
...***...
Aphrodite mendorong troli belanjanya dengan bersebelahan dengan Laura disampingnya, lagi-lagi mereka dipertemukan dalam situasi yang tidak terduga. Saat ini mereka berdua berada di dalam salah satu pusat perbelanjaan, keduanya tengah berbelanja beberapa keperluan rumah seperti sabun dan lain sebagainya. Aphrodite berjalan bersama dengan Laura sementara Fransisco ia minta untuk mencari beberapa kebutuhan dapur yang belum sempat ia dapatkan, Aphrodite bekerjasama dengan Fransisco agar mereka tidak pulang terlalu malam.
"Omong-omong bagaimana kalau kita makam malam bersama hari ini?" Ujar Aphrodite memberikan saran.
"Makan malam bersama? Oke, aku juga lapar dan kebetulan aku tahu salah satu restoran yang enak didekat sini. Bagaimana kalau kita ke sana?"
"Ide yang bagus, aku juga sudah lapar. Fransisco juga pasti lapar, kalau kita menunggu hingga pulang dulu; pasti akan memakan waktu cukup lama. Belum lagi aku juga belum memasak."
"Baiklah kalau begitu ayo kita selesaikan belanjaan dulu setelah itu pergi."
"Iya." Aphrodite dan Laura mempercepat langkahnya, mereka hendak makan malam bersama disalah satu restoran yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka saat ini berada. Setelah menyelesaikan belanjaan dan bertemu lagi dengan Fransisco, Aphrodite lalu meminta Fransisco untuk menunggu di mobil dan menyiapkan mobil agar mereka bisa segera pergi dari sana; sementara itu dirinya dan Laura kini disibukkan membayar semua barang belanjaan mereka di kasir. Keduanya tengah mengantre sampai setelah giliran mereka dan selesai, mereka berdua lalu beranjak pergi untuk menyusul Fransisco ke tempat dimana pria itu memarkirkan mobilnya.
...*...
Jordan melajukan mesin mobilnya menuju arah jalan pulang, ia terus fokus pada jalanan yang ada dihadapannya. Namun atensinya beralih saat ponselnya berdering dan menunjukkan layar panggilan dari mamanya. Jordan mengangkatnya segera, ia tidak ingin terus di teror mamanya hanya karena tidak mengangkat telpon dari mamanya.
"Ada apa?" Tanya Jordan begitu sambungan telponnya itu terhubung dengan mamanya diseberang sana.
"Kau masih di jalan, sayang?" Tanya wanita diseberang sana.
"Iya. Aku sedang menyetir. Memangnya ada apa? Mama ingin memintaku cepat pulang karena di rumah ada Carla? Kalau iya, aku akan putar balik ke kantor dan tidak akan pulang sebelum dia pergi. Sekarang aku tutup." Jordan bersiap menutup telponnya tapi mamanya itu menahan.
"Tunggu-tunggu! Mama belum selesai bicara, kau main potong-potong saja! Bukan itu yang ingin mama bahas, lagipula di rumah tidak ada Carla."
"Lalu?" Jordan menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Mama ingin meminta bantuan mu, tolong belikan kue. Kau ingat tempat yang biasa mama membeli kue 'kan?"
"Iya. Memangnya untuk apa kue? Ini sudah malam, tokonya juga pasti sudah tutup."
"Mama sedang ingin makan kue, tapi mama malas untuk keluar. Jadi mumpung kau sedang diluar tolong mampir sebentar dan belikan kue untuk mama."
"Tapi ma…"
"Yang rasa coklat ingat! Kalau tempatnya sudah tutup, kau cari ditempat lain. Mall biasanya masih buka sampai saat ini, oke bye. Mama tunggu." Wanita itu memutus sambungan telponnya sepihak membuat Jordan hanya bisa menghela napasnya panjang saat ia hanya bisa mengikuti keinginan mamanya.
