Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Watching movies


__ADS_3

...***...


"Baiklah sekarang ayo kita bereskan semua kekacauan ini," ujar Fransisco yang kini berdiri seraya menatap ke sekeliling ruangan tempat mereka berada. Benar-benar kacau, berbagai jenis kertas kado berserakan di lantai, beberapa di antara sampahnya ada yang berupa pita dan hiasan lainnya.


"Oh, tunggu." Aphrodite melangkah keluar, tidak lama ia kembali dengan membawa alat kebersihan di kedua tangannya. "Ayo lakukan," tuturnya.


"Ng." Fransisco mengangguk, ia kemudian meraih sapu yang baru saja di bawa Aphrodite. Selesai membuka semuanya mereka kini di hadapkan dengan sampah dari bungkus kado yang mereka dapat, dengan bekerja sama mereka akhirnya bisa membereskan ruangan itu dengan lebih cepat.


"Selesai." Aphrodite tersenyum simpul saat hampir satu jam mereka bekerja sama membereskan ruangan itu hingga benar-benar bersih tanpa menyisakan sedikit pun sampah yang tersisa.


"Sekarang ruangan ini tampak rapi." Fransisco tersenyum simpul, mengusap keningnya yang di penuhi dengan keringat.


"Ruangan ini terlihat lebih luas saat kita sudah membereskannya."


"Ya, begitulah."


"Sekarang dimana kita harus menaruh semua barang-barang hadiah ini?"


"Untuk itu aku sudah siapkan ruangan khusus untuk menaruh semuanya."


"Benarkah?" Aphrodite menoleh ke arah Fransisco.


"Ya. Kau ingin lihat?" Fransisco berbalik, melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut kemudian masuk ke kamar mereka. Di sana, Fransisco membawa Aphrodite menuju sebuah ruangan di dekat kamar mandi dalam kamar mereka.


"Aku sudah memikirkan ruangan ini sebelumnya, dan tampaknya saat kita pergi mama sudah meminta orang kepercayaannya untuk membereskan semua ini," kata Fransisco yang kini menunjukkan isi ruangan itu.


Pandangan Aphrodite mengedar ke sekeliling, ruangan luas itu kini di isi oleh berbagai jenis pakaian yang mereka miliki, pakaian milik Aphrodite, dan Fransisco saling berdampingan bersatu dalam ruangan yang sama.


"Wow." Aphrodite melongo.


"Ada ruang kosong yang tersisa di rak ini, kita bisa pakai itu untuk menyimpan semua barang-barang itu."


"Itu berarti kita harus menyimpan semuanya di sini?" Aphrodite melangkah menyusuri beberapa rak yang berjejer di sana, matanya memandang satu persatu benda yang ada di dalamnya. Fokus Aphrodite tersita saat ia mendapati kalung mutiara indah miliknya terpajang di tempat istimewa yang di balut dengan sebuah kaca untuk menghalangi debu masuk. Tempat dimana mutiaranya tersimpan itu mirip seperti yang ada di dalam toko-toko perhiasan.

__ADS_1


Fransisco menghampiri Aphrodite berdiri tepat di sampingnya. "Di antara semua barang yang ada di sini, tampaknya hanya kalung mutiara ini yang paling bersinar," gumam Fransisco.


Aphrodite menganggukkan kepalanya pelan tanpa memalingkan sedikit pun pandangannya dari kalung yang ada di hadapannya.


"Kalungnya benar-benar indah," tutur Aphrodite.


"Ya, tentu saja. Dan ini sangat istimewa karena kalung ini khusus aku buat untukmu."


"Aku menyukainya." Aphrodite tersenyum simpul.


"Senang mendengarnya," sahut Fransisco. "Oh, kalau begitu ayo kita bereskan semua barang-barangnya ke dalam sini."


"Ah ya, aku hampir lupa dengan tujuan kita. Kalau begitu ayo."


Fransisco dan Aphrodite beranjak pergi dari ruangan tersebut, melangkah kembali ke ruangan sebelumnya untuk memindahkan barang-barang mereka ke tempat yang telah mereka siapkan sebelumnya. Walaupun membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menata semuanya, tapi dengan bekerja sama mereka bisa melewati semuanya.


