
...***...
Aphrodite melangkah menghampiri Fransisco yang sejak tadi menunggunya di mobil. Di tangannya ia membawa dua kantong plastik yang masing-masing memiliki isi yang berbeda, yang satu adalah isi kantong dari buah-buahan yang di berikan oleh si nenek yang di tolong olehnya sedangkan satu lagi adalah kantong berisi kue yang telah di belinya.
"Kau membeli berapa banyak kue?" Tanya Fransisco yang kemudian keluar dari dalam mobil dan memperhatikan kedua kantong yang di bawa oleh Aphrodite.
"Aku hanya membeli satu kue untuk kita berdua. Lagipula satu saja juga cukup 'kan?"
"Iya. Lalu, satu kantong lagi itu apa?"
"Ini?" Aphrodite mengangkat kantong berisi buah-buahan di tangannya.
"Iya."
"Ini adalah buah-buahan segar."
"Kau memberi buah-buahan, lagi? Memangnya yang kita beli di supermarket tadi tidak cukup?" Fransisco menaikkan sebelah alisnya bingung dengan Aphrodite kenapa dia tiba-tiba kembali dengan dua kantong dengan isi yang berbeda, yang membuatnya heran adalah kenapa istrinya itu malah membeli buah-buahan baru padahal mereka baru saja membeli buah-buahan di supermarket saat mereka membeli bahan-bahan untuk memasak.
"Aku tidak membelinya. Ini adalah buah pemberian dari nenek tua yang berjualan di pertigaan di samping toko kue yang aku kunjungi. Tadi saat aku sedang berjalan secara tidak sengaja aku melihat dia sedang kesusahan memunguti semua apel miliknya yang berjatuhan di trotoar. Maka dari itu aku membantunya, dan sebagai tanda terima kasih. Nenek itu memberikan buah-buahan yang di jualnya padaku." Jelas Aphrodite panjang lebar.
"Jadi begitu… aku kira kau membelinya."
"Bukan."
"Ya, sudah. Sekarang apakah ada hal lain yang kau ingin beli?"
"Tidak ada. Sekarang kita pulang dan kita beristirahat, aku sudah sangat lelah dan ingin segera istirahat. Setelah itu mempersiapkan diri untuk memasak makan malam."
"Baiklah, aku juga sudah lelah." Fransisco membukakan pintu mobil belakangnya dan menaruh semua barang belanjaan yang di bawa Aphrodite ke dalam sana, setelah itu ia dan Aphrodite duduk di kursi depan dan mulai melaju pergi meninggalkan tempat mereka berada saat ini. Pulang kembali ke apartemen mereka untuk beristirahat dulu setelah itu baru mempersiapkan diri untuk memasak.
...*...
Aphrodite melangkah keluar dari dalam gedung kantornya, berjalan secara perlahan menuju tempat ia janjian untuk bertemu dan makan siang bersama dengan Fransisco di restoran depan kantornya. Langkah Aphrodite terhenti begitu ia mendapati ponselnya berdering di dalam tasnya, bergegas ia mengeluarkan benda pipih berbentuk persegi panjang itu. Layar ponselnya menyala, menampakkan panggilan telpon dari Jenia sahabatnya yang selama beberapa bulan ini sangat sulit untuk ia hubungi.
Aphrodite mengulum senyum begitu mendapati nama wanita itu tertera di sana. Segera ia mengangkatnya lalu menempelkan ponselnya tepat di telinga kirinya.
"Halo, Jenia!!" Aphrodite kegirangan ketika sahabatnya itu akhirnya menghubunginya.
"Aphrodite!! Sahabatku!!" Jenia tak kalah heboh di seberang sana.
"Akhirnya kau menelpon ku juga. Kau begitu sulit aku hubungi semenjak aku menikah, kau kemana saja? Kau sudah melupakan aku, ya?!"
"Haha, bukan begitu. Hanya saja akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan banyak projects jadi aku tidak bisa menghubungi mu. Setiap hari aku memiliki setumpuk pekerjaan di mejaku yang harus aku kerjakan. Apalagi sekarang kau tidak ada," ujar Jenia.
"Begitu rupanya. Pantas saja kau tidak menghubungi ku, omong-omong ada apa kau menelpon ku?"
