
...***...
"Semoga kalian bersenang-senang!" Helen berucap ceria di sana. Ia melambaikan tangannya ke arah Fransisco dan Aphrodite yang kini sudah berada di dalam mobil.
Perlahan mobil yang di kendarai oleh Fransisco itu beranjak dari pekarangan rumahnya, melaju melewati gerbang untuk bisa tiba di tempat yang akan mereka tuju.
"Aku yakin ini akan berhasil membuat Aph perlahan luluh dan bisa menerima Frans. Dengan begitu, akan lebih mudah bagiku untuk membuatnya menerima perjodohannya dengan Frans," Helen bergumam. Begitu mobil yang di kendarai Fransisco itu hilang di balik pintu pagar rumahnya. Ia lantas melangkah masuk ke dalam rumahnya. Menutup pintunya rapat agar tidak ada orang asing yang masuk.
...*...
"Kita mau kemana?" Tanya Aphrodite dengan suara lemas.
"Aku akan mengajakmu untuk jalan-jalan ke beberapa tempat yang menarik. Aku yakin kau akan menyukainya," sahut Fransisco dengan raut wajah senang. Sementara itu Aphrodite di sampingnya tampak tidak tertarik sama sekali dengan perjalanan mereka. Aphrodite sibuk menatap ke luar jendela, menatap mobil lain yang berlalu-lalang di sekitar mobil mereka.
Untuk sejenak hening menyelimuti kebersamaan mereka. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka masing-masing sepanjang perjalanan, sampai kemudian Fransisco berusaha mencari ide agar atmosfer beku yang tengah menyelimuti kebersamaan mereka itu sedikit mencair.
"Ng… omong-omong apa yang sebenarnya terjadi denganmu?" Tanya Fransisco yang sedikit melirik pada Aphrodite di sampingnya.
"Aku tidak kenapa-kenapa. Kenapa kau bertanya seperti itu?" Aphrodite menanggapi dengan malas, suaranya pelan. Ia bahkan berbicara tanpa melirik sedikit pun.
"Maksudku, kenapa kau tidak masuk bekerja selama beberapa hari? Apakah kau sedang memiliki masalah?"
"Tidak," ujarnya cepat.
"Tadi saat aku tanya apakah kau sakit, kau bilang tidak. Lalu sekarang saat aku tanya kau memiliki masalah, kau juga bilang tidak. Lalu kenapa kau bersikap aneh seperti ini? Tidak seperti biasanya. Kau seakan kehilangan dirimu yang dulu."
"Jangan berbicara seolah kau itu tahu semuanya tentangku. Kita saja bahkan tidak terlalu dekat."
"Tentu saja aku tahu semuanya tentangmu. Aku juga tahu bagaimana sikapmu, ya walaupun kita tidak terlalu dekat dan kita jarang bertemu tapi aku tahu semuanya tentangmu."
__ADS_1
"Jangan bercanda, aku sedang tidak mood," gumam Aphrodite.
"Aku tidak bercanda."
"Memangnya kau mengenalku seperti apa dulu?"
"Aphrodite yang aku kenal adalah orang yang sangat ramah, baik hati, pekerja keras, dan… ya, sedikit keras kepala. Tidak! Maksudku, teguh pada pendiriannya. Sama halnya seperti setiap kali aku berusaha mengejar cintamu, setiap kali itu juga kau bersikeras menolakku," tutur Fransisco. Aphrodite terdiam sejenak. Ia lantas melirik pada Fransisco di sana.
"Kau tahu? Hanya karena aku menerima ikut untuk jalan-jalan bersamamu bukan berarti aku akan menerimamu, dan bukan berarti aku akan menerima syarat yang di ajukan oleh papamu agar aku mau menikah denganmu."
"Okay… aku tahu aku akan kalah jika sudah berdebat mengenai hal ini denganmu," Fransisco mengalah.
"Tapi bagaimanapun, aku akan tetap berusaha untuk melunasi semua utang-utang keluargaku dan akan aku pastikan pernikahan kita ini batal!"
Fransisco terdiam seketika di sana. Tampaknya Aphrodite masih terus menutup hati untuk dirinya.
