
...***...
Fransisco yang duduk disampingnya kemudian menggenggam tangannya guna membuatnya sedikit lebih tenang.
"Kapan-kapan kita akan kembali kemari, dan mengunjungi mereka," tutur Fransisco yang berusaha membuat Aphrodite tenang.
Aphrodite tertegun, ia menoleh kearah pria yang kini duduk tepat disampingnya itu. Fransisco tersenyum berusaha membuat Aphrodite lebih tenang.
"Ng." Aphrodite menganggukkan kepalanya pelan.
"Sekarang lebih baik kau tenangkan dirimu." Fransisco menepuk-nepuk pelan pundaknya, mengisyaratkan pada Aphrodite untuk bersandar pada pundaknya. Aphrodite mengerti maksud dari Fransisco, ia kemudian merebahkan kepalanya. Bersandar pada pundaknya, sementara sebelah tangannya menggenggam tangannya.
Perjalanan mereka selanjutnya dihiasi dengan keheningan, sepanjang jalan tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka masing-masing. Hanya sepi yang menyelimuti kebersamaan mereka dan suara samar hiuk piuk kota Paris di pagi hari.
Tiba di bandara Charles de Gaulle, Fransisco dan Aphrodite lalu melangkah keluar dari dalam mobil. Sementara itu, Adrien tengah membantu mereka mengeluarkan koper keduanya.
Setelah mengeluarkan semua koper Fransisco dan Aphrodite, Adrien kemudian berdiri seraya memandangi keduanya yang kini berdiri tepat dihadapannya.
"Terima kasih karena sudah mengantarkan kami hingga ke sini," ujar Aphrodite pada Adrien.
"Sama-sama nona, lagipula sudah menjadi tugas saya mengatarkan nona dan tuan muda hingga ke bandara dan mamastikan kalian aman hingga penerbangan kalian."
"Ya. Sekali lagi terima kasih karena kau sudah bekerja keras." Fransisco menepuk pundak Adrien pelan seraya tersenyum.
"Bukan masalah tuan."
"Terima kasih karena sudah mau melayani kami dengan penuh kesabaran. Maaf juga karena aku sering menyusahkanmu karena permainan golf ku yang payah, haha…" Aphrodite terkekeh. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
__ADS_1
"Haha, tidak apa-apa nona. Itu adalah salah satu resiko saya yang sejak awal di tunjuk sebagai kepercayaan nyonya Fanny."
"Jangan kapok untuk bermain golf lagi denganku kalau begitu."
"Untuk yang satu itu… biar saya pertimbangkan, haha…" Adrien terkekeh.
"Haha, ya. Kau memiliki waktu yang lama sampai aku datang berkunjung lagi kemari."
"Baiklah, kalau begitu kami harus pergi sekarang." Fransisco mengalihkan pembicaraan.
"Baik, sampai jumpa lagi tuan, nona. Senang bisa melayani kalian." Adrien tersenyum kearah Fransisco dan Aphrodite.
"Ya, sampai jumpa lagi. Senang bisa kenal dan bertemu denganmu, semoga lain waktu kita masih bisa bertemu," sahut Aphrodite.
"Aku juga senang karena kau orang yang asik untuk aku ajak bekerjasama." Tutur Fransisco menimpali. "Omong-omong terima kasih untuk yang waktu itu."
"Sekarang pulanglah, kau tidak perlu menunggu kami hingga berangkat."
"Baik. Kalau begitu saya pamit," tutur Adrien yang kemudian melangkah menghampiri mobilnya. Duduk di kursi pengemudi sembari menyalakan kembali mesin mobilnya yang sempat ia matikan.
"Hati-hati di jalan." Aphrodite melambaikan tangannya.
"Ya, anda juga nona, tuan," sahut Adrien. Detik berikutnya mobil yang di kendarai olehnya beranjak pergi meninggalkan Aphrodite dan Fransisco yang saat ini masih terdiam sembari memandangi dirinya yang semakin menjauh dari pandang mereka. Begitu mobil yang ditumpangi olehnya menghilang diantara beberapa mobil lain disekitarnya, Aphrodite dan Fransisco lantas melangkahkan kaki mereka memasuki bandara Charles de Gaulle dan mulai di sibukkan menunggu penerbangan mereka.
...*...
