Twins Genius: Two CEO

Twins Genius: Two CEO
He


__ADS_3

...***...


"Sebenarnya tebakanmu itu memang benar, jika aku sedang hamil. Tapi untuk saat ini, aku tidak ingin jika orang lain sampai tahu mengenai apa yang tengah aku alami. Temasuk dirimu, karena aku tidak ingin kau pergi dan menganggapku sebagai wanita tidak baik," Aphrodite membatin.


DRRTTTT... DRRTTTT...


Ponsel milik Jenia bergetar dibalik saku jas yang dikenakan olehnya, membuat wanita yang semula kegirangan seraya memeluk Aphrodite itu lantas terdiam untuk sejak.


"Sebentar," gumamnya yang kemudian mengeluarkan ponselnya, menatapnya untuk sejenak dan melihat siapa yang baru saja menelponnya. Sekilas ia melihat ke arah Aphrodite. "Tampaknya aku harus kembali ke kantor," ujar Jenia kemudian.


"Ah, begitu ya. Baiklah kalau begitu," sahut Aphrodite pelan.


"Tapi, apakah kau tidak apa-apa jika aku meninggalkan mu sendiri?" Jenia tampak ragu meninggalkan Aphrodite seorang diri dalam keadaan kacau seperti ini, berat baginya pasti; untuk menghadapi kenyataan yang begitu menyakiti hatinya. Dan Jenia tahu, Aphrodite pasti saat ini sangat membutuhkan dirinya sebagai sandaran.


"Tidak apa-apa, kau pergilah. Lagipula aku sudah merasa lebih tenang sekarang. Jadi, kau bisa pergi."


"Kau yakin?"


"Iya. Aku yakin."


"Baiklah. Oh, omong-omong ada yang ingin aku tanyakan. Apakah kau memakai flashdisk yang biasa aku gunakan? Aku cari flashdisk-nya dimejaku tapi tidak ada."

__ADS_1


"Aku menaruhnya di dalam laci mejamu, kau cari saja."


"Ah, di dalam laci mejaku ternyata."


"Iya."


"Baiklah, terima kasih." Jenia beranjak dari tempat duduknya, sebelum beranjak dari tempatnya saat ini; ia memeluk lebih dulu Aphrodite, berusaha membuatnya lebih tenang. Baru detik berikutnya, Jenia melangkah meninggalkan Aphrodite di sana seorang diri.


"Kau harus tegar, dan jangan pikirkan mengenai Xavier. Pria brengsek seperti dia tidak pantas untuk kau pikirkan. Percayalah padaku, suatu saat nanti kau pasti akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dibandingkan dia. Dan saat pria itu bertemu denganmu, dialah orang yang akan menyembuhkan luka di hatimu."


"Ya, mungkin kau benar."


"Baiklah kalau begitu aku pergi. Jaga dirimu dan jangan pulang terlalu siang, bisa-bisa nanti kau semakin sakit. Aku tidak ingin jika sampai itu terjadi," Jenia memeluk tubuh Aphrodite lebih dulu sebelum dirinya beranjak pergi. Aphrodite membalasnya seraya tersenyum, dan detik berikutnya; Jenia melangkah pergi meninggalkan Aphrodite seorang diri di sana.


Aphrodite melirik pada jam yang melingkar indah ditangan, jam itu kini sudah menunjukkan pukul dua belas siang dan ternyata sudah cukup lama dirinya berada disana. Menghabiskan waktu untuk menenangkan diri ditempat yang sangat amat jauh dari tempatnya tinggal.


"Ternyata sudah siang. Lebih baik sekarang aku pulang, dan beristirahat," Aphrodite bergumam, ia lantas beranjak hendak pergi dari tempatnya berada saat ini; hendak pulang ke rumah dan beristirahat. Tapi langkahnya seketika terhenti ketika secara tiba-tiba, kedua manik matanya menangkap sosok pria berjas rapi yang kini berdiri beberapa meter dari arahnya berdiri. Pria itu menatap ke arahnya lekat, dan Aphrodite balik menatapnya, membuat mereka saling beradu pandang untuk sesaat.


