Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Erase all painful memories


__ADS_3

...***...


"Wah, anda terlihat sangat cantik dan sangat cocok mengenakan gaun ini," tutur wanita yang menjadi manajer butik itu pada Aphrodite begitu ia selesai membantu Aphrodite mencoba gaun pernikahan nya.


Saat ini Aphrodite tengah berada di dalam ruang ganti. Tengah berdiri di depan sebuah cermin besar yang menampakkan secara utuh dirinya yang berdiri dengan mengenakan gaun yang akan di pakainya saat pernikahan nya dengan Fransisco nanti.


Aphrodite terdiam tak merespon wanita yang menjadi manajer di butik tersebut. Matanya sibuk menelisik, menatap dirinya lebih dalam di cermin yang ada di hadapannya. Di bawah sana tangannya bergetar tanpa ia sadari.


"Kalau begitu saya keluar, saya harus memeriksa tuan Fransisco," pamit manajer itu pada Aphrodite, tapi masih tak mendapatkan respon dari wanita itu.


Manajer itu beranjak pergi dari sana. Menutup rapat pintu ruang ganti dan membiarkan Aphrodite seorang diri di dalam sana.


Aphrodite masih terpaku di tempatnya. Dirinya berdiri tepat di depan tiga cermin yang di susun mengelilinginya, membuat dirinya terlihat dari berbagai angle. Kedua mata Aphrodite tanpa sadar berkaca-kaca, tangannya perlahan bergerak. Terulur ke arah cermin. Ia lantas mengusap pelan cermin yang memantulkan wajah cantiknya dalam balutan gaun pengantin itu.


"Sayang! Jelek ya? Kalau begitu aku ganti saja ya," Aphrodite berbalik hendak melangkah kembali ke dalam kamar ganti. Namun belum sempat ia melangkah, tangannya sudah lebih dulu dicengkeram oleh Xavier yang spontan membuat langkah kakinya terhenti.


"Tidak!" Ucapnya membuat Aphrodite menoleh ke arahnya, bersamaan dengan itu Xavier menarik tubuhnya, melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita itu, "…Tidak perlu kau ganti," ucapnya begitu jarak mereka benar-benar berdekatan. Aphrodite mendongak; beradu pandang dengan Xavier yang kini menatapnya sangat intens. Jarak wajah mereka benar-benar berdekatan, bahkan dari jaraknya sedekat ini; Aphrodite dapat mencium aroma mint segar yang keluar dari mulut kekasihnya itu.


"…Kau sudah tampak sangat cantik," gumamnya, yang spontan membuat Aphrodite tersipu apalagi dengan tatapan sedekat ini. Benar-benar selalu berhasil membuat jantungnya berdebar lebih kencang dibandingkan sebelumnya.


"B-benarkah?" Aphrodite terbata, ia mulai merasa gugup.


"Iya. Sampai-sampai, aku ingin mencium mu," Xavier hendak mendaratkan sebuah kecupan dibibirnya. Namun dengan cepat Aphrodite menahannya dengan telapak tangannya. Wajahnya yang memerah kini beralih pandang kearah lain, Aphrodite tidak kuat dengan sikap Xavier padanya.

__ADS_1


"Jangan mulai! Banyak orang disini," Aphrodite berusaha mengingatkan. Xavier yang mendengarnya lantas terkekeh, tingkah Aphrodite selalu berhasil membuatnya geli.


"Haha, maaf-maaf. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku jika berada dekat denganmu."


"S-sudahlah! A-aku ingin ganti baju!" Ujar Aphrodite seraya mendorong dada bidang pria itu, berusaha membuat jarak diantara mereka.


"Bagus ya," gumam Xavier yang sontak membuat Aphrodite yang tengah melamun menatap gaun pengantin dihadapannya itu terkejut, ia menoleh refleks kearah Xavier yang tidak disadari kapan dirinya tiba.


"A-ah ya, bagus," gumamnya seraya tersenyum kearahnya. Xavier menoleh pada Aphrodite kemudian menatapnya lekat.


"Apakah kau menyukainya?" Tanyanya.


"Huh? Tentu saja, gaunnya benar-benar indah."


"H-huh? M-menikah?"


"Iya. Bagaimana?"


