
...***...
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Aphrodite dengan raut wajah bingung.
"Tentu saja untuk menjemput mu. Karena sebentar kali kau akan menjadi istriku," Fransisco semakin merekahkan senyumnya di sana.
"Wah, jadi kalian benar-benar akan menikah ya? Aku benar-benar tidak menyangka," kata Jenia yang membuat fokus Fransisco dan Aphrodite beralih menatapnya.
"J-jen. T-tidak Bu—"
"Iya, benar. Oh, dan kalau tidak salah kau adalah wanita yang waktu itu kan?" Fransisco menyambar cepat di sana, memotong ucapan Aphrodite yang hendak mengelak.
"Benar. Lama tak jumpa."
"Woah, Jenia. Kau pernah bertemu dengannya sebelumnya?" Tanya salah satu teman kantornya itu heboh.
"Kau ini bagaimana! Tentu saja mereka pasti sudah bertemu. Jenia dan Aphrodite kan bersahabat!" Salah satu temannya yang lain menjawab.
"Oh ya. Aku lupa soal itu."
"Ya, kebetulan beliau ini adalah teman dari pacarku," sahut Jenia seraya memandang ke arah kedua wanita yang semula bertanya padanya.
"Huh? Benarkah?"
"Luar biasa."
"Ini sulit di percaya."
Mereka melongo tak percaya melihat Jenia di sana.
"Oh ya, bagaimana? Apakah kau sudah selesai berkemas?" Tanya Fransisco mengalihkan perhatian semua orang di sana. Fransisco menatap ke arah Aphrodite yang membawa kardus besar berisi barang-barang kerja nya.
__ADS_1
"Aku sudah mengenainya," potong Jenia cepat sebelum Aphrodite sempat melontarkan kalimatnya dari mulutnya yang sudah terbuka.
"Bagus. Kalau begitu ayo pergi," Fransisco meraih kardus di tangan Aphrodite dan membawanya di tangannya.
"H-huh?" Aphrodite menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Kau akan pergi sekarang?" Jenia menatap Aphrodite di sana.
"Tentu saja, ada hal yang harus kami bicarakan. Jadi maaf, kami permisi dulu," sahut Fransisco seraya beralih pandang padanya.
"Aku bahkan belum mengucapkan salam perpisahan."
"Benar. Kami juga," sahut teman-teman nya yang lain.
"Nanti saja ya. Kalau perlu akan aku adakan acara khusus sepulang kerja untuk melepas kepergian calon istriku," Fransisco melirik pada Aphrodite yang sejak tadi hendak berbicara tapi terus terpotong.
"Wah ide yang bagus," sahut salah satu karyawan di sana.
"T-tunggu. Ada yang harus aku jelaskan pada Jenia," kata Aphrodite yang berusaha untuk berhenti.
"Nanti saja. Sekarang kita harus pergi," ujar Fransisco yang kini berjalan bersebelahan dengan asisten pribadinya, dan sebelah tangan yang menarik Aphrodite menuju lift yang ada di sana.
"Tunggu!" Aphrodite menghentikan langkahnya begitu ia tiba di depan kantornya. Fransisco masih mencengkeram pergelangan tangannya erat, bak seorang ibu yang tak ingin kehilangan anaknya saat di pusat perbelanjaan.
"Kau pulang duluan ke kantor. Aku harus pulang lebih dulu ke rumah untuk mengurus beberapa hal dengan papa ku," cetus Fransisco pada asistennya.
"Ah. Baik tuan, kalau begitu saya permisi," asisten nya itu menjawab lantas beranjak pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
"Lepaskan tanganku!" Aphrodite menghempaskan keras tangan Fransisco.
"Ada apa?" Tanya Fransisco lembut seraya melepaskan cengkeraman tangannya. Menatap Aphrodite lekat di sana.
__ADS_1
"Apa-apaan sebenarnya kau ini?! Kenapa kau tiba-tiba datang dan dengan seenaknya memintaku untuk berhenti secara paksa dari pekerjaan ku?" Kata Aphrodite bersungut-sungut. Ia kesal bukan main saat mendapati hal sebesar ini secara tiba-tiba.
