
...***...
"Sayang… berat," wanita itu bergumam seraya menggerakkan sebelah bajunya yang kini di gunakan Jordan sebagai sandaran kepalanya.
"Aku lelah, biarkan aku bersandar di bahumu sebentar saja," sahutnya seraya memejamkan kedua matanya.
"Aku harus bekerja, kalau manajer ku tahu bisa-bisa aku di marahi." Ia melirik pada Jordan yang tampak sangat kelelahan. Wajahnya begitu tenang saat ia memejamkan kedua matanya.
"Ini jam makan siang, sudah waktunya istirahat. Lagipula kalau manajermu berani memarahimu, aku akan balik memarahinya karena sudah berani memarahi pacarku," sahutnya santai. Wajahnya sampai berubah merah karena ucapan Jordan.
"Kau ini ada-ada saja jawabannya."
"Kau juga ada-ada saja alasannya. Aku ini 'kan hanya ingin menghabiskan waktu istirahat ku dengan pacarku."
"Huft~" ia menghela napas panjang, lagi-lagi ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan ketika kekasihnya itu selalu bisa saja menjawab setiap kalimatnya.
"Hanya sebentar saja, setelah jam istirahat selesai aku juga 'kan akan pulang kembali ke kantorku. Kau juga akan kembali bekerja, jadi izinkan aku menghabiskan waktuku bersamamu," ujar Jordan yang masih terpejam. Wanita itu kini hanya bisa diam membiarkan pria yang menjadi kekasihnya itu bersandar pada bahunya.
Detik berikutnya tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir Jordan, pria itu kini terlelap dalam tidurnya. Wanita itu diam memperhatikan, ia menatap lekat sosok pria yang menjadi kekasihnya itu.
"Sayang?" Panggilnya pelan seraya menepuk perlahan pipinya, tapi tak ada jawaban sama sekali dari pria itu. "Hey? Sayang?" Ia kembali menepuk pipinya.
"Jordan?" Wanita itu terkekeh menanggapi Jordan yang ternyata benar-benar tidur di sandarannya.
"Sepertinya kau begitu kelelahan," gumamnya pelan. Tangannya perlahan terulur mengusap rambut kekasihnya itu penuh kelembutan.
Memori itu kembali terbayang di benaknya, muncul begitu saja bak sebuah film yang telah di rekam dan di putar ulang.
Jordan terpaku di tempatnya berada saat ini. Berdiri di salah satu restoran tak jauh dari hotel tempatnya melakukan meeting penting dengan salah satu klien nya dari luar negeri. Ia berdiri seraya menatap layar kaca restoran yang ada di hadapannya, menatap tepat ke arah tempat dimana kejadian dalam otaknya itu pernah terjadi. Memandangi meja yang terletak cukup dekat dengan kaca yang berada di sudut lain di dalam ruangan restoran itu.
"Melihat tempat ini, membuatku teringat akan kenangan kita dulu," tuturnya pelan. Jordan mendongakkan kepalanya perlahan, menatap dari atas sampai bawah bangunan restoran itu, dan masih tampak sama seperti awal bangunan itu di bangun. Masih sama kokohnya seperti beberapa tahun yang lalu ketika ia bertemu dengan kekasihnya di restoran itu, yang berbeda hanya nama restoran yang telah di ganti dan warna cat yang sudah tampak pudar menandakan bahwa bangunan itu sudah tua di makan umur.
"Aku jadi merindukanmu…" gumamnya. Jordan beranjak, ia melangkah hendak masuk menuju ke dalam restoran di hadapannya. Tapi atensinya dalam seketika tersita oleh seorang wanita cantik yang berdiri tak jauh dari depan pintu masuk, langkahnya terhenti. Matanya menatap lekat sosok wanita yang kini tersenyum pada seseorang di dalam taksi yang lantas melaju pergi dari hadapannya.
Entah kenapa melihat sosok Aphrodite yang berdiri di tak jauh dari tempatnya berada saat ini benar-benar membuatnya teringat akan sosok wanita yang dulu hadir menghiasi hari-harinya.
"Dia…" Jordan tertegun begitu sadar siapa sosok yang di lihatnya. Ia mengerjap beberapa kali mencoba memastikan apa yang di lihatnya itu memang benar adalah Aphrodite, wanita yang entah kenapa selalu di pertemukan dengannya dalam sebuah ketidak sengajaan.
