Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
Sorry


__ADS_3

...***...


DRRTTTT... DRRTTTT...


Ponsel pria itu bergetar membuatnya yang tengah mengerjakan tugasnya seketika berhenti. Ia merogoh kantong celana panjangnya, menatap layar ponselnya yang kini menyala menampakkan layar tampilan telpon dengan sederet huruf yang berjejer membentuk nama.


Pria itu menggeser tombol berwarna hijau yang secara otomatis langsung menghubungkan sambungan telponnya dengan sosok pria di seberang sana yang berusaha untuk menghubungi nya.


Begitu sambungan telponnya terhubung, pria itu lantas menaruh ponsel di telinga sebelah kiri.


"Halo tuan?" Ujar pria itu begitu sambungan telponnya terhubung dengan pria di seberang sana.


"Ya. Langsung ke intinya saja," pria di seberang sana berucap.


"Aku ingin kalian menghentikan semua itu."


"Maaf? Tapi kenapa tuan? Bukankah anda ingin kami mengosongkan tempatnya?" Tanya pria itu dengan raut wajah bingung. Ia mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan alasan pria itu mengapa memintanya untuk berhenti sementara usahanya sudah setengah jalan.


"Jangan banyak bertanya, aku perintahkan kalian berhenti ya berhenti!"


"A-ah. Ba-baik tuan, saya akan segera memerintahkan yang lain berhenti," tuturnya dengan nyali yang seketika menciut begitu mendengar bentakan dari pria itu.


"Bagus. Tunggu aku sampai di sana."


"Huh? Baik tuan," sahutnya lagi. Sambungan telponnya lalu di putus secara sepihak dari seberang sana. Pria itu segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celananya dan meminta orang-orang nya untuk segera menghentikan aksi mereka mengeluarkan barang-barang milik Helen dan Erland dari dalam rumah.


Helen terdiam di sana begitu mereka menghentikan aksinya. Ia yang masih menangis bergegas berlari menghampiri Erland yang tampak tak karuan. Pria itu babak belur di beberapa bagian akibat di hajar oleh orang-orang tersebut.


"Mama," lirihnya dengan sebelah sudut bibir yang mengeluarkan darah segar. Ia mengelapnya dengan seragam sekolah yang di gunakan olehnya.


"Er, kau tidak apa-apa sayang," Helen memeluk putranya itu. Mereka terduduk di tanah bersemen di sana. Di pekarangan rumahnya.


"Kalian tunggu di sini! Dan jangan berani untuk masuk sampai tuan Antonio datang kemari!" Pria yang semula menerima telpon itu berucap keras pada Helen di bawah sana. Helen hanya menganggukkan kepalanya sembari menangis sebagai jawaban.


...*...


Perlahan ia rasakan mobil yang di tumpanginya itu berhenti tepat di depan gerbang rumahnya.


"Kita sudah sampai, ayo turun," ucap Antonio seraya menatap ke arah Aphrodite. Pria itu tersenyum simpul sebelum kemudian membuka pintu mobilnya lalu keluar bersama dengan Aphrodite yang tampak lesu.

__ADS_1


Sebelum melangkah masuk ke dalam pekarangan rumahnya, Aphrodite mengusap lebih dulu sisa air matanya yang belum mengering.


"Ayo masuk," kata Antonio yang berhasil menyita perhatiannya.


Aphrodite melangkah menuju gerbang dan masuk bersama dengan Antonio.


Tiba di dalam sana, ia dapat melihat Helen dan Erland yang kini tengah dalam keadaan kacau.


"Mama!" Pekik Aphrodite begitu tiba di sana. Helen dan Erland mendongak menatap ke arah Aphrodite yang baru saja tiba di sana.


"Aph!" Sahut mereka lirih.


Aphrodite bergegas berlari menghampiri Helen dan Erland di sana. Tiba di sana, ia langsung memeluk tubuh keduanya. Berusaha menenangkan diri mereka.


Antonio yang juga tiba bersama dengan Aphrodite di sana lantas menghampiri anak buahnya yang kini berdiri berjejer didekatnya.


"Tuan," satu pria yang semula di telpon nya itu membungkukkan tubuhnya bersamaan dengan anak-anak buahnya, memberi hormat kepada pria yang menjadi atasannya.