"Aku ingin mengajakmu bertemu, apakah kau memiliki waktu?"
"Bertemu? Kapan?"
"Sekarang, bagaimana? Waktuku tidak terlalu banyak, jadi aku hanya bisa bertemu denganmu sekarang. Tidak akan lama, hanya sebentar."
"Tapi, aku memiliki janji untuk makan siang bersama dengan Frans."
"Oh, ayolah… hanya sebentar saja."
"Baiklah, aku akan menghubungi Frans untuk tidak makan siang bersama dengannya."
"Oke. Kalau begitu aku akan mengirimkan kau lokasinya. Kau segera kemari, oke?"
"Oke, aku akan segera ke sana."
"Aku tunggu."
"Iya," sahut Aphrodite yang lantas memutuskan sambungan telponnya sepihak. Tidak lama pesan masuk dari Jenia yang mengirimkan lokasi tempat ia ingin bertemu dengan dirinya. Aphrodite bergegas menghubungi Fransisco, mengabari kalau ia harus pergi dan bertemu dengan Jenia serta terpaksa harus membatalkan makan siang bersama dengannya.
Sejurus kemudian Aphrodite bergegas mencari taksi untuk mengantarkannya menuju tempat dimana Jenia telah menunggunya. Beruntung lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat bekerjanya. Hanya beberapa blok saja dari jalan tempatnya bekerja.
...*...
Aphrodite meminta sang supir menghentikan laju taksinya. Bergegas ia melangkah keluar setelah membayar ongkos taksi dengan beberapa uang seratus lembaran.
Aphrodite berjalan menuju bangunan di hadapannya, sebuah perbelanjaan yang cukup besar. Jenia telah menunggunya di salah satu kafe yang ada di dalam sana.
"Di lantai dua," gumamnya seraya membaca pesan yang baru saja masuk yang di kirimkan oleh Jenia pada dirinya.
Aphrodite berjalan menaiki eskalator begitu ia tiba di dalam, berjalan sebentar mencari keberadaan kafe yang di tempati Jenia.
__ADS_1
Saat sedang mencari kafe tersebut, secara tidak sengaja Aphrodite menabrak seorang perempuan yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya. Beberapa barang belanjaan yang di bawa perempuan itu sampai berjatuhan di lantai.
"Oh astaga, maafkan aku. Aku tidak sengaja," ujar Aphrodite bergegas berjongkok membantunya memunguti semua barang-barang nya yang terjatuh di lantai.
"Tidak apa-apa, aku yang salah karena tidak terlalu memperhatikan jalanan di hadapanku," tutur wanita itu seraya memunguti semua barang-barangnya. Tapi mendengar suaranya membuat Aphrodite tertegun dan menatapnya lekat, suaranya terdengar familiar di telinganya. Begitu ia mendongak keduanya terkejut satu sama lain.
"Kau?" Aphrodite terkejut melihat perempuan yang baru saja di tabrak nya ternyata adalah perempuan yang sama yang kemarin ia temui saat hendak membeli kue. Ia adalah wanita yang membatu si nenek tua untuk memunguti semua apelnya yang berjatuhan di jalan, dan Aphrodite membantu mereka berdua.
"Wah, tidak aku sangka kita akan bertemu lagi," kata perempuan itu seraya tersenyum. Keduanya beranjak bangun.
"Oh, ya. Ini, maaf karena sudah menabrak mu." Aphrodite menyodorkan semua barang-barang milik perempuan itu padanya.
"Aku yang salah," jawabnya terkekeh pelan.
"Kebetulan sekali kita bisa bertemu lagi."
"Ya, benar. Omong-omong terima kasih telah membantuku."
"Bukan masalah."
"Oh, kalau kau ada waktu aku ingin membalas kebaikanmu." Ia menyodorkan secarik kertas kecil.
"Tidak perlu."
"Ayolah. Aku akan mentraktir mu makanan yang enak, berkunjunglah ke restoran tempatku kerja lain kali. Kalau kau datang, aku akan mentraktir mu makan dan kau boleh mengajak seorang teman." Ia menatap penuh harap ke arah Aphrodite.