"Itu dia 'kan? Perempuan yang sempat bertabrakan denganku dua kali. Kenapa dia di sini?" Jordan memonolog.
"Entah kenapa, tapi ini sudah yang ketiga—tidak, mungkin yang ke empat kalinya aku bertemu dengannya."
"Aneh, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?" Gumam Jordan. Sejurus kemudian Jordan beranjak menghampiri Aphrodite yang kini berdiri seorang diri di dekat pintu masuk, namun fokus wanita itu dalam sekejap tersita oleh pergerakannya.
"Kau…" Jordan menunjuknya, sementara Aphrodite tampak bingung dengannya, ia menatap Jordan dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.
"Tidak aku sangka kita akan bertemu lagi," ujarnya seraya tersenyum membuat kening Aphrodite berkerut tak mengerti dengan maksud dari Jordan.
"Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanyanya.
"Kau lupa denganku?"
"Huh?"
"Kita pernah bertemu, kau ingat? Saat di bandara, dan juga saat di kantor. Waktu itu kau buru-buru dan tidak sengaja menabrak ku di depan pintu masuk, ingat?" Jordan berusaha mengingatkan sementara Aphrodite terdiam berusaha mengingat, tak lama raut wajahnya berubah.
"Oh, ya. Aku ingat," ujarnya seraya tersenyum ke arahnya. "Pantas saja waktu itu aku merasa familiar dengan pria ini, ternyata kita memang pernah bertemu sebelumnya," batinnya.
"Aku senang ternyata kau masih ingat denganku."
"Maaf sebelumnya karena aku tidak terlalu ingat denganmu, haha…" Aphrodite terkekeh pelan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," ujarnya santai. "Omong-omong sedang apa kau di luar sini? Apakah kau sedang menunggu seseorang? Atau kau baru saja akan masuk untuk makan siang?"
"Oh, aku baru saja selesai makan siang dan sekarang aku mau pulang."
"Begitu rupanya, dengan siapa? Kau sedang menunggu pacarmu?"
"Huh? Tidak, bukan." Aphrodite menggelengkan kepalanya pelan.
"Begitu, omong-omong kita belum saling kenal. Namaku Jordan." Jordan menyodorkan tangannya.
"Aphrodite," balasnya seraya menjabat tangan Jordan.
...*...
"Huft~" Fransisco menghela napasnya kasar. Ia memijat keningnya pelan, kepalanya terasa pusing karena harus menghadapi banyak sekali projects dalam waktu yang terbilang berdekatan satu sama lain, ia bahkan sampai hampir kewalahan karena harus mengurus semuanya secara bersamaan, beruntung ia bisa menghadapi semuanya dan menyelesaikan satu persatu permasalahannya dengan baik.
"Hari ini benar-benar hari yang melelahkan," gumamnya pelan. Pintu masuk ruangannya tiba-tiba di ketuk perlahan membuat fokusnya tertuju pada suara yang di dengarnya. Sekretarisnya mendorong pintunya perlahan, melangkah menghampiri dirinya yang kini terduduk di depan meja kerjanya.
"Ini adalah dokumen terakhir yang bapak minta." Sekertaris nya menaruh dokumen di tangannya ke atas meja tepat di hadapan Fransisco.
"Oke, terima kasih."
"Kalau begitu saya permisi pak." Ia membungkuk memberi hormat.
"Tunggu."
"Ya? Ada lagi yang bapak butuhkan?" Tanyanya seraya menoleh.
"Semua pekerjaanmu sudah selesai, 'kan?"
"Iya."
"Kalau begitu kau boleh pulang dan beristirahat."
"Silahkan," sahut Fransisco yang lantas meraih dokumen yang ada di hadapannya, menaruhnya ke atas tumpukan berkas lain di atas mejanya, merapikan sedikit mejanya yang tampak berantakan setelah itu beranjak bangun dari tempat duduknya. Meraih jas kerjanya yang tergantung di kursi yang ia duduki.
...*...
TUK!
Aphrodite menaruh piring berisi hidangan makan malamnya yang baru saja selesai ia pindahkan itu ke atas meja.
