Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Blind date


__ADS_3

...***...


Waktu berlalu. Tidak terasa sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian malam itu. Dan sejak saat itu, Aphrodite kembali masuk bekerja dan menghabiskan waktunya sebagai wanita kantoran.


Ia harus mendapatkan banyak uang untuk melunasi semua utang-utang keluarganya. Selain bekerja dikantornya sebagai karyawan tetap, Aphrodite kini juga mengambil beberapa pekerjaan sampingan untuk mencari uang lebih.


Tapi hal itu justru membuat ketahanan tubuhnya menurun sampai-sampai beberapa kali ia memeriksakan diri ke dokter kandungan untuk memastikan jika si jabang bayi dalam kandungannya itu tidak kenapa-kenapa.


Hari ini adalah hari Jumat sore. Tadi pagi seperti biasa Aphrodite berangkat dari rumah sekitar jam delapan pagi. Bisa di pastikan ia bisa pulang seperti biasa jam empat sore, dan setelahnya jika ia bekerja melebihi delapan jam sudah termasuk lembur.


"Hanya tinggal beberapa file lagi dan selesai. Aku bisa pulang tepat waktu," gumamnya seraya terus berkutat dengan beberapa berkas di tangannya.


Jenia yang duduk di kubikel bersebelahan dengannya lantas menggeserkan kursi berodanya. Ia melongok ke arah Aphrodite yang sedang sibuk di sana.


"Dite!" Panggilnya pelan.


"Hm?" Aphrodite menjawab tanpa menoleh, itu pun hanya gumaman tidak jelas yang dapat di dengar Jenia.


"Hari ini apakah kau sibuk?"


"Memangnya kenapa?"


"Aku ingin mengajakmu untuk pergi. Bagaimana? Apakah kau tidak memiliki acara sepulang kerja?"


Aphrodite beralih pandang pada berkasnya untuk sesaat sebelum kemudian ia diam dan mengingat-ingat. Mulutnya di sana komat-kamit, entah apa yang di gumamkan wanita itu, Jenia tidak tahu.


"Tidak ada," ucapnya yang kemudian menoleh ke arah Jenia di sana.


"Benarkah tidak ada?"


"Iya. Memangnya kau akan mengajak aku pergi kemana?" Tanya Aphrodite dengan raut wajah bingung.


"Nanti juga kau tahu. Kau ikut kan?"


"Ng… bagaimana ya?" Aphrodite tampak menimbang-nimbang.

__ADS_1


"Oh ayolah, ikut ya? Sekaligus kita rayakan kembalinya seorang Aphrodite yang telah berhasil move on dari mantan brengsek, bajingan, sialan, yang lebih baik mati nya itu!" Jenia mengumpat kesal kala dirinya harus ingat pada sosok Xavier yang telah membuat Aphrodite benar-benar hancur. Oh sungguh, jika Jenia bertemu dengan Xavir, Jenia adalah orang pertama yang akan menyerang pria itu. Menendangnya, menjambak, mencakar, dan membuatnya benar-benar tidak bisa tenang untuk tetap hidup di bumi ini.


"Baiklah kalau begitu aku ikut," finalnya setelah terdiam beberapa saat.


"Yeay!!!" Jenia mendorong kursi berodanya menghampiri Aphrodite. Ia merentangkan kedua tangannya lantas memeluk Aphrodite erat. "Terima kasih karena sudah mau ikut," tuturnya.


"Oh ayolah! Lepaskan aku! Aku susah bernapas ini!" Aphrodite susah payah melepaskan dirinya.


"A-ah. Maaf," Jenia melepaskan pelukannya dari wanita itu.


"Sudahlah, cepat kembali bekerja. Sebentar lagi sudah waktunya untuk pulang!" Kata Aphrodite yang kembali di sibukkan dengan berkas-berkas nya.


"Baik Bu!" Jenia memberi hormat sebelum kemudian kembali bekerja.


"Cih, dasar," Aphrodite tersenyum tipis di sana. Sahabatnya yang satu itu memang benar-benar ceria orangnya. Maka tidak heran jika dia begitu ekspresif, sampai-sampai begitu emosi ketika mendengarkan penjelasannya mengenai apa yang terjadi di antara dirinya dan Xavir yang telah meninggalkan dirinya.


