
...***...
"Apakah kau menyukai pemandangannya?"
"Iya," sahut Aphrodite seraya menganggukkan kepalanya. "Pemandangannya benar-benar indah, dan aku benar-benar suka. Aku tidak menyangka kalau pemandangannya akan seindah ini kalau di lihat dari atas sini."
"Aku senang kalau kau menyukainya. Tunggu sampai kau mencoba makanannya. Di sini hidangannya benar-benar enak."
"Benarkah?"
"Iya. Sekarang ayo kita nikmati." Fransisco memanggil salah satu pelayan di sana, meminta sang pelayan untuk menghidangkan makanan yang sebelumnya telah ia pilih saat melakukan reservasi. Selanjutnya mereka di sibukkan menunggu makanan mereka di hidangkan di hadapan mereka.
...*...
"Bagaimana menurutmu hidangannya?" Tanya Fransisco pada Aphrodite di sampingnya. Saat ini mereka berdua tengah berada di area luar restoran, berdiri di belakang pagar yang membatas tempat mereka berdiri. Keduanya tengah menikmati pemandangan indah yang tak pernah bosan untuk mereka pandang.
Aphrodite menoleh ke arah Fransisco yang masih menunggu jawaban darinya. "Hidangannya enak."
"Apakah kau menyukainya?"
"Ya, aku suka."
"Syukurlah kau menyukainya."
__ADS_1
"Oh, tapi omong-omong apakah kita tidak sebaiknya pulang sekarang? Ini sudah hampir malam, mungkin saja mereka akan tutup."
"Mereka tutup jam sembilan malam, jadi masih ada waktu."
"Benarkah?"
"Iya. Mereka biasa buka dua kali, yang pertama adalah di siang hari mulai dari jam 12:00-13:30. Kemudian mereka akan buka lagi pada malam hari dari jam 19:00-21:00."
"Ooh, begitu ya. Tampaknya kau sangat tahu jadwal buka mereka, apakah kau sering makan di sini?"
"Dulu pernah beberapa kali, tapi mungkin ini adalah pertama kalinya setelah sekian tahun aku tidak berkunjung ke Paris. Aku tahu karena aku sempat mengecek jadwal bukanya di web mereka."
"Ah begitu rupanya."
"Langit malamnya indah, ya?" Gumam Aphrodite pelan.
"Ya, kau benar. Langit malamnya memang indah," sahut Fransisco yang kemudian mendongakkan kepalanya menatap gemerlap cahaya bintang yang menghiasi malam mereka.
...*...
Waktu berlalu, tidak terasa sudah empat belas hari mereka menjalani kehidupan selama bulan madu mereka di Paris, Prancis. Menikmati keindahan kotanya, keindahan kultur dan budayanya, serta menikmati setiap pariwisatanya yang sangat menyenangkan untuk di kunjungi.
Banyak sekali hal yang di pelajari oleh Aphrodite selama kurang lebih dua Minggu ini, banyak sekali hal yang ia jalani dan ia nikmati. Selain mendapatkan banyak pelajaran mengenai kota Paris dan mendapatkan banyak sekali ilmu yang berharga yang baru di dapatnya, ia juga mendapatkan banyak kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan.
__ADS_1
Selama dua Minggu di Paris, Aphrodite belajar memasak bersama Bertha, Giza, dan Cammy. Bahkan bisa di bilang mereka sudah menjadi sangat dekat sejak Aphrodite mulai belajar memasak dari Bertha. Selain itu, Aphrodite juga belajar bahasa Prancis dari Giza dan Cammy, begitupun sebaliknya. Giza mendapatkan pelajaran bahasa Inggris dari Aphrodite, dan Cammy belajar bahasa Indonesia dari Aphrodite. Sebuah kenangan yang menyenangkan yang tidak akan pernah bisa lekang dalam ingatannya. Aphrodite tidak akan pernah lupa bagaimana menyenangkannya belajar memasak dengan Bertha, belajar bahasa Prancis dengan Cammy, berbelanja dengan Giza, belajar bermain golf dengan Fransisco dan Adrien yang selalu menjadi korbannya. Aphrodite yang tidak bisa bermain golf kemudian di ajarkan oleh Fransisco, dan setiap pukulannya yang meleset dan terlempar ke sembarangan arah pada akhirnya Adrien yang menjadi korbannya harus mengambil bola tersebut. Terakhir kali lemparannya meleset ke tengah danau, membuat Adrien mau tidak mau harus mengambil bolanya dengan cara menyelam ke dalam danau. Sebenarnya ada banyak bola golf yang dapat mereka pakai, tapi tetap saja. Sebanyak apapun kalau mereka membuang-buang bolanya, bolanya akan tetap habis.