"Akhirnya selesai juga," gumamnya seraya tersenyum. Tangannya kini sibuk melepaskan apron yang terpasang di tubuhnya, melipat benda itu kemudian menaruhnya di atas meja.
"Sekarang hanya tinggal menunggu Frans pulang."
"Tapi, kira-kira ini sudah hampir waktunya makan malam. Lalu kenapa dia belum pulang? Apakah dia memiliki masalah di kantor sampai-sampai pulang sedikit terlambat? Biasanya dia pulang lebih awal."
Aphrodite melirik jam yang tergantung di dinding ruang dapur. Sudah waktunya makan malam, tapi Fransisco belum juga tiba di rumah. Tidak seperti biasanya pria itu terlambat. Biasanya Fransisco tiba lebih awal, dan ini adalah kali pertamanya ia pulang sedikit terlambat.
Pintu depan tiba-tiba di dengarnya terbuka membuat perhatian Aphrodite dalam seketika beralih.
"Itu pasti dia," ujarnya sembari tersenyum. Aphrodite bergegas menuju pintu depan. Tiba di pintu depan ia mendapati Fransisco yang baru saja tiba dengan langkah gontai. Pria itu tampak tak bersemangat, tidak seperti biasanya.
"Kau sudah pulang?" Sapa Aphrodite yang dalam sekejap membuat Fransisco beralih pandang. Pria itu balas tersenyum saat Aphrodite menampakkan senyum hangatnya. Ia lalu menghampiri Aphrodite, berdiri di depannya dengan kedua manik mata yang kini memandanginya lekat.
Mereka beradu pandang cukup lama sampai-sampai Aphrodite bingung di buatnya, baru saja ia ingin bertanya ada apa dengannya. Fransisco sudah lebih dulu menjatuhkan kepalanya, mendaratkannya; bertengger pada bahu Aphrodite yang kini berada tepat di hadapannya.
"Frans?" Aphrodite memastikan pria itu baik-baik saja.
"Aku lelah," gumam Fransisco pelan seraya memejamkan kedua matanya, menenggelamkan kepalanya di bahu wanita yang kini menjadi istrinya. "Banyak sekali pekerjaan yang harus aku lakukan di seharian ini. Rasanya tenagaku terkuras habis untuk menyelesaikan semuanya," lirihnya.
__ADS_1
Aphrodite terdiam tak berkata-kata, ia hanya diam membatu bak patung yang berdiri di tempatnya.
"Izinkan aku bersandar di bahumu sebentar saja," bisiknya pelan.
"Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu. Kalau kau seperti ini, bisa-bisa makanannya dingin."
"Hanya sebentar saja. Tiga menit. Setelah itu kita makan bersama," balasnya.
"Baiklah…" kata Aphrodite yang kemudian membiarkan Fransisco berada dalam posisinya seperti saat ini.
...*...
"Frans…" Aphrodite mengguncang perlahan lengan berotot pria itu. Sudah entah yang ke berapa kalinya ia berusaha untuk membangunkan suaminya itu. Pria itu tampak sangat kelelahan karena bekerja seharian sampai tenaganya terkuras habis seharian kemarin. "Frans… Bagun, kau harus bekerja," ujar Aphrodite lagi.
"Hm…?" Fransisco hanya menjawabnya dengan gumaman.
"Bagun…"
Fransisco membuka kedua matanya perlahan, tatapannya sayu menatap Aphrodite yang kini terduduk di tepi ranjang seraya menatap ke arahnya. Pandangannya sedikit mengabur, ia tidak dapat dengan jelas melihat sosoknya.
"Kau harus bangun, sudah waktunya pergi ke kantor," ujar Aphrodite lagi seraya tersenyum saat pada akhirnya Fransisco mau membuka kedua matanya dan melawan kantuk yang menggelayuti nya.
"Aku masih lelah, izinkan aku beristirahat sebentar lagi," lirihnya dengan suara yang terdengar tak bertenaga.
"Ini sudah hampir siang. Tapi kau kenapa? Apakah kau sakit? Suaramu terdengar berbeda," ujar Aphrodite yang dalam seketika berubah cemas.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah," kata Fransisco seraya memejamkan kedua matanya lagi.
