
...***...
"Terima kasih atas waktunya." Pria itu berucap dengan senyuman terukir di wajahnya, sebelah tangannya menjabat tangan Fransisco yang kini balas tersenyum sembari menatapnya.
"Kami juga terima kasih karena anda sudah memilih dan mempercayakan projects sebesar ini pada perusahaan kami. Saya harap kerja sama perusahaan kita bisa terus berlanjut hingga ke depannya."
"Ya, semoga. Oh, karena setelah ini kami masih memiliki beberapa pertemuan lagi… kami pamit undur diri."
"Baik. Sekali lagi terima kasih karena sudah mempercayakan projects ini pada perusahaan kami."
Pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban, detik berikutnya ia dengan di temani sekertaris nya beranjak pergi dari restoran tempat mereka membuat janji. Pergi meninggalkan Fransisco yang kini hanya tinggal berdua di meja itu dengan sekretarisnya yang senantiasa membantu dan menemaninya di pertemuan seperti saat ini.
"Setelah ini, kita hanya perlu kembali ke kantor, 'kan?" Fransisco melirik pada sekertaris nya yang kini tengah mengecek ulang jadwal yang telah ia buat dan tandai.
"Benar pak. Setelah ini kita hanya perlu kembali ke kantor."
"Baiklah." Fransisco melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Ng, maaf pak. Saya ingin permisi ke toilet sebentar," ujar wanita yang menjadi sekertaris nya itu. Fransisco menoleh ke arahnya.
"Oke, silahkan."
"Terima kasih pak." Ia beranjak pergi menuju arah toilet yang ada di restoran tersebut, meninggalkan Fransisco seorang diri.
"Ini sudah hampir waktunya makan siang. Sepertinya ada baiknya kalau aku sekali-sekali makan siang di restoran seperti ini bersama Aphrodite," gumam Fransisco seraya tersenyum memandangi jamnya.
"Lebih baik aku telpon dia sekarang, minta dia untuk tidak memasak makan siang untukku, dan memintanya untuk datang kemari." Fransisco mengeluarkan ponselnya mencari nomor Aphrodite, hendak menelpon nya dan meminta wanita yang menjadi istrinya itu untuk datang ke restoran tempatnya berada saat ini.
...*...
Aphrodite menghela napasnya panjang. Entah sudah yang ke berapa kalinya siang ini ia menghela napas. Rasa bosan benar-benar mengganggunya, dan saat ini yang tengah ia lakukan hanyalah diam di atas sofa seraya memandangi layar televisi yang menayangkan sebuah acara yang sama membosakannya dengan apa yang tengah ia rasakan. Sudah kurang lebih satu Minggu berlalu semenjak Fransisco masuk dan kembali bekerja di kantor setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk bulan madunya.
"Aku benar-benar bosan," gumamnya pelan sembari meraih remote control yang ada di atas meja. Memindahkan channel televisi yang kini tengah ditontonnya pada channel lain. Berharap menemukan sebuah acara yang mampu membuat rasa bosannya itu sirna. Tapi tidak ada acara televisi yang benar-benar menarik hari itu.
Aphrodite menekan tombol merah pada remote control yang di pegang nya, mematikan televisi yang sebelumnya menyala itu.
__ADS_1
"Benar-benar tidak ada acara yang menyenangkan." Aphrodite menyandarkan kepalanya, terdiam sembari memandangi langit-langit ruang tengah apartemennya yang kini sepi.
Atensinya beralih, ia meraih ponselnya. Membuka galeri foto di ponselnya lalu memandangi setiap foto miliknya yang ada di sana. Ia memandangi satu persatu foto berisi gambar dirinya dengan Jenia ketika mereka masih sering menghabiskan waktu bersama di kantor.
"Aku harap aku bisa kembali bekerja agar aku bisa menghilangkan semua rasa bosan ini," tuturnya.
"Oh, astaga. Ini sudah hampir waktunya makan siang. Aku harus memasak dan menyiapkan makan siang untuk Frans."