...*...


"Untuk apa kita di sini?" Tanya Aphrodite begitu mereka tiba di sebuah restoran yang isinya adalah beberapa pasang kekasih yang tengah menikmati hidangan makan malam mereka di sana. Oh, bahkan sangat jelas dari nama restoran itu juga.


Itu adalah restoran khusus untuk pasangan.


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Oh, kalau begitu lebih baik kita makan malam bersamanya lain kali saja. Aku pulang, bye!" Aphrodite bersiap untuk pergi tapi dengan cepat Jenia menahan langkahnya.


"Tunggu! Kau ini mau kemana!"


"Aku tidak ingin makan di sini. Kau lihat? Isinya semua adalah orang pacaran, aku tidak ingin kita di anggap tidak normal! Lebih baik aku pulang!"


"Eh!! Tunggu! Lagipula aku juga masih normal. Kita kemari tentunya bukan tanpa alasan."


"Maksudmu?" Aphrodite mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh sahabatnya itu. Ia berbalik menghadap ke arahnya.


"Kita kemari untuk melakukan blind date! Surprise!!! Hore!!" Wanita itu kegirangan sendiri, meraih tangan Aphrodite kemudian menggerakkannya seakan-akan memberikan tepuk tangan atas apa yang baru saja di ucapkan olehnya. Sementara itu Aphrodite menatapnya dengan raut wajah yang susah untuk di artikan.

__ADS_1


"Apa kau bilang? Blind date?" Ulang Aphrodite setelah terdiam sesaat.


"Iya," Jenia menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak tertarik. Terima kasih, lebih baik aku pergi!"


"Eehh!! Jangan seperti itu! Mereka sudah menunggu kita sejak tadi di dalam sana."


"Kita?"


"Iya. Kita."


"Tapi aku tidak mau. Lagipula sejak kapan aku setuju untuk ikut kencan buta seperti ini?"


"Aku memang tahu kau tidak setuju dan memang sejak awal aku tidak berniat untuk mengajakmu kemari. Tapi karena pria yang akan melakukan kencan denganku itu membawa temannya, jadi dia juga memintaku untuk membawa satu teman lain. Maka dari itu aku mengajakmu kemari."


"Oh ayolah. Apakah kau gila? Kau tahu sendiri jika aku ini baru saja putus dan masih belum kepikiran untuk berhubungan dengan pria manapun. Jadi aku tidak mau! Lagipula kenapa kau tidak mengajak teman yang lain saja? Kenapa harus aku yang kau ajak?"


"Aahh! Jangan seperti itu, kau kan the only one! Satu-satunya sahabat yang aku miliki. Maka dari itu aku mengajakmu, dan lagi ini sudah saatnya bagimu untuk mencari pria lain untuk menggantikan Xavier! Kau harus buktikan pada Vier jika kau juga mampu mencari penggantinya yang bahkan lebih dari pada dirinya!"


"Tapi—"


"Sudahlah! Ayo masuk! Kasihan mereka sudah menunggu terlalu lama sejak tadi!" Jenia tanpa aba-aba lebih dulu menarik pergelangan tangan Aphrodite. Membawa wanita itu masuk ke dalam restoran di sana.


Aphrodite terseret di belakangnya, sampai mereka tiba di dalam dan Jenia mulai sibuk mencari sosok pria yang hendak di kencaninya.


"Disini!" Seorang pria berteriak ke arahnya seraya melambaikan tangan. Pria itu tersenyum begitu mendapati Jenia tiba di sana.


"Oh, itu dia! Ayo!" Jenia kembali menarik tangan Aphrodite. Menyeretnya menuju tempat dimana pria itu duduk dengan seorang pria lain yang seumuran dengannya. Wajahnya terbilang lebih tampan di bandingkan pria yang akan Jenia kencani, tapi bagaimana pun pria itu bukan tipenya. Terlihat dari cara pandang pria itu pada dirinya.


"Maaf membuatmu menunggu lama," kata Jenia begitu mereka tiba di sana.


"Tidak apa-apa," pria itu menyahut.


"Oh ya, kenalkan ini sahabatku. Aphrodite Guinandra," Jenia menariknya berdiri di samping.

__ADS_1


"Dite?" Panggil pria itu terkejut.


...***...


__ADS_2