
...***...
"Frans, kalau boleh hari ini aku ingin pergi ke mall untuk membeli beberapa pakaian yang aku butuhkan sebelum masuk kerja. Boleh 'kan?"
"Ada yang harus kau beli?"
"Iya."
"Baiklah, kalau begitu akan aku minta asistenku untuk menemanimu seharian ini agar dia membawakan semua barang-barang yang kau beli. Bagaimana? Biar kau tidak lelah juga membawa semuanya sendiri dan agar kau ada yang menjada serta membawakan mobil untukmu."
"Huh? Sepertinya biar aku pergi sendiri saja. Lagipula barangnya juga tidak terlalu banyak dan aku bisa sendiri. Aku akan pergi dengan taksi saja."
"Sudahlah, biar kau di antara saja. Ya? Dengan begitu aku tenang."
"Tapi, kau juga akan membutuhkan asisten mu 'kan? Jadi lebih baik aku pergi sendiri saja, tidak apa-apa. Setelah berbelanja aku akan membuatkan makan siang untukmu, bagaimana?"
"Tetap saja. Lebih baik kau pergi dengan di temani asistenku, dengan begitu kau bisa meminta bantuan padanya. Sekalian kau juga bisa berhemat ongkos taksi juga 'kan?"
"Benar juga apa yang kau bicarakan… tapi, tetap saja. Aku akan pergi sendiri kasihan aku tidak ingin membuang-buang waktunya. Lebih baik biarkan dia membantumu di kantor saja."
"Kau yakin ingin pergi sendiri?"
"Ya, sungguh. Jadi kau tidak usah meminta asisten mu untuk membantuku. Oke?"
"Baiklah kalau itu mau mu. Tapi kalau ada sesuatu di perjalanan nanti, jangan lupa untuk hubungi aku secepatnya."
"Oke."
"Baiklah kalau begitu aku berangkat bekerja dulu." Fransisco mendaratkan sebuah kecupan di kening Aphrodite.
"Ya, sampai jumpa saat jam makan siang nanti."
"Aku akan menunggu mu." Fransisco beranjak menghampiri mobilnya, masuk dan duduk di kursi pengemudi. "Aku berangkat."
"Hati-hati di jalan." Aphrodite tersenyum. Sejurus kemudian di lihatnya mobil yang di kendarai oleh Fransisco itu beranjak pergi dari tempat semula, melaju meninggalkan tempat Aphrodite berada saat ini dan meninggalkannya seorang diri yang tengah berdiri di depan halaman apartemen nya.
Sepeninggalan Fransisco, Aphrodite lantas beranjak masuk ke dalam rumahnya hendak melanjutkan pekerjaannya yang masih belum selesai.
...*...
Aphrodite meminta sang supir berhenti tepat di depan gedung mall yang menjadi tujuannya. Ia lantas turun setelah membayar ongkos taksinya, ia berjalan menghampiri pintu masuk. Melenggang bersama dengan beberapa orang lain yang juga hendak masuk ke dalam sana.
Tiba di dalam, Aphrodite segera mencari barang-barang yang ia butuhkan. Ia berjalan mengunjungi beberapa toko, lantas berkunjung ke toko lain ketika barang yang di butuhkan nya itu tidak ada di toko yang di kunjungi olehnya.
Setelah hampir berjam-jam menghabiskan waktu di mall, Aphrodite lantas hanya tinggal mencari satu barang lain yang di butuhkan olehnya.
"Hanya tinggal mencari satu barang lagi," gumamnya seraya menatap beberapa paper bag yang kini berada dalam genggamannya. Ia kembali melanjutkan perjalanan nya, mencari satu hal lagi yang ia di butuhkan olehnya.
Setelah semua hal yang ia butuhkan telah di dapatkan olehnya, Aphrodite lantas memutuskan untuk segera pulang karena ia sudah mulai lelah.
Aphrodite melangkah menuju pintu keluar, saat tengah berjalan. Ia melewati salah satu toko perhiasan besar yang kini di padati oleh para pengunjung.