"I-iya, aku ingin memakai gaun seperti ini untuk pernikahan kita nanti," Aphrodite menatap kembali gaun pengantin dihadapannya. Benar-benar indah.


"Vier, dimana kau sayang? Kenapa aku tidak bisa menemukan keberadaanmu dimana pun?" Aphrodite kembali mengeluarkan ponselnya, hendak menelpon pria yang menjadi kekasihnya itu. Tapi lagi-lagi bunyi ‘tuuutt…’ panjang yang menyapa panggilan telponnya, menandakan jika nomornya tidak dapat ia hubungi. "Dan kenapa aku tidak bisa menghubungimu?" Aphrodite semakin resah. Ia lantas kembali menatap layar ponselnya, sudah hampir dua ratus kali dirinya berusaha menghubungi kekasihnya itu, dan tidak ada satupun dari panggilan telponnya yang diangkat oleh Xavier.


Fokus Aphrodite dan seluruh tamu undangan lainnya seketika beralih ketika pembawa acaranya itu mulai menuntun acaranya menuju acara inti dimana acara sakral dari pernikahan itu akan dimulai. Perhatian semua orang disana seketika beralih kearah dimana pasangan yang akan melangsungkan pernikahan itu tiba. Perlahan dari arah yang mereka lihat, sosok pria mulai melangkah menampakkan dirinya diantara semua tamu undangan.

__ADS_1


Aphrodite yang semula fokus pada ponselnya lantas beralih menatap sosok pria yang akan menjadi kakak iparnya, rasa penasaran menuntunnya untuk melihat ke arah pria yang baru saja masuk itu. Namun seketika, ia dibuat terkejut oleh sosok yang tampak tidak asing dalam ingatannya. Melihat itu spontan membuatnya gemetar, jantungnya bergemuruh dan bersamaan dengan itu, matanya mulai berkaca-kaca.


Rasa sakit ia rasakan begitu jelas dalam dadanya. Hatinya hancur, seakan di tusuk dengan belati yang langsung mengenai ulu hatinya. Ia terpaku ditempatnya, seluruh anggota tubuhnya seakan mati dalam seketika membuat ia tidak bisa bergerak sama sekali. Matanya terus mengikuti gerak Xavier yang kemudian melangkah melewatinya, dan begitu melihatnya dalam keadaan yang begitu jelas, membuat ia semakin yakin jika pandangan matanya tidak salah.


Xavier terus melangkah sampai kemudian tiba di altar yang tersedia disana, ia berdiri tegap. Sekilas ia dapat melihat Xavier menghela napas, sebelum kemudian berdiri menghadap ke arah para tamu undangan. Aphrodite masih belum bisa percaya dengan apa yang dilihatnya, rasanya benar-benar bagaikan mimpi; melihat pria yang menjadi kekasihnya itu berdiri disana, di altar pernikahan.


"Hahh…" Aphrodite menghela napas. Rasa sesak di dadanya benar-benar begitu menyakitkan. Apalagi setiap kali ia mengingat memori yang membuat hatinya hancur.


Sejak tadi tanpa sadar air mata mengalir membasahi kedua pipinya.


"Ahh, ada apa denganku ini. Kenapa aku menangis," Aphrodite bergumam. Ia lantas mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.


"Seharusnya aku mengubur semua ingatan menyakitkan itu agar aku tidak terus terjebak dalam masalalu yang menyakitkan itu."


"Huft~" Aphrodite menarik napas panjang kemudian menghembuskan nya dalam satu kali tarikan napas.


"Aku harus bisa melihat ke depan. Karena bagaimanapun yang akan aku hadapi dan aku jalani itu ada di depan, bukan di belakang. Jika aku terus melihat ke belakang dan terus mengingat-ingat apa yang telah terjadi, maka aku tidak akan pernah bisa melihat ke depan dan melangkah maju."


"Ayolah Dite. Kau bisa! Kau mampu untuk melangkah maju dan melupakan semua yang telah berlalu, mengubur masalalu dan memulai kehidupan baru."


"Hapus semua kenangan buruk itu dan jangan terus mengurung dirimu dalam luka yang sama," Aphrodite menguatkan dirinya sendiri. Tangannya terkepal erat disana.


...***...

__ADS_1


__ADS_2