ia masih belum sempat makan siang karena terlalu sibuk menikmati teh manis hangat.


...*...


Jordan memasuki ruang kerjanya, tiba di sana ia terduduk di kursi kebesarannya. "Aku yakin tadi itu aku melihat Laura. Bahkan aku melihatnya dengan sangat jelas, tapi kenapa begitu aku tiba di sana dia tidak ada? Apakah mungkin dia melihatku dan cepat-cepat melarikan diri?"


Jordan termangu ditempatnya, pikirannya melayang jauh meninggalkan raganya. Semenjak bertemu dengan Laura lagi, ia mulai tidak tenang. Jordan ingin bertemu dengan Laura lagi, ingin membawa dan melindunginya. Menuntunnya keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi sialnya setiap kali ia berusaha untuk menghampirinya, di saat itu juga Laura hilang dari sisinya.


"Dimana kau sekarang? Aku merindukanmu…" Jordan bergumam pelan. Ia merogoh kantong jas yang dikenakannya, mencari gelang milik Laura. Namun gelang yang dicarinya itu hilang entah dimana. Jordan panik, ia segera bangun. Mengecek kantong celananya dan sama sekali tidak menemukan gelang yang dicarinya.


"Tidak! Tidak, jangan. Jangan sampai aku kehilangan satu-satunya barang yang membuatku merasa kau selalu ada di sampingku." Jordan panik, ia mencari di atas meja kerjanya yang berantakan tapi masih tidak dapat ia temukan.


"Kapan terakhir kali aku melihatnya?" Jordan berusaha untuk mengingat-ingat kembali, tapi ia benar-benar lupa dan tidak bisa mengingatnya.


"Tidak…" Jordan menghampiri sofa mencari di sana, mencari di atas meja dan di sekeliling ruangannya. Gelangnya benar-benar tidak bisa ia temukan.


"Argh!" Ia mengusak rambutnya frustasi. Sekarang selain kehilangan jejak Laura, ia juga kehilangan satu-satunya barang yang senantiasa membuatnya teringat akan wanita yang dicintainya.


Sekertarisnya melangkah masuk ke dalam ruangannya setelah mengetuk pintunya pelan. Wanita itu membawa berkas ditangannya, ia berhenti diambang pintu saat mendapati Jordan yang tengah bimbang.


"Pak? Bapak cari sesuatu?" Tanyanya.


"Saya sedang mencari gelang yang saya bawa," ujarnya tanpa menoleh.


"Gelang?"


"Oh ya, apakah kau melihatnya? Bentuknya seperti ini." Jordan menunjukkan gambar diponselnya.


"Bukankah ini gelang perempuan? Apakah itu punya bapak?"


"Saya tanya apa kau melihatnya atau tidak, bukannya malah berkomentar!" Tukas Jordan kesal, sekertarisnya itu malah mengalihkan pembicaraan.


"Huft~ kalau begitu dimana, ya? Apakah jangan-jangan terjatuh di restoran?" Jordan memonolog.


"O-oh ya, pak. Ini berkas hasil meeting tadi."


"Kau taruh saja di atas meja, saya ingin keluar sebentar." Ia melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya. Sekertarisnya itu menaruh berkasnya di atas meja lalu pergi kembali ke meja kerjanya.


"Ada apa dengan gelang itu sampai-sampai pak Jordan begitu panik gelangnya tidak ada? Apakah itu gelang berharga? Tapi kalau dilihat dari ukiran dan bentuknya benar-benar cantik, aku bahkan belum pernah melihatnya di manapun. Sepertinya gelang itu benar-benar berharga, makannya pak Jordan begitu panik." Wanita itu memonolog, ia kemudian duduk di kursinya dan mulai kembali disibukkan dengan beberapa pekerjaannya yang belum selesai.


Jordan melangkah keluar dari dalam kantornya, berjalan menyusuri trotoar sembari terus memperhatikan jalanan yang dilaluinya untuk mencari gelangnya. Sepanjang jalan, ia sama sekali tidak bisa menemukan gelang yang dicarinya sampai ia tiba di restoran dan meminta izin pada pemiliknya untuk mencari gelangnya. Setelah cukup lama mencarinya ia sama sekali tidak dapat menemukan gelang itu dimana pun.


Jordan keluar dari restoran untuk ke kantornya. Ia pulang dengan tangan kosong, karena gelangnya sama sekali tidak berhasil ia temukan. "Sekarang aku bahkan kehilangan gelangnya. padahal benda itu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa seakan-akan Laura selalu ada di sampingku."


Jordan diam di meja kerjanya dengan kepala tertunduk. Wajahnya murung bukan main.


...*...


Laura melangkah masuk lewat pintu depan bersamaan dengan beberapa pelanggan yang berkunjung. Ia berjalan cepat menuju arah ruang ganti yang ada dibelakang untuk mengganti pakaiannya dengan seragam kerjanya.


"Kau sudah kembali?" Temannya itu menatap padanya begitu ia tiba dan telah mengenakan seragam kokinya.


"Iya. Omong-omong terima kasih telah membantuku."


"Bukan masalah." Wanita itu menghampiri Laura dan menatap wajahnya dengan cermat, memperhatikan mimik wajahnya. "Omong-omong kau kenapa? Wajahmu berseri-seri seperti itu, apakah ada sesuatu?"