"Mama ada-ada saja, sudah malam seperti ini ingin kue." Jordan bergumam pelan, ia melajukan mesin mobilnya menuju arah toko kue tempat biasa mamanya membeli kue tapi tiba di sana, toko itu sudah tutup membuatnya mau tidak mau harus pergi ke mall untuk mencarinya. Tiba di mall, ia segera menghentikan mesin mobilnya di tempat parkir yang ada di sana. Ia cepat-cepat masuk dan pergi ke satu toko tujuannya agar ia bisa cepat pulang ke rumahnya.
...*...
"Laura, bolehkah aku titip ini sebentar?" Aphrodite menyodorkan barang belanjaannya pada Laura yang berdiri di sebelahnya. "Ada apa?" Tanya Laura yang bingung dengan Aphrodite.
__ADS_1
"Aku ingin ke toilet sebentar, kau tunggu di sini saja. Aku tidak akan lama, kalau kau ikut denganku bisa-bisa kau repot."
"Baiklah kalau begitu, pergilah." Laura meraih semua barang belanjaan Aphrodite dan menggenggamnya, ia menepi dari jalan yang di lalui nya dan mulai disibukkan menunggu Aphrodite kembali dari toilet.
Di sisi lain, Jordan baru saja selesai membeli kuenya dan bersiap untuk pulang. Ia berjalan keluar dari toko yang ada di sana. Namun begitu ia keluar, atensinya lebih dulu tersita oleh sosok Laura yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada saat ini. Jordan terdiam ditempatnya tak bisa berkata-kata, ia memperhatikan Laura dengan jantungnya yang berdebar hebat.
"Laura…" gumamnya.
Laura yang merasa tengah diawasi oleh sepasang mata, lalu mendongak. Ia terkejut bukan main saat mendapati Jordan berdiri seraya menatap ke arahnya. Jordan melangkah perlahan sementara Laura bergerak mudur.
"Tidak! Aku mohon, jangan lari…" Jordan berusaha menahannya. Laura terdiam tak berkata-kata. Jordan kembali mendekat kearahnya tapi bersamaan dengan itu Laura mundur juga satu langkah membuat jarak mereka semakin jauh. "Aku mohon, jangan lari. Laura…" Jordan masih berusaha menahannya sementara Laura masih tak berkata-kata.
"Laura, ayo kita pergi…" Aphrodite kembali dari toilet namun ia terkejut saat tiba-tiba melihat Laura yang lari meninggalkannya di sana dengan membawa barang belanjaan di tangannya.
"Laura! Laura!" Aphrodite berteriak memanggil wanita itu tapi sama sekali tak menjawab dan terus berlari tanpa berhenti. Aphrodite beralih pandang mendapati Jordan di sana. Keduanya beradu pandang dengan raut wajah yang sama terkejutnya.
"Jordan?" Aphrodite mengerutkan keningnya.
"Kita bicara soal ini nanti!" Ujar Jordan pada Aphrodite kemudian berlari cepat mengejar Laura. Aphrodite hanya bisa diam dengan berbagai tanya yang bermunculan di benaknya, ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa ini? Apakah Jordan dan Laura saling kenal satu sama lain?" Aphrodite membatin. Ia menatap ke arah dimana kedua orang yang di kenalnya itu berlari dan hilang diantara kerumunan orang yang berlalu-lalang. Aphrodite beralih fokus, ia meraih barang belanjaannya dan pergi dari sana untuk menemui Fransisco yang sudah lebih dulu menunggunya di tempat parkir.
...*...
Fransisco melangkah keluar dari dalam mobilnya saat kedua wanita yang di tunggunya tak kunjung datang, tapi belum sempat ia masuk; ia sudah lebih dulu melihat sosok Laura yang keluar dengan langkah tergesa. Fransisco menghentikan langkahnya memperhatikan Laura dengan raut wajah bingung, mereka sempat beradu pandang sebelum akhirnya Laura menghampiri dirinya dan berhenti sejenak.