"Tampaknya mereka sedang mengeluarkan perhiasan rancangan baru…" tutur Aphrodite seraya memandangi ke arah dalam toko tersebut. Mereka tampak seperti tengah mengadakan pengumuman pembukaan perhiasan baru yang baru saja mereka rilis.
"Perhiasan mereka cukup bagus dan menarik, tapi untuk apa aku berkunjung. Toh perhiasan di rumah ku saja tidak pernah aku kenakan."
Aphrodite melanjutkan langkah kakinya. Sebelum keluar, ia sempat membeli beberapa makanan ringan untuk menemani perjalanan nya hingga pintu keluar.
Tiba di luar mall, Aphrodite segera mencari taksi kosong yang selanjutnya akan mengantar kan dirinya pulang ke apartemen tempat tinggalnya.
...*...
Fransisco menghentikan mobilnya tepat di depan sana. Aphrodite menoleh ke arahnya yang kini tersenyum memberikan semangat.
"Ini adalah hari pertamamu bekerja. Jangan sampai kau lupa untuk beristirahat, oke? Kalau kau kelelahan, beristirahatlah sebentar. Aku tidak ingin kau sampai sakit," ujar Fransisco sembari menatapnya intens.
"Ng. Kau juga, jangan lupakan vitamin mu. Apalagi pekerjaan yang harus kau kerjakan lebih banyak di bandingkan dengan pekerjaan yang aku kerjakan."
"Ya, aku tidak akan lupa untuk minum vitamin."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu."
"Sampai jumpa saat makan siang."
"Sampai jumpa."
Aphrodite melangkah keluar dari dalam mobil, melambaikan tangannya ke arah Fransisco lantas melenggang menuju pintu masuk kantor di sana.
Sepeninggalan Aphrodite, Fransisco lalu melajukan mobil yang di kendarai olehnya pergi ke kantornya yang terletak tidak terlalu jauh dari sana.
...*...
Tiba di dalam, Aphrodite segera melangkah menuju arah dimana lift berada. Ia lantas berhenti di depan lift, menekan tombol dan menunggu hingga pintu lift terbuka. Beberapa orang yang tengah sama-sama menunggu lift di sana menoleh ke arahnya. Menatapnya dari atas sampai bawah dengan raut wajah melongo.
"Oh astaga, apakah dia pegawai baru yang waktu interview itu menjadi bahan perbincangan?" Salah satu pegawai wanita yang berdiri di salah satu pintu lift di sampingnya.
"Wah, benar. Ternyata dia memang cantik ya."
"Iya. Selain itu, kudengar pak Jordan sendiri yang memilihnya utama di interview langsung olehnya."
"Benarkah?"
"Iya, benar. Bahkan sekretaris nya pak Jordan sendiri yang bilang seperti itu."
"Oh ya, aku pernah mendengarnya. Pantas saja dia di terima, aku dengar pekerjaannya baik dan dia orang yang cukup cekatan dalam bekerja. Aku pernah menanyai beberapa temanku yang dulu satu kantor dengannya."
"Wah, luar biasa. Tidak heran dia menjadi orang pertama yang di pilih pak Jordan."
"Iya."
Mereka terus membicarakan Aphrodite, sementara yang sejak tadi mereka perhatikan itu hanya diam dan fokus pada pintu lift yang sejak tadi tak kunjung terbuka.
"Aphrodite!" Tina memanggilnya. Aphrodite menoleh ke arah wanita berkacamata bulat yang baru saja tiba di sana, wanita itu kini berjalan menghampiri dirinya.
"Pagi. Kau baru tiba?" Sapa Aphrodite padanya.
"Huh? Oh, tidak. Aku sudah sampai sejak tadi, hanya saja ada yang harus aku urus di luar. Maka dari itu aku keluar sebentar."
"Kau sendiri baru tiba?"
"Ya… seperti yang kau lihat."
Bunyi ‘Ting’ menyita perhatian mereka. Keduanya beralih pandang menatap lift yang kini terbuka, lift itu di isi oleh dua orang pegawai pria yang lantas keluar dari dalam lift.
