
...***...
Suapan terakhir. Setelah selesai, Aphrodite lalu menaruh mangkuk di tangannya ke atas nampan. Membawa gelas berisi air minum lalu memberikannya pada Fransisco yang baru saja selesai mengunyah makanannya.
"Terima kasih." Fransisco tersenyum seraya meneguk pelan air dalam gelas yang di sodorkan Aphrodite.
"Sama-sama. Oh ya, jangan lupakan obat dan vitamin yang tadi di berikan dokter." Aphrodite meraih obat di atas nakas dan memberikannya pada Fransisco. Pria itu lantas memakan obatnya yang baru saja di berikan oleh Aphrodite.
"Aku akan menaruh ini semua ke dapur. Setelah ini akan aku siapkan baju ganti untukmu, kau harus cuci wajahmu setelah itu ganti bajumu."
"Oke."
"Kalau begitu tunggu sebentar." Aphrodite beranjak meraih nampan di atas nakas lalu membawanya ke dapur untuk ia cuci.
...*...
Fransisco membuka kedua matanya perlahan, hal pertama yang di lihatnya adalah Aphrodite yang kini memandanginya dari jarak yang sangat amat dekat. Tatapan mata wanita itu tampak amat serius, sementara itu di rasakan nya tangan Aphrodite menempel di keningnya.
Fransisco melirik pada tangan Aphrodite yang kini menempel di keningnya.
"Demam mu naik lagi," gumamnya.
"Benarkah?" Lirihnya.
"Suhu tubuhmu juga naik lagi." Aphrodite menunjukkan termometer yang ia gunakan untuk mengecek suhu tubuh Fransisco. "Untuk hari ini sebaiknya kau tidak datang ke kantor, kau harus istirahat total agar kau cepat sembuh."
"Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ku," tutur Fransisco.
"Sudahlah, dengarkan perkataan ku kali ini. Jangan keras kepala. Kalau kau memaksakan untuk berangkat yang ada kau seperti kemarin, apa kau senang telah membuatku sangat mencemaskan keadaan mu?" Aphrodite meliriknya dengan sedikit kesal sementara tangannya bergerak memasukkan kembali termometer di tangannya ke dalam kotak P3K di genggamannya.
"Tapi pekerjaan ku di kantor sangat banyak, di tambah lagi ada beberapa projects yang tanggal deadline-nya sudah di depan mata. Kalau aku tidak bekerja hari ini, yang ada aku akan di marahi oleh klien karena tidak bisa memenuhi keinginan mereka."
"Kau sedang sakit. Jadi jangan kemana-mana. Aku akan hubungi sekertaris mu untuk memintanya meng-handle semua pekerjaanmu." Aphrodite beranjak bangun, meraih ponselnya hendak menelpon sekertaris Fransisco untuk memintanya meng-handle semua pekerjaannya di kantor dan memberitahukan kalau Fransisco hari ini tidak akan bisa masuk untuk bekerja.
Fransisco hanya bisa diam tanpa berkata-kata, Aphrodite tampaknya memang benar-benar ingin dia tetap di rumah karena tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali.
Tak lama, setelah menghubungi sekertaris nya; Aphrodite kembali ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang yang kini di tempati oleh Fransisco.
"Aku sudah menghubunginya, dan dia bilang kalau dia bersedia untuk menggantikan mu meng-handle semua pekerjaan mu seharian ini, dan kalau ada apa-apa nanti dia aku minta untuk menghubungi saja."
"Baiklah."
"Kalau begitu sekarang kau pakai baju mu, aku akan mengantarkan mu ke kamar mandi untuk mencuci wajahmu setelah itu sarapan. Lagipula aku aneh padamu, kau itu sedang sakit tapi tetap saja kau tidur tanpa menggunakan bajumu. Kalau terus seperti ini, apalagi dalam kondisi tubuhmu yang sedang demam seperti ini, kau akan tambah sakit. Apalagi semalaman AC nya menyala." Aphrodite menggelengkan kepalanya heran dengan kebiasaan aneh Fransisco yang selalu tidur dengan tanpa menggunakan bajunya.
