
***
"Bagaimana caranya?" Kalimat itu terus terngiang dibenak Aphrodite yang tengah mencari cara agar ia bisa membantu Jordan yang meminta tolong bantuannya untuk menyatukannya kembali bersama dengan Laura. Entah kenapa sejak pertemuannya dengan Jordan beberapa waktu lalu berhasil membuatnya terus terpikirkan, ia terus disibukkan mencari cara agar bisa mendekatkan mereka kembali tanpa membuat persahabatannya dengan Laura juga rusak. "Aphrodite?" Tina menepuk pundaknya pelan membuat Aphrodite tersadar dari lamunannya, ia menoleh ke arah Tina yang kini tengah memandanginya sejak tadi.
"Ya? Kenapa?" Tanya Aphrodite terbata, ia menatap Tina. "Dari tadi kau tidak mendengarkan aku?" Tina menghela napasnya panjang begitu menyadari Aphrodite sejak tadi ternyata tidak mendengarkan kalimatnya sama sekali, sekarang Aphrodite dan Tina tengah berada di kafetaria kantor; mereka tengah menikmati makan siang bersama. Aphrodite tidak makan dengan Fransisco karena pria itu akhir-akhir ini sibuk dengan pekerjaannya di luar kantor yang membuatnya harus bulak-balik keluar masuk kantor untuk mengurus meeting dan pertemuan lainnya, Aphrodite dan Fransisco baru bertemu ketika mereka di rumah saja. Saat mereka menikmati waktu istirahatnya bersama.
"Maaf, memangnya tadi kau bilang apa?" Tanya Aphrodite sembari nyengir kuda menampakkan deretan gigi putihnya. "Aku bilang, bagaimana kalau kapan-kapan kita pergi keluar bersama? Seperti misalnya jalan-jalan bersama atau pergi ke mall bersama?" Ulang Tina yang lalu memasukkan kembali makanan ditangannya ke dalam mulut, dan mulai sibuk mengunyah makanannya.
"Baik, ayo. Itu ide yang bagus karena selama kita kenal, kita sama sekali belum pernah pergi bersama kan?"
"Iya. Maka dari itu kapan-kapan kita pergi bersama."
"Baiklah, kalau begitu hubungi saja saat kau sedang senggang."
"Kau juga!"
"Oke." Aphrodite beralih fokus pada makanan yang tengah di nikmati olehnya, detik berikutnya hanya suara sendok dan garpu yang beradu yang dapat mereka dengar. "Tina?" Aphrodite memanggilnya setelah cukup lama meja mereka hening tanpa sepatah kata pun. Tina mendongak menatap Aphrodite dengan raut wajah penuh tanya.
"Ada apa?"
"Ng… bolehkah aku meminta bantuan?"
"Tentu saja boleh, bantuan seperti apa? Asalkan yang masuk akal dan bisa aku kerjakan, aku pasti akan membantumu," kata Tina. Aphrodite lantas menjelaskan secara mendetail semua masalah yang tengah di hadapinya, sementara itu Tina diam dan menyimak dengan seksama. "Jadi maksudmu kau memintaku mencarikan cara agar mereka bisa bertemu tapi seolah-olah kau tidak terlibat di dalamnya, begitu?" Tina menyimpulkan.
"Tepat sekali," kata Aphrodite yang kemudian meneguk air minumnya lalu menyuapkan kembali makanannya. Tina terdiam sejenak berusaha mencari ide, ia melipat kedua tangannya di atas meja. "Begini… menurutku, kau bisa membantu mereka dekat dengan mempertemukan mereka, buat seolah semuanya terjadi secara kebetulan." Tina memberikan ide.
"Maksudmu?"
"Begini maksudku, jadi saat kau sedang dengan teman perempuanmu itu, kau bisa menghubungi teman laki-lakimu untuk datang setelah itu kau tinggalkan dan berikan mereka kesempatan untuk berdua, selanjutnya hanya tinggal membiarkan mereka berbicara berdua."
"Ide yang bagus. Tapi bagaimana kalau tidak berhasil? Misalnya teman perempuanku itu lari begitu melihat teman laki-lakiku?"
