
...***...
"Oke, sekarang aku hanya perlu memindahkan semua data ini ke dalam flashdisk, setelah itu aku hanya harus print semuanya," gumam wanita itu memonolog, ia lantas di sibukkan berkutat dengan layar komputernya disana. Ia memasukkan beberapa file di dalam komputernya, ke dalam satu berkas baru yang khusus dibuatnya.
"Baik, mari kita pindahkan ke dalam flashdisk," wanita itu—Jenia, lantas di sibukkan mencari flashdisk yang hendak ia gunakan. Namun benda yang di carinya itu, tiba-tiba hilang entah kemana. Benda itu tidak ada dimana pun dimeja nya.
"Aneh, padahal aku ingin betul jika aku menaruh nya disini. Tapi kenapa tidak ada?" Jenia beranjak dari tempat duduknya, mencoba mencari lebih teliti lagi flashdisk-nya. Takutnya benda yang dicarinya itu terhalang oleh beberapa berkas di mejanya. "Aneh kenapa tidak ada? Kemana ya?" Jenia bingung dibuatnya.
"Apakah Aphrodite meminjam flashdisk nya?" Jenia menghampiri meja Aphrodite, mencari benda kecil tersebut di sana. Namun raib. Ia tidak dapat menemukannya di sana juga.
"Biar aku coba tanyakan padanya," Jenia meraih ponselnya, mencari nama Aphrodite di sana. Lantas bergegas menghubunginya.
"H-halo?" Suara itu terdengar lirih di seberang sana, suara yang berbicara tanpa tenaga. Seakan-akan ia sudah kehabisan seluruh energi dalam tubuhnya, bahkan hanya untuk berbicara.
"Dite, ada yang ingin aku tanyakan. Apakah kau melihat—tunggu, mengapa suaramu begitu lemas? Apakah kau baik-baik saja?" Jenia baru menyadari jika suara sahabatnya itu terdengar berbeda, rasa cemas seketika menghampiri dirinya. Pasalnya tidak seperti biasanya Aphrodite berbicara dengan nada lemas seperti ini, dan biasanya nada bicara seperti ini, hanya keluar saat ia tengah berada dalam keadaan yang tidak baik.
Untuk sesaat hening. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari seberang sana, membuat Jenia semakin panik. Tapi perlahan ia dapat mendengar suara isakan yang berusaha di tahan oleh Aphrodite di seberang sana.
"Dite? Kau baik-baik saja? Kenapa kau menangis? Ada apa?" Tanyanya beruntut, tapi Aphrodite kini malah mengencangkan sedikit tangisnya. "Dite! Jawab! Jangan membuatku cemas. Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Jenia khawatir.
"B-bisakah… hiks… kau datang ke taman di ujung kota?… Hiks…" ujar wanita di seberang sana sesegukan.
__ADS_1
"Taman? Baiklah aku datang sekarang. Kau tunggu aku di sana."
"I-iya. Terima kasih… hiks…"
Jenis bergegas menutup sambungan telponnya, ia lalu beranjak dari tempatnya saat ini. Meraih jas kerja dan tasnya, kemudian bergegas pergi meninggalkan kantornya. Sebelum menghilang dari kantornya, Jenia sempat meninggalkan pesan pada salah satu rekan satu kantornya jika ada yang menanyakan tentang dirinya dia beralasan pergi untuk menyelesaikan beberapa urusan di luar yang tidak bisa di tinggalkan olehnya.
Bagaimana pun, bagi Jenia, Aphrodite lebih penting. Apalagi tampaknya wanita itu benar-benar tengah membutuhkan dirinya untuk saat ini.
Jenia berlari menuju keluar kantor, cepat-cepat ia berdiri di trotoar mencari taksi kosong untuk mengantarkannya menuju tempat dimana Aphrodite memintanya untuk bertemu.
...*...
"Terima kasih pak!" Teriaknya seraya berlari, setelah membayar sang supir dengan beberapa lembar uang seratus ribuan.