Begitu keduanya keluar, Aphrodite dan Tina lalu masuk ke dalam lift. Tina menekan tombol bernomor di sana yang lantas mengantarkan mereka ke lantai dimana divisi tempat mereka bekerja itu berada. Selama menaiki lift, Aphrodite banyak mengajak Tina mengobrol. Berusaha untuk kenal lebih jauh mengenai sosok Tina yang di kenalnya sejak pertemuan mereka di hari pertama interview.
...*...
Jordan baru saja keluar dari dalam mobilnya. Ia melanjutkan perjalanannya menuju ruangannya dengan menggunakan lift yang kebetulan tidak terlalu penuh. Di dalam lift ia berdiri seorang diri, fokusnya sejak tadi hanya pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ini adalah hari pertama para pegawai baru bekerja. Aku jadi penasaran bagaimana pekerjaan mereka di hari pertama ini," gumamnya memonolog dengan dirinya sendiri.
"Aku ingin lihat bagaimana performa mereka. Aku harap kerja mereka sesuai dengan ekspektasi ku," pikirnya. Tak lama pintu lift terbuka, Jordan beranjak keluar dari dalam lift. Melangkah menyusuri koridor agar bisa tiba di ruang kerjanya.
"Selamat pagi pak," sapa sekertaris nya yang kini tengah membersihkan meja kerjanya.
"Pagi." Sapa nya balik, Jordan lalu melenggang memasuki ruang kerjanya. Di dalam, ia segera duduk di meja kerjanya yang ada di dalam sana.
...*...
Hening. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan saat ini, tidak ada suara lain yang di dengar selain suara ketikan dari keyboard yang sesekali terdengar dan suara detak jam yang tergantung di dinding. Setiap orang yang ada di divisi yang sama dengan Aphrodite saat ini tengah sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Aphrodite terduduk di meja yang letak kubikelnya tidak terlalu jauh dari kubikel yang di tempati oleh Tina.
Aphrodite masih sibuk dengan pekerjaannya, ia mengerjakan seluruh pekerjaannya dengan sangat serius dan teliti.
"Semua pekerjaannya tidak sulit," gumam Aphrodite pelan, amat pelan bagai bisikkan sampai-sampai teman di sampingnya tidak dapat mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari mulutnya.
Aphrodite tersenyum simpul, ia sangat senang karena bisa merasakan sensasi seperti saat ini lagi. Inilah yang ia rindukan selama setelah menikah dengan Fransisco, merasakan hening nya keadaan kantor, suara keyboard komputer yang saling bersahutan satu sama lain, serta meja kerja dengan pembatas, serta bekerja bersama dengan beberapa orang lain di setiap sisi kiri dan kanannya.
__ADS_1
"Semua ini membuat semangatku mengikat, apalagi setelah cukup lama tidak berkutat dengan layar komputer dan keyboard. Rasanya cukup untuk membuatku rindu," bisik nya lagi.
Aphrodite terdiam sejenak ketika ia merasakan punggungnya yang terasa sedikit pegal. Ia meregangkan otot tubuhnya sejenak. Atensinya secara tiba-tiba di sita oleh sosok Tina yang terus melambai-lambai kan tangan ke arahnya seraya berbisik pelan berusaha menyita perhatian nya.
Aphrodite menatapnya, wanita itu tampak sedang membutuhkan bantuan darinya.
Aphrodite memandanginya dengan raut wajah bingung ketika setiap gerak bibir wanita itu sama sekali tidak dapat di mengerti olehnya. Aphrodite tidak mengerti apa yang di butuhkan oleh Tina saat ini.
"Apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan padaku?" Gumam Aphrodite pelan, ia mengerutkan keningnya.
Aphrodite menampakkan wajah bingung ke arah Tina membuat wanita itu menghela napas karena Aphrodite yang hendak di mintainya tolong itu sama sekali tidak mengerti dengan gerak bibirnya.
Aphrodite mengalihkan perhatian ke arah lain, mencari cara agar dirinya bisa mengetahui apa yang tengah coba di sampaikan oleh Tina.
Aphrodite meraih ponselnya, mengirimkan pesan pada Tina. Meminta penjelasan atas kalimat yang tidak di mengerti olehnya.