"Untuk itu, jangan menyerah! Kuncinya hanya itu, kau harus mencoba terus menerus. Tapi jangan sampai teman perempuanmu itu curiga, maksudku buat mereka bertemu cukup sering tapi jangan terlalu sering seperti contohnya setiap kali kau bersama dengannya dan kau terus mempertemukan mereka. Lama kelamaan teman perempuanmu itu akan curiga kalau begitu."
"Baiklah, terima kasih karena sudah membantuku." Aphrodite tersenyum simpul.
"Bukan masalah." Tina balas tersenyum.
*
"Aphrodite!" Jordan menyerukan namanya membuat fokus wanita itu beralih padanya. "Aku ingin bicara denganmu." Jordan menarik tangan Aphrodite menuju tempat yang sepi untuk bisa berbicara empat mata dengannya.
Jordan membawa Aphrodite untuk berbicara di tangga darurat yang jarang di lewati orang-orang. "Ada apa pak?"
"Apakah kau sudah menemukan caranya?"
"Oh… ya, saya sudah menemukan cara agar bapak bisa kembali bersama Laura."
"Benarkah?" Jordan menatapinya berbinar, ia senang bisa mendengar kabar dari Aphrodite ini. Aphrodite menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Lalu apa? Bagaimana?" Tanyanya penasaran.
"Untuk itu, saya akan memberitahukannya nanti di saat yang tepat."
"Maksudmu?"
"Bapak akan tahu sendiri nanti, tapi yang pasti percayakan semuanya pada saya dan lakukan sesuai arahan saya. Oke?"
"Apa tidak sebaiknya kau jelaskan semuanya sekarang saja?" Jordan tidak sabar.
"Ini bukan saat yang tepat," sahut Aphrodite seraya menggeleng pelan. Jordan menghela napas pasrah lalu berkata, "baiklah. Aku akan mengikuti arahan darimu."
__ADS_1
"Bagus." Aphrodite menunjukkan jempolnya. "Kalau begitu saya permisi, masih ada pekerjaan saya yang belum selesai."
Aphrodite beranjak pergi menyisakan Jordan yang kini terdiam di tangga darurat seorang diri.
*
Waktu berlalu, sudah beberapa hari berlalu semenjak Aphrodite mendapatkan ide dan saran dari Tina mengenai cara mendekatkan Jordan dan Laura kembali. Hari ini, Aphrodite memiliki janji untuk pergi keluar bersama dengan Laura. Mereka membutuhkan refreshing dari kesibukan masing-masing, dan jalan-jalan sembari berbelanja adalah yang mereka pilih.
"Aku akan menjemputmu nanti," ucap Fransisco.
"Baiklah, terima kasih sudah mengantarkan ku."
"Tidak perlu berterima kasih, karena sudah menjadi tugasku."
"Mungkin aku akan sedikit lama, jadi saat sudah akan pulang; aku akan menelpon mu."
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Ya. Hati-hati di jalan."
"Kau juga." Sebelum pergi, Fransisco mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Aphrodite. Detik berikutnya pria itu beranjak pergi meninggalkan Aphrodite.
Aphrodite melambaikan tangannya pada Fransisco. Perlahan mobil yang dikendarai suaminya itu hilang di antara mobil-mobil lain. Sepeninggal Fransisco, Aphrodite kemudian mulai di sibukkan menunggu Laura, mereka sudah janjian untuk bertemu di tempat ini sebelum mereka pergi bersama.
"Lebih baik aku hubungi dulu Jordan dan beritahu dia kalau aku akan pergi bersama dengan Laura hari ini." Aphrodite memonolog, ia kemudian mengirimkan pesan ke nomor Jordan dan memberitahunya kalau ia akan pergi bersama Laura hari ini. Setelah selesai, Aphrodite kembali disibukkan menunggu Laura tiba.
Tak lama menunggu, Laura lalu tiba; kedatangannya berhasil menyita perhatian Aphrodite. Setelah berbincang beberapa hal, mereka kemudian segera pergi.
*
Jordan bergegas bersiap begitu mendapatkan pesan dari Aphrodite. Setelah bersiap, ia segera datang ke lokasi yang telah diberikan olehnya.