"Kau sudah siap?" Tanya Fransisco memastikan begitu Aphrodite keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan setelan baju yang tampak sangat amat rapi.
"Ng. Aku sudah siap," tutur Aphrodite seraya tersenyum ke arahnya.
"Kalau begitu ayo kita turun, dan berpamitan pada yang lain." Fransisco menyodorkan telapak tangannya ke arah Aphrodite yang kemudian langsung di sambutnya dengan genggaman penuh kehangatan. Selama empat belas hari, Aphrodite berusaha untuk membuka secara perlahan hatinya. Dan usahanya bisa dibilang tidak sia-sia. Dia perlahan mulai bisa menerima sosok Fransisco, pria yang sangat mencintainya. Menerimanya sebagai pendamping hidupnya, dengan status seorang suami yang diembannya. Bukan hanya Aphrodite yang berusaha, begitu pula dengan Fransisco yang tidak pernah lelah berjuang untuk mendapatkan hati Aphrodite. Banyak sekali hal yang Fransisco lakukan untuk membuat Aphrodite selalu tersenyum bahagia, dan banyak sekali usaha yang telah ia lakukan untuk meluluhkan hati Aphrodite. Walaupun Aphrodite hanya luluh sedikit atas usahanya, tapi setidaknya mereka sudah berusaha untuk mendapatkan masing-masing. Aphrodite berusaha membuka hatinya dan menerima Fransisco, begitu pula Fransisco yang terus berjuang untuk mendapatkan cinta Aphrodite seutuhnya.
Aphrodite menundukkan kepalanya. Ia terdiam sejenak dengan raut wajah yang tampak muram. Ia benci akan perpisahan, ia masih ingin tinggal lebih lama di Paris. Apalagi ia sudah mulai mendapatkan kenyamanan tinggal di Paris, mendapatkan keluarga baru, kenangan baru, sahabat baru, dan tentunya mendapatkan ilmu baru. Tapi ketika ia mulai merasa nyaman, ketika itu juga ia harus bisa merelakan semuanya. Melepaskan semuanya dan kembali ke tanah kelahirannya yang sudah selama empat belas hari ia tinggalkan.
"Dite? Hey, sayang?" Fransisco memandangi Aphrodite yang kini tertunduk dengan raut wajah murung. Ia menatap istrinya itu bingung, raut wajahnya tiba-tiba saja berubah murung begitu ia bilang kalau mereka harus berpamitan.
"Ng?" Aphrodite mendongak, menjawabnya dengan gumaman.
"Kau kenapa? Apakah kau tidak ingin pulang?"
"Bukan begitu." Aphrodite menggelengkan kepalanya pelan.
"Lalu? Kenapa kau tampak sedih?"
"Aku sedih hanya karena, aku benci perpisahan. Aku baru saja mendapatkan kenyamanan disini. Aku baru saja mendapatkan sahabat baru, keluarga baru, dan juga ilmu baru yang sebelumnya tidak pernah aku dapatkan. Bahkan di tanah kelahiranku sendiri. Tapi ketika aku mulai merasa nyaman dengan semua yang aku miliki…" Aphrodite menundukkan kepalanya, mengambil jeda sejenak dari kalimat selanjutnya yang akan ia lontarkan. Rasanya cukup menyesakkan. "…Aku harus merelakan semuanya dan meninggalkannya." Sambungnya dengan nada pelan.
Fransisco diam terpaku mendengarkan setiap kalimat yang berloncatan dari gigi dan mulut istrinya. Ia mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Aphrodite. Ia mengerti ini berat, apalagi walaupun hanya empat belas hari mereka di Paris, tapi sudah banyak sekali hal yang mereka lewati. Banyak sekali hal yang telah Aphrodite alami, dan banyak sekali kenangan yang takkan bisa dilupakan olehnya.
__ADS_1
...***...