"Ng… baiklah, akan aku hargai kebaikanmu." Aphrodite meraih kertas tersebut dan memandanginya. "Kapan-kapan aku akan berkunjung."
"Oke, aku tunggu. Omong-omong kita belum saling kenal, namaku Laura." Wanita itu menyodorkan tangannya ke arah Aphrodite.
"Aphrodite," sahutnya seraya menjabat tangan Laura.
"Senang bisa berkenalan denganmu, lain kali semoga kita bisa bertemu lagi."
"Ya. Kalau begitu… aku harus pergi sekarang, aku memiliki urusan di sekitar sini. Aku sedang buru-buru."
"Baiklah, aku juga harus pergi."
"Sampai jumpa lagi."
"Ya."
...*...
"Apa? Pindah keluar kota?" Aphrodite tersentak kaget begitu mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari mulut sahabatnya itu. Jenia menganggukkan kepalanya perlahan.
"Ya, aku di pindahkan ke luar kota karena pekerjaanku lebih di butuhkan di sana."
"Itu berarti kita tidak akan bisa bertemu lagi?"
"Begitulah. Makannya aku kemari untuk memberitahu semuanya padaku sekaligus aku ingin pamitan dan memberikan ini dengan hadiah perpisahan kita." Jenia menyodorkan sebuah kotak ke arah Aphrodite. Aphrodite membukanya dan mendapati sebuah gelang cantik di dalamnya. "Mungkin ini tidak akan cukup untuk menggantikan kepergian ku yang secara tiba-tiba ini dan karena beberapa waktu lalu aku tidak bisa di hubungi, tapi aku harap ini bisa menjadi pertanda bahwa walaupun kita berjauhan kita akan tetap menjadi sahabat."
"Jen…" Aphrodite memandangi sahabatnya itu berkaca-kaca. Jenia merentangkan kedua tangannya lantas memeluknya erat.
"Jangan tinggal lama-lama di sana. Karena aku pasti akan sangat merindukan mu."
"Iya. Kau juga, aku harap keadaan mu baik-baik saja selama kau ada di sini."
"Jaga dirimu."
"Kau juga."
Jenia melerai pelukannya, beradu pandang dengan Aphrodite dalam waktu yang cukup lama.
...*...
"Baiklah kita berpisah di sini," kata Jenia begitu mereka keluar dari dalam pusat perbelanjaan itu dan berdiri di trotoar hendak pulang kembali ke kantornya untuk mengemasi semua barang-barang di mejanya sebelum ia berangkat.
"Ya."
"Kalau begitu sampai jumpa."
"Sampai jumpa. Jangan lupa untuk sering-sering mengabari ku kalau kau senggang."
"Iya."
Aphrodite dan Jenia berpisah. Keduanya beranjak pergi dari sana menggunakan taksi kosong yang melintas di sekitar mereka. Keduanya melaju menuju arah yang berbeda satu sama lain.
__ADS_1
...*...
"Jadi Jenia di pindah tugaskan keluar kota?" Fransisco memperjelas cerita istrinya itu.
"Iya, dan sepertinya aku tidak akan bisa sering bertemu dengan-nya." Aphrodite menundukkan kepalanya.
"Kau jangan sedih, seharusnya kau senang karena kalau dia sudah di pindah tugaskan itu artinya kerjanya bagus dan ia di percaya untuk mengurus cabang lain di luar kota." Fransisco berusaha menghiburnya.
"Aku senang, hanya tetap saja aku akan merindukannya. Apalagi setelah aku menikah kita belum sempat menghabiskan waktu bersama lagi karena dia terlalu banyak menghabiskan waktunya dengan bekerja."
"Kau 'kan bisa bertemu dengannya lagi saat dia kembali." Fransisco mengusap pelan pundak Aphrodite, menatapnya seraya tersenyum.
Saat ini mereka tengah berada di ruang makan. Menikmati waktu makan malam bersama setelah menghabiskan banyak waktu dengan urusan kantor dan segala pekerjaan lainnya.
Selesai makan malam, mereka memutuskan untuk menonton televisi sebentar sebelum akhirnya mereka beristirahat guna memulihkan seluruh energi mereka sebelum kembali bekerja besok pagi.
...*...
