
...***...
"Dite? Ada apa?" Jenia yang mendapati sikap Aphrodite terasa aneh bergegas menatapnya dengan raut wajah bingung. Wanita yang menjadi sahabatnya itu tengah sangat amat resah.
"Tampaknya aku harus pergi sekarang juga. Jika ada yang menanyakan aku kemana kau bilang saja aku memiliki urusan mendesak yang tidak bisa aku tinggalkan, oh dan jika ada yang menanyakan soal berkas-berkas yang aku kerjakan. Bisakah kau memberikannya?"
"O-oh baiklah. Kau serahkan saja semuanya padaku," sahut Jenia.
"Terima kasih. Kau memang sahabatku yang terbaik," Aphrodite tersenyum simpul.
"Omong-omong ada apa? Apakah terjadi sesuatu?"
"Aku tidak bisa cerita sekarang, mungkin lain kali saja aku cerita. Sekarang aku sangat buru-buru harus pergi."
"Ah ya, baiklah kalau begitu."
"Aku pamit pergi duluan."
"Iya."
"Kalau begitu sampai jumpa."
"Sampai jumpa. Hati-hati di jalan!" Teriak Jenia begitu sahabatnya itu beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya.
"Ng!" Aphrodite menyahut dengan gumaman di sana. Dan sejurus berikutnya sosok wanita yang menjadi sahabat dari nya itu pun menghilang di balik pintu keluar di sana.
"Aku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Aphrodite begitu tergesa-gesa? Apakah terjadi sesuatu dengan Tante Helen?" Jenia memonolog. Matanya masih memandang ke arah dimana Aphrodite menghilang di balik pintu masuk di sana.
Tiba di luar, Aphrodite bergegas berlari menuju arah trotoar di sana. Ia berhenti dan segera mencari taksi untuk mengantarkan dirinya pergi.
"Astaga, cepatlah!" Aphrodite bergumam pelan dengan wajah yang tampak amat panik. Ia tak menyerah dan terus berusaha mencari taksi kosong untuk mengantarkan nya pergi dari sana.
Dan setelah mencari cukup lama, akhirnya Aphrodite menemukan satu taksi kosong.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Aphrodite membatin di sana.
__ADS_1
Ia berusaha mencari ide sementara sang supir terus menjalankan mobil yang tengah di kendarai olehnya.
"Tampaknya aku harus berbicara secara langsung dengannya," gumam Aphrodite pelan.
"Pak. Tolong antarakan aku ke alamat ini," ucap Aphrodite seraya menepuk bahu sang supir kemudian menunjukkan alamat yang tertera pada ponselnya. Sang supir menoleh sekilas dan membaca alamatnya.
"Oh, baik."
"Lebih cepat ya pak."
"Baik nona," sahut sang supir yang kemudian mempercepat laju mobilnya menuju alamat yang telah di catatnya dalam otak.
Mobil taksi yang di tumpangi oleh Aphrodite itu semakin melesat cepat menuju tempat dimana ia tuju.
...*...
"Minggir pak. Saya harus masuk dan berbicara secara langsung dengan pak Shankara," ucap Aphrodite yang berusaha menerobos masuk ke dalam rumah pria itu tapi di tahan keras oleh security yang berjaga di sana.
Aphrodite baru saja sampai di depan rumah pria itu, dan begitu ia tiba. Aphrodite langsung membuat kekacauan dengan memaksa untuk masuk ke dalam rumah pria itu. Security itu terus berusaha menahannya tapi Aphrodite tak tinggal diam dan ia berbuat sesuatu yang membuat security itu akhirnya mau membukakan gerbang untuknya.
"Maaf nona! Tapi anda benar-benar tidak boleh masuk! Tuan tidak ingin bertemu dengan siapapun untuk saat ini!" Security itu terus menahan tubuh Aphrodite yang berusaha menerobos masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa permisi.
"Minggir. Aku tidak peduli dengan apa yang di ucapkan olehnya!" Aphrodite berusaha mendorong si security untuk menyingkir dari hadapannya tapi tetap saja keras kepala dan tidak ingin menyingkir.