"Apa sebenarnya rencana yang dia buat? Apakah dia akan langsung mempertemukan ku dengan Laura? Aku rasa tidak, karena beberapa waktu lalu dia bilang kalau dia tidak ingin membuat persahabatan mereka menjadi hancur hanya gara-gara Laura tahu kalau dia terlibat dalam hubungan kami. Lalu apa? Jika bukan itu, lalu apa rencananya? Kenapa dia mengirimkan lokasi mereka berada dan langsung memintaku untuk datang?"
Jordan menancap gas agar bisa tiba lebih cepat. Tiba di sana, ia segera memarkirkan mobilnya di salah satu lahan parkir kosong yang ada. Ia lantas keluarga dari dalam mobil dan melangkah masuk untuk mencari Aphrodite.
*
Aphrodite dan Laura melangkah masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang mereka kunjungi, tiba di dalam sana; mereka mampir ke beberapa toko. Mengunjungi beberapa tempat yang memanjakan mata mereka dengan berbagai barang-barang baru dengan aromanya yang khas, mereka berdua melihat-lihat beberapa barang. Setelah hampir cukup lama mereka berkeliling hingga tangan mereka penuh dengan beberapa paper bag yang mereka dapat, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mereka berdua duduk di salah satu bangku yang ada, dan menaruh semua barang belanjaan mereka di sampingnya.
"Cukup melelahkan berkeliling sejak tadi, aku sampai berkeringat." Laura mengeluarkan tisu dan mengelap keningnya yang basah, Aphrodite di sampingnya melakukan hal yang sama.
"Aku juga lelah, dan perutku keroncongan." Aphrodite mengusap perutnya.
"Bagaimana kalau kita beli makanan?"
"Iya, ayo. Tapi sebelum itu, kita istirahat lebih dulu di sini. Kaki ku benar-benar pegal."
"Setelah ini kita mau kemana lagi?"
"Aku ikut denganmu saja, sudah ada banyak barang yang aku beli, dan aku sudah membeli semua yang aku butuhkan."
"Kalau begitu kita langsung makan siang saja."
"Baiklah kalau begitu."
*
Jordan terus melangkah mencari keberadaan Aphrodite yang entah berada dimana di tempat itu, ia beberapa kali melirik pada ponsel dalam genggamannya; berusaha untuk memastikan apakah ada pesan baru dari Aphrodite atau tidak. Setelah berulang kali mengecek, tak ada pesan yang masuk sama sekali ke ponselnya membuat Jordan mau tidak mau harus mencari sendiri keberadaan Aphrodite yang entah berada dimana. Pria itu terus melangkah menyusuri setiap area mall, matanya tak berhenti menatap sekeliling untuk mencari keberadaan dua wanita yang dicarinya.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak bisa menemukannya, dimana sebenarnya mereka berada?" Jordan memonolog; ia mengecek ponselnya lagi. "Apa sebaiknya aku telpon saja? Tapi bagaimana kalau Laura dengar, atau dia tidak sengaja mengangkatnya? Aku jadi bingung harus bagaimana."
Jordan menghentikan langkahnya sejenak, ia duduk lebih dulu di salah satu bangku yang ada untuk memikirkan cara agar dirinya bisa menemukan Aphrodite dan menunggu kabar darinya sejenak.
*
Aphrodite dan Laura beranjak dari tempat duduknya, mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan menuju salah satu restoran yang di rekomendasikan oleh Laura karena memiliki cita rasa dan suasana yang nyaman untuk menikmati hidangan makan siang mereka. Keduanya berjalan beriringan, sesekali mereka mengobrol sembari menceritakan lelucon dan terkekeh bersama. Tak jarang mereka membicarakan kejadian lucu yang mereka alami atau semacamnya.
Laura secara tiba-tiba berhenti saat mereka melintas di salah satu toko suvenir, ia menghentikan langkahnya dan berdiri di depan toko. Aphrodite yang menyadari Laura berhenti secara tiba-tiba lalu ikut berhenti dan menatapnya dengan raut wajah bingung, wanita itu terdiam memandangi toko di hadapannya.
"Ada apa?" Tanya Aphrodite seraya menepuk pelan pundak wanita yang menjadi temannya itu. Laura menoleh sekilas padanya lalu kembali memandangi toko dihadapannya.
