Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Opening wedding gifts


__ADS_3

...***...


Hari berganti. Sang fajar baru saja menyingsing, naik ke atas singgasananya.


Perlahan Fransisco membuka kedua matanya saat ia mendapati ranjang tidurnya hanya di tempati oleh dirinya. Ia mengerjap beberapa kali, guna memperjelas penglihatannya. Sorot cahaya matahari yang menembus masuk ke dalam kamarnya lewat jendela kaca yang terbuka, adalah hal pertama yang di tangkap penglihatannya begitu pandangannya jelas.


Fransisco bangun secara perlahan, terduduk di atas ranjangnya sembari mengumpulkan seluruh kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpinya. Sejurus kemudian ia mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang semula terbaring di sampingnya. Namun sosoknya raib, hilang entah kemana. Sebagai gantinya, ia malah mencium sebuah aroma makanan yang begitu sedap; menusuk ke dalam hidungnya.


Fransisco turun dari ranjangnya. Melangkah menuju pintu keluar dan mengikuti arah dimana aroma itu berasal.


Langkahnya terhenti di ruang dapur. Di sana ia melihat berbagai hidangan sarapan yang sudah tertata rapi di atas meja, sementara itu Aphrodite tengah sibuk menyelesaikan satu hidangan lain yang sedang di buatnya. Berkutat dengan masakannya di dekat kompor dengan mengenakan apron di tubuhnya. Aphrodite tampak asik dengan kegiatannya sampai-sampai ia tidak sadar bahwa sejak tadi Fransisco berdiri di sana seraya memandanginya dari belakang. Fransisco mengulum senyum, ia lalu melangkah perlahan menghampiri Aphrodite.


"Pagi," bisiknya tepat di telinga Aphrodite membuatnya tersentak dan spontan membalikkan tubuhnya.


"Frans! Kau membuatku terkejut!" Tuturnya.


"Haha, maaf kalau aku membuatmu terkejut."


"Huft~" Aphrodite mengatur napasnya yang tak beraturan.


"Hm… aroma semua makanan ini membuatku lapar," ujar Fransisco seraya menghampiri meja makan, memandangi satu persatu hidangan sarapan yang ada di hadapannya. Semuanya tampak menggoda, membuat perutnya yang kosong keroncong hanya dengan memandanginya saja. "Kau menyiapkan semua ini sejak kapan?"


"Sejak tadi. Setelah aku bangun, aku langsung membereskan rumah setelah itu memasak."


"Aku sudah tidak sabar untuk makan."


"Kalau begitu kau harus pergi ke kamar mandi lebih dulu, cuci wajahmu." Aphrodite mendorong Fransisco menjauh dari meja makan.


"Baiklah." Fransisco terkekeh, ia lantas melangkah menuju arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Sementara itu, Aphrodite kembali di sibukkan dengan kegiatan memasaknya yang sempat terpotong.


Selesai memasak semuanya, Aphrodite menghidangkan satu hidangan terakhir yang baru saja ia selesaikan. Ia lalu melepaskan apron di tubuhnya, menaruhnya di tempat semula dan mulai duduk di salah satu kursi yang ada.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Fransisco kembali dan mengambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Aphrodite. Aphrodite sudah lebih dulu mengisi piring Fransisco dengan nasi dan beberapa lauk pauk yang ada.


"Kelihatannya enak," ucap Fransisco sembari tersenyum memandangi hidangannya.


"Selamat menikmati," tutur Aphrodite. Mereka lantas mulai di sibukkan menikmati sarapan bersama.


"Makanan yang kau buat ini benar-benar enak, bahkan menurutku enaknya melebihi makanan yang di buat Bertha." Fransisco melahap makanannya dengan sangat bersemangat.


"Kau terlalu berlebihan, aku baru saja belajar. Tidak mungkin bisa menandingi masakan Bertha."


"Sungguh. Ini benar-benar enak, aku tidak bohong. Dan aku sangat-sangat menyukainya."


"Terima kasih atas pujiannya, aku senang kalau kau suka dengan masakanku."


"Kalau makanan yang kau buat setiap hari seperti ini rasanya, bisa-bisa aku gemuk karena terlalu banyak makan haha…"


"Haha… kau ini. Oh, omong-omong hari ini apa rencanamu?" Aphrodite mengalihkan pembicaraan.