"Tidak bisa nona!"
"Pak saya mohon minggir. Saya harus bertemu dengan pak Shankara sekarang juga! Ini benar-benar penting!" Tukas Aphrodite yang mulai merasa kesal.
"Tetap tidak bisa nona!" Security itu kekeuh.
Keributan yang dibuat Aphrodite berhasil membuat Antonio Shankara selaku pemilik rumah itu berjalan keluar untuk mengecek sendiri keributan apa yang terjadi di rumahnya.
"Ada apa ini?!" Ucapnya dengan raut wajah kesal. Pria itu berdiri tepat di depan teras rumahnya.
Fokus Aphrodite dan security itu beralih menatap ke arah Antonio yang baru saja keluar dan kini berdiri di sana.
__ADS_1
"Pak Antonio!" Aphrodite berteriak memanggilnya.
"Maaf pak, saya berusaha menahannya tapi dia tetap bersikeras untuk masuk," teriak si security pada Antonio di sana.
"Pak. Izinkan saya berbicara dengan anda! Saya mohon!" Teriak Aphrodite.
"Apa lagi yang ingin kau bicarakan denganku? Kau ingin meminta waktu lagi? Maaf. Tapi aku tidak memiliki waktu untuk hal tidak penting seperti itu!" Teriak Antonio seraya beranjak hampir pergi dari sana tapi dengan cepat Aphrodite menahan langkahnya.
"Pak! Saya mohon! Berikan saya kesempatan untuk berbicara dengan ada!" Teriak Aphrodite lagi.
"Tidak. Saya masih memiliki urusan lain selain terus mengurusi masalah utangmu! Lagipula waktumu sudah habis, dan mana janjimu? Bukankah kau bilang akan melunasi semua utang-utang mu? Tapi kenapa sampai saat ini belum kau lunasi juga? Jadi tidak ada pilihan lain. Sekarang lebih baik kau pulang dan kemasi barang-barang mu serta keluarga mu! Kau harus segera angkat kaki dari sana, karena mulai sekarang rumah itu sudah menjadi milikku!"
"Pak! Saya mohon berikan saya kesempatan untuk berbicara!"
"Sudahlah! Pergi saja!" Tukasnya yang mulai kesal. Pria itu beranjak dari tempatnya, hendak kembali masuk kedalam rumahnya.
"Tampaknya tidak ada pilihan lain.…" Aphrodite mengepalkan tangannya erat, ia menelan saliva-nya susah payah. Aphrodite berusaha memantapkan hatinya. "… Aku harus lakukan ini agar mama dan Er tidak menderita karena aku," batinnya.
"Aku bersedia menikah dengan Fransisco!" Teriak Aphrodite keras yang berhasil membuat langkah pria itu berhenti dan beralih menatap ke arahnya.
"Aku akan menikah dengan Fransisco. Jadi… tolong kembalikan rumah kami," teriak Aphrodite. Antonio di sana menyeringai mendengarnya.
"Huft~" Aphrodite menghela napasnya kasar saat ingatan itu terus terulang dalam benaknya. Tampaknya sudah terlambat untuk menyesali semua yang telah ia ucapkan tadi. Aphrodite menyeka air matanya yang terus turun membasahi kedua pipinya.
Perlahan ia rasakan mobil yang di tumpanginya itu berhenti tepat di depan gerbang rumahnya.
"Kita sudah sampai, ayo turun," ucap Antonio seraya menatap ke arah Aphrodite. Pria itu tersenyum simpul sebelum kemudian membuka pintu mobilnya lalu keluar bersama dengan Aphrodite yang tampak lesu.
Sebelum melangkah masuk ke dalam pekarangan rumahnya, Aphrodite mengusap lebih dulu sisa air matanya yang belum mengering.
"Ayo masuk," kata Antonio yang berhasil menyita perhatiannya.
Aphrodite melangkah menuju gerbang dan masuk bersama dengan Antonio.
Tiba di dalam sana, ia dapat melihat Helen dan Erland yang kini tengah dalam keadaan kacau.
__ADS_1
...***...