"Tentu saja karena sebentar lagi kau akan menikah denganku. Kau harus fokus pada persiapan pernikahan kita, jadi aku tidak ingin kau bekerja. Karena itu akan sangat berat untukmu, maka dari itu aku meminta pada atasanmu untuk memberhentikan mu dari sini."
"Apa kau bilang?! Astaga, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mu. Kenapa kau jadi mengatur pekerjaanku? Dengar! Lagipula jika aku menikah denganmu, aku akan bisa mengatasi keduanya secara bersamaan!"
"Tapi aku tetap tidak ingin kau terlalu banyak bekerja. Maka dari itu aku meminta mu untuk berhenti. Sudahlah. Untuk sekarang jangan bahas mengenai hal ini. Lebih baik sekarang kita pergi ke rumahku."
"Huh? Untuk apa?!"
"Tentu saja untuk membicarakan semua rencana pernikahan kita. Oh, dan lagi. Hari ini mama ku akan datang secara khusus untuk berkenalan dengan calon menantunya. Ayo!" Fransisco menarik tangan Aphrodite cepat menuju arah mobilnya. Ia lantas membuka pintu mobilnya dan meminta Aphrodite untuk duduk manis di sana sementara dirinya membuka bagasi belakang mobil untuk menaruh barang-barang kerja Aphrodite yang telah di kemas dalam kardus yang di bawanya.
Sebelumnya, mamanya Fransisco adalah salah seorang artis ternama yang lebih banyak menghabiskan waktunya di luar negeri. Wanita yang menjadi mamanya itu telah bercerai dengan papa nya sejak Fransisco berusia dua belas tahun. Dan setelah perceraian nya, mama nya memutuskan untuk tinggal dan menetap di luar negeri atas tuntutan pekerjaan nya yang lebih banyak di dapatnya di sana. Hal itulah yang membuat Fransisco jarang sekali bertemu dengan mama nya.
Selesai menaruh barang-barang nya di bagasi mobil, Francisco kemudian berjalan menghampiri pintu depan mobilnya. Duduk di kursi pengemudi seraya tak lupa mengenakan sabuk pengaman sebelum mereka berangkat.
Fransisco menoleh sejenak ke arah Aphrodite yang tampak kesal di sana. Wanita itu tampaknya kurang suka dengan caranya yang secara tiba-tiba memintanya untuk berhenti dari pekerjaannya.
"Jangan cemberut seperti itu," Fransisco meraih dagu Aphrodite, membuat wajah mereka saling bertatapan secara langsung. "Kau harus tersenyum agar cantikmu tidak hilang," godanya.
"Aku sedang tidak ingin bercanda denganmu," balas Aphrodite yang kemudian menolehkan wajahnya ke arah lain sembari memutar bola matanya malas.
"Aku tidak bercanda, aku serius. Jika kau cemberut seperti ini, kecantikan mu bisa-bisa pudar."
"Sudahlah lebih baik ayo jalan!" Kata Aphrodite.
"Baiklah, kalau begitu ayo pergi." Fransisco menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan mesin mobilnya itu keluar dari dalam tempat parkir yang ada di sana.
Aphrodite sebenarnya tidak ingin mengikuti ajakan dari Fransisco untuk datang ke rumahnya, apalagi di jam sepagi ini. Tapi begitu ia teringat akan perjanjiannya dengan Antonio, membuatnya cukup takut untuk menolak. Apalagi dalam perjanjian yang di setujuinya, ia harus menikah dengan Fransisco dan sebagai gantinya. Antonio akan mengembalikan rumah nya serta menganggap lunas semua utang-utang yang di miliki olehnya.
Di tambah lagi, jika mengingat bahwa Antonio adalah seorang mafia. Itu rasanya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya takut untuk menolak. Sayang nyawanya yang berharga jika harus di pertaruhan hanya karena ia tidak ingin menerima semua keputusan yang telah dibuatnya.
__ADS_1
...***...