Jenia melangkah cepat, langkahnya besar. Berjalan di antara orang-orang yang kini berlalu-lalang di sekitarnya. Matanya mengedar, mencari keberadaan wanita yang tengah di carinya. Tapi di antara orang-orang di sana, tidak ada satu pun yang merupakan Aphrodite.
Sementara Jenia sibuk mencari Aphrodite, beda halnya dengan wanita yang di carinya. Aphrodite duduk disana, di salah satu bangku kosong yang terbuat dari besi bercat putih. Saat ini ia tengah berada di taman yang letaknya ada di ujung kota, dekat dengan perbatasan antar kota tempatnya tinggal. Ia duduk tertunduk di sana, air matanya sejak tadi tidak ingin berhenti keluar dari pelupuk matanya. Ia terus terisak, meratapi nasibnya yang terasa begitu menyedihkan.
"Dite!" Seorang wanita menyerukan namanya, membuat Aphrodite yang tertunduk seketika mendongak menoleh ke arah datangnya suara. Disana dirinya dapat melihat sosok Jenia yang baru saja tiba dengan napas yang tersengal dan penampilan yang cukup berantakan.
"Jen…" lirihnya yang kemudian bangkit. Jenia yang mendapati temannya itu menangis lantas bergegas berlari menghampirinya. Tiba disana tubuhnya di peluk erat spontan oleh Aphrodite. Dan seketika itu juga, tangisnya pecah dalam pelukannya.
__ADS_1
"K-kau kenapa?" Jenia bingung dibuatnya, otaknya masih berusaha untuk mencerna setiap kejadian yang baru saja ia alami. Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan di benaknya, membuat ia kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi pada teman kantornya itu. "Kau kenapa Dite? Kenapa kau menangis?" Jenia melerai pelukannya, menatap Aphrodite yang kini benar-benar tampak lebih kacau dibandingkan dirinya. Matanya sembab dan make-up yang ia kenakan luntur akibat air matanya yang terus keluar membasahi kedua pipinya.
"Vier…" lirihnya yang kembali terisak.
"Vier? Ada apa dengan Vier? Apakah terjadi sesuatu dengannya?" Tanya Jenia yang masih berusaha untuk menenangkan Aphrodite.
"D-dia… hiks…" Aphrodite terus terisak.
"Kau harus tenang dulu, agar aku bisa mendengarkan ceritamu. Ayo duduk, dan tenangkan dirimu," Jenia membawa Aphrodite untuk kembali duduk di sana. Ia lantas mengeluarkan sebotol air mineral yang di bawanya didalam tas. Jenia kemudian menyodorkan botol itu pada Aphrodite setelah ia membukakannya.
"Minum dulu, setelah itu kau ceritakan semuanya padaku. Kau harus tenang agar aku bisa mendengarkan dengan jelas masalahmu," tutur Jenia. Aphrodite kemudian meraih botol air mineral yang ia sodorkan kemudian di teguknya pelan hingga habis seperempatnya.
"Sekarang tarik napas dan hembuskan. Kau harus bisa mengatur emosimu agar lebih stabil," Jenia mengarahkan. Ia kemudian meraih botol yang tadi diberikan oleh Aphrodite padanya lalu di taruhnya di bagian bangku kosong di sana. Tangan Jenia sejak tadi tidak henti mengusap lembut punggung wanita yang menjadi sahabatnya itu, berusaha menenangkan.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" Jenia membatin, berbagai pertanyaan yang terus bermunculan di benaknya berusaha ia tahan lebih dulu. Nanti setelah Aphrodite merasa lebih tenang, maka ia akan menanyakan padanya mengenai apa yang sebenarnya tengah terjadi, kenapa dia menangis dan mengapa dia meminta untuk datang ke tempat biasa Aphrodite menyendiri.
"Apakah aku sudah merasa lebih baik, sekarang?" Tanya Jenia pada Aphrodite yang tampaknya kini sudah mulai merasa lebih baik dibandingkan sebelumnya.
"Huft~" Aphrodite menghela napas lagi, berusaha agar merasa lebih tenang.
...***...
__ADS_1