Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
False promises


__ADS_3

...***...


Perlahan pria itu menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah minimalis yang di tujunya. Tiba di depan sana, sudah ada seorang wanita dewasa yang tengah berdiri di ambang pintu masuk. Fokus wanita itu seketika beralih saat dirinya tiba di sana.


Bergegas ia menghampiri pintu gerbang untuk membukanya agar ia bisa masuk.


"Aphrodite nya dimana Tante?" Tanya Fransisco begitu ia keluar dari dalam mobil. Helen yang baru saja selesai menutup pintu gerbang itu lantas berjalan menghampiri Fransisco di sana.


"Saat ini dia sedang berada di kamarnya, sejak sarapan tadi dia tidak keluar sama sekali," Helen berbicara dengan suara yang di pelankan sedikit.


"Benarkah?"


"Iya. Ayo masuk," Helen berjalan memimpin di depan dengan Fransisco yang mengekor di belakangnya.


Tiba di dalam, Helen lantas mempersilahkan Fransisco untuk duduk.


"Sekarang kau tunggu dulu di sini, biar Tante yang coba panggil Aph untuk keluar dari kamarnya."


"Baik Tante."


Helen beranjak pergi, menghampiri kamar Aphrodite yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruang tamu itu berada.


TOK! TOK! TOK!


Di ketuknya tiga kali pintu di hadapannya. Untuk sesaat ia tidak dapat mendengar suara apapun dari balik sana.


"Aph?!" Panggilnya setelah terdiam sesaat. "Apakah kau bisa keluar sebentar? Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," teriaknya lagi tapi masih belum ada jawaban dari seberang sana.


"Aphrodite?!" Panggil Helen sekali lagi seraya mengetuk pintu itu lebih keras.


"Ya?" Akhirnya ada jawaban dari seberang sana, walaupun suaranya terdengar lesu tapi dapat di dengar oleh Helen yang kini berdiri di pintu kamarnya.


"Ada yang ingin berbicara denganmu. Kau bisa keluar sebentar?"


"Siapa?"


"Kau keluar saja. Nanti juga kau akan tahu," teriak Helen.


"Baiklah, tunggu sebentar," sahut Aphrodite akhirnya. Helen tersenyum simpul di sana, tampaknya rencana yang ia susun akan berjalan lancar.


"Kalau begitu cepat keluar dan temui dia di ruang tamu. Mama akan pergi ke dapur untuk buatkan dia minum."


"Hm," Aphrodite menjawab dengan gumaman.

__ADS_1


Detik berikutnya, Helen melangkah pergi dari sana. Ia menghampiri dapur untuk membuatkan air minum untuk Fransisco.


Sementara itu, selang beberapa menit kemudian Aphrodite akhirnya keluar dari dalam kamarnya dengan penampilan yang benar-benar berantakan. Rambutnya kacau, matanya yang sembab sekarang setidaknya tampak lebih baik, wajahnya di tekuk. Suntuk bukan main, dan pakaian yang di kenakan olehnya benar-benar berantakan.


Tiba di ruang tamu, Aphrodite terdiam seketika. Ia amat terkejut saat mendapati Fransisco yang kini terduduk di sofa ruang tamu di sana.


"Dite, hai!" Fransisco tersenyum menyapanya. Tangannya melambai ke arah Aphrodite yang baru saja tiba di ruang tamu.


"K-kau?" Aphrodite terdiam sesaat, ia berusaha untuk mencerna apa yang baru saja di lihatnya. "Sedang apa kau di sini?" Tanyanya kemudian.


"Aku kemari karena aku dengar kau tidak masuk kerja selama beberapa hari. Aku khawatir kau sakit, jadi aku datang untuk memastikan."


"Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat. Sekarang kau bisa pulang dan kembali bekerja, aku ingin kembali beristirahat," Aphrodite berbalik tapi dengan segera Fransisco menahannya.


"Tunggu!" Ucapnya seraya bangkit dan meraih pergelangan tangannya cepat.


"Lepaskan aku!" Aphrodite menepis tangannya cepat.


"Maaf," Fransisco melepaskan cengkeraman tangannya. "Karena kau tidak sakit dan kau tidak masuk kerja hari ini, bagaimana jika kau pergi keluar denganku?"