Tina di seberang sana tersenyum simpul begitu Aphrodite mengirimkan solusi agar mereka bisa berkomunikasi. Bergegas Tina mengirimkan pesan yang ingin ia sampaikan sejak tadi pada Aphrodite.
...*...
Fransisco mengalihkan perhatiannya pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah waktunya makan siang. Ia tersenyum simpul menatap jarum jam yang di lihatnya.
"Sudah waktunya makan siang. Lebih baik sekarang aku selesai kan semua pekerjaan ku yang tinggal sedikit lagi ini, setelah itu pergi menemui Aphrodite dan makan siang bersamanya. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya," gumam Fransisco.
Pintu ruangannya terbuka membuat atensi Fransisco beralih menatap sekertaris nya yang kini masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya.
"Ini beberapa berkas yang bapak minta," ujarnya seraya menaruh berkas di tangannya ke atas meja tepat di hadapan Fransisco yang kini terduduk di hadapannya.
"Baik, terima kasih."
"Saya permisi." Sekertaris nya itu beranjak pergi meninggalkan Fransisco yang masih terduduk di tempat nya saat ini.
Fransisco mengalihkan perhatian, meraih ponsel miliknya dan membuka aplikasi perpesanan hendak menghubungi Aphrodite, mengirimkan pesan kepadanya.
...*...
Tina melangkah menghampiri Aphrodite begitu tahu jam istirahat telah tiba dan semua orang satu persatu perlahan mulai melangkah keluar dari dalam ruangan mereka masing-masing, hendak menikmati waktu makan siang mereka di kafetaria yang tersedia di kantor.
"Terima kasih karena tadi kau sudah mau membantuku dan menjawab beberapa pertanyaan yang aku ajukan padamu."
"Bukan masalah, aku mengerti mungkin ini adalah pertama kalinya untuk mu jadi kau tidak terlalu paham dengan apa yang harus kau kerjakan." Aphrodite membereskan meja kerjanya lantas meraih tasnya.
"Kalau tadi kau tidak membantuku, aku tidak akan mungkin akan pernah bisa menyelesaikan nya. Sekali lagi terima kasih."
"Iya. Kalau lain kali kau memiliki pertanyaan jangan sungkan untuk bertanya padaku lagi, aku akan membantu mu kalau aku bisa."
"Baiklah. Oh ya, bagaimana kalau sebagai tanda terima kasihku padamu… aku ingin mentraktir mu makan siang."
"Mungkin lain kali, karena siang ini aku sudah memiliki janji untuk makan di luar."
"Huh? Dengan siapa?"
"Dengan seseorang, dan kami berencana makan di salah satu restoran tak jauh dari ini."
"Apakah kau memiliki pacar?"
"Tidak. Aku tidak memiliki pacar."
"Lalu…?"
"Ya sudah, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi." Aphrodite menepuk pelan pundak Tina lantas bergegas pergi dari sana meninggalkan wanita itu seorang diri di dalam ruang kerjanya. Tina terdiam memandangi Aphrodite yang kini terus melangkah keluar dari dalam ruangannya.
"Siapa yang sebenarnya dia temui?" Gumam Tina pelan menatap punggung Aphrodite penuh tanya. Baru detik berikutnya wanita itu melangkah keluar menyusul beberapa teman satu divisi nya yang lain menuju arah kafetaria untuk makan siang bersama dengan mereka.
Aphrodite melangkah menyusuri koridor, berjalan hingga tiba di dalam lift. Tiba di dalam sana, ia mendapati ponselnya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Pesan itu dari Fransisco yang kini menanyakan keberadaan nya.
Aphrodite tersenyum simpul, ia lantas membalas pesan dari Fransisco dan mengatakan padanya kalau dirinya akan segera tiba di restoran tempat dimana mereka janjian untuk bertemu.
Aphrodite keluar dari dalam gedung kantornya, melangkah menyusuri trotoar yang kini di hiasi oleh beberapa orang yang berlalu-lalang di sekitar sana. Ia menyeberangi jalan, berjalan sebentar dan melihat sosok Fransisco disana.
__ADS_1
...***...