Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
In the same room


__ADS_3

...***...


"Huft~" Fransisco menghela napas. Ia baru saja menutup pintu kamarnya rapat dan perlahan ia berbalik menghadap ke arah Aphrodite yang kini berdiri seraya memandangi sekeliling kamarnya. "Baiklah lebih baik sekarang kita istirahat," ujarnya yang membuat Aphrodite tersentak dan spontan menoleh ke arahnya dengan raut wajah terkejut.


"Kau kenapa?" Tanya Fransisco bingung.


"A-ah itu… t-tidak. Aku tidak apa-apa," ujarnya terbata. "Astaga aku hampir lupa kalau sekarang aku sudah menikah dengannya. Rasanya amat canggung harus berada dalam satu ruangan sepi seperti ini bersama Frans," innernya.


"Aphrodite? Kau melamun?" Fransisco menepuk pelan pundak Aphrodite, membuat wanita itu seketika tersadar dari lamunannya.


"A-ah, tidak."


"Kalau begitu, istirahatlah."


"A-aku mau… membereskan pakaian kita ke dalam lemari dulu, baru setelah itu istirahat." Aphrodite berbalik siap untuk melangkah, tapi Fransisco lebih dulu menghentikan langkahnya.


"Kau lelah, dan kau butuh istirahat. Biarkan saja pakaiannya di dalam koper untuk sekarang. Aku bisa meminta Bertha untuk membereskannya nanti."


"T-tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri," gumam Aphrodite bersikeras. Wajahnya mulai tampak gelisah dan keringat dingin mulai mengucur di keningnya. "Oh ayolah biarkan aku menyibukkan diri membereskan pakaian saja! Aku benar-benar merasa canggung dengan situasi ini." Aphrodite membatin.


Tanpa aba-aba lebih dulu, secara tiba-tiba Fransisco menggendong tubuhnya. Membuatnya terkejut dengan apa yang tengah dilakukan olehnya.


"A-apa yang kau lakukan? Turunkan aku," ujar Aphrodite. Fransisco tak mengindahkan ucapannya. Pria itu menggendongnya menghampiri ranjang di sana kemudian merebahkan tubuh Aphrodite di atas ranjang tersebut.


Fransisco terdiam sejenak saat kedua wajah mereka berada dalam posisi yang amat berdekatan. Pria itu terpaku di tempatnya, menatap Aphrodite lekat dari jarak yang sangat dekat. Hidung mereka bahkan nyaris bersentuhan.


Aphrodite tertegun. Diam tanpa bisa berkata-kata, kedua manik matanya beradu pandang dengan Fransisco dalam jarak yang sangat amat dekat.


"Aku memintamu untuk beristirahat. Kau itu lelah, dan kau butuh istirahat. Aku tidak ingin sampai kau sakit," tutur Fransisco.


GLUP!

__ADS_1


Aphrodite menelan saliva-nya susah payah. Sialnya ia tidak bisa mengelak lagi, ia kehabisan akal untuk menghindari Fransisco yang membuat suasana terasa canggung baginya.


"A-aku mengerti," tuturnya terbata.


"Kalau begitu istirahatlah."


"O-oke… tapi bisakah kau menjauh? A-aku harus ganti baju lebih dulu," ujar Aphrodite berusaha untuk bebas.


Fransisco menjauhkan tubuhnya dari Aphrodite yang kini bangun dari pembaringannya lantas turun dari sana untuk berganti pakaian.


Aphrodite melangkah tanpa mengucapkan sepatah kata pun, melenggang menghampiri koper miliknya di sana. Membuka koper tersebut dan mencari pakaian untuk di kenakan olehnya.


"A-aku akan ganti baju dulu setelah itu istirahat," ujar Aphrodite pada Francisco.


"Baiklah. Sementara kau ganti baju, aku ingin mencari udara segar dulu." Fransisco beranjak bangun dari tempatnya berada saat ini. Melangkah menghampiri pintu keluar dan pergi meninggalkan Aphrodite seorang diri di dalam sana.


"Huft~" Aphrodite menghela napasnya lega saat Fransisco pergi meninggalkan nya seorang diri di dalam sana.


"Rasanya benar-benar canggung. Aku masih belum bisa membiasakan diri dengan keadaan seperti ini," gumamnya.


