
...***...
TRING!
Lonceng di depan pintu itu berbunyi setiap kali ada pelanggan yang datang dan pergi. Jenia masuk dengan menarik Aphrodite di belakangnya.
Aphrodite terseret di belakangnya, sampai mereka tiba di sana. Tiba di dalam, Jenia mulai sibuk mencari keberadaan pria yang hendak kencan dengannya. Jenia berusaha mencari tempat dimana pria itu duduk.
"Disini!" Seorang pria berteriak ke arahnya seraya melambaikan tangan. Pria itu tersenyum begitu mendapati Jenia tiba di sana.
"Oh, itu dia! Ayo!" Jenia kembali menarik tangan Aphrodite. Menyeretnya menuju tempat dimana pria itu duduk dengan seorang pria lain yang seumuran dengannya. Wajahnya terbilang lebih tampan di bandingkan pria yang akan Jenia kencani, tapi bagaimana pun pria itu bukan tipenya. Terlihat dari cara pandang pria itu pada dirinya.
"Maaf membuatmu menunggu lama," kata Jenia begitu mereka tiba di sana.
"Tidak apa-apa," pria itu menyahut.
"Oh ya, kenalkan ini sahabatku. Aphrodite Guinandra," Jenia menariknya berdiri di samping.
"Dite?" Panggil pria di sana dengan raut wajah terkejut.
"Frans?" Ujar Aphrodite tak kalah terkejut saat mendapati Fransisco yang kini duduk tepat bersebelahan dengan pria lain di sana.
"Sedang apa kau disini?"
"Aku di ajak Jenia untuk makan di sini. Kau sendiri, kenapa bisa di sini?"
"Aku juga di ajak temanku untuk makan malam bersamanya."
"L-lho? Tunggu-tunggu! Kalian sudah saling kenal?" Jenia beralih pandang pada Aphrodite dan Fransisco bergantian, begitu pula pria yang duduk dengan Fransisco. Ia menatap mereka dengan raut wajah terkejut bercampur bingung.
"O-oh ya, kami saling kenal," Aphrodite beralih pandang padanya.
"Benarkah?"
"Iya. Frans ini adalah anak dari teman mendiang papaku."
"O-oh begitu rupanya. Pantas saja kalian saling kenal."
"Iya, begitulah."
"Kalau begitu bagus, kalian jadi tidak perlu merasa canggung satu sama lain seperti orang yang baru bertemu. Kalian bisa membicarakan banyak hal," Jenia tersenyum di sana.
__ADS_1
"A-ah, ya," sahut Aphrodite dengan suara pelan bagai gumaman.
"Oh dan aku hampir lupa. Ini adalah Aiden," ucap Jenia memperkenalkan pria yang hendak di temui nya.
"Ya, salam kenal," Aphrodite berjabat tangan tengah pria yang di sebutnya Aiden itu.
"Senang bertemu denganmu," tutur pria itu seraya tersenyum. Aphrodite hanya mengangguk sembari balas tersenyum.
"Oh ya, silahkan duduk," katanya mempersilahkan. Aphrodite dan Jenia lantas beranjak menarik masing-masing satu kursi di sana dan mendudukinya.
"Kalian sudah menunggu lama di sini? Maaf karena aku dan Dite datang terlambat, ada beberapa hal yang harus kami urus," ujar Jenia.
"Tidak apa-apa. Lagipula kami juga baru tiba beberapa menit yang lalu. Eh, kalian ingin pesan apa?"
"Aku ingin makanan yang paling enak di sini," Jenia meraih buku menu di sana dan mulai membukanya. Mereka lantas mulai di sibukkan dengan memilih makanan yang hendak mereka pesan. Sementara itu, Aphrodite dan Fransisco merasakan sesuatu yang berbeda di sana.
Aphrodite merasakan ke canggungan yang amat luar biasa saat dirinya harus duduk bersama dengan Fransisco di atas satu meja yang sama.
Sudah sangat lama mereka tidak bertemu, dan sudah sangat lama mereka tidak berhubungan satu sama lain. Karena sejak hari itu, Fransisco sudah tidak pernah lagi datang untuk menemuinya. Tidak pernah muncul di kantornya lagi dan tidak pernah muncul di rumahnya juga. Ia hilang, entah karena sibuk atau apa, tapi itu cukup melegakan untuk Aphrodite.