"Tugas kalian sudah sampai di sini saja. Kalian boleh pulang," tutur Antonio pada mereka.


Sang ketua mengerutkan kening, menatap sang atasan dengan raut wajah bingung.


"Huh? Tapi tuan… kenapa?" Tanyanya mewakili kebingungan yang lainnya.


"A-ah, begitu."


"Sekarang kalian boleh pergi."


"Baik tuan. Kalau begitu kami permisi," pamitnya seraya beranjak pergi bersama dengan beberapa anak buahnya yang lain. Mereka melenggang meninggalkan Antonio yang kini berdiri bersama dengan supirnya disana.


"Aphrodite!" Panggilnya pada Aphrodite di sana membuat fokus wanita itu seketika beralih menatap ke arah dirinya.


"Aku tunggu janjimu," tuturnya yang kemudian melangkah pergi setelah sempat beradu pandang sesaat dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi menantunya itu.


Antoino beranjak menghampiri mobilnya, masuk dan duduk di jok belakang, kemudian memerintahkan sang supir untuk beranjak dari tempatnya berada saat ini.


Mobil yang di tumpangi pria itu lantas beranjak melaju dari tempat semula, menyisakan Aphrodite bersama dengan Helen dan Erland yang kini masih terduduk di tanah bersemen di sana. Di pekarangan rumahnya.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Aphrodite seraya memandangi Helen dan Erland bergantian.

__ADS_1


"Apanya yang tidak apa-apa! Aku di pukuli oleh mereka! Apakah kau tidak bisa melihatnya?!" Erland berteriak kesal, ia sedikit meringis saat sudut bibirnya tertarik akibat ia berteriak terlalu keras.


"Kau dari mana saja! Kenapa kau baru tiba?!" Helen memukul Aphrodite keras.


"Maaf karena aku datang terlambat, dan tidak bisa membantu kalian. Tapi aku datang tentunya tidak dengan tangan kosong," Aphrodite mengusap air matanya yang sejak tadi terus mengalir membasahi pipinya.


"A-apa maksudmu?" Erland menatapnya bingung.


"Kenapa kau bisa tiba dengan pak Antonio?" Kini Helen yang bertanya.


"Aku sudah menyelesaikan semuanya."


"Maksudmu?" Helen dan Erland menatapnya dengan raut wajah bingung.


"Aku sudah membuat perjanjian dengan tuan Shankara. Dan beliau mau mengembalikan rumah ini dan melunaskan semua utang-utang kita."


"Benarkah?" Erland tersenyum senang di sana.


"Apakah kau serius?" Helen justru menatapnya dengan raut wajah terkejut.


"Iya."


"Jadi maksudmu kau akan mau menikah dengan Fransisco? Begitu?" Helen berusaha memperjelas situasi.


"Iya. Aku bersedia menikah dengannya," gumam Aphrodite pelan. Ia menundukkan kepalanya, sementara itu di bawah sana tangannya mencengkeram erat rok pendek yang di kenakan olehnya.


"Kenapa tidak sejak awal?!" Helen di sana berucap membuatnya seketika mendongak menatap ke arahnya.


"Huh?" Erland dan Aphrodite menatapnya bingung.


"Kenapa tidak sejak awal kau mau menerima pernikahan ini?! Apakah kau sengaja ingin melihat aku dan Erland menderita lebih dulu, baru kau mau menikah dengannya?! Begitu?"


"A-apa? Tentu saja bukan begitu ma…"


"Lalu apa? Apa alasannya?! Kenapa kau baru mau menyetujui pernikahan ini setelah kau mendengar kita dalam keadaan seperti ini?! Kenapa?!" Bentak Helen yang sembuat Aphrodite tersentak.


"A-aku hanya ingin berusaha untuk membayar semuanya dengan uang dari hasil keringatku sendiri. Tapi tanpa aku sadari ternyata waktu berlalu begitu cepat," Aphrodite bergumam pelan di sana.


"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan dirimu! Kau itu bodoh atau apa?" Helen menyeka air matanya yang mengalir di sudut matanya.

__ADS_1


"Maaf jika ini membuat mama kesal," gumamnya pelan.


...***...


__ADS_2