"Tidak ada." Laura hanya tersenyum simpul. Wanita yang menjadi temannya itu memicingkan matanya.


"Aku jadi curiga, tadi kau pergi dengan wajah yang tampak begitu semangat lalu saat kau pulang. Kau kembali dengan wajah berseri-seri. Aku jadi curiga, apakah jangan-jangan kau sedang dekat dengan seseorang?"

__ADS_1


"Apa? Oh, jangan bercanda. Lebih baik sekarang kita fokus memasak. Para pelanggan mulai berdatangan." Laura menjauh darinya.


"Hey! Aku belum selesai bicara denganmu, Laura!" Ia mengejar Laura.


...*...


Hari berganti, sudah beberapa hari berlalu semenjak Aphrodite menemukan sebuah teka-teki sekaligus tanda tanya besar antara keterlibatan Laura dan Jordan. Hari ini Aphrodite dan Laura tengah berbelanja, hari ini adalah jadwalnya Aphrodite belajar lebih banyak mengenai memasak. Dan Aphrodite mengakui kehebatan Laura dalam memasak itu setara dengan kehebatan Bertha. Hanya saja keduanya hebat dalam bidang yang berbeda, dan keduanya memiliki gaya masing-masing dalam memasak.


Aphrodite dan Laura melangkah keluar dari dalam supermarket tempat mereka berbelanja, di kedua tangannya; mereka membawa masing-masing dua kantong plastik besar berisi bahan-bahan makanan yang mereka butuhkan untuk belajar memasak hari ini.


Mereka berdua berjalan menyusuri trotoar, sesekali mereka mengobrol membicarakan hal-hal lucu yang membuat keduanya tertawa.


Langkah Laura terhenti saat secara tiba-tiba ia ingat kalau ada sesuatu yang ia lupa untuk beli.


"Aku lupa membeli beberapa hal, bahan-bahan penting yang dibutuhkan untuk memasak," ujarnya.


"Apa yang kau lupakan?"


"Hanya beberapa bahan saya. Bisakah kau tunggu di sini sebentar sementara aku pergi?"


"Biar aku saja yang membeli bahan-bahannya, mana daftarnya."


"Tidak apa-apa biar aku saja."


"Ayolah biar aku saja, biar sekalian aku juga tahu apa saja yang kau butuhkan."


"Kau yakin?"


"Ng." Aphrodite mengangguk mantap. "Sekarang berikan saja daftarnya setelah itu akan aku belikan, kau pergi duluan ke restoran. Nanti aku menyusul. Kalau kau menunggu di sini, akan sangat kerepotan untuk menangani semua ini sendiri. Jadi lebih baik kau pergi duluan, nanti aku menyusul."


"Baiklah." Laura menurunkan kantong plastik ditangannya ke tanah bersemen, ia merogoh kantongnya dan mengecek ulang beberapa lembar daftar yang dibuatnya. "Ini." Laura menyodorkan satu lembar daftar belanja yang belum sempat disoretnya. Semua nama bahan-bahan itu masih tertulis jelas di sana.


"Oke. Kau pulang duluan dengan taksi, setelah itu kita bertemu di restoran."


"Iya."


Aphrodite beranjak menyeberangi jalan meninggalkan Laura yang kini berdiri di tepi sedang mencari taksi kosong yang melintas, begitu menemukan taksi kosong yang dicarinya; ia segera masuk dan meminta sang supir mengantarkan dirinya ke restoran tempatnya bekerja. Hari ini dirinya akan mengajari Aphrodite memasak beberapa masakan baru.


Aphrodite pergi menuju salah satu supermarket yang ada di sana untuk membeli bahan-bahan yang tertinggal, ia sempat pergi mengunjungi beberapa supermarket karena bahan yang dicarinya tidak ada di setiap supermarket. Tak lama setelah membeli semua bahan yang telah ditemukan olehnya, ia kembali dengan sekantong plastik di genggamannya. Ia melangkah perlahan menyusuri trotoar.


Ponselnya berdering membuat fokus Aphrodite tersita, ia mengeluarkan ponselnya sembari terus berjalan. Panggilan masuk dari Laura, ia hendak menjawabnya tapi secara tidak sengaja ia menabrak seorang pria yang tengah berdiri di hadapannya hingga semua barang-barang yang dibelinya berjatuhan di lantai.


"Maaf, aku tidak melihatmu." Pria itu—Jordan, berjongkok membantu Aphrodite.


Aphrodite mendongak saat ia mendengar suara yang cukup familiar. Keduanya beradu pandang dan terkejut bersamaan.


"Aphrodite?"


"Jordan?"


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Jordan terkekeh.


"Haha, benar. Omong-omong maaf, aku tidak sengaja menabrak mu."


"Tidak apa-apa." Jordan tersenyum ia lalu membantu membereskan barang belanjaannya. Keduanya bangun, Jordan memberikan kantong plastik ditangannya pada Aphrodite.


"Terima kasih." Aphrodite tersenyum. Perhatiannya kembali tersita oleh ponselnya yang berbunyi, ia mengangkatnya segera. "Aku sudah mendapatkan semua bahannya Laura, sekarang aku sedang dalam perjalanan ke sana," kata Aphrodite begitu sambungan telponnya terhubung.


"Laura?" Jordan membatin.

__ADS_1


...***...


__ADS_2