"Bagaimana kalau sebelum makan siang, kita mampir kemari dulu? Ada banyak sekali barang-barang indah di toko ini. Mungkin kita bisa membeli sesuatu." Tutur Laura seraya tersenyum.
"Benarkah? Kau pernah kemari?"
"Ng. Tapi dulu…" Laura menganggukkan kepalanya, ujung kalimatnya terdengar seperti gumaman. Tidak terlalu jelas. Tapi dari ekspresi yang dilihatnya Aphrodite dapat menyimpulkan kalau toko ini memiliki sebuah kenangan besar dalam hidup Laura.
Aphrodite terdiam sejenak, ia menatap Laura intens. "Sepertinya… dia memang sering kemari." Batinnya.
"Baiklah, kalau begitu ayo masuk!" Aphrodite menggandeng tangan Laura dan menariknya masuk ke dalam toko suvenir dihadapannya. Laura hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala dan melangkah bersama dengannya.
Di dalam toko, ada banyak sekali pernak pernik yang sangat indah. Aphrodite bahkan tidak bisa bisa berpaling dari setiap barang-barang yang ada di sana.
"Semuanya benar-benar indah, aku jadi ingin membeli semuanya." Aphrodite terkekeh.
"Benar 'kan? Sudah aku bilang semua suvenir di sini indah-indah."
"Iya. Andai saja aku tahu lebih awal mengenai toko ini, mungkin sudah banyak barang yang aku beli."
"Oh ya, bagaimana kalau kita membeli satu barang yang menandakan pertemanan kita?"
"Boleh, kalau begitu ayo kita pilih."
Aphrodite dan Laura mulai disibukkan mencari barang yang hendak mereka pergunakan bersama sebagai tanda persahabatan mereka. Setelah cukup lama mencari, akhirnya mereka menemukan satu benda yang pas. Mereka memilih gelang dengan bentuk yang serupa, hanya warna saja yang membedakannya.
"Oh ya, omong-omong aku ingin ke toilet sebentar. Tidak apa-apa kalau kau menunggu di sini sendiri 'kan?" Tanya Aphrodite saat ia baru ingat mengenai Jordan.
"Pergilah, aku akan menunggu di sini. Sekaligus aku juga ingin mencari beberapa suvenir lainnya."
"Kalau begitu bisakah aku menitipkan barang belanjaan ku?"
"Tentu." Laura meraih paper bag yang dibawa Aphrodite dalam genggamannya.
Aphrodite beranjak pergi dari sana sementara Laura di sibukkan mencari suvenir lain yang hendak ia beli. Sementara itu, Aphrodite melangkah memasuki toilet yang baru saja ditunjukkan oleh salah satu pegawai yang ada. Tiba di dalam toilet, ia segera menghubungi Jordan untuk memberitahu keberadaannya dan Laura saat ini.
*
Bunyi notifikasi yang masuk pada ponselnya membuat Jordan beralih fokus, ia menatap ponselnya dan mendapati pesan dari Aphrodite yang baru saja masuk.
"Akhirnya dia menghubungiku juga," gumam Jordan seraya tersenyum memandangi pesan masuk di ponselnya. Jordan segera menghubungi Aphrodite tanpa membaca isi pesannya lebih dulu.
"Halo? Kalian dimana?" Tanya Jordan begitu sambungan telponnya itu terhubung dengan Aphrodite di seberang sana.
"Maaf aku baru sempat menelpon, sekarang aku dan Laura sedang berada di toko suvenir di lantai lima. Cepatlah kemari, sebisa mungkin aku akan menahan Laura agar tetap di sini. Ingat perkataan ku ini! Jangan buat dia tahu akan kedatangan mu! Buat seolah-olah semuanya terjadi begitu saja tanpa di sengaja. Oke?"
"Oke, aku mengerti. Aku akan lakukan apa yang kau sarankan."
"Bagus. Kalau begitu cepatlah. Kau dimana sekarang? Masih di jalan?"
__ADS_1
"Tidak, aku sekarang sedang berada di lift. Dan kebetulan lift-nya kosong."
***