...*...


"Aku harap kau mengerti bahwa ini bukanlah hal yang mudah untuk Aphrodite. Dia mengalami trauma akibat kejadian yang ia alami saat di tinggalkan oleh Vier, dulu. Jadi setiap kali ia melihat acara seperti saat ini, selalu membuatnya teringat akan kejadian saat itu. Maka dari itu, mengertilah. Karena ini bukanlah hal yang mudah baginya."


"A-ah… begitu ya." Fransisco menundukkan kepalanya. Ia mengerti sekarang, alasan mengapa Aphrodite menangis.


Kejadian itu terlintas di benaknya. Kalimat dari Jenia kembali terngiang ditelinganya, membuat Fransisco sadar akan sesuatu.


"Tampaknya aku terlalu terburu-buru," gumam Fransisco saat ia teringat kalimat yang terlontar dari mulut Jenia. Ia menundukkan kepalanya.


Saat ini dirinya tengah berada di teras samping. Menikmati pemandangan taman yang indah dengan berdiri sembari bersandar pada tembok.

__ADS_1


"Aku tahu, Aphrodite sekarang sudah menjadi milikku. Tapi masih belum sepenuhnya. Dia masih terluka karena apa yang baru saja di alaminya, di tambah lagi dia masih belum bisa menerima sepenuhnya pernikahan kita," inner-nya.


"Tampaknya memang benar apa yang di ucapkan oleh Jenia kemarin bahwa aku harus bisa mengerti akan keadaannya dan bersabar menunggunya hingga mau membuka hatinya untukku sepenuhnya," gumamnya lagi. Memonolog dengan dirinya sendiri.


"Aku akan berusaha bersabar dan terus berusaha membuat Aphrodite luluh dan mau menerima ku sepenuhnya. Dan untuk itu… aku akan berusaha keras," tuturnya lagi dengan suara yang sangat amat pelan.


Fokus Fransisco beralih pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir setengah jam dirinya berada di sana, berusaha untuk menjernihkan pikiran nya.


"Apakah Aphrodite sudah selesai berganti pakaian? Sedang apa dia sekarang? Apakah dia sedang istirahat?"


"Lebih baik aku cek untuk memastikannya." Fransisco beranjak pergi dari sana. Melangkah menghampiri pintu masuk.


Tiba di dalam, ia segera berjalan menaiki tangga menuju lantai dua agar bisa tiba di kamarnya.


TOK! TOK! TOK!


Fransisco mengetuk pintu kamar itu pelan. "Aphrodite? Apakah kau sudah selesai?" Panggil Fransisco sedikit berteriak agar orang di balik pintu itu bisa mendengar nya. Tapi untuk sesaat hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari balik pintu di hadapannya.


"Aphrodite?" Panggil Fransisco sekali lagi. Namun lagi-lagi masih tidak ada jawaban dari balik pintu kamarnya itu.


"Apakah dia sudah istirahat? Atau dia sedang mandi?" Fransisco memonolog.


"Aphrodite, aku masuk ya?" Ujarnya. Perlahan tangan Fransisco meraih kenop pintu itu dan mendorongnya secara perlahan ke arah dalam. Hal pertama yang di lihatnya di dalam sana adalah Aphrodite yang kini tengah terbaring di atas ranjang dalam keadaan tertidur pulas.


"Huft~ pantas saja dia tidak menjawab," gumamnya. Fransisco berjalan memasuki kamarnya. Menutup pintu kamarnya, lantas menghampiri Aphrodite yang kini berada dalam kondisi terpejam.


Fransisco duduk di tepi ranjangnya seraya menatap Aphrodite lekat. Wanita itu begitu tenang dalam keadaan seperti saat ini.


"Tampaknya kau sangat kelelahan," tuturnya seraya tersenyum simpul. Tangannya secara perlahan terulur ke arah Aphrodite, mengusap pelan pipi mulusnya.


"Kau ternyata lebih cantik saat tertidur seperti saat ini," batinnya. Kedua matanya masih menatap Aphrodite lekat.

__ADS_1


"Aku akan bersabar hingga kau benar-benar mau menerima ku sepenuhnya sebagai suamimu, dan aku akan berusaha untuk membuat hatimu luluh," Francisco membatin.


...***...


__ADS_2