
...***...
BLAM!
Pintu kamarnya ia tutup asal. Wanita itu kemudian beranjak menghampiri kamar tidurnya disana. Ia lantas menaruh tas miliknya di atas meja riasnya lalu menghampiri ranjang tidur di sana dan menjatuhkan tubuhnya di kasur.
Rasa lelah menggelayut di tubuhnya, beberapa bagian tubuhnya terasa pegal akibat terlalu lama menghabiskan waktu untuk duduk di hadapan meja komputer di kantornya.
Jenia yang baru saja tiba kemudian mengubah posisinya yang semula tengkurap menjadi terlentang. Matanya menerawang jauh ke arah langit-langit kamarnya yang kini baru saja ia nyalakan lampunya.
"Huft~" ia menghela napas panjang. Ia benar-benar lelah dan rasanya sangat malas untuk ia mengganti pakaiannya sebelum istirahat.
"Tubuhku benar-benar berkeringat. Tapi aku malas untuk mandi," ia memonolog. "Aku benar-benar malas untuk mengganti pakaian," sambungnya.
DRRTTTT... DRRTTTT...
Tiba-tiba di dengarnya suara ponsel miliknya yang bergetar di dalam tasnya. Fokus Jenia sepontan beralih pada tasnya di atas meja rias.
"Siapa yang menelpon ya?" Jenia dengan malas beranjak dari ranjangnya. Terduduk untuk sesaat sebelum kemudian melangkah menghampiri tasnya untuk mengecek siapa yang saat ini tengah berusaha menghubungi dirinya. Tiba di sana Jenia kemudian duduk di kursi yang ada di meja riasnya. Mengubek-ubek isi tasnya, berusaha mencari benda pipih persegi panjang yang di carinya.
"Ini dia," gumamnya saat ia berhasil menemukan ponsel miliknya. Jenia memandangi ponselnya. Disana ia dapat melihat sederet huruf yang membentuk sebuah nama.
"Mamanya Aphrodite? Ada apa ya dia telpon?" Jenia kebingungan.
"Apakah ada hal penting yang ingin dia bicarakan? Atau jangan-jangan Aphrodite kenapa-kenapa?"
"Lebih baik aku angkat." Jenia menggeser tombol berwarna hijau di sana yang otomatis menghubungkan sambungan telponnya dengan sosok di seberang sana.
"Halo?" Sapanya begitu sambungan telponnya itu terhubung dengan orang di seberang sana.
...*...
"Benar, aku harus memanfaatkannya," Helen bergegas menyambar ponselnya dan berkutat sebentar dengan benda itu mencari nomor telpon yang dicarinya.
Setelah menemukan nomor telpon yang dicari olehnya, Helen bergegas melakukan panggilan telpon dengan sang pemilik nomor itu.
"Halo?" Suara wanita diseberang sana menyapanya ketika sambungan telponnya itu terhubung.
"Halo, Jen."
__ADS_1
"Lho? Tan, tumben telpon. Ada apa?"
"Langsung saja, Tante ingin meminta bantuan mu," Helen mengulum senyum.
"Bantuan apa Tan?" Jenia diseberang sana tampak penasaran.
"Sekarang juga kau datang saja kemari," ujar Helen.
"Jika boleh tahu, untuk apa tan?" Jenia di seberang sana tampak bingung.
"Ada sesuatu yang harus Tante bicarakan denganmu. Ini mengenai Aphrodite. Kau bisa kan?" Tanyanya.
"Aphrodite? Kenapa memangnya dia Tan? Aphrodite baik-baik saja kan?"
"Kau kemari saja, dan lihat sendiri."
"Baiklah kalau begitu. Saya ke sana sekarang juga Tan."
"Iya. Kalau begitu Tante tunggu ya."
"Iya."
"Sampai bertemu lagi," tutur Helen yang kemudian memutuskan sambungan telponnya secara sepihak. Helen mengulum senyum disana, begitu sambungan telponnya telah ia putus.
...*...
"Jadi… apa yang ingin Tante bicarakan? Apakah Aphrodite baik-baik saja?" Tanya Jenia setelah beberapa saat terdiam.
Ia saat ini tengah berada di rumah Aphrodite, duduk di ruang tamu. Duduk berhadapan dengan Helen di sana.