Fransisco termangu ditempatnya masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia mengerutkan keningnya. "Ada apa dengannya?" Gumamnya pelan. Tak lama ia melihat Jordan berteriak sembari berlari mengejar Laura.
"Laura! Tunggu!" Teriaknya sembari terus berlari.
"Jordan? Laura, katanya? Apakah mereka saling kenal?" Fransisco memonolog.
"Frans…" Aphrodite berlari menghampiri Fransisco yang berdiri di sana. Pria itu menoleh ke arah Aphrodite yang baru saja keluar dengan membawa barang belanjaannya.
"Sayang, ada apa dengan Laura?"
"Aku juga tidak tahu tadi aku baru lembar dari toilet dan dia tiba-tiba saja lari begitu bertemu dengan Jordan."
"Jadi itu benar-benar Jordan yang kita kenal?"
"Iya." Aphrodite menganggukkan kepalanya.
"Aneh, apakah mereka saling kenal?"
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu. Sudahlah, sekarang kita pergi saja."
"Oh ya, Laura bilang dia tidak akan bisa makan malam bersama kita. Dia benar-benar meminta maaf." Jordan meraih barang-barang belanjaan Aphrodite dan membawanya menuju mobil yang sudah siap. Aphrodite melangkah mengekor dibelakangnya, mereka lantas duduk di dalam mobil dan melaju pergi dari sana untuk makan malam bersama di salah satu restoran yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.
...*...
Aphrodite berdeham panik saat sejak tadi Jordan terus menatapnya tanpa berkata sepatah kata pun, pria itu hanya diam sembari menatapnya dengan kedua tangan yang terlipat di atas meja makan yang tengah mereka tempati. Aphrodite memalingkan wajahnya ke arah lain sembari menyuapkan makanan di sendok nya ke dalam mulut, sungguh; ia tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Jantungnya dak dik duk nyaris copot, ia berasa seperti seorang penjahat yang berada di ruang interogasi hendak di tanyai banyak hal. Apakah ketika menyadari tatapan Jordan yang mengeluarkan aura tidak nyaman berhasil membuatnya semakin gelisah.
"P-pak Jordan tidak makan?" Aphrodite berusaha memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka. Saat ini Aphrodite sedang menikmati waktu makan siang bersama dengan Jordan di salah satu restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat ia meninjau lokasi untuk mengurus projects yang tengah di tangani oleh atasan dan tim satu divisinya. Dan setelah tugasnya selesai, Jordan mengajaknya untuk makan siang bersama hanya berdua saja.
"Tidak," ujarnya singkat membuat Aphrodite semakin merasa tidak nyaman. Aphrodite meraih gelasnya dan meneguknya pelan, kedua matanya diam-diam melirik ke arah Jordan. Dan pria itu masih menatapnya intens.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu," tuturnya kemudian membuat Aphrodite beralih pandang. Ia merasa sedikit lega karena Jordan pada akhirnya mau bicara.
"Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" Tanya Aphrodite formal.
"Tidak perlu berbicara formal. Disini hanya ada kita berdua, jadi kau bisa memanggilku dengan namaku. Ditambah lagi ini diluar jam kantor."
"O-okay…"
"Aku ingin bertanya, sejak kapan kau dan Laura saling kenal? Apakah kalian berteman? Tampaknya kalian berdua cukup dekat sampai-sampai kalian pergi bersama ke mall untuk berbelanja."
"Baiklah akan aku jawab satu persatu. Pertama aku kenal Laura bisa dibilang baru beberapa Minggu, kami memang berteman di tambah lagi aku belajar memasak darinya juga yang bekerja di salah satu restoran. Dan untuk kejadian di mall semalam itu kami hanya kebetulan bertemu saja, jadi kami memutuskan untuk melanjutkan berbelanja bersama dan hendak makan malam bersama tapi tidak jadi karena Laura bilang dia memiliki urusan mendadak. Tapi… kalau aku boleh tahu, apa hubungan antara kau dan Laura? Entah kenapa tapi aku merasa Laura pergi tadi malam bukan karena dia memiliki urusan mendadak. Tapi karena kau tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Apakah kalian berdua saling kenal satu sama lain?" Aphrodite balik bertanya pada Jordan.