"Tidak! Aku tidak mau!"


"Kenapa?"


"Karena aku sedang tidak ingin! Lagipula apakah kau tidak bekerja?"


"Aku tidak mau! Sampai jumpa," Aphrodite sudah hampir berbalik sebelum Fransisco kembali menahannya.


"Ayolah Dite! Sekali ini saja," ucapnya menahan langkah Aphrodite.


Aphrodite menoleh ke arahnya dengan tatapan datar, jujur ia benar-benar malas untuk pergi kemana-mana.


"Aku tidak mau! Apakah kau tidak mengerti bahasa Indonesia?!" Aphrodite benar-benar kesal, ia menekan awal kalimatnya.


"Dite! Aku mohon, berikan aku satu kesempatan untuk bisa… setidaknya pergi jalan-jalan bersama denganmu. Berdua."


"Tapi aku tidak mau! Kenapa kau begitu memaksa?!"


"Aku hanya ingin kau memberikan aku satu kesempatan."


"Sudah aku bilang aku tidak mau!"


"Dite. Kali ini saja, aku benar-benar memohon. Atau… begini saja, jika kau mau jalan denganku hari ini, maka aku janji aku tidak akan mengganggumu lagi. Bagaimana?"

__ADS_1


Aphrodite terdiam seketika. Entah mengapa mendengar ucapan Fransisco barusan seakan memberikan dirinya jalan agar mereka bisa saling berjauhan satu sama lain. Dan Aphrodite tampak menimbang-nimbang di sana.


"Bagaimana? Kau mau?" Tanya Fransisco setelah lama menunggu. Aphrodite menundukkan kepalanya, ia masih diam berusaha untuk menimbang-nimbang sampai kemudian ia berkata…


"Baiklah, aku mau."


Raut wajah Fransisco seketika berubah senang. Sudah ia duga jika triknya akan bekerja.


"Terima kasih. Kalau begitu cepat kau siap-siap, dan kita jalan-jalan. Lagipula aku heran denganmu. Apakah kau tidak bosan terus-menerus berada di rumah? Apalagi kau kan tidak sakit?"


"Sudahlah aku tidak ingin membahas itu untuk sekarang! Aku mau ganti baju!" Aphrodite beranjak pergi dari sana, dan saat dirinya melangkah menuju kamarnya ia berpapasan dengan Helen yang membawa nampan berisi air teh manis di tangannya.


Helen tak menegur Aphrodite sama sekali dan memutuskan untuk menyimpan semua tanyanya untuk sementara sampai ia tiba di ruang tamu.


Di ruang tamu rumahnya, Helen segera di pertemukan dengan Fransisco yang kini tampak sumringah. Pria itu berdiri seraya senyum-senyum sendiri di sana.


Helen menaruh nampan di tangannya ke atas meja. Di tatapnya Fransisco di sana dengan raut wajah penasaran.


"Bagaimana? Apakah kau berhasil?" Tanya Helen sedikit berbisik.


"Iya Tante. Aku berhasil membujuknya, Aphrodite mau aku ajak keluar," sahut Fransisco seraya tersenyum.


"Benarkah?"


"Iya."


"Memangnya cara apa yang kau gunakan?"


"Aku berjanji padanya jika aku tidak akan mengganggunya lagi kalau dia mau jalan-jalan denganku seharian ini."


"Benarkah? Dan dia langsung setuju?"


"Iya."


"Tapi kau tidak serius kan?"


"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku rela melepaskan Aphrodite begitu saja. Aku benar-benar mencintainya, dan hanya ingin menikah dengannya jadi tidak mungkin aku melepaskan Aphrodite begitu saja."


"Bagus! Tante akan mendukungmu seratus persen!"


"Haha, terima kasih Tante," Fransisco tersenyum.


Beberapa menit kemudian, Aphrodite lantas keluar dari dalam kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi. Ia tampak sedikit memoles wajahnya agar mata sembabnya tidak terlalu terlihat jelas oleh orang lain.

__ADS_1


"Ayo," ucapnya.


...***...


__ADS_2