"Sebenarnya tidak terjadi apa-apa dengan Aph. Tapi ada satu hal yang ingin tante tanyakan padamu," ujar Helen yang berhasil membuat Jenia semakin bingung.
"Satu hal?" Beo-nya. Mengulang ucapan Helen.
"Iya," Helen menganggukkan kepalanya.
"Apa itu?"
"Tante hanya ingin tanya, apa sebenarnya yang terjadi dengan Aph? Kenapa Aph bersikap begitu akhir-akhir ini? Membuat Tante khawatir," tuturnya.
__ADS_1
"A-ah… soal itu," gumam Jenia.
"Karena kau sahabatnya kau tahu kan apa yang terjadi dengan Aph dan alasan kenapa dia bersikap aneh begitu?"
"Oh ya. Aku tahu."
"Sudah aku duga. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Aph begitu?" Helen menggeser posisi duduknya mendekat ke arah Jenia di sana. Ia benar-benar ingin tahu dengan jelas apa yang terjadi pada wanita yang menjadi anak tirinya itu.
"Entahlah, tampaknya aku tidak bisa menceritakan semuanya pada tante," Jenia tampak sungkan.
"Lho, kenapa?"
"Karena… aku tidak ingin jika aku menceritakan semuanya pada tante, bisa membuat Aphrodite marah padaku. Aku tidak ingin persahabatan kami rusak," tutur Jenia.
"Oh ayolah, Tante jamin semuanya akan baik-baik saja. Jika kau ceritakan semuanya pada tante, Tante janji akan tutup mulut."
"Tapi aku tetap tidak bisa Tante."
"Jenia, dengarkan Tante! Tante ingin tahu ini karena Tante ingin membuat Aph merasa lebih baik. Tante juga ingin berusaha menghiburnya. Maka dari itu Tante harus tahu lebih dulu duduk permasalahannya. Jadi kau ceritakan saja semuanya. Oke?"
"Ng… bagaimana ya…" Jenia terdiam untuk sesaat tampak ragu untuk menceritakan semuanya.
"Ayo. Ceritakan saja, Tante janji akan tutup mulut. Cerita ya?" Helen terus mendesak.
"Huft~" Jenia menghela napasnya panjang.
"Baiklah, jadi sebenarnya…" Jenia akhirnya mengalah. Ia lantas menceritakan semuanya pada Helen, mulai dari kejadian yang di alami oleh Aphrodite saat menghadiri acara pernikahan, kemudian berlanjut hingga ia di minta Aphrodite untuk datang dan menemaninya dan sampai kenapa wanita yang menjadi sahabatnya itu bisa bersikap aneh seperti saat ini. Tidak masuk kerja selama hampir tiga hari dan tidak makan atau bersosialisasi dengan benar layaknya manusia normal pada umumnya. Sebenarnya ini adalah hal biasa yang di alami oleh beberapa orang yang putus cinta dengan orang yang sangat di sukainya.
Sementara Jenia menjelaskan semuanya, Helen di sana menyimak. Ia mendengarkan semuanya dengan sungguh-sungguh. Begitu ia tahu apa yang di alami oleh Aphrodite, seketika membuat dirinya senang karena dengan adanya kejadian ini, maka semakin lebar pintunya menuju pelunas hutang yang sesungguhnya.
"Begitu ceritanya Tante," tutur Jenia mengakhiri ceritanya.
"Ooh…" Helen menganggukkan kepalanya menyimak penjelasan dari Jenia mengenai apa yang terjadi terhadap Aphrodite.
"Iya. Maka dari itu Aphrodite bersikap seperti ini. Aku harap Tante mengerti karena ini tidak mudah baginya, dan aku harap Tante mau memberikan dia ruang untuk menyendiri dan menjernihkan pikirannya," tutur Jenia
"Iya. Tante mengerti," kata Helen. Ia lantas terdiam untuk sesaat di sibukkan dengan pikirannya. "Ini adalah peluang yang bagus agar aku bisa memaksa Aph untuk menikah dengan Frans. Dengan begitu, aku bisa lepas dari utang-utang yang terus menghantuiku ini," batinnya.
"Tante?" Jenia memanggilnya. Membuat Helen seketika tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"A-ah ya?" Helen gelagapan menatapnya.
...***...