"Aku dan Laura memang saling kenal. Aku dan dia sempat berpacaran, tapi… kedua orangtuaku menentang hubunganku dengannya. Lalu kedua orangtuaku memutuskan untuk menjodohkan aku dengan Carla hingga aku dipaksa untuk tunangan dengannya. Beberapa bulan sebelum kedua orang tuaku memaksaku untuk bertunangan, Laura tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Menurut beberapa berita yang aku dapat dari beberapa temannya, mereka bilang Laura pergi untuk sekolah memasak di Belgia. Tapi aku tidak bisa memastikannya karena aku tidak memiliki cukup jejak untuk menemukannya. Selama bertahun-tahun aku menunggunya dan berharap bisa bertemu dengannya lagi, sampai kemudian aku bertemu dengannya lagi secara tidak sengaja. Tapi saat pertemuan kita lagi… dia menunjukkan reaksi yang benar-benar diluar dugaan ku. Dan di saat itulah aku merasa ada yang tidak beres dengan apa yang sebenarnya terjadi, aku ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Laura. Tapi dia selalu menghindar dan lari dariku." Jelas Jordan panjang lebar. Aphrodite yang mendengarkannya hanya bisa diam tak berkata-kata, ia tahu apa yang dirasakan oleh Jordan. Karena ia juga pernah mengalami hal yang serupa. Bedanya kisahnya lebih menyakitkan, karena Xavier yang dulu sangat di cintainya bukan menghilang tanpa kabar. Melainkan pergi dengan wanita lain dan tepat di hadapannya.
"Jika kau memang benar berteman dengan Laura… itu berarti kau tahu dimana selama ini dia bersembunyi 'kan? Kau tahu dimana sekarang dia berada?" Jordan menatap penuh harap kearah Aphrodite. Aphrodite mengangguk pelan.
"Ya, aku tahu."
"Itu berarti… kau bisa membantuku untuk dekat dengannya lagi. Maukah kau membantuku untuk bisa kembali dengan Laura, aku benar-benar berharap banyak padamu."
"Sejujurnya aku ingin membantumu. Tapi…" Aphrodite menggantungkan ucapannya sejenak, otaknya masih memikirkan apa resiko dari setiap langkah yang akan diambilnya nanti.
"Tapi apa?"
"Kalau aku membantumu secara langsung, maka itu akan merusak persahabatan ku dengannya. Aku tidak ingin sampai hal itu terjadi, karena aku dan Laura sudah mulai dekat satu sama lain. Kalau aku tiba-tiba saja membawamu masuk ke dalam kehidupan Laura lagi, maka hal itu bisa jadi membuat hubungan ku dengannya rusak. Dan pada akhirnya akan lebih sulit bagimu untuk bersatu dengan Laura lagi."
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apakah kau memiliki ide lain? Hanya kau satu-satunya harapan yang aku miliki agar bisa kembali bersatu dengan Laura, dan aku benar-benar membutuhkan bantuanmu."
"Berikan aku waktu untuk memikirkan ide yang lebih baik. Aku akan berusaha untuk mendekatkan kau dengan Laura lagi."
"Terima kasih, aku benar-benar senang kau mau membantuku." Jordan tersenyum simpul ke arahnya. Aphrodite hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
__ADS_1
Tanpa sadar ketika sejak tadi mereka asik berdiskusi, ada seseorang yang terus memperhatikan keduanya dari kejauhan. Tangannya di bawah sana terkepal erat, dan hatinya bergemuruh di penuhi dengan emosi yang meningkat dalam seketika.
...***...