"Tidak, kau sakit." Aphrodite memegangi lengannya yang tak mengenakan baju, setelah itu beralih mengecek keningnya.
"Aku benar-benar tidak apa-apa," ujarnya lagi, berusaha meyakinkan Aphrodite.
"Kau sakit. Suhu tubuhmu panas, lalu wajahmu juga pucat." Aphrodite beranjak bangun dari tempat duduknya, mengambil kotak P3K lalu mengeluarkan termometer guna mengecek suhu tubuh Fransisco, berusaha menyakinkan kekhawatirannya.
"Aku hanya lelah sayang." Fransisco bersikeras. "Aku hanya ingin beristirahat sebentar, kau tidak perlu cemas."
"Tetap saja kau harus aku periksa." Aphrodite tak menghiraukan perkataan Fransisco yang berkata dirinya baik-baik saja. Ia kini sibuk mengecek tubuh Fransisco, dan setelah mendapati angka yang menandakan suhu tubuh yang di ukurnya, Aphrodite semakin yakin kalau suaminya itu sakit.
"Lihat? Kau demam, suhu tubuh mu cukup tinggi." Aphrodite menunjukkan termometer di tangannya ke arah Fransisco yang kemudian membuka kedua matanya perlahan.
"Lebih baik hari ini kau tidak perlu berangkat ke kantor, akan aku hubungi asisten atau sekretaris mu untuk memberitahu mereka kalau kau sedang sakit dan tidak bisa datang ke kantor." Aphrodite membereskan kotak P3K di tangannya beranjak bangun siap untuk menaruh benda itu kembali ke tempatnya, tapi Fransisco lebih dulu menahan pergelangan tangannya.
"Tidak. Jangan, hari ini aku memilih meeting penting dengan salah satu klien ku dari Singapura. Aku tidak mungkin melewatkannya, apalagi meeting ini sangat penting. Aku akan berangkat sekarang, lebih baik kau bantu aku bersiap. Bantu aku memilih jas untuk aku kenakan hari ini, ya?"
"Tapi kau sakit. Kau tidak akan bisa fokus bekerja kalau kau sakit, dan untuk meeting ini bisa kau undur atau pindahkan ke hari lain. Lagipula klien mu pasti mengerti kalau kau sedang sakit, jadi lebih baik kau istirahat di sini dan biarkan aku menghubungi sekertaris mu."
"Tidak. Aku benar-benar tidak bisa menundanya lagi, apalagi kami sudah beberapa kali batal melakukan pertemuan karena banyak halangan. Dan aku tidak mungkin membatalkan pertemuan ini juga, kalau seperti ini terus menerus yang ada pekerjaanku akan semakin banyak."
"Frans…"
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu cemaskan aku. Aku hanya kelelahan, dan lagipula siang nanti pasti aku sudah kembali normal. Jadi bantu aku bersiap, ya?"
"Frans, tapi…"
"Aku mohon, aku ingin tampak sempurna di hadapan klien ku ini. Apalagi ini adalah klien yang sangat penting."
Aphrodite terdiam, melihat dari Fransisco yang bersikeras untuk berangkat membuat Aphrodite yakin kalau pertemuannya memang benar-benar penting. Ia tidak mungkin untuk tidak mengizinkannya, apalagi setelah mendengar penjelasan Fransisco barusan kalau kliennya itu sangat susah untuk di temui. Tapi di sisi lain, kondisi Fransisco yang tidak terlalu baik membuat Aphrodite cemas kalau memberikannya izin untuk bekerja. Aphrodite hanya tidak ingin Fransisco tiba-tiba kolaps ketika ia tengah bekerja. Kini dirinya bingung harus bagaimana.
Fransisco beranjak bangun dari posisinya, menarik tangan Aphrodite membuatnya terduduk di tempat semula. Kotak P3K yang di pegang nya sampai terjatuh di lantai.
Aphrodite tersentak kaget begitu secara tiba-tiba Fransisco memeluknya erat. "Aku mohon," bisiknya lagi tepat di telinga Aphrodite.
__ADS_1
Aphrodite membatu di tempatnya, otaknya masih berusaha mencerna setiap hal yang baru saja menghampirinya. Sementara itu mulutnya diam membisu tak bisa berkata-kata. "Aku mohon…"
...***...