"Hari ini rencananya aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Aku akan membantumu berbenah rumah, oh sekalian. Kita harus mengerjakan tugas kita yang sempat tertunda."


"Kau lupa? Kita belum sempat membuka kado pernikahan yang kita dapat."


"Oh, ya. Aku ingat sekarang. Tapi dimana semua itu sekarang? Sejak tadi aku tidak menemukannya di manapun, bahkan kemarin juga aku tidak menemukannya."


"Semua kadonya mama taruh di ruangan khusus yang berada di dekat kamar kita."


"Ah… jadi semua kado itu ada di dalam sana? Pantas saja pintunya terkunci, aku jadi tidak bisa membersihkan ruangannya. Ternyata di dalam sana semua kado itu berada?"


"Yup, dan aku lupa untuk memberikan kuncinya padamu. Jadi bagaimana kalau hari ini kita cek dan lihat semuanya?"


"Ng, aku setuju. Eh, tapi… apakah tidak apa-apa kalau kau mengambil libur terlalu lama? Bagaimana dengan perusahaanmu?"

__ADS_1


"Kau tenang saja, untuk urusan itu sudah aku serahkan pada orang kepercayaan ku. Lagipula, kita baru saja tiba semalam dan aku masih lelah. Mungkin aku akan mengambil liburan sekitar seminggu lagi sebelum kembali bekerja."


"Seminggu? Apakah tidak terlalu lama?"


"Tidak. Lagipula, selain beristirahat aku juga ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu." Fransisco meraih tangan Aphrodite, menggenggamnya seraya tersenyum.


"Kita akan bertemu setiap hari dan akan menghabiskan banyak waktu bersama selain saat kau di kantor…"


"Ya, tapi tetap saja. Setelah aku kembali bekerja nanti, mungkin saja akan sangat sulit untuk kita bisa menikmati waktu seharian penuh bersama. Maka dari itu, aku ingin menghabiskan waktu selama dua puluh empat jam dalam seminggu hanya untuk bersama denganmu," ujarnya. Aphrodite hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Fransisco.


"Sudahlah, ayo kembali makan. Nanti makanannya keburu dingin." Aphrodite beralih fokus pada makanan di hadapannya dan mulai di sibukkan menikmati sarapannya.


...*...


Selesai sarapan bersama, Fransisco dan Aphrodite kini berada di lantai dua apartemen mereka. Berdiri di sebuah pintu ruangan yang terletak di dekat kamar tidur mereka. Ruangan itu adalah ruangan yang di maksud Fransisco.


Fransisco memutar kunci yang baru saja ia masukkan ke dalam lubang kunci di kenop pintunya. Mendorongnya secara perlahan yang dalam seketika menampakkan isi bagian dalam ruangan tersebut.


Aphrodite terpaku ditempatnya saat mendapati kado pernikahannya dengan Fransisco memenuhi seluruh sudut ruangan tersebut, mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil sekalipun semuanya tertumpuk menjadi satu di berbagai sudut ruangan.


"Apakah hanya perasaanku saja atau memang kadonya begitu banyak?" Gumam Aphrodite nyaris tak berkedip. Fransisco menoleh ke arahnya.


"Mungkin hanya perasaan mu saja. Sudahlah, ayo masuk," sahutnya seraya meraih tangan Aphrodite memasuki ruangan tersebut dan menghampiri tumpukan kadonya.


"Frans, kalau kita buka semua kado ini akan banyak sampah dari bungkusnya."


"Tenang saja, kau tidak perlu khawatir. Aku akan membantumu membereskan semuanya, lagipula sebagai seorang suami aku tentunya harus selalu membantumu baik dalam suka maupun duka."


"Baiklah, kita mulai dari mana?"


"Bagaimana kalau dari yang kecil dulu?"

__ADS_1


"Okay…" jawab Aphrodite menyetujui, Fransisco dan Aphrodite mulai di sibukkan mencari kado pertama yang hendak mereka buka. Seperti yang telah di usulkan oleh Fransisco, mereka membukanya dari yang terkecil lebih dulu, berlanjut ke yang sedang hingga akhirnya ke yang besar.


...***...


__ADS_2