"Aku akan sangat merindukan keindahan kota Paris," gumam Aphrodite yang kini terduduk di kursi di dalam pesawat yang selanjutnya akan mengantarkan mereka ke Indonesia, ke negara tempat kelahiran mereka. Fransisco menoleh ke arah Aphrodite yang kini terduduk di sampingnya seraya melongo keluar jendela.
__ADS_1
"Aku juga akan sangat merindukannya. Apalagi setelah banyak kenangan indah yang telah kita lewati bersama. Itu tidak akan pernah bisa aku lupakan selamanya," ujar Fransisco yang membuat Aphrodite seketika beralih menoleh ke arah dirinya. Fransisco dan Aphrodite beradu pandang untuk sesaat. Tidak ada kalimat yang mampu terlontar dari mulut Aphrodite untuk menanggapi perkataan suaminya itu. Ia hanya bisa diam membenarkan ucapannya. Memang benar, telah banyak kenangan yang mereka lalui selama di Paris walaupun hanya empat belas hari, tapi setidaknya mereka sudah banyak menghabiskan kenangan bersama di Paris. Kenangan indah yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Fransisco meraih tangan Aphrodite membuatnya tertegun. Pria itu menggenggam tangannya kemudian mengecupnya penuh kemesraan. "Terima kasih karena kau sudah mau membuka hatimu secara perlahan untukku," tuturnya seraya memandangi Aphrodite lekat.
Aphrodite tersenyum simpul mendengarnya. "Semuanya juga berkat kau yang sudah mau bersabar dan terus berusaha untuk membuatku luluh. Terima kasih karena sudah terus berusaha dan tidak pernah kenal lelah untuk terus membuatku luluh."
"Aku harap kau bisa secepatnya luluh dan menerimaku seutuhnya."
"Aku akan berusaha."
"Aku juga akan terus berusaha dan akan terus bersabar hingga kau benar-benar bisa menerimaku. Bersama-sama, kita lalui semuanya bersama."
"Ng." Aphrodite menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Fransisco.
Pesawat yang mereka tumpangi perlahan mulai beranjak dari tempatnya. Take off, meninggalkan bandara Charles de Gaulle, Paris dan mulai melaju menuju tempat yang mereka tuju.
Aphrodite beralih fokus ketika pesawat mereka mulai bergerak. Ia menoleh kembali kearah luar jendela. Menatap untuk terakhir kalinya kota Paris. Terutama bandara Charles de Gaulle, yang mana merupakan tempatnya datang dan pergi.
"Aku tidak akan pernah melupakan kalian… Cammy… Giza…" Aphrodite membatin. Pemandangan di luar sana perlahan mulai tampak berbeda saat pesawatnya terus bergerak semakin tinggi di udara sampai akhirnya Aphrodite dapat melihat kumpulan awan-awan putih yang tampak indah menghiasi langit di pagi yang cerah. Menghiasi jalur udara yang mereka lewati.
...*...
Waktu berlalu dan mereka mulai merasa lelah karena harus menempuh perjalanan sepanjang kurang lebih delapan belas jam agar bisa tiba di tanah air tercinta. Delapan belas jam perjalanan bukanlah perjalanan yang singkat, apalagi tidak ada hal lain yang dapat mereka lakukan selain duduk dan menunggu hingga pesawat yang mereka tumpangi landing dengan selamat hingga di bandara Indonesia.
Aphrodite kini terpejam dengan keadaan kepalanya bertengger pada bahu Fransisco yang sama-sama tertidur disampingnya. Sudah banyak hal yang mereka lakukan, mulai dari mendengarkan musik bersama, menonton film bersama, bercerita, main tebak-tebakan, menceritakan hal-hal lucu dan lain sebagainya. Semuanya mereka lakukan untuk menghilangkan rasa bosan mereka dan melupakan sejenak mengenai waktu yang tengah mereka tunggu-tunggu. Waktu untuk tiba di Indonesia seperti rencana mereka sejak awal. Dan disinilah batasan mereka, mereka berdua mulai merasa lelah sampai akhirnya tertidur tanpa sadar.
Waktu yang terus berlalu perlahan mulai berpengaruh pada langit yang kini tampak berubah warna. Langit yang semula cerah perlahan berubah menjadi langit malam yang indah berhiaskan gemerlap cahaya bintang.
__ADS_1
...***...