"Aku tidak akan bisa tidur nyenyak kalau menggunakan baju," gumamnya seraya bangun, meraih baju piyamanya lantas mengenakannya.
"Huft~" Aphrodite hanya bisa menghela napasnya menanggapi kebiasaan yang cukup unik dari pria yang menjadi suaminya ini.
Setelah selesai mengenakan piyamanya, Aphrodite kemudian membantu Fransisco untuk mencuci wajahnya serta menyikat giginya di kamar mandi.
Selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, Aphrodite lalu meminta Fransisco untuk duduk menunggu dirinya di ranjang sementara ia turun ke lantai bawah untuk mengambil sarapan yang telah ia buatkan untuk di makannya.
...*...
Jordan melangkah keluar dari dalam kamarnya, menghampiri ruang makan untuk sarapan. Tapi atensinya lebih dulu tersita oleh sosok Carla yang kini tengah mengobrol dengan kedua orang tuanya di meja makan.
"Huft~" Jordan menghela napasnya kasar, benar-benar memuakkan ketika wanita itu setiap pagi terus saja mengganggunya dengan datang ke rumahnya dan sarapan bersama dengan keluarganya. Walaupun status mereka adalah tunangan, tapi Jordan sama sekali tidak menyukai wanita yang sering mengenakan pakaian ketat yang membentuk lekuk tubuhnya itu.
Alasan yang membuatnya tidak menyukainya adalah karena dia sudah merebut posisi wanita yang di cintai nya, karena dia wanita yang di cintai nya juga sampai saat ini hilang tanpa kabar entah kemana, di tambah lagi dia adalah wanita pengganggu menyebalkan yang selalu bisa membuat emosinya bergolak bak air yang di panaskan di atas tungku api.
"Jordan." Carla beralih fokus pada dirinya yang baru saja tiba. Di wajah cantiknya terukir seulas senyum.
"Akhirnya kau keluar juga. Ayo duduk, dan sarapan. Lihatlah ini semua adalah sarapan yang telah di buat oleh Carla khusus untuk kita. Ayo makan bersama dan coba masakannya. Ini benar-benar enak, kau pasti menyukainya," ujar wanita paruh baya yang menjadi mamanya itu.
"Ya, duduklah dan coba makananku. Kau pasti akan menyukainya." Carla menimpali. Ia melangkah menghampiri Jordan, merangkul tangannya dan memintanya untuk duduk.
__ADS_1
Jordan diam tak bergeming, ia mendelik ke arah tangannya yang tanpa permisi di rangkul wanita menyebalkan di sampingnya ini.
Jordan menarik paksa tangannya. "Tidak perlu, aku harus pergi ke kantor untuk mengurus pekerjaanku. Hari ini aku harus menyelesaikan projects besar yang sedang aku tangani." Tolaknya menatap mamanya lekat.
"Tapi… kau tidak mungkin pergi tanpa sarapan lebih dulu 'kan? Setidaknya duduklah dulu dan sarapan bersama kami, kalau kau bekerja tanpa sarapan, yang ada kau tidak bisa fokus bekerja. Jadi ayo duduk dan sarapan bersama kami." Carla bersikeras.
"Aku bisa makan di kantor," ujarnya penuh penekanan menatap tajam ke arah Carla yang dalam seketika mengubah air mukanya. Wanita itu dalam seketika bungkam tak bersuara.
"Kalau begitu aku berangkat." Jordan melangkah pergi dari sana meninggalkan Carla dan kedua orang tuanya yang kini terduduk di meja makan. Kedua orang tuanya itu hanya bisa diam seraya menatap kepergian putranya yang semakin menjauh dari pandangannya hingga sosoknya menghilang di balik pintu.
"Akhir-akhir ini kau tahu sendiri kalau Jordan memang sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa hari ini dia sering melewatkan sarapan di rumah dan lebih sering sarapan di kantor. Lebih baik kau kembali duduk dan kita lanjutkan sarapannya, setelah itu Tante akan meminta supir untuk mengantar kan kau ke kantor." Wanita itu menarik Carla, memintanya untuk kembali duduk di tempat semula.
"Lama-lama, ini membuatku muak…" Carla membatin, di bawah sana kedua tangannya terkepal berusaha menahan emosinya di hadapan kedua orang yang nantinya akan menjadi mertuanya.
Carla melangkah menghampiri meja makan, duduk di sana dan mulai berusaha memfokuskan diri untuk sarapan bersama dengan kedua orang tua Jordan.
...*...
Jordan melajukan mesin mobilnya keluar dari dalam pekarangan rumahnya, menjalankan mobilnya menuju arah kantor.
"Dia benar-benar konsisten, padahal aku sudah berulang kali menolaknya mentah-mentah tapi tetap saja dia keras kepala dan terus datang lalu mengganggu ku. Aku benar-benar muak dengan sikapnya," gerutunya kesal. Ia terus fokus pada jalanan yang kini di lalui olehnya. Jordan menghentikan mesin mobilnya begitu lampu merah di jalanan menyala, ia terdiam sejenak dalam lamunannya.
"Aku heran, apa yang membuat Carla berbeda darinya? Padahal Carla memiliki sifat yang kurang baik yang membuatku tidak menyukainya, tapi kenapa mama dan papa terus saja memaksa menjodohkan dia denganku? Aku tidak habis pikir," pikir Jordan yang kini menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Kalau di bandingkan dengannya… Carla tidak ada apa-apanya."
"Bahkan dalam hal memasak sekalipun, dia lebih baik di bandingkan Carla. Sifatnya baik hati, hangat, dan selalu bisa membuatku merasa nyaman dengan perhatiannya…"
"Aku jadi rindu padanya."
"Dimana dia sekarang? Aku sangat ingin bertemu dengannya lagi."
"Suatu saat kalau aku bertemu dengannya lagi, aku tidak akan pernah melepaskannya lagi dan aku akan berjuang untuk mempertahankan nya agar tetap berada di sisiku…"
"Tapi… kapan aku bisa kembali bertemu dengannya?"
Begitu ia sadar, lampu jalan sudah menunjukkan warna hijau yang artinya jalan. Bergegas ia melajukan mobilnya sebelum beberapa pengendara lain di belakang semakin marah.
...*...
Jordan memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Berjalan sedikit tergesa menuju lantai tempat ruang kerjanya itu berada, beberapa kali ia berpapasan dengan pegawainya yang senantiasa membungkuk memberi hormat padanya.
Tiba di lift, bergegas Jordan menekan tombol bernomor yang menunjukkan nomor lantai dimana kantornya berada.
Pintu lift terbuka begitu ia sampai. Segera ia berjalan menuju ruangannya.
"Selamat pagi pak." Sapa sekertaris nya begitu ia tiba di sana.
"Pagi." Sapa Jordan sembari terus melangkah menghampiri pintu masuk ruangannya. Ia berhenti sebelum membuka pintu ruangannya, Jordan menoleh ke arah sekertaris nya yang kini kembali duduk di kursi kerjanya, atensi wanita itu masih tertuju pada Jordan.
Air mukanya berubah bingung begitu mendapati atasannya itu kini menatap ke arahnya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya sekertaris nya.
"Siapkan sarapan untuk saya."
"Sarapan?"
"Iya. Saya tidak sempat sarapan di rumah, jadi tolong siapkan dan bawa ke ruangan saya."
"Baik, pak. Anda ingin sarapan dengan apa?"
"Serapan seperti biasa aku minta saja."
"Baiklah. Akan segera saya siapkan."
__ADS_1
"Terima kasih."
"Sama-sama." Sekretarisnya itu beranjak dari tempatnya, melangkah menuju kafetaria untuk mengambil hidangan untuk sarapan Jordan. Setelah itu mengantarkan makanannya ke ruang kerja Jordan.
Sepeninggalan sekertaris nya, Jordan lalu melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Duduk di atas sofa yang ada dan mulai menunggu sekertaris nya kembali dengan membawakan sarapan yang ia minta.
...*...
TUK!
Sekertaris nya itu menaruh hidangan di tangannya ke atas meja kaca yang berada tepat di hadapan Jordan.
"Apakah ada hal lain yang bapak butuhkan?" Tanya wanita itu seraya berdiri tegak di hadapannya.
"Tidak ada, untuk saat ini. Tapi saya hanya ingin bertanya padamu, bagaimana dengan iklannya? Apakah sudah ada yang melamar untuk bekerja di kantor kita?"
"Baru beberapa orang yang mengirimkan CV kerja mereka pak. Tapi sampai saat ini, jumlah pelamar terus meningkat. Omong-omong kenapa bapak bertanya?"
"Baru beberapa ya…"
"Ya, tapi sepertinya siang nanti jumlahnya akan terus bertambah."
"Baiklah. Saya bertanya karena saya sendiri yang akan ikut interview setiap pegawai yang melamar."
"Oh… begitu rupanya."
"Saya ingin memastikan kalau yang di terima adalah orang yang benar-benar cekatan dan bekerja dengan cepat. Di tambah lagi, akan memakan waktu lebih lama kalau semua ini saya serahkan pada HRD. Jadi saya sendiri yang akan turun tangan membantunya."
"Begitu rupanya."
"Ya. Sekarang kau boleh kembali ke meja mu, dan kalau siang nanti sudah ada pemberitahuan dari HRD segara beritahu pada saya."
"Baik. Kalau begitu saya permisi."
Sekertaris nya beranjak pergi dari dalam ruangan Jordan meninggalkannya seorang diri yang kini tengah menikmati waktu sarapan nya.
...*...
"Kau sedang apa?" Tanya Fransisco yang mendapati Aphrodite kini sibuk dengan layar laptop dalam dekapannya. Aphrodite menoleh ke arahnya sejenak.
"Sebenarnya kemarin aku berencana untuk mencari pekerjaan secepatnya, agar dengan begitu aku bisa segera bekerja. Tapi karena aku tahu kemarin kau sakit, aku jadi tidak memiliki waktu untuk mencari pekerjaan karena terlalu sibuk mencemaskan mu. Jadi rencananya hari ini aku akan mencari lowongan pekerjaan di internet selama menunggu mu pulih," jelas Aphrodite yang lantas kembali fokus pada layar laptop di tangannya. Jari-jemari lentiknya itu kini mulai bergerak di atas keyboard laptop nya, mencari lowongan pekerjaan di internet.
"Kau tampaknya begitu bersemangat untuk bekerja. Apakah sebegitu senangnya kau, aku izinkan untuk kembali bekerja?" Fransisco tersenyum tipis memandang Aphrodite yang wajahnya tampak berseri-seri.
"Tentu saja, karena aku bosan kalau hanya diam di rumah saja. Jadi lebih baik aku menyibukkan diri dengan pekerjaan 'kan?"
"Aku senang melihatmu sesenang ini," ujar Fransisco.
"Ini juga berkat kau karena sudah memberikan izin aku untuk membantu bekerja."
Atensi Fransisco dan Aphrodite tersita oleh suara ponsel Fransisco yang kini berbunyi di atas meja nakas tak jauh dari tempat Aphrodite berada saat ini. Ia meraih ponselnya dan menatap layar yang kini menampakkan panggilan dari sekertaris suaminya.
"Siapa?" Tanya Fransisco.
"Dari sekertaris mu. Sepertinya ada yang penting, akan aku angkat." Aphrodite menggeser tombol berwarna hijau yang dalam seketika menyambungkan nya dengan sosok wanita di seberang sana.
"Halo? Ada apa, kau menelpon? Apakah ada sesuatu yang penting?" Tanya Aphrodite cepat.
"…"
"Sebentar," ujar Aphrodite seraya melirik ke arah Fransisco yang kini duduk di sampingnya. Ia kemudian menyodorkan ponsel di tangannya ke arah pria itu. "Ada yang ingin dia sampaikan padamu."
Fransisco meraih ponselnya lantas berbicara dengan sekertaris nya yang kini berada di kantor, meng-handle semua pekerjaan nya selama seharian ini.
"Ada apa?" Tanya Fransisco begitu ia berbicara dengan sekertarisnya.
__ADS_1
...***...