...*...


Waktu berlalu, sudah cukup banyak barang yang mereka pindahkan dan tanpa terasa hari sudah mulai siang.


"Aku setuju, aku juga lelah." Aphrodite ikut duduk di sampingnya. "Omong-omong sudah banyak waktu yang kita lakukan, jam berapa ini?" Aphrodite mendongak menatap jam yang tergantung di dinding ruangan itu dan mendapati jam makan siang yang sudah tiba.


"Sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita makan dulu setelah itu kembali bekerja? Kau pasti lapar kan?" Aphrodite beranjak bangun dari tempat duduknya.


"Baiklah." Fransisco ikut bangkit. Berikutnya mereka melangkah menuju ruang makan untuk menikmati makan siang mereka.


Setelah memasak hidangan kecil sederhana, mereka lantas menikmati makan siang bersama. Selesai makan siang mereka lalu melanjutkan kembali kegiatan mereka membereskan ruangan sebelumnya dan memindahkan barang-barang baru mereka ke dalamnya.


...*...


Malam tiba. Setelah seharian bekerja sama membereskan barang-barang baru mereka, Fransisco dan Aphrodite lalu menghabiskan malam mereka dengan makan malam bersama dan bersantai di ruang tengah.


"Bagaimana kalau kita menonton film yang menarik sebelum kita tidur?" Tanya Fransisco pada Aphrodite yang kini sibuk berkutat dengan piring-piring kotor yang sedang di cucinya di ruang dapur. Fransisco sedikit mengencangkan suaranya membuat Aphrodite dapat dengan jelas mendengar suaranya.

__ADS_1


"Ide bagus. Kalau begitu aku akan selesaikan pekerjaan ku dulu setelah itu menyusul. Omong-omong kau ingin memakan sesuatu untuk menemani kita menonton?"


"Iya."


"Baiklah akan aku siapkan."


"Kalau begitu aku akan menyiapkan film-nya."


"Oke."


Aphrodite kembali menyibukkan diri dengan membersihkan beberapa piring yang telah di cucinya dengan sabun, membilasnya dengan air bersih lalu menaruhnya ke rak piring yang tersedia di sana.


Selesai membereskan semua piringnya ke rak piring, Aphrodite lalu melepaskan apron yang melekat di tubuhnya, menaruhnya ke tempat semula setelah melipatnya lebih dulu. Setelah itu, Aphrodite kemudian mengambil beberapa camilan dan minuman untuk menemani acara mereka menonton.


"Bagaimana? Kau temukan film yang menarik?" Tanya Aphrodite begitu tiba di ruang tenang dengan camilan dan minuman yang kemudian di taruhnya di atas meja.


"Bagaimana dengan yang satu ini?"


"Kelihatannya menarik. Oke, itu saja."


"Kalau begitu ayo kita menonton." Fransisco menekan tombol yang dalam seketika memutar film yang baru saja di tunjuknya. Fransisco dan Aphrodite terdiam menonton film yang kini di mereka putar.


"Ini makanannya." Aphrodite meraih makanan yang baru saja ditaruhnya di atas meja lengkap dengan minumannya.


"Terima kasih," ucapnya.


...***...


*Binbin Talk


...Halo, Binbin di sini....


...Sebelumnya aku selaku author novel ini mau ngucapin makasih banyak buat kalian yang udah mau mampir dan baca hingga sejauh ini, maaf sebelumnya karena aku nggak terlalu ramah dan jarang interaksi sama kalian sebagai pembaca. Mungkin karena pembawaanku di dunia nyata juga emang kaku😐 jadi kebawa-bawa sampe kesini....

__ADS_1


...Selanjutnya aku mau minta maaf kalo misalkan cerita ini terlalu bertele-tele dan terkesan nggak seru. Sebenernya sejak awal aku mau revisi tapi aku terus mikir-mikir dulu, memperhitungkan konsekuensi dari keputusan yang aku ambil buat kedepannya. Jadi aku putusin buat terus lanjutin, tapi makin kesini aku makin ngerasa kalo cerita ini emang butuh revisi. Rencananya aku bakal revisi setelah tamat. Harap maklumi kalo buat sekarang ceritanya nggak terlalu seru....


__ADS_2