...*...
"Maaf jika kehadiranku membuat mu merasa tidak nyaman," ucap Fransisco pelan di sampingnya.
"Eh?" Aphrodite menatapnya dengan sedikit bingung.
"Jika kau merasa tidak nyaman dengan kehadiranku, aku akan pergi," ucapnya lagi yang hendak menghampiri Aiden di sana tapi buru-buru di tahan oleh Aphrodite.
"Tidak! Kau tidak perlu pergi," ucapnya menahan.
Saat ini mereka tengah berada di ruang pembelian tiket. Mereka hendak membeli tiket untuk menonton film di bioskop. Selesai makan malam, Jenia dan Aiden meminta mereka untuk ikut menonton film bersama di salah satu bioskop yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada.
"Apakah kau tidak apa-apa jika aku di sini?" Tanya Fransisco seraya menatap Aphrodite di sana.
"Setidaknya lebih baik di bandingkan aku sendirian di sini. Jadi aku harap kau tidak pergi, dan tetap di sini untuk menemaniku," gumam Aphrodite pelan.
"Baiklah. Tapi sebisa mungkin, aku tidak akan mengganggumu," kata Fransisco yang kemudian melangkah untuk membeli tiket film mereka.
Setelah membeli tiket film dan membeli beberapa camilan untuk menemani mereka menonton film, mereka lantas masuk dan duduk di kursi yang terdapat di sana.
...*...
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah kau menyukai film nya?" Tanya Aiden pada Jenia begitu mereka keluar dari bioskop.
"Ya, aku suka."
"Bagaimana jika lain kali kita jalan bersama lagi?"
"Huh?"
"Aku rasa kita cocok. Jika kau bersedia, aku ingin mengajakmu untuk jalan lagi. Berdua saja, hanya antara aku dan kau. Bagaimana?" Tanya Aiden seraya menatapnya intens. Jenia tampak malu-malu di sana, wajahnya sampai merona.
"Y-ya, aku bersedia. Lagipula aku menyukaimu, kau orang yang hangat, perhatian, ramah, dan baik hati."
"Benarkah kau bersedia?" Aiden memastikan.
"Iya."
"Kalau begitu bagaimana dengan Minggu depan? Apakah kau sibuk? Jika tidak, ayo kita bertemu di restoran tadi."
"Aku tidak terlalu sibuk Minggu depan, jadi aku bisa datang."
"Oke. Bagaimana dengan jam tiga?"
"Baiklah, kita bertemu jam tiga," sahut Jenia.
Sementara mereka asik mengobrol bersama, beda halnya dengan Aphrodite yang kini terabaikan. Wanita itu berjalan bersebelahan dengan Fransisco yang kini hanya diam dan memperhatikan Aiden dan Jenia di sana.
Tiba di luar bangunan itu, udara dingin yang begitu menusuk menyapa mereka. Membuat Aphrodite mau tidak mau harus memeluk tubuhnya sendiri, mengencangkan kemeja yang di kenakan olehnya demi menghangatkan diri. Tapi sialnya itu tidak bekerja karena anginnya terlalu kencang.
"Dite, tampaknya aku tidak bisa pulang bersama denganmu," ujar Jenia seraya melirik ke arahnya.
"Eh? Kenapa?"
"Aiden akan mengantarkan aku pulang. Jadi kau tidak apa-apa kan jika pulang sendiri?"
"Oh iya, tidak apa-apa. Aku bisa mencari taksi."
"Tidak-tidak! Jangan! Lebih baik kau diantara pulang oleh Frans!" Aiden disana tidak setuju. Di liriknya sahabatnya yang kini berdiri bersebelahan dengan Aphrodite itu. "Frans! Antarkan dia pulang!"
"A-ah, tidak usah! Aku bisa pulang sendiri," tolak Aphrodite cepat.
"Tidak, ini sudah malam dan berbahaya jika kau pulang sendiri malam-malam. Apalagi kau itu perempuan, jadi lebih baik kau pulang dengannya."
__ADS_1
...***...