...*...
"Tentu saja untuk menaikkan mood-mu!" Sahut Fransisco yang kemudian beralih pandang pada Aphrodite di sampingnya.
"Lebih baik kita pulang, aku sedang tidak ingin berada di tempat yang ramai!" Aphrodite bersiap untuk pergi, tapi dengan cepat Fransisco menahannya. Fransisco mencengkeram pergelangan tangan Aphrodite erat, membuat langkah kaki wanita itu seketika berhenti.
"Kita sudah sampai di sini, tidak mungkin kita pergi begitu saja sebelum kita bersenang-senang."
"Aku sedang tidak ingin berada di tempat yang ramai Frans! Lagipula apa senangnya berada di sini?"
"Orang bilang berbelanja akan membuat hati seseorang jadi lebih baik. Apalagi seorang wanita sepertimu. Biasanya mereka menghabiskan waktu untuk berbelanja ketika mereka bosan atau sedih. Karena sebagian besar dari mereka beranggapan jika melihat barang-barang baru bisa membuat mood mereka meningkat. Maka dari itu, ayo pergi!" Fransisco menarik tangan Aphrodite menghampiri pintu masuk di sana.
"Aku tidak mau Frans! Aku ingin pulang!" Aphrodite terseret di belakangnya.
__ADS_1
"Diamlah! Dan ikut saja!" Fransisco tak menggubris rengekan wanita itu yang terus bersikeras ingin pulang.
Tiba di dalam sana, Fransisco membawa Aphrodite menuju sebuah tempat yang sering menjadi pelampiasan kala sedih.
Di depan sebuah bangunan indah dengan pintu dan jendela kaca, mereka berdiri. Di luar sana, Aphrodite dapat melihat beberapa orang pegawai yang tengah melayani pelanggan di sana.
"Untuk apa kita di sini?" Aphrodite benar-benar bingung untuk apa Fransisco membawanya ke toko ini pertama kali.
"Tentu saja untuk membuat mood-mu lebih baik. Sebelum berbelanja, cokelat adalah hal ampuh yang mampu membuat bad mood-mu hilang. Jadi kita beli cokelat, ayo!" Fransisco menariknya masuk ke dalam sana.
TRING!
Lonceng itu berbunyi setiap kali ada pelanggan yang datang dan pergi.
Saat tiba di dalam, seketika hidung mereka dapat mencium aroma cokelat yang begitu melekat. Menusuk masuk menuju hidung mereka. Rasanya benar-benar harum.
"Lihat? Belum juga kita memakannya, aku saja sudah merasa lebih baik hanya dengan mencium aromanya," ucap Fransisco. Aphrodite hanya diam tak merespon, entah mengapa hati kecilnya membenarkan ucapan pria itu.
"Ayo lihat-lihat dan cari mana yang kau suka!" Fransisco membawa Aphrodite menghampiri etalase kaca di sana. Di dalamnya, mereka dapat melihat berbagai jenis cokelat dengan berbagai bentuk. Mulai dari yang sederhana hingga yang paling unik bentuknya, mulai dari yang polos hingga bertoping, serta dari yang cokelat biasa sampai dengan berbagai paduan rasa. Semuanya ada di sana, berjejer rapi dengan berbagai harga.
"Kau ingin yang mana?" Tanya Fransisco begitu mereka tiba di depan etalase kaca di sana. Ia menatap Aphrodite sekilas sebelum kemudian menatap ke arah cokelat-cokelat yang berjejer di dalamnya, semuanya memiliki bentuk yang berbeda-beda dan unik.
Aphrodite terdiam untuk sesaat. Ia melihat ke arah etalase dan dapat melihat berbagai jenis cokelat dengan bentuk yang unik.
"Ayo pilih," ucap Fransisco padanya.
Perlahan Aphrodite menghampiri etalase kaca itu, ia berdiri di sana dan mulai melihat-lihat dari yang paling ujung hingga yang berada di hadapan mereka.
"Bagaimana dengan yang itu?" Fransisco menunjuk ke arah satu cokelat.
__ADS_1
...***...