"Sudah aku duga jika kau ada disini," gumam pria itu dengan napas yang terengah-engah, tampak jelas jika pria itu berlari dengan tergesa-gesa untuk mencari keberadaan dirinya. Mendapati pria itu berdiri disana, seketika membuat rasa sakit yang sempat reda itu kembali ia rasakan. Rasa seakan hatinya dicabik-cabik, dan bersamaan dengan itu matanya yang berkaca-kaca; meloloskan satu air mata yang langsung mengalir keluar melintasi pipi mulusnya.


Xavier melangkah menghampiri Aphrodite. Mengikis jarak diantara mereka, namun begitu jarak mereka sudah hampir berdekatan; Aphrodite sudah lebih dulu menahannya untuk kembali maju.

__ADS_1


"Berhenti disana!" Tahannya yang seketika menghentikan langkah kaki Xavier. Aphrodite masih berusaha menahan sesak yang kini meraja rela dalam dadanya, membuat napasnya benar-benar terasa berat.


"Dite! Aku bisa jelas—"


"Tidak ada yang perlu kau jelaskan! Semuanya sudah benar-benar jelas," potong Aphrodite sebelum Xavier selesai berbicara.


"Dite aku mohon dengarkan penjelasan ku lebih dulu."


"Aku tidak mau. Aku benar-benar sudah tidak mau lagi mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulutmu," Aphrodite menyeka air mata yang membasahi pipi kirinya. Ia lantas memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak ingin bertatapan langsung dengan Xavier dihadapannya. Bertatapan mata secara langsung dengannya, hanya akan membuat hatinya semakin terasa sakit. Sekarang saja hatinya sudah benar-benar sakit akan kehadirannya disana yang spontan membuat mood-nya kembali berantakan dalam seketika.


"Jangan berbicara seperti itu sayang—"


"Jangan panggil aku sayang!" Aphrodite kembali memotong perkataannya, ia berbicara dengan penuh penekanan.


"…Jangan bersikap seperti ini, jangan membuatku sedih. Karena kau bersikap seperti ini padaku."


"Sedih?" Aphrodite tersenyum hambar disana, tangannya kembali bergerak mengusap air mata yang mengalir membasahi pipinya. "Ku pikir yang seharusnya sedih disini adalah aku. Karena kau, sudah menyia-nyiakan semua yang telah aku berikan padamu. Mulai dari waktu, kenangan, semuanya. Bahkan sampai apa yang paling berharga dalam hidupku. Tapi setelah aku berikan semuanya, kau malah pergi dan meninggalkan aku dengan wanita lain. Kau bersikap seolah-olah kau hanya mencintaiku, tapi setelah semuanya, kau baru menunjukkan sifatmu yang sebenarnya. Kau membohongiku, membodohiku, dan membuatku merasa seperti orang dungu yang sangat mudah untuk diperdaya olehmu. Dan dengan bodohnya, baru sekarang aku menyadari semua itu. Sekarang aku menyesali semuanya, mengapa aku tidak menyadarinya lebih awal," Aphrodite terdiam untuk sesaat, mengambil jeda untuk mengatur napas sesaknya.


"Dite! Dengarkan aku dulu, biar aku jelaskan semuanya pad—"


"Tidak! Cukup! Kurasa ini sudah saatnya," gumam Aphrodite yang lantas mengepalkan erat tangannya dibawah sana, ia benar-benar berusaha keras untuk menahan segalanya. Mulai dari emosi, air mata, sampai sesak yang ia rasakan didadanya. Aphrodite lantas menundukkan kepalanya, sebenarnya ini adalah hal yang tidak pernah ingin ia lontarkan dari mulutnya, sebenarnya juga ini adalah kalimat yang tidak pernah ia bayangkan akan terucap dari salah satu diantara mereka. Namun disinilah ia menetapkan. Sudah saatnya semua yang mereka jalani itu berakhir.

__ADS_1


...***...


__ADS_2