Hari berganti. Setelah beberapa Minggu bekerja di perusahaan J Company, Aphrodite semakin berkembang dan berhasil membuat atasannya bangga dengan hasil bekerjanya yang cekatan.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, Aphrodite saat ini tengah di sibukkan dengan semua pekerjaan yang ia dapat di kantornya. Duduk dengan tenang di depan layar komputer nya yang kini menyala menampakkan seluruh pekerjaannya.
Keadaan tidak setenang hari-hari sebelumnya karena kali ini ruang kerjanya di dominasi oleh suara ketikan keyboard yang saling bersahut-sahutan di sepanjang mereka masuk jam kerja.
...*...
Jordan melangkah keluar dari dalam mobilnya, melenggang memasuki gedung kantornya dan segera bergerak menuju arah lift untuk bisa tiba di lantai tempat ruang kerjanya berada.
Tiba di lantai dimana ruangannya berada, ia segera berjalan keluar dari dalam lift dan menemui sekertaris nya di depan ruang kerjanya. Wanita itu tengah sibuk membenahi meja kerjanya, namun atensinya dalam sekejap beralih pada kedatangannya yang tiba di sana.
"Selamat pagi pak," sapa nya begitu Jordan tiba di hadapannya.
"Pagi."
"Oh ya, pak. Sekedar mengingatkan. Bapak tidak lupa dengan kegiatan hari ini 'kan, kalau kita harus mengecek keadaan di lapangan dan memastikan semuanya siap?"
"Untung kau mengingat saya. Saya benar-benar lupa dengan itu."
"Sudah menjadi tugas saja untuk mengingatkan segala kegiatan bapak."
"Jam berapa kita harus berangkat?"
"Sekitar jam sembilan, pak."
"Jam sembilan, ya…" Jordan mengulang ia tampak mengingat-ingat apa saja yang harus ia persiapan sebelum pergi dan mengecek keadaan. "Baiklah, kalau begitu persiapan semuanya secepatnya setelah itu kita berangkat."
"Baik pak."
"Oh, dan aku ingin minta divisi utama yang mengurusi semua ini untuk mengirimkan salah satu perwakilan nya."
"Baik pak."
"Tapi, aku ingin mereka mengirimkan satu pegawai baru yang kinerjanya paling cekatan sebagai satu perwakilan dari divisi mereka. Dengan begitu pegawai baru juga bisa belajar lebih banyak mengenai projects yang tengah kita kerjakan ini."
"Baiklah pak. Kalau begitu akan segera saya minta mereka untuk mempersiapkan perwakilannya."
"Selain itu jangan lupakan hal-hal penting lainnya."
"Siap pak."
Jordan melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya hendak mempersiapkan diri sebelum pergi bersama dengan yang lain lainnya.
...*...
"Aphrodite, kau bisa menemani saya untuk mewakili divisi ini 'kan?" Ujar Mario padanya. Saat ini pria itu tengah berada di dalam ruang kerjanya bersama dengan Aphrodite yang kini terduduk di hadapannya. Aphrodite segara datang begitu ia mendapatkan panggilan dari pria yang menjadi atasan di divisinya itu.
"Saya pak? Bisa. Tapi kenapa harus saya pak?" Tanya Aphrodite dengan raut wajah bingung.
"Karena saya di minta menunjuk satu pegawai baru untuk menemani saya dalam kegiatan hari ini agar pegawai baru bisa belajar lebih banyak mengenai projects yang tengah kita kerjakan saat ini."
"Begitu rupanya, tapi kenapa bapak memilih saya? Bukankah di divisi kita pegawai baru bukan hanya saya saja?"
"Itu karena di antara semua pegawai baru, kau adalah orang yang paling cekatan dalam bekerja dan kinerja mu yang paling bagus. Maka dari itu saya memilih mu untuk menemani saya hari ini mewakili divisi kita. Kau bersedia 'kan?" Mario memastikan.
"Bisa pak."
"Baiklah kalau begitu kau bisa kembali dan mempersiapkan diri sebelum pergi. Setelah selesai segera kemari dan kita pergi bersama menemui pak kepala di bawah."
__ADS_1
"Baik pak. Kalau begitu saya permisi," Ujarnya.
...***...