Aphrodite beranjak bangun dari tempat duduknya, berjalan menghampiri ruang dapur untuk mempersiapkan semua bahan-bahan makanan untuknya memasak makan siang untuk Fransisco.
Tiba di ruang dapur Aphrodite sudah siap untuk membuka pintu kulkas, tapi belum sempat dirinya membuka pintu kulkas itu. Telponnya sudah lebih dulu berdering membuat atensinya beralih dalam sekejap, Aphrodite meraih ponselnya mendapati nomor Fransisco yang tertera pada layar ponselnya yang kini menunjukkan layar panggil telpon.
"Halo?" Sapa Aphrodite begitu sambungan telponnya itu terhubung dengan Fransisco di seberang sana.
"Hai sayang… kau sedang apa sekarang?"
"Aku sedang bersiap untuk memasak makan siang yang akan aku antarkan ke kantormu sebelum kau menelpon ku."
"Wah kebetulan sekali."
"Aku menelpon karena ingin mengajak mu makan siang bersama."
"Makan siang?"
"Ya. Di restoran, nanti akan aku kirimkan alamatnya. Jadi untuk hari ini kau tidak perlu memasak makan siang, kau bersiap dan segara datang ke alamat yang aku kirimkan. Kita makan siang bersama."
"Sekarang?"
"Iya."
"Tapi… ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menghabiskan waktu jam makan siang bersama dengan mu. Itu saja, lagipula kita juga sudah sangat lama tidak makan di luar 'kan?"
"Ng… ya, kau memang benar. Kita memang jarang makan di luar," gumam Aphrodite.
__ADS_1
"Maka dari itu aku ingin makan siang di luar bersamamu."
"Baiklah. Aku setuju, aku akan bersiap setelah itu berangkat ke sana segera."
"Oke. Akan aku kirimkan alamatnya."
"Iya. Sampai jumpa di sana."
"Sampai jumpa. Dandanlah yang cantik, aku menunggumu."
"Baiklah."
Aphrodite memutus sambungan telponnya sepihak, sejurus kemudian ia beranjak pergi dari ruang dapur hendak bersiap untuk pergi makan siang bersama dengan Fransisco yang kini sudah menunggunya di sana.
...*...
Fransisco tersenyum memandangi ponselnya, ia baru saja selesai berbicara dengan Aphrodite di telpon dan wanita yang menjadi istrinya itu setuju untuk makan siang bersamanya.
Fransisco segera mengirimkan alamat restoran tempatnya berada saat ini pada Aphrodite, agar ia secepatnya bisa tiba di tempatnya.
"Sekarang aku hanya perlu menunggunya datang," gumamnya seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong jas yang di kenakan olehnya. Perhatian Fransisco dalam seketika tersita begitu mendapati suara kegaduhan, ia menoleh ke arah datangnya suara. Dan di sana ia melihat sekretarisnya yang sedang di marahi oleh seorang pengunjung wanita.
Fransisco bergegas beranjak menghampiri mereka hendak membantu melerai kegaduhan yang terjadi.
"Minta maaf kau bilang?! Minta maaf saja tidak cukup!" Pekik wanita itu pada sekertaris nya yang kini tertunduk dengan raut wajah murung.
Sekertaris nya itu diam tak bersuara. Semua orang menatap ke arah mereka yang kini menjadi sorotan seisi restoran. Sekertaris nya itu hanya tidak sengaja menumpahkan minuman yang di bawa sang pelayan yang tengah berjalan ke arah pakaian wanita itu. Dan kini dia mengamuk besar karena pakaiannya jadi kotor.
"Maaf ada apa ini?" Fransisco tiba di sana menyita atensi keduanya.
"P-pak direktur…" gumam sekretarisnya dengan raut wajah terkejut.
"Kau kenal dengannya?" Tanya wanita itu seraya menunjuk sekretarisnya.
"Ya. Dia adalah sekertaris ku